
"Eh, Oma? Sejak kapan Oma ada dikamar?"
Pertanyaan dari Robert mengenyahkan semua lamunan di dalam otak Mami Yeri, dia juga sampai tersentak karena kaget sendiri.
"Baru saja, Sayang," jawab Mami Yeri yang berusaha tersenyum, tapi terlihat jelas dia seperti gugup. "Habis ngapain kamu? Kok naruh selimut di lantai?" tanyanya berpura-pura tidak tahu.
"Sholat, Oma." Robert meraih selimut itu kemudian mengibaskannya supaya tak kotor, sebelum akhirnya dia taruh kembali di atas kasur. "Berhubung nggak ada sajadah, jadi pakai selimut."
"Oh ... memangnya boleh, begitu?" Mami Yeri perlahan melangkah, lalu duduk di atas kasur.
"Kata Opa Hamdan boleh, pakai alas apa pun untuk sholat. Yang penting nggak mengandung najis."
"Najis?" Kening Mami Yeri tampak mengerenyit. "Najis gimana maksudnya?"
"Ya najis, seperti terkena air pipis, ludah anjing, kotoran, kayak gitu, Oma. Kan kalau kita mau ibadah ... harus dengan keadaan suci."
"Oh. Jadi ludah anjing itu najis, Rob? Oma baru tau."
"Iya. Mangkanya Oma jangan mau kalau Molly suka jilat-jilatin tangan Oma. Itu nggak boleh," larang Robert sambil menggerakkan kedua tangannya menyilang di depan dada.
Mami Yeri memang memelihara seekor anjing yang begitu dekat dengannya dan suami. Ia bernama Molly dengan bulu hitam legam dan berukuran besar.
Ia tidur dan makan di rumah khusus anjing, yang Mami Yeri belikan untuknya. Berada di dekat pos satpam dan dua satpam rumahnya pun ikut mengurusnya.
Molly terbilang anjing yang penurut, dan tak suka asal mengigit orang kecuali orang tersebut orang yang akan berniat jahat dan asing dalam pandangannya.
Alasan Mami Yeri memelihara anjing itu sendiri karena awalnya dia kasihan, melihat anjing itu terlantar dijalan dan kelaparan. Selain itu, rumah Mami Yeri dulunya sering sekali kemalingan.
Dan saat Molly menjadi anggota baru di rumah itu, rumah Mami Yeri tak pernah lagi ada maling masuk. Sebab Molly sendiri sering menggonggong ketika ada orang asing yang baru datang ke rumah itu. Seolah mengisyaratkan jika ada orang tak dikenal berani menginjak rumah majikannya.
"Iya deh. Nanti Oma akan bilang sama Molly untuk jangan menjilat-jilat tangan Oma lagi," balas Mami Yeri menyetujui nasihat dari cucunya.
"Bukan hanya tangan. Tapi semuanya ya, Oma, jangan," tambah Robert memberitahu.
"Iya, Sayang." Mami Yeri menganggukkan kepalanya. "Tapi ngomong-ngomong ... kenapa kamu belum mandi? Memangnya boleh ... orang sholat belum mandi? Kan bau?" tambahnya sambil memerhatikan wajah bantal Robert.
__ADS_1
"Kata siapa Robert bau?" Robert langsung mengangkat kedua tangannya diudara, lalu mencium ketiaknya sendiri. Baginya, dia tak mencium aroma bau apa-apa di sana. Hanya saja tubuhnya agak asem sedikit dan menurutnya itu wajar karena belum mandi. "Cuma asem sedikit mah nggak apa-apa, dan Robert nggak bau kok Oma. Kata Opa Hamdan juga boleh, sholat meskipun kita belum mandi, yang penting kita nggak ada hadas."
"Hadas?" Mami Yeri kembali terlihat bingung sendiri.
"Iya. Hadas itu seperti kita selesai datang bulan dan berhubungan badan, tapi belum mandi wajib. Jadi itu kita ada hadas," jelas Robert yang menangkap semua apa yang disampaikan Abi Hamdan yang menjadi guru agamanya saat ini. "Robert 'kan masih kecil dan laki-laki, jadi nggak ada hadasnya. Pakaian Robert juga bersih, kecuali kalau Robert ngompol dicelana. Baru itu najis dan musti mandi, Oma."
"Ternyata kamu sudah belajar banyak, ya, selama ini. Sampai sudah pintar begitu." Mami Yeri tersenyum getir. Entah mengapa dia tidak suka mendengarnya, tapi berpura-pura bersikap biasa saja. "Sekarang kamu mandi dulu gih, terus sarapan. Oma belikan sereal coklat untuk sarapanmu. Katanya kamu kemarin kepengen makan sereal, kan?"
"Tapi pas sarapan, Robert mau telepon Mommy, ya, Oma? Robert kangen," rengeknya dengan manja.
"Iya. Nanti kita meneleponnya." Mami Yeri menganggukkan kepalanya sembari berkedip.
"Semalam itu, kita sampai rumah jam berapa, sih, Oma? Mainnya kita kayaknya kelamaan, ya? Sampai Robert ketiduran."
"Jam 9 malam," jawab Mami Yeri seraya mengusap puncak rambut sang cucu. "Nggak apa-apa main lama. Kan udah lama juga. Iya, kan?"
