
"Terus gimana dong, Umi? Abi juga nggak ngerti." Abi Hamdan memerhatikan handle pintu itu kembali, kemudian mendekatkan card system yang dia pegang ke arah sana. Mencoba untuk membuka kunci. Namun sayang, pintu itu tak kunjung dibuka. Entah dia salah atau bagaimana, tapi yang jelas—sudah beberapa kali menarik turunkan gagangnya tapi usahanya tak membuahkan hasil. "Duh, nggak bisa kebuka, Umi," keluhnya bingung, sambil menggaruk rambutnya dan melepaskan peci.
"Terus gimana dong, Bi? Umi capek banget kepengen istirahat. Umi juga pengen ngerasain tidur di kasur hotel, pasti empuk banget.."
"Coba minta bantuan sama si Jojon deh." Abi Hamdan melangkah cepat menuju kamar Joe, tapi saat dirinya hendak mengetuk pintu—Umi Maryam langsung mencegahnya.
"Jangan ganggu mereka, Bi! Nggak boleh!" larangnya cepat. Umi tak mau, jika kedua kalinya akibat ulah suaminya—Joe dan Syifa merasa terganggu. Bisa saja dua insan itu belum selesai, dan dia sendiri tidak tahu mereka sekarang sedang apa.
"Abi nggak niat menganggu. Cuma mau minta tolong." Sekarang tangan Abi Hamdan menuju bel, hendak memencetnya. Tapi lagi-lagi, Umi Maryam mencegahnya.
"Dibilang jangan. Minta bantuan ke orang lain saja, Bi!"
"Orang lainnya siapa, Umi?" Abi Hamdan menatap istrinya dengan bingung. "Nggak mungkin juga kita menganggu besan kita. Nggak enak, Abi."
"Minta tolong sama orang yang kerja di sini saja, Bi. Pasti mereka bisa membukanya," saran Umi Maryam.
"Yang kerja? Mana ada?" Abi Hamdan menatap lorong ruangan itu, bahkan suasananya saja sepi. Tidak ada cleaning servise atau pelayan yang lewat. "Sepi banget, Umi."
"Di sini mungkin sepi. Tapi di bawah 'kan nggak, Bi," sahut Umi Maryam. "Coba Abi pergi ke lantai dasar untuk meminta tolong ke pelayan, atau satpam depan. Pasti mereka mau membantu."
"Abi nggak bisa naik lift, Umi."
"Dih, masa nggak bisa, sih?" Umi Maryam mendengkus. Dia terlihat mulai kesal sebab rasanya kembali mengantuk.
"Umi bisa? Sama Umi saja ayok," ajaknya yang langsung menarik tangan Umi Maryam. Tapi wanita itu cepat-cepat menahan kakinya.
"Umi juga nggak bisa," jawab Umi Maryam sambil menggelengkan kepalanya. "Bingung caranya, nanti yang ada kita kejebak di lift. Malah makin bahaya."
"Terus gimana? Masa kita di sini sampai pagi?" Abi Hamdan menatap jam yang sudah lewat 30 menit dari saat dimana mereka sampai di sana. "Tapi memang sudah pagi sih. Ya minimal kita bisa istirahat dulu. Sambil memadu kasih juga sebentar."
Abi Hamdan pun dengan perlahan memeluk tubuh istrinya, dan tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun dengan cepat, wanita itu mendorong dada sang suami. Hingga bukan hanya tautan bibir saja yang terlepas, tapi pelukannya juga.
"Dih Abi! Malu!" cicitnya mengerang.
__ADS_1
"Malu kenapa? Orang nggak ada orang? Sepi begini. Si Jojon sama Syifa saja pasti sedang memadu kasih. Masa kita nggak, sih?" Abi Hamdan mengerucutkan bibirnya, lalu kembali memeluk tubuh istrinya. "Katanya Umi mau lihat tongkat Abi yang baru? Udah Abi cukur juga lho, bulunya sedikit. Biar nggak terlalu gondrong."
"Minimal kamar kita kebuka dulu, Bi. Baru Abi ngomong kayak gitu."
"Kan Abi udah bilang nggak bisa, Umi. Mau minta tolong juga ke siapa? Bingung ... orang sepi."
"Dicoba lagi lah Abi. Diakalin gimana kek, Abi 'kan laki-laki ... harus bisa dong apa-apa juga," omel Umi Maryam yang tampak sudah lelah.
"Ya sudah, Abi akan coba lagi." Abi Hamdan menghela napasnya dengan berat. Setelah melepas pelukannya, dia melangkah kembali menuju pintu kamar dan Umi Maryam pun mengikutinya.
***
Syifa menggeliatkan tubuhnya sambil mengerjap dengan perlahan, saat di mana dia merasakan ada sesuatu yang membuat tubuhnya merinding.
Ketika kedua pasang mata itu sudah benar-benar terbuka. Dia sontak terkejut melihat Joe sudah berada di atas tubuhnya, tengah bermain pada kedua dadanya seperti seorang bayi.
Satunya sibuk oleh mulut, satunya lagi sibuk oleh tangan.
"Aa ...," lirih Syifa sambil menahan desaahan yang hampir saja lolos.
Syifa menelan salivanya dengan kelat, lalu mengulas keringat yang baru saja mengalir di dahinya.
Tubuh mereka saja sekarang masih sama-sama polos. Ronde pertama dilakukan dan keduanya langsung tepar tidur, karena mungkin sangking capeknya.
Namun sebenarnya, Joe sudah bangun lebih dulu saat jam 12 malam. Sebab miliknya kembali bangun dan ingin meminta ronde kedua.
Sayang, itu tidak dilakukan. Lantaran melihat Syifa tertidur dengan pulas—Joe tak berani membangunkan.
Tapi yang sekarang dia lakukan adalah sangking tidak tahannya, jadi dia bermain pada gunung kembarnya terlebih dahulu. Dan supaya merangsang istrinya juga, supaya tak menolak ketika akan kembali diajak.
"Jam berapa sekarang, A?" tanya Syifa pelan.
"Jam 4, Sayang."
__ADS_1
Syifa langsung menahan tangan Joe yang sejak tadi sibuk memilin puncak dada. Rasanya geli, tapi ada enaknya. Tapi juga membuatnya tidak karuan untuk bicara. "Ya ampun, sebentar lagi Subuh ternyata. Aku ketiduran semalam ya, A?"
"Iya. Mungkin karena kamu kecapekan." Joe tersenyum sambil memandangi tubuh canyon istrinya yang sudah terhapus oleh make up. Jemari Joe perlahan terangkat, lalu membelai lembut pipi kanan Syifa yang sudah merona bagaikan tomat. "Apa sekarang tubuhmu masih capek, Yang?"
"Iya, A." Syifa mengangguk pelan. "Badanku rasanya sakit semua, apalagi milikku. Masih perih." Dia menarik ujung selimut yang berada di perut, sampai tubuhnya tertutup sebatas dada.
"Kita berendam di air hangat, yuk, biar enakan."
Joe bukan sekedar mengajak, tapi dia juga sudah mengangkat tubuh Syifa dan membawanya menuju kamar mandi.
Sebelum masuk ke dalam bathtub, dia lebih dulu mendudukkan Syifa ke atas kloset yang tertutup. Kemudian dia mengisi air hangat.
Syifa yang sejak tadi memerhatikan apa yang Joe lakukan menjadi salah fokus sendiri, sebab pria itu tidak memakai apa-apa.
"Kenapa Aa masih nggak pakai apa-apa?" tanyanya dengan wajah yang berpaling ke arah lain. Dia merasa malu sendiri, padahal dia juga sama-sama bertubuh polos. Hanya bedanya tertutup oleh selimut yang saat ini dia lilit.
"Kan kita mau berendam ini, Yang. Ngapain pakai baju segala?" Padahal alasan Joe yang utama adalah supaya Syifa tergoda. Meskipun dia sendiri tidak yakin kalau istrinya itu akan tergoda dengan tubuhnya.
"Berendamnya masing-masing saja deh, A. Jangan berdua."
"Lho, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Nanti sempit."
"Nggak bakal sempit. Orang bathtub-nya luas." Setelah benda itu terisi penuh air hangat, Joe kembali mendekat ke arah Syifa dan mengendongnya menuju bathtub.
Sebelum keduanya sama-sama memasukkan tubuh ke dalam sana, dia lebih dulu menarik selimut di tubuh Syifa. Tapi rasanya susah sekali, seperti ditahan.
"Aku berendamnya pakai selimut saja, A, nggak apa-apa," ucap Syifa. Dia merasa malu untuk membuka selimut. Malu juga untuk te*lanjang bersama.
Meskipun semalam sudah melakukannya, tapi tetap saja rasa malu itu masih ada.
"Berendamnya jangan pakai selimut, Yang. Nanti airnya nggak meresap ke kulit. Katanya milikmu sakit, tadi. Jadi biarkan dia menyentuh air hangat, biar sakitnya hilang," kata Joe memberitahu. 'Kalau pakai selimut mana bisa aku masukkin lagi, Yang. Dan di kamar mandi kayaknya seru, kalau kita mencobanya lagi. Pasti ini akan menjadi pengalaman pertamamu,' batin Joe yang sejak tadi memikirkan hal itu. Miliknya yang begitu kokoh memang tak bisa membohonginya.
__ADS_1
...Adeehh yang kepengen nambah 🤣 padahal udah dibilang masih perih 🤭...