Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
250. Sekalian pergi berbulan madu


__ADS_3

"Bapak tenang dulu, Pak. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ada hal lain yang juga ingin saya sampaikan," ucap Sandi yang mencoba menenangkan sang bos.


"Apa, San?"


"Tadi saya nggak sengaja lihat rekamannya ... tapi wajah Bapak dan Bu Syifa di sana nggak terlihat sama sekali. Menurut saya itu sedikit melegakan."


"Serius kamu, wajahku dan Syifa nggak kelihatan?" Suara Joe sekarang jauh lebih tenang. "Tapi kenapa bisa nggak kelihatan, San?"


"Kalian berdua menunduk, dan di dalam tenda cukup gelap, Pak. Ada untungnya Bapak mematikan lampu."


"Alhamdulillah ...." Joe terdengar begitu bersyukur sekali. "Berarti tandanya, semua orang nggak akan tau, kalau yang ada didalam video itu aku dan Syifa ya, San? Aman dong berarti."


"Kalau itu sih saya nggak bisa pastiin, Pak."


"Kok begitu, San?"


"Iya. Soalnya suara kalian cukup nyaring terdengar. Apalagi suara Bapak," jawabnya. "Tapi saya merasa aneh ... mengapa Bapak dan Bu Syifa terlihat samar-samar seperti orang yang sedang berantraksi? Memangnya orang bercinta musti begitu, ya? Musti berisik seperti kucing yang lagi kawin?" Lama-lama jiwa jomblo Sandi menjadi penasaran.


"Kalau soal itu sih tergantung orangnya, San. Tapi aku pribadi ... setiap kali bercinta mulut nggak pernah bisa diem. Tapi bukan sengaja dilakukan, lebih tepatnya refleks karena menghayati betapa nikmatnya. Uuhhh ... jadi kepengen aku, San. Sayang si Syifa lagi marah," papar Joe.


Bulu kuduk Sandi seketika berdiri, tubuhnya pun ikut meremmang tak karuan mendengar apa yang bosnya katakan. "Oh begitu ya, Pak. Maaf ya, Pak. Saya jadi ngomong ke hal-hal yang begitu sensitive."


"Enggak apa-apa, San. Tapi, San ... Aku berharap banget kalau kamu secepatnya bisa menemukan dua laki-laki kurang ajar itu. Terus minta video yang viral segera ditake down. Aku nggak mau kalau sampai Abi, Umi, dan orang tuaku tau. Aku takut, San. Apalagi kata kamu suaraku cukup nyaring di sana. Bisa-bisa mereka yakin kalau itu adalah aku. Aku juga nggak mau Syifa tambah marah kepadaku. Dia bahkan dari kemarin nggak mau ngomong sama aku. Tadi ngomong pun cuma sedikit doang."


"Insya Allah. Saya akan bantu Bapak semaksimal mungkin," jawab Sandi dengan tekad. "Dan untuk sekarang ... saran saya Bapak dan Bu Syifa jangan keluar rumah dulu. Cari aman dulu, Pak."


"Berarti besok aku dan Syifa nggak kerja dan mengajar dong?"


"Menurut saya sih begitu. Tapi terserah Bapak, saya 'kan hanya kasih saran."

__ADS_1


"Tapi saranmu ada benarnya juga, San. Eh, bagaimana kalau aku dan Syifa sekalian pergi berbulan madu saja, ya, San? Kan dari setelah menikah aku belum berbulan madu. Bagaimana menurutmu?"


"Bagus juga itu, Pak. Kan Bapak bilang Bu Syifa lagi marah. Kalau diajak berbulan madu pasti seneng, kan sama saja seperti jalan-jalan."


"Iya. Ya sudah ya, San. Aku tutup teleponnya. Aku tunggu kabar baik darimu. Assalamualaikum."


"Walaikum salam," jawab Sandi, lalu mematikan telepon.


*


*


"Jon ... lagi ngapain kamu?"


Abi Hamdan datang menghampiri menantunya, yang tengah berjongkok di depan kandang kambing miliknya sambil memegang piring kosong.


"Ngapain kamu di sini? Apa nggak bau?" tanya Abi Hamdan sekali lagi, sebab belum mendapatkan jawaban.


"Bau sih, Bi. Cuma aku baru sadar aja ... kalau di belakang rumah ada kandang kambing. Jadi aku mau liat," jawab Joe sambil tersenyum canggung. Dia sebenarnya berbohong dan alasannya ada di sana karena ingin telepon dengan Sandi. Sebab menurutnya di sana jauh lebih aman jika ingin mengobrol penting, dibanding di dalam kamar Syifa yang tidak kedap udara.


"Oohh ...." Abi Hamdan pun mengambil rumput di dalam karung, kemudian meletakkan ke atas tempat makan pada kandang. Ada tiga ekor anak kambing berwarna hitam di sana, kepalanya menyembul keluar dan mereka langsung makan beberapa rumput itu.


"Ngomong-ngomong tiga kambing ini milik Abi?" tanya Joe basa-basi.


"Iya, Jon." Abi Hamdan mengangguk. "Dari dulu banget sih ... Abi ternak kambing. Tapi nggak seberapa."


"Paling banyak berapa ekor Abi ternak?"


"Sepuluh kalau nggak salah."

__ADS_1


"Abi beli kambing yang kecil-kecil dulu, terus digedein sendiri gitu, ya?" tebak Joe.


Abi Hamdan menggeleng. "Abi pelihara sejak masih dalam kandungan, Jon. Tadinya ini tiga kambing Abi punya Ibu sama Bapak. Tapi Bapaknya udah dijual, sedangkan Ibunya mati." Tangan Abi Hamdan terulur, lalu mengusap kepala tiga kambingnya bergantian. Ketiga kambing itu terlihat gemuk-gemuk dan sehat.


"Kenapa Bapaknya dijual, Bi? Kalau nggak dijual Ibunya pasti nggak bakal mati. Kan kasihan mereka jadi anak yatim piatu."


"Cuma piatu, Jon. Kan Bapaknya masih hidup."


"Mana kita tau Bapaknya masih hidup atau nggak, kan udah dijual, Bi."


"Yang beli Pak RT. Dan Abi lihat masih hidup itu kambing."


"Tapi kenapa dijual sih, Bi?"


"Pak RT-nya kepengen. Katanya kambingnya yang betina nggak beranak-beranak."


"Oooh ... tapi kasihan ibunya anak kambing, jadi mati karena suaminya pergi meninggalkannya." Joe menatap sedih ke arah ketiga kambing di depannya. Tiba-tiba dia jadi membayangkan Robert, saat ditinggal Sonya. Dia berpikir ketiga kambing itu pasti merasakan kesedihan yang sama. Apalagi tanpa ada Bapaknya juga.


"Ibunya mati bukan karena ditinggal suaminya, Jon. Tapi emang kena penyakit."


"Penyakit apa?"


"Muntaber."


"Lho ... kambing juga bisa kena muntaber, Bi? Kayak manusia aja." Joe menatap tak percaya.


"Ya bisa lah, Jon."


...Malah ngobrolin kambing 🤣...

__ADS_1


__ADS_2