
"Nggak enaknya gimana?" tanya Robert dengan kening yang mengerenyit.
"Karena ...." Leon langsung memegang lengan kanan Robert dan menghentikan langkahnya. Sehingga membuat langkah kaki Robert ikut terhenti. Dia lantas menatap ketiga temannya dan Sandi, yang masih berjalan tanpa tahu mereka tertinggal.
Sengaja Leon melakukan hal itu, supaya bisa berbicara empat mata saja dengan Robert. Kalau yang lain ikut, pasti tak ada yang memihak padanya. Sebab hanya dialah satu-satunya non muslim di antara mereka.
"Karena apa, Leon?" tanya Robert sekali lagi. Sebab pertanyaannya tadi belum dijawab.
"Karena kalau kamu masuk Islam, nanti kamu pasti akan disuruh sunat. Kamu tau sunat, kan?"
"Tau." Robert mengangguk. "Daddyku pernah cerita ... katanya disunat itu tongkat kita dipotong sedikit ujungnya, biar bagus." Dengan refleks Robert menyentuh inti tubuhnya dibalik celana.
"Sedikit apanya? Orang banyak. Udah gitu rasanya kamu tau nggak kayak apa?
"Kayak apa?"
"Kayak kita digigit harimau!" Kedua tangan Leon terangkat dan berekspresi seolah-olah menjadi harimau. Demi menakut-nakuti Robert supaya dia tak masuk Islam. "Sakit banget tau, Rob. Mana berdarah-darah lagi. Memangnya ... kamu nggak takut, ya?"
"Masa sih kayak digigit harimau?" Bukannya takut. Robert justru tengah membayangkan. Tapi agak sulit juga, sebab dia sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya digigit harimau.
"Iya. Masa kamu nggak percaya?"
"Masalahnya aku belum pernah digigit harimau. Jadi nggak tau rasanya kayak gimana, Leon."
"Ya aku kasih tau. Mangkanya kamu jangan mau disunat, Rob. Bisa-bisa nanti kamu nggak bisa kencing," ucap Leon yang kembali menakut-nakuti.
"Tapi Daddyku kemarin baru aja disunat. Tapi dia biasa saja, dan nggak ngomong kalau nggak bisa kencing."
"Daddymu 'kan orang dewasa, wajar nggak ngomong. Tapi kalau kita 'kan masih kecil, Rob," sahut Leon. Lengannya perlahan merangkul bahu Robert, lalu menepuk-nepuknya dengan pelan. "Mending kamu pikir-pikir dulu deh, sebelum mau masuk Islam. Jangan sampai nanti kamu menyesal karena sudah merelakan tongkatmu yang telah dipotong."
"Tapi si Juna juga udah disunat, Leon. Buktinya dia biasa saja, tuh, nggak kenapa-kenapa." Robert terlihat belum percaya.
"Nggak kenapa-kenapa kata siapa? Dia pernah cerita sama aku katanya sampai nggak bisa kencing, kamunya aja yang nggak tau." Entah yang dikatakan Leon sungguhan atau tidak. Tapi wajahnya terlihat begitu meyakinkan.
"Ah masa, sih?"
"Iya, percaya deh sama aku," sahut Leon. "Terus selain disunat ... jadi umat Islam itu banyak aturannya tau. Ribetlah pokoknya."
__ADS_1
"Contohnya gimana?"
"Harus sholat 5 waktu." Lima jari Leon terangkat diwajah Robert. "Itu gimana kalau kita lagi asik main? Jadi nggak puas mabar dong, Rob. Terus ... orang Islam juga nggak boleh makan daging babi, padahal daging babi itu enak, kan? Masa nggak boleh?"
"Masa sih nggak boleh makan babi? Kamunya kata siapa?" Daging babi termasuk makanan favorit Robert. Apalagi ketika dirinya main ke Korea bersama Mami Yeri, hampir setiap hari mereka makan itu.
"Kata Ustad di dekat rumahku. Dia bilang kayak gitu."
"Mungkin, daging babinya hasil nyuri kali. Mangkanya nggak boleh."
"Dih beneran," jawab Leon dengan sungguh-sungguh. "Tanya aja coba kamu sama Bu Syifa. Pasti nggak boleh. Nggak enak, kan, jadi orang Islam? Ribet, Rob."
"Tapi kalau aku nggak masuk Islam. Aku nggak bisa sholat berjamaah sama Daddy, Mommy, Opa Hamdan dan Oma Maryam dong, Leon."
"Ya terus kenapa? Nggak masalah kali, Rob."
"Tapi nanti akunya—"
"Dek Robert! Ayok!" Dari ujung koridor, Sandi memanggil dan melambaikan tangan kepadanya. Rupanya dia baru sadar jika Robert dan Leon tertinggal di belakang.
