Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
126. Mami mau gaya kepiting


__ADS_3

"Tante, aku mau pulang saja sekarang!"


Tiba-tiba Yumna berdiri. Wajahnya terlihat merah padam dan memendam emosi di dalam dada.


Rasanya dia tidak bisa menunggu beberapa lama lagi, sebab sudah tak kuat mendengar suara-suara kenikmatan dari dua insan di dalam kamar mandi.


Namun tak dipungkiri, apa yang didengarnya itu sukses membuat Yumna membayangkan adegan panas di antara Joe dan Syifa. Serta ada rasa iri hatinya, yang tidak bisa melakukan hal itu.


Mami Yeri menoleh dan langsung berdiri. "Kok pulang sekarang, Yum? Apa kamu nggak mau menunggu—"


"Ah nggak, Tan!" sela Yumna cepat dengan gelengan kepala. "Sepertinya Kak Joe sangat sibuk di dalam kamar mandi, jadi aku nggak mau mengganggunya dan lebih baik ... aku pulang saja, Tan."


"Ya sudah, kamu diantar Sandi saja ya, Yum?" Mami Yeri mengejar Yumna yang sudah membuka pintu kamar inap Robert, juga dengan menahan tangannya.


"Enggak usah, Tan, terima kasih. Aku permisi!" Yumna menarik tangan Mami Yeri hingga melepaskan tangannya. Dan dengan wajah yang terlihat masam, perempuan itu langsung melangkah pergi dari sana.


"Sepertinya Yumna marah," gumam Mami Yeri dengan perasaan yang jadi tidak enak.


Namun, dia bingung harus bagaimana. Sedangkan otaknya sekarang sudah terkontaminasi dengan gaya kepiting yang dia sendiri tidak tahu.


"Nona Yumna! Tunggu sebentar, Nona!" Sandi berlari mengejar Yumna yang melangkah cepat menuju pintu keluar.


Perempuan itu pun langsung menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kepada Sandi dengan tatapan sinis. "Apa?"

__ADS_1


"Mari saya antar pulang, Nona," tawar Sandi.


"Nggak usah! Nggak butuh!" ketus Yumna berteriak. Kemudian melanjutkan langkahnya berlalu pergi meninggalkan Sandi.


"Kenapa dengannya? Kok kelihatan marah?" gumam Sandi dengan kening yang tampak mengerenyit.


Tapi dia diam mematung, sama sekali tak ada niat mengejar Yumna sebab perempuan itu sudah mengatakan tidak mau diantar.


Kembali lagi ke kamar inap Robert.


Suara Joe dan Syifa masih terdengar nyaring, bahkan desaahannya kini sudah saling bersahutan. Sungguh, itu sangat menganggu pendengaran Mami Yeri dan membuat seluruh tubuhnya panas.


Alih-alih keluar supaya mengindari suara, wanita tua itu justru menghampiri suaminya yang terlihat tengah tertidur pulas bahkan sampai mendengkur.


Dia berpikir, obat kegelisahannya itu adalah Papi Paul.


"Pi! Bangun!"


"Papi!"


"Pi ... jangan tidur terus, dong, ayok bangun!" Kembali, Mami Yeri membangunkan dengan guncangan yang agak keras. Sebab suaminya itu masih terlelap dari tidurnya.


Memang, Papi Paul adalah tipe orang yang susah dibangunkan. Apalagi dalam kondisi saat dirinya capek, jadi wajar sekali jika saat ini Mami Yeri terlihat kesulitan.

__ADS_1


"Ih! Kok nggak bangun, bangun, sih!" Mami Yeri mendengkus kesal. Tapi tangan kanannya itu sudah menyentuh inti tubuhnya dibalik celana dan terasa makin basah saja. "Ah, ini semua gara-gara Joe dan Syifa. Jadi aku ikutan kepengen, mana lawannya lagi tidur lagi," gumamnya menggerutu.


Namun, sepertinya Mami Yeri tak ingin kehilangan akal.


Tidak mungkin rasanya dia kalah dari anak semata wayangnya. Jadi, hal yang dia lakukan adalah langsung mencium bibir Papi Paul. Melumattnya dengan kasar dan penuh nafsu.


Mami Yeri juga tak segan-segan untuk membuka kancing dan resleting celana suaminya. Kemudian merogoh ke dalam sana untuk menyentuh tongkat bisbol suaminya, yang tak kalah menawan dari milik Joe.


Dia yakin, apa yang dilakukannya akan membuahkan hasil. Papi Paul akan segera bangun.


Dan ternyata benar, tak menunggu waktu yang lama—sentuhan itu sukses membuat Papi Paul mengerjap-ngerjapkan matanya. Sontak dia mendelikkan mata karena terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya, kala tersadar jika posisinya sekarang adalah di rumah sakit.


"Mami ngapain?" Papi Paul langsung mendorong pelan dada Mami Yeri, sehingga ciuman panas istrinya itu terlepas. Serta menahan tangannya juga yang masih sibuk pada benda di dalam celananya.


"Mami mau gaya kepiting, Pi," pinta Mami Yeri dengan napas memburu. Wajahnya terlihat merah berikut dengan matanya yang begitu sayu menahan bira*hinya.


"Gaya kepiting? Maksudnya gimana?" tanyanya bingung. Kedua alis mata Papi Paul tampak bertaut.


"Bercinta dengan gaya kepiting, Pi," terang Mami Yeri memperjelas.


"Gaya kepiting? Gimana caranya?" Papi Paul masih saja terlihat bingung.


"Kok Papi nanya Mami? Ya mana Mami tau."

__ADS_1


"Ya apalagi Papi, Mi, kan Mami yang ngajak tadi."


......Payah amat🤣 lebih pro anaknya 😆......


__ADS_2