
"Eemmm ... ya sudah deh." Karena merasa tak tega, akhirnya Bu Sari setuju. Dia juga mengingat akan kebaikan Joe yang begitu banyak selama ini kepada anaknya.
"Terima kasih, Bu." Joe langsung tersenyum dengan mata berbinar bahagia.
"Sama-sama, Pak. Tapi kalau ada apa-apa, tolong jangan bawa-bawa saya, ya? Niat saya disini hanya membantu Bapak," pinta Bu Sari.
"Siap, Bu." Joe mengangguk cepat. "Ibu nggak akan dibawa-bawa, dan permintaanku pun bukan tindakan kriminal. Jadi aman."
"Saya akan membuat kopi sekarang. Tapi Bapak sendiri mau dibuatkan minum apa? Kopi, susu, teh atau jus?"
"Saya nggak kepengen apa-apa, Bu," tolak Joe.
"Baiklah." Bu Sari mengangguk, lantas berbalik badan dan mengetuk pintu kamar di depan. "Sandi! Bangun, Nak! Ada Pak Joe menunggumu!" panggilnya setengah berteriak.
Tok! Tok! Tok!
Tak menunggu waktu yang lama, Sandi pun keluar dengan memakai baju koko dan sarung. Dia juga terlihat sudah mandi. Wajahnya cerah, tampan dan wangi.
Ceklek~
"Eh, Pak Joe. Bapak kok ke rumah saya?" tanya Sandi agak terkejut, sebab bisa dikatakan—Joe baru pertama kali menyambangi rumahnya.
"Ajak ngobrol Pak Joe sambil duduk, San. Biar sopan," tegur Bu Sari, dan setelah itu dia pun lantas berlalu pergi ke arah dapur.
"Ayok duduk, Pak," ajak Sandi seraya menunjuk ke arah sofa, kemudian melangkah dan duduk lebih dulu pada sofa single.
Joe pun mengangguk dan langsung duduk di sofa panjang.
"Apa Bapak tadi sudah ditawari minum oleh Mama saya? Atau mau saya buatkan sesuatu?" tanya Sandi.
"Udah, San. Tapi aku nggak kepengen apa-apa. Yang kuinginkan hanya ketemu Syifa."
__ADS_1
"Lho, memangnya Bapak nggak bisa ketemu Bu Syifa?" tanya Sandi heran. "Eh ... Pak, ngomong-ngomong saya sudah mendapatkan dokter kandungan yang mau dibayar. Maafkan saya karena lupa memberitahu, kemarin sebenernya saya datang ke rumah mertua Bapak ... tapi kata Bu Maryam Bapak lagi pergi ke Korea. Apa benar?"
"Benar." Joe mengangguk. "Aku kemarin-kemarin memang pergi ke Korea. Tapi baru semalam sampai Indonesia, dan tentang dokter kandungan itu ... batalkan saja, San."
"Batalkan?" Sandi menautkan alis matanya, lalu kembali bertanya," Lho, kenapa, Pak? Padahal sudah saya kasih DP lho, biar dia langsung mau. Pokoknya nanti kalau Bu Syifa periksa kandungan ... pasti semuanya akan beres, nggak akan ada yang tau dan curiga jika Bu Syifa sebenarnya belum hamil." Sepertinya Sandi memang belum tahu. Akan perkara yang sudah terjadi dan dialami oleh Joe saat ini. "Tapi saya sarankan ... Bapak juga musti rajin nanem bibit, biar Bu Syifa cepat hamil, Pak."
"Sudah terlambat, San. Semuanya sudah terbongkar," sahut Joe dengan serak, menahan dadanya yang tiba-tiba sesak.
"Terbongkar? Maksudnya sudah ketahuan? Kalau Bu Syifa nggak beneran hamil?" tebak Sandi.
"Iya." Joe mengangguk dengan raut sedih.
"Terus bagaimana reaksi kedua belah pihak? Apa orang tua Bu Syifa dan orang tua Bapak marah?" tanya Sandi penasaran.
"Iya." Joe mengangguk lemah dan begitu lirih "Yang lebih parahnya ... Mami dan Papi memintaku untuk menceraikan Syifa, San."
"Astaghfirullahallazim!" Sandi tanpa sadar memekik karena sangking kagetnya, kedua matanya itu membulat sempurna. "Kok bisa, sih, Pak. Terus tanggapan Bapak apa?"
"Ya Allah ... kenapa setuju?!" Sandi kembali menyeru dan merasa terkejut. "Apa Bapak udah nggak cinta lagi, sama Bu Syifa?"
"Aku sangat mencintainya, San."
"Kalau cinta, kenapa diceraikan? Bapak ini ngaco! Bapak 'kan dapetinnya susah! Masa secepatnya itu dilepaskan?! Apa Bapak nggak takut menyesal!" Sandi menggerutu, terlihat dia seperti tak setuju dengan langkah yang Joe ambil.