Gegas, Robert dan Leon pun berlari menghampiri. Menyusul Sandi dan ketiga temannya yang lain, juga mengakhiri percakapan mereka.
*
"Saya datang dengan anak-anak, mau menjenguk Bu Syifa, Pak," ucap Pak Bambang meminta izin seraya memberikan apa yang dibawa. Yakni dua plastik putih berisi buah jeruk, roti, jus dan juga susu.
"Merepotkan sekali, Pak." Abi Hamdan menerimanya dengan senang hati. Kemudian menatap Robert dan teman-temannya. "Terima kasih."
"Sama-sama." Pak Bambang tersenyum. Dia lantas menoleh, ikut menatap Robert dan teman-temannya. "Ada beberapa murid yang lain, di dalam mobil yang menunggu. Ternyata mereka semua ingin menjenguk Bu Syifa. Tapi, saya memintanya untuk menjenguk secara bergilir ... karena takut tidak diperbolehkan oleh pihak rumah sakit dan akan menganggu keadaan Bu Syifa, Pak."
"Iya. Itu bagus. Silahkan masuk!" Abi Hamdan mengangguk dan memberikan izin. Pintu itu pun segera dia buka, kemudian melebarkannya.
"Assalamualaikum! Mommy!" seru Robert dengan penuh semangat. Dia lah yang lebih dulu masuk sambil berlari, kemudian disusul oleh keempat temannya yang lain.
Pak Bambang sendiri tidak ikut masuk, hanya melihat keadaan Syifa di depan pintu bersama Abi Hamdan.
"Walaikum salam," jawab Syifa seraya menoleh. Mulutnya terlihat penuh oleh makanan. Mereka semua datang tepat dijam makan siang dan Umi Maryam lah yang menyuapi.
__ADS_1
"Wah ada tamu rupanya." Umi Maryam tersenyum, kemudian mengusap rambut kepala bocah-bocah itu. Yang tengah mencium punggung tangannya secara bergantian.
"Robert bukan tamu lho, Oma. Kan Robert cucu Oma," ucap Robert, lalu memeluk tubuh Umi Maryam.
"Iya. Kamu cucu Oma, Nak!" Perlahan, Umi Maryam mengecup kening.
"Bagaimana keadaan Bu Syifa? Ibu sakit apa?" tanya Juna seraya mendekat. Atta dan Baim sudah duduk di atas ranjang, di dekat Syifa.
Gadis itu juga terlihat tenang. Mungkin efek obat penenangnya yang sudah bereaksi.
Tampaknya, mereka semua selain Robert—tak tahu jika Syifa diculik dan dipe*rkosa.
"Ibu baik-baik saja kok," jawab Syifa sambil tersenyum. "Bagaimana pelajaran hari ini? Apa menyenangkan?"
*
*
*
Seusai seluruh murid-murid itu pulang. Sekarang hanya ada Robert, Umi Maryam dan Syifa di dalam ruangan itu.
Umi Maryam tengah menyuapi Syifa potongan buah apel, dan Robert yang menginginkannya pun ikut dia suapi juga.
Hari juga sudah menjelang sore.
"Perasaan ... semenjak Robert pulang sekolah, Robert nggak melihat Daddy. Ke mana Daddy, Oma, Mom?" Robert bertanya sambil menatap kepada Umi Maryam, kemudian berganti pada Syifa yang tengah menelan kunyahannya.
"Daddymu Ibu us—"
"Daddymu pergi bekerja, Rob," sela Umi Maryam cepat. Dia seolah tahu akan apa yang hendak Syifa katakan. Dan dia juga tak mau, kalau sampai Robert mendengar hingga membuatnya terluka, karena Syifa telah mengusir Joe.
"Oh. Tapi 'kan Mommy sedang sakit. Kok Daddy kerja? Harusnya 'kan di sini, temenin Mommy." Robert merogoh kantong celana jeansnya untuk mengambil ponsel. Akan tetapi, benda itu langsung diambil Syifa.
"Kamu mau apa, Nak?" tanyanya dengan lembut.
"Mau telepon Daddy, Mom. Suruh dia cepat pulang. Pasti Mommy kangen juga, sama Daddy, kan?"
__ADS_1
"Nggak usah ditelepon. Dia pasti sedang sibuk." Sengaja Syifa berkata seperti itu, supaya Robert tak jadi menghubungi Joe. Dia tak mau, melihat pria itu.
...Nggak boleh gitu, Fa, nanti Om Joe nggak pulang-pulang kayak Bang Toyib bisa nangis kamu 🤣...