
"Abi sama Umi kepengen beli apa?" tanya Joe. "Biar sekalian mumpung kita ada di mall, biar aku belikan."
Sekarang, Joe dan yang lainnya tengah melangkah bersama keluar dari toko menuju lift.
"Nggak, Joe," jawab Umi Maryam sambil menggelengkan kepala Sejujurnya banyak yang menarik perhatian, tapi jika membeli sepertinya uang yang dia punya kurang. Sebab Umi Maryam yakinโsemua barang di tempat itu pasti harganya fantastis.
"Kamu gimana, Yang? Kepengen beli apa?" tanya Joe kepada Syifa dengan lembut. Gadis itu sejak tadi berada di sampingnya, tapi diam saja.
"Nggak kepengen apa-apa," jawabnya pelan.
"Beli baju koko sama sarung saja untuk Robert dan kamu, Jon," usul Abi Hamdan. "Biar enak buat ganti-gantinya. Pasti Robert juga belum punya sarung dan Koko, kan?"
"Iya juga, ya, Bi. Ya sudah, ayok kita beli," ajak Joe.
Mereka pun melangkah menuju toko busana muslim pria dan wanita.
Dan ternyata Joe bukannya membeli untuknya dan Robert saja, tapi untuk Umi Maryam dan Syifa juga. Jadilah seperti memborong, sebab membeli masing-masing dua stel.
Meski awalnya Syifa menolak, tapi lama-lama dia menurut juga, karena Abi Hamdan sendiri memintanya untuk menerima apa pun pemberian dari Joe.
*
*
Malam hari.
Syifa, Abi Hamdan dan Umi Maryam tengah duduk di sofa barunya yang terasa empuk itu, sambil menonton tv di depan.
Mereka menyaksikan sinetron ikan terbang, sinetron kesukaan Umi Maryam tentang istri yang tersakiti karena suaminya selingkuh.
__ADS_1
"Nggak nyangka lho, Umi, Bi, ternyata sofa sebagus ini adalah bonus karena beli kasur," ucap Umi Maryam dengan senangnya. Sejak tadi bahkan dia duduk dengan bokong yang terus melompat-lompat. Merasakan sentuhan empuknya sofa baru. "Untungnya Joe belinya di sana, ya, coba kalau beli ditoko biasa ... pasti nggak dapat tuh, sofa sebagus ini."
"Iya. Mungkin si Jojon udah langganan, Mi, mangkanya diberi bonus," ujar Abi Hamdan yang ikut senang sambil mengunyah kacang.
Tampaknya, mereka berdua benar-benar percaya jika sofa itu adalah bonus. Tetapi, tidak dengan Syifa.
"Umi sama Abi mau aja dibohongi Pak Joe. Aku sih nggak percaya kalau sofa ini bonus," ucap Syifa. "Orang sofanya kelihatan mahal. Nggak mungkin gratis," tambahnya.
"Ya sudah sih nggak apa-apa, Fa," sahut Umi Maryam dengan santai. "Mau apa pun itu yang pentingkan gratis bagi Umi."
"Kamu jangan panggil si Jojon Bapak mulu kek, Fa. Nggak enak didengar tau. Kan kalian sudah menikah," tegur Abi Hamdan.
"Terus aku musti manggil dia siapa? Abi?" tebak Syifa.
"Ya nggak Abi juga kali." Abi Hamdan menggeleng.
"Jangan, Umi, terlalu lebay!" seru Abi Hamdan yang tampak tak setuju.
"Kalau Ayank gimana, Bi?" saran Umi Maryam.
"Ayank sama Sayang itu sama kali, Umi," sahut Abi Hamdan.
"Samanya di mana? Orang beda."
"Maknanya sama, Umi."
"Daddy aja. Kan si Robert selalu manggil Joe dengan sebutan Daddy." Umi menyarankan kembali.
"Tapi mereka masih pengantin baru, kayaknya kurang cocok deh." Abi Hamdan menggelengkan kepala. Tidak setuju lagi.
__ADS_1
Padahal sebutan itu untuk Syifa kepada Joe, tapi yang sibuk mencari panggilan yang cocok justru Umi dan Abinya.
"Kalau Suamiku gimana?"
"Lebay, Umi."
"Kalau Darling atau My Darling gimana?"
"So Inggris ah, lebay."
"Pujaan Hatiku gimana?"
"Nggak!"
"Mas."
"Pasaran."
"Kalau Abang?"
"Memangnya si Jojon tukang bakso?"
"Kakak deh."
"Nanti si Syifanya inget si Bre*ngsek itu. Jangan ah!"
"Eeemm ...." Umi Maryam terdiam, mulai berpikir sejenak. Dan berapa menit kemudian, dia berkata, "Ini kayaknya cocok ... Kangmas, Kakang Prabu atau Raja Jalal. Sudah stok terakhir tuh, harus dipakai!"
...Terimakasih yang udah ikut do'ain ๐๐ dan Alhamdulillah ... novel ini akhirnya berhasil terkontrak ๐ Jadi, Author bisa lanjut nulis lagi ๐...
__ADS_1