"Pelankan suaramu Sandi, jangan sampai ada yang mendengarnya," tegur Joe.
Memang sejak tadi, Sandi berbicara seperti orang yang teriak-teriak. Berbeda dengan Joe yang begitu pelan bahkan seperti orang yang sedang berbisik.
"Maaf, Pak. Maafkan saya," sesal Sandi yang langsung merendahkan nada bicaranya. "Saya terbawa emosi, karena kesal saja dengan langkah yang Bapak ambil. Saya tentu tau bagaimana perjuangan Bapak untuk mendapatkan Bu Syifa, dan rasanya aneh kalau Bapak bisa langsung setuju."
"Kalau tentang aku menyesal atau tidak ... jawabannya pasti menyesal. Tapi mau gimana, San?" Joe menjambak rambutnya dengan frustasi. "Dan kalau nggak setuju ... orang tuaku pasti menganggapku bukan anak yang berbakti. Orang merekanya saja maksa, kepengen aku sama Syifa cerai. Dan aku pun menyetujuinya karena terpaksa, San, terpaksa. Nggak mungkin juga aku melepaskan perempuan sesempurna Syifa. Yang selama ini aku dan Robert cari."
__ADS_1
"Tapi memangnya ... nggak ada cara lain, ya, Pak, selain bercerai? Kan itu cuma perkara Bu Syifa yang sebenarnya nggak hamil. Tapi 'kan bisa, orang tua Bapak menunggu ... barangkali bulan depan atau beberapa minggu kemudian, Bu Syifa bisa hamil. Iya, kan?"
"Bukan masalah Syifa belum hamil atau nggaknya, San. Tapi ini tentang mereka yang sudah kecewa, karena baru kali ini aku berani berbohong. Mereka berpikir ... aku berubah, dan perubahanku karena pengaruh sudah menikah dengan Syifa. Jadi mereka memutuskan untuk memisahkan kami."
"Tapi harusnya, Bapak jangan langsung setuju. Minimal cari cara dulu, jangan langsung pasrah. Dan lagian, memangnya bisa, ya, orang bercerai tanpa perkara? Yang ada perceraian kalian nggak diterima sama Pak Hakim, Pak." Sandi tak ada pengalaman dibidang ini, tapi apa yang dia katakan masuk akal juga.
"Aku nggak tau." Joe menggelengkan kepalanya. "Kalau pun nggak diterima, itu malah lebih bagus, San."
"Terus sekarang, rencana Bapak apa? Apa Bapak membutuhkan bantuanku?" Sandi langsung menawarkan diri.
"Untuk sekarang, aku hanya ingin bertemu dengan Syifa. Melepas rinduku dan mengatakan hal yang dia nggak tau. Tapi masalahnya di sini ... Mami dan Papi membayar dua orang untuk mengawasiku. Mencegahku untuk bertemu Syifa, San."
"Apa saat ini dua orang itu juga ada diluar?" tebak Sandi yang tepat sasaran. "Mereka juga ikut saat Bapak datang ke rumahku?"
"Iya." Joe mengangguk. "Niat awalnya aku mau ke rumah Abi, menemui Syifa. Tapi karena mereka terbangun dan mengatakan ingin mengantar ... jadi aku berbohong untuk minta diantar ke sini."
"Ya sudah, Bapak kabur saja lewat belakang rumahku," usul Sandi tanpa pikir panjang. "Kebetulan di belakang ada gang kecil yang lebih cepat sampai ke rumah Ustad Hamdan. Om Yunus sering memakai jalan itu untuk pulang pergi ke rumahnya."
"Tapi aku nggak tau jalannya, kalau misalkan aku nyasar gimana, San?"
"Biar saya antar, Pak. Tapi kemungkinan hanya bisa dengan motor. Apa Bapak nggak masalah, kalau saya antar naik motor?" Sandi bahkan tidak tahu, kalau Joe pernah naik motor atau tidak. Maka dari itu dia bertanya lebih dulu, takutnya sang bos menolak.
"Enggak apa-apa." Joe mengangguk cepat. "Asalkan bisa bertemu Syifa dengan selamat. Tapi memangnya kamu punya motor? Dan kita juga harus memakai helm biar aman, San."
"Ada motor Papaku, Pak. Pakai itu saja. Helm juga pasti ada," jawab Sandi dengan yakin.
"Boleh, San. Tapi apa bisa sekarang, kamu mengantarnya? Aku udah nggak sabar banget kepengen ketemu Syifa secepatnya."
"Bisa, Pak." Sandi mengangguk cepat, lalu berdiri dan menyentuh sarung yang dia pakai. "Saya ganti celana dulu, tapi, Bapak tunggu saja di dapur, ya? Soalnya motor Papaku ada di dapur."
"Iya." Joe mengangguk patuh. Segera dia pun berdiri kemudian melangkah menuju dapur, sedangkan Sandi sudah berlari masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^