Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
77. Kamu harus tanggung jawab


__ADS_3

"Pertama jawab dulu dengan jujur ... kenapa stelan jas yang Aa pakai berbeda? Aku ingat jelas Aa memakai warna biru navy tadi pagi, bukan hijau botol." Syifa memerhatikan Joe dari ujung kaki hingga kepala.


Tapi jika dilihat-lihat dengan sepatu yang dia pakai, itu tetap sama seperti tadi pagi. Berarti memang hanya pakaiannya saja yang berbeda.


"Oh. Ini." Joe menyentuh kerah jasnya sambil tersenyum. "Tadi pas aku nunggu rekan bisnisku ... aku nunggunya di restoran karena sekalian makan. Tapi aku malah nggak sengaja menumpahkan minuman, Yang, di celanaku. Jadi aku ganti pakaian."


"Masa, sih?" Syifa memicingkan matanya, menatap penuh curiga kepada Joe.


"Iya." Joe mengangguk cepat.


"Tapi yang terkena minuman 'kan hanya celananya, kenapa Aa mengganti jasnya juga? Pasti Aa bohong, kan?"


"Aku jujur, Yang. Aku memang sengaja menganti pakaian karena nantinya nggak cocok dong."


"Nggak cocoknya?" Sebelah alis mata Syifa terangkat, dengan kedua tangan yang bersedekap di atas dada.


"Ya masa jasku warna biru navy sedangkan celanaku hijau botol. Kan aneh, nanti, Yang."


"Kata siapa aneh? Orang nggak." Bibir Syifa mengeriting. Dia menyentuh dadanya yang masih bergemuruh.


"Aku sudah bercermin, Yang. Dan terlihat aneh. Lagian aku juga nggak pernah pakai pakaian yang nggak senada. Nggak pede kayaknya," jelas Joe apa adanya. Namun nyatanya, Syifa terlihat masih belum percaya. Sebab wajahnya kini sudah merenggut.


"Aa pasti bohong. Bilang saja alasan celana Aa ganti karena ketumpahan sisa pelepasan, kan? Bukan karena ketumpahan minuman?" tuduh Syifa yang terdengar seperti menyudutkan.


Padahal diawal, dia sudah meminta Abi Hamdan untuk tidak mengatakan kalau dirinya datang karena takut Joe selingkuh. Sebab dia tak mau Joe mengira dirinya perempuan yang posesif. Tapi dari pertanyaannya yang sekarang, bukankah itu sama saja menggambarkan jika Syifa posesif?


"Sisa pelepasan apaan?" tanya Joe tak mengerti.


"Pelepasan cinta, apa lagi?" ketus Syifa.


"Astaga, kamu kira aku habis ng*cok, Yang?" Joe menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. Tapi seketika dia terkekeh, sebab merasa lucu sendiri dengan ucapan serta pikiran istrinya yang diluar nalar. "Seumur-umur aku nggak pernah ng*cok, Yang, meskipun kebelet banget. Dan kata dokter juga nggak sehat," jelas Joe kemudian menambahkan. "Lagian ... aku 'kan sekarang sudah punya kamu. Kalau kepengen, ya, tinggal bercinta saja. Ngapain ribet pakai sabun?"

__ADS_1


'Dih, siapa juga yang mikir dia ng*cok? Orang aku mikir dia bercinta sama perempuan lain,' batin Syifa kesal.


"Kok diem? Kenapa?" Joe mengelus dagu Syifa, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirnya secara singkat.


Syifa langsung mundur beberapa langkah, lalu menatap Joe dengan tajam. "Masih banyak pertanyaan yang belum aku tanyakan, jadi Aa jangan cium-cium aku dulu!" larangnya dengan tegas.


Namun meski begitu, kedua pipinya yang merona itu tidak bisa berbohong jika dia senang mendapatkan sentuhan-sentuhan kecil dari Joe yang entah apa saja.


"Mau nanya masalah apa? Tanyakan saja, Yang," jawab Joe santai, lalu menaikkan bokongnya untuk duduk di atas meja HRD.