"Iya, sih." Robert menganggukkan kepalanya, manik matanya pun perlahan menatap sekitar ruang kamar itu. Seperti mencari-cari sesuatu. "Daddy ngomong-ngomong udah bangun atau belum, Oma? Semenjak Robert bangun tidur kok dia nggak ada?"
"Kamu mending mandi dulu. Baru banyak nanya. Nanti Oma jawab semuanya, ya?" Mami Yeri berdiri, kemudian menarik tangan sang cucu menuju kamar mandi. Tapi saat diambang pintu, bocah itu langsung menahan kakinya. "Kenapa, Sayang?"
"Kamu nggak mau Oma mandiin? Kan udah lama juga Oma nggak mandiin kamu?" tawar Mami Yeri dengan lembut.
"Bukan nggak mau. Tapi Robert lagi kepengen mandi sendiri. Lain kali saja, ya, Oma. Oma tunggu Robert selesai mandi saja. Duduk di sana," rayu Robert sambil menunjuk ke arah kasur.
"Oh ya sudah kalau begitu." Mami Yeri tersenyum dengan anggukan kecil. Dia menyetujui dan tak berniat ingin memaksa. "Kamu mandi yang bersih. Kalau butuh apa-apa panggil saja, ya? Oma akan siapkan baju ganti untukmu," lanjutnya seraya mengusap puncak rambut Robert.
"Oke. Tapi Robert kepengen pakai baju Koko. Ada nggak?"
"Enggak ada." Mami Yeri menggeleng.
"Oma mau nggak, beliin buat Robert? Soalnya Robert lagi kepengen pakai baju Koko hari ini," pintanya dengan wajah memelas.
"Ya sudah, Oma belikan." Mami Yeri tersenyum setuju. "Tapi dari online paling, ya? Dikirim langsung."
"Iya." Robert langsung melompat-lompat karena sangking senangnya, lantas buru-buru dia pun masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Mami Yeri pun lantas menuju kasur dan duduk di tepinya. Perlahan tangan kanannya merogoh rok pendeknya untuk mengambil ponsel, kemudian membuka aplikasi marketplace langganannya untuk mencari serta memesan stelan Koko untuk Robert.
Setelah berhasil menemukan dan memesannya sesuai alamat, Mami Yeri pun berinisiatif untuk menghubungi Papi Paul, sembari menunggu Robert selesai mandi.
Tapi dia meneleponnya keluar dari kamar, sebab khawatir kalau sampai didengar oleh Robert.
"Halo, Pi, pagi," sapa Mami Yeri dengan ramah saat panggilan telepon itu diangkat oleh seberang sana.
"Pagi juga. Baru aja Papi ingin telepon Mami. Eh keburu ditelepon." Papi Paul terdengar terkekeh diseberang sana. "Oh ya bagaimana kabar Mami dan Robert? Apa semua baik dan sudah sarapan?"
"Kabar Mami dan Robert baik, Pi. Ini baru mau sarapan, nunggu Robert selesai mandi. Papi sendiri gimana?"
"Papi juga baik. Dan barusan udah sarapan," jawab Papi Paul. "Mami udah bicara sama Robert, kan, tentang Joe dan Syifa yang akan bercerai? Bagaimana tanggapannya?"
"Belum, Pi," sahut Mami Yeri pelan dan reflek menggelengkan kepalanya.
"Lho, kenapa belum? Padahal jam 8 Papi mau ikut mengantar Joe lho, ke pengadilan. Papi juga sudah sewa pengacara hebat supaya perkara ini disetujui oleh Hakim."
"Mami takut kayaknya, Pi." Tiba-tiba, seluruh bulu kuduk Mami Yeri berdiri. Dia juga merasakan kulitnya merinding lantaran teringat akan kalimat do'a yang dipanjatkan oleh cucunya tadi.
"Takutnya kenapa?"
"Takut Robert nggak setuju, dan takut Robert berbuat nekat. Mami nggak mau kehilangan Robert, Pi."
"Maksudnya gimana sih, Mi?" Papi Paul mungkin terheran-heran di sana. Tak mengerti dengan ucapan Mami Yeri yang menurutnya belum jelas.
"Tadi, pas Mami masuk ke dalam kamar ... Mami nggak sengaja lihat Robert sholat dan habis itu berdo'a, Pi."
"Lalu?"
"Lalu dia mengatakan kalau dia berterima kasih kepada Tuhannya, karena telah mempertemukannya dengan Syifa yang menjadi sosok Mommy baru yang selama ini dia cari. Robert juga bilang ... kalau dia nggak bisa bayangkan jika rumah tangga orang tuanya hancur. Dan katanya, dia lebih baik mati, Pi."
"Mati?!" Papi Paul terdengar memekik. Sepertinya dia kaget mendengar apa yang Mami Yeri sampaikan. "Serius, Robert ngomong kayak gitu dido'anya, Mi?" tanyanya memastikan.
"Serius. Orang Mami dengar jelas kok." Mami Yeri mengangguk cepat dengan wajah ketakutan. Susah payah dia pun menelan ludahnya sambil menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat. "Mami jadi takut, kalau sampai Robert tau kita berniat memisahkan Joe dan Syifa. Apa dia akan berbuat nekat, Pi? Dan apakah kita harus urungkan niat, untuk memisahkan mereka?"
__ADS_1
...Haruslah🙃...