Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
209. Pura-pura budeg


__ADS_3

Ting, tong!


Sebuah bel rumah milik Abi Hamdan tiba-tiba berdenting.


Di dalam kamar, sepasang insan itu tengah memadu kasih. Namun, seketika gerakan pinggul Abi Hamdan terhenti lantaran pinggangnya ditahan oleh Umi Maryam.


"Bi ... itu ada tamu," tegur Umi Maryam dengan napas memburu.


Bukannya menghentikan permainan, Abi Hamdan justru hanya menyingkirkan tangan istrinya dan kembali mengguncang tubuhnya dengan hentakkan yang jauh lebih keras.


Sayang rasanya, kalau aktivitas mengenakan seperti ini ditunda. Bisa-bisa dia sakit kepala atas dan bawah.


Setelah 5 menit kemudian berlalu, barulah Abi Hamdan bisa bernapas lega. Sebab telah berhasil mengeluarkan hasratnya.


"Huuuhh ... akhirnya." Sembari mengusap keringat di dahi, Abi Hamdan pun perlahan turun dari tubuh Umi Maryam dan juga turun dari kasur.


Ting, tong!


"Siapa sih, tamu yang datang? Nggak sopan banget! Kayak nggak ada siang saja! Jadi buru-buru begini keluarnya, padahal lagi penghayatan!"


Bukan Abi namanya kalau tidak mendumel. Apalagi diganggu dimomen yang seperti itu.


Meski hatinya masih terasa dongkol, tapi Abi Hamdan pun tetap keluar dari kamar untuk menemui tamunya. Tentu dengan dirinya yang sudah kembali berpakaian.


Sreeeek....


Gorden jendela depan dia buka terlebih dahulu, untuk mengintip siapakah orang yang berada diluar. Kebiasaan Abi memang selalu seperti itu, sebelum menerima tamu. Apalagi dijam malam seperti ini.


Namanya manusia, pasti ada rasa kekhawatiran. Bukan maksud bersu'uzan, tapi semua manusia tidak semuanya baik. Dan bisa saja, orang tersebut datang karena ada niat jahat. Sebagai manusia biasa tentu kita harus tetap berwaspada. Iya, kan? Dan itulah yang dilakukan oleh Abi Hamdan.


"Lho ... si Jojon ternyata?" Kening Abi Hamdan seketika mengerenyit, saat dimana dia melihat dari kaca jendela rumahnya. Joe lah yang datang, dia berdiri seorang diri tapi ada mobil miliknya yang berada di halaman rumah. "Mau ngapain dia malam-malam datang? Mana sendirian lagi."


Ceklek~


Pintu rumahnya pun akhirnya dibuka, sebelum kuncinya sempat dibuka juga.


"Assalamualaikum, Bi," ucap Joe yang langsung membungkuk dan mencium punggung tangan mertuanya. Wajahnya terlihat begitu ceria, ketika keduanya bertemu.


"Walaikum salam. Ada apa kamu, Jon? Kok malam-malam ke sini?"

__ADS_1


"Abi sama Umi ikut aku, yuk, kita makan nasi goreng," ajak Joe yang langsung to the poin. Bahkan dia juga sudah memegang tangan Abi Hamdan.


"Jadi kamu ke sini cuma mau ngajakin Abi sama Umi makan nasi goreng, gitu?"


Joe mengangguk. "Iya. Mangkanya ayok ikut sekarang."


Sebelum Abi Hamdan memberikan jawaban ya, atau tidak, Joe sudah lebih dulu menarik tangannya. Kemudian membawanya untuk masuk ke dalam mobil pada kursi depan.


Abi Hamdan terlihat heran, sebab ternyata Joe datang tidak sendiri. Melainkan bersama Sandi yang mengemudi, serta Syifa dan Robert yang duduk di kursi belakang. Hanya saja cucu laki-lakinya itu terlihat sedang tertidur dipangkuan Syifa.


"Malam, Bi." Syifa langsung memajukan tubuhnya, untuk bisa meraih tangan sang Abi untuk dia cium punggung tangannya. "Abi udah tidur belum tadi?"


"Malam juga, Fa. Abi belum tidur kok."


"Umi ke mana, Bi? Kok nggak keluar rumah?" tanya Joe, kemudian melangkah kembali menuju rumah sang mertua.


Baru sampai pintu, tapi tiba-tiba wanita yang dia tanyakan itu muncul. Joe sampai terjingkat dibuatnya, karena merasa kaget.


"Umi! Ya Allah, aku sampai kaget!" cicitnya sambil mengelus dada.


"Maafin Umi, Joe. Tapi kenapa kamu ada di sini? Dan di mana Abi?" Umi Maryam langsung menatap ke arah depan, tepat pada pintu mobil Joe. Dan kaca jendela depan mobil tersebut perlahan terbuka, ada Abi Hamdan di sana sedang melambaikan tangan. "Lho, Abi kok masuk mobil?" tanyanya heran.


"Malem-malem kamu ngajak kami makan nasi goreng, Joe? Apa nggak salah?" Umi Maryam menatap heran.


"Kenapa memangnya, Mi? Malam-malam makan nasi goreng itu enak. Mangkanya ayok ikut," ajak Joe dengan gerakan tangannya ke arah mobil.


"Tapi Umi nggak biasa makan semalam ini, Joe. Dan katanya ... makan malam itu bisa buat gendut. Umi nggak mau ah. Takut gendut, Joe." Umi Maryam menggelengkan kepalanya, menolaknya.


"Dikit doang mah nggak apa-apa, Umi. Nggak bakal bikin gendut. Lagian nggak tiap hari ini."


"Udah, Mi, ayok masuk! Abi nggak sabar banget kepengen makan nasi goreng!" Berbeda dengan Umi Maryam yang terlihat enggan untuk ikut, justru Abi Hamdan sendiri tampak lebih antusias. Tapi itu semua dikarenakan perutnya memang lapar.


"Eemm ... ya sudah deh." Meskipun terlihat ragu, akhirnya Umi Maryam pun setuju. Tapi sebelum masuk ke dalam mobil, dia lebih dulu mengunci rumahnya dan membawa ponsel barunya.


Mendadak, kening Umi Maryam pun seketika mengerenyit, kala melihat sudah ada Syifa dan Robert di dalam Mobil. Duduk dikursi tengah.


"Lho, Syifa dan Robert juga ternyata ikut?" Umi Maryam langsung duduk di samping Syifa, lalu meraih tubuh Robert supaya dia saja yang memangkunya.


"Ya masa Syifa dan Robert nggak aku ajak? Ya pasti kuajak lah, Umi." Joe terkekeh, lalu ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Syifa sebelah kanan.

__ADS_1


Sandi pun langsung menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju pergi dari sana.


Beberapa menit kemudian, mobil milik Sandi itu akhirnya berhenti di depan rumah mewah Papi Paul.


Tentunya, hal tersebut membuat Abi Hamdan dan Umi Maryam bingung. Sebab mereka sendiri tidak tahu, jika rumah mewah itu adalah rumah besannya.


"Ini rumah siapa, Jon? Kayaknya seperti bukan rumahmu, ya?" tanya Abi Hamdan dengan raut heran.


"Memang bukan rumahku, Bi. Tapi rumah kedua orang tuaku." Joe pun lantas turun, dan Syifa juga ikut. "Abi dan Umi tunggu dulu sebentar di sini sama Sandi, ya? Aku juga mau ajak Mami dan Papi untuk ikut makan nasi goreng."


Setelah mengatakan hal itu, Joe dan Syifa sudah berlalu masuk ke dalam rumah mewah tersebut, dengan saling menggandeng satu sama lain.


*


*


Tok! Tok! Tok!


Sebuah pintu kamar utama tiba-tiba diketuk dari luar. Salah satu orang yang berada di dalam sana dengan perlahan mengerjapkan matanya, lalu menguceknya sebentar.


"Ngapain Bibi ngetuk pintu malam-malam begini? Nggak sopan banget! Ganggu orang yang lagi bobo ganteng saja!" Papi Paul menggerutu kesal.


Selain dia dan Mami Yeri, hanya ada Bibi pembantu yang berada di dalam rumah. Jadi jelas jika Papi Paul menebak, itu ulahnya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu itu kembali diketuk, dan tak lama seseorang berbicara. "Papi! Mami! Ayok keluar dari kamar dong! Ini aku Joe."


Papi Paul sontak membulatkan matanya, lantaran terkejut mendengar apa yang masuk ke dalam rongga telinga.


"Joe?" Keningnya seketika mengerenyit. "Mau ngapain si botak Joe itu datang ke rumah? Apa dia datang cuma mau menuduhku nggak jelas lagi? Masih berani dia rupanya."


"Papi! Mami! Ayok buka pintunya!" pekik Joe lagi diluar kamar, yang diikuti oleh ketukan pintunya.


Tok! Tok! Tok!


"Ah bodo amat deh. Mending aku pura-pura budeg saja." Papi Paul dengan acuhnya memejamkan matanya kembali. Sama sekali tak menghiraukan dengan apa yang Joe lakukan.


...Papi... nggak boleh kayak gitu lho, Pi🤣 kasihan anakmu itu...

__ADS_1


__ADS_2