"Aku ingin Aa memberikanku bukti, celana yang ketumpahan minuman itu. Di mana sekarang celananya?"


"Udah dibawa ke tukang londry, Yang. Udah dicuci. Sekalian sama jasnya juga."


"Ya berarti Aa nggak bisa memberikanku bukti. Bagaimana bisa aku percaya, kalau apa yang Aa ucapkan itu benar," ucap Syifa kesal.


"Aku orangnya selalu jujur, Yang. Ngapain juga aku bohong. Dan apa untungnya?"


"Rahasia apaan? Mana ada aku rahasia, Yang," kekeh Joe sambil menggelengkan kepalanya.


'Sepertinya aku salah bertanya langsung. Karena laki-laki itu pasti nggak akan ngaku. Apalagi kalau benar dia selingkuh,' batin Syifa. Dia pun lantas mendekat ke arah Joe, lalu meraih kerah kemejanya.


Kedua tangannya itu perlahan melepaskan dasi, kemudian membuka kancing atas kemeja dan berurutan hingga ke bawah.


"Eemm ... Yang? Apa yang kamu lakukan?" tanya Joe yang tampak bingung dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Memangnya Aa nggak lihat, kalau aku sedang melepaskan kancing?" jawab Syifa dengan ketus.


"Tau, tapi apa alasannya? Apa kamu—"


"Aku mau menghirup aroma tubuh Aa!" sela Syifa cepat.

__ADS_1


"Tapi aku belum mandi. Berkeringat dan pasti bau asem, Yang."


"Aku tau, tapi nggak masalah. Karena aku akan mendapatkan jawabannya dari sini."


"Jawaban? Jawaban apa maksudnya?" Joe mengerutkan keningnya.


Dia betul-betul heran dengan apa yang tengah Syifa lakukan. Perempuan itu kini sudah membelah kemejanya, lalu membungkuk sedikit untuk lebih dekat dan mulai mengendus tepat di area dada.


Meski Joe terlihat diam dan seakan pasrah, namun apa yang dilakukan istrinya itu mampu membuat tubuhnya meremmang tak haruan.


Hembusan napas yang menerpa kulitnya itu membuat perutnya terasa menegang, sampai-sampai benda yang menggelantung di bawah perut pun ikut menegang juga.


'Sedang apa sih, si Syifa ini? Lama-lama aku bisa kepengen. Tapi masa iya, di sini kita melakukannya? Dan apa dia akan mau, jika nanti kuajak?' batin Joe penuh tanya.


'Sepertinya, dari keasaman keringat yang aku hirup ... ini adalah asam keringat karena lelah bekerja, bukan lelah bermain ranjang.' Entah dari asumsi mana Syifa bisa berpikir demikian. Namun, dia masih ingat betul aroma tubuh Joe yang berkeringat saat bercinta dengannya. Dan ada kesan seksi juga aromanya, tidak dengan aroma sekarang. 'Tapi tetap ... aku musti waspada, karena Aa sendiri nggak berani memberikanku bukti celananya yang katanya terkena tumpah minuman itu. Ditambah aku juga nggak tau bagaimana aktivitasnya bersama sekertarisnya yang seksi itu,' batin Syifa sambil manggut-manggut.


"Sudah selesai, A." Syifa pun lantas berdiri tegak, lalu mencoba mengancingi kembali kemeja Joe. Namun, secara tiba-tiba saja Joe merengkuh pinggangnya, lalu turun dari meja dan langsung mengangkat tubuh Syifa untuk terduduk di atas meja.


Perempuan itu sontak terkejut, saat tangan Joe meraih celana tidurnya dan hendak menariknya. "Aa mau apa?!" tanyanya dengan tangan yang menahan Joe.


"Kamu harus tanggung jawab, Yang," jawab Joe dengan wajah yang sudah memerah. Birahinya pun seketika sudah naik ke ubun-ubun.


"Tanggung jawab apaan, A?" tanya Syifa tak mengerti.


"Kamu membuat tongkat bisbolku bangun di dalam celana. Jadi kita harus menