Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
80. Jemput Abi pulang


__ADS_3

"Aa! Bangun, A! Gawat, A!" seru Syifa seraya mengguncang tubuh Joe.



Pria bermata sipit itu pun langsung membuka matanya secara paksa, kemudian duduk dan menatap Syifa. "Gawat?! Gawat kenapa, Yang?!" tanyanya yang tampak panik.



Joe juga menoleh ke arah kanan untuk melihat keberadaan Robert, khawatir kalau yang dimaksud Syifa gawat adalah tentang anaknya.



Namun, melihat bocah itu masih terlelap tidur dengan posisi men\*ngging—Joe pun langsung menghela napasnya dengan lega, sambil mengelus-elus dada.



"Abi, Abi ketinggalan di kantor Aa," jawab Syifa dengan sedih.



"Ketinggalan? Kok bisa? Maksudnya bagaimana?" Kening Joe tampak mengernyit. Bingung mendengar jawaban dari istrinya. Selain itu dia juga tengah mengumpulkan nyawa.



"Semalam itu 'kan aku pergi ke kantor Aa bertiga sama Abi. Tapi pas pulang Abi nggak ikut kita pulang. Anehnya, aku justru baru sadarnya sekarang kalau dia belum pulang, dan kemungkinan dia masih ada di ruang kerja Aa," jelas Syifa panjang lebar.

__ADS_1



"Ya ampun, kasihan Abi, Yang." Joe langsung bangkit dari kasur, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Tak lama berselang setelah selesai, dia menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Sebab Joe saat ini hanya memakai celana boxer berwarna hitam tanpa baju. "Aku juga lupa nanya lagi, pas nggak ngelihat Abi. Aku berpikir dia memang sudah pulang duluan."



"Iya. Ini salahku, A. Aa tolong antar aku ke kantor Aa, ya? Aku mau jemput Abi pulang," pinta Syifa memelas.



"Biar aku sendiri saja yang mengeceknya. Kamu nggak usah ikut, nanti Robert mencarimu, Yang." Setelah memakai hoodie dan celana panjang berbahan katun, Joe segera mengambil kunci mobil di atas nakas, lalu mendekat ke arah Syifa untuk mengecup bibirnya sekilas. "Aku pamit, Yang, assalamualaikum."




"Iya, Yang." Joe mengangguk seraya masuk ke dalam mobil.



"Si Joe mau ke mana, Fa?" tanya Umi Maryam, dia menghampiri anaknya yang berdiri di ambang pintu.



"Jemput Abi, Umi," jawab Syifa. Kemudian menoleh ke arah Umi Maryam dengan raut sedih dan penuh sesal. "Semoga saja Abi baik-baik saja di sana. Aku takut Abi kenapa-kenapa." Bukan hanya takut kenapa-kenapa, tapi dia juga sangat takut jika nantinya pria tua itu marah padanya.

__ADS_1



"Amin." Umi Maryam mengangguk, lalu merangkul bahu anaknya. "Tapi Umi masih heran. Kok bisa-bisanya Abi ketinggalan? Sedangkan dia berangkatnya bareng sama kalian, kan?"



"Aku juga bingung sendiri, aku kira awalnya Abi mengikuti aku dan Robert pas kami keluar kantornya Aa. Tapi rupanya dia nggak ikut kami, Umi," sahut Syifa menjelaskan.



"Mungkin Abi kebelet ke WC kali, ya? Pas kalian pergi itu. Mangkanya dia nggak mengikuti kalian," tebak Umi Maryam.



"Enggak tau, mungkin saja." Syifa sendiri memang tidak tahu apa yang dilakukan Abi Hamdan, saat mereka masuk bersama ke dalam ruangan Joe. Sebab fokus dia saat itu mencari keberadaan suaminya, serta jejak perselingkuhan yang dia pikirkan akan ada.



Memang, seseorang yang tengah cemburu buta itu benar-benar membuat pikiran tak tenang. Sampai-sampai mengabaikan orang-orang disekeliling.



"Ya sudah, sekarang kita masuk ke dalam dan kamu bangunkan Robert. Kita sahur duluan saja, kasihan si Robert soalnya. Dari semalam nggak makan," saran Umi Maryam, kemudian mengajak Syifa masuk bersama dan menutup pintu.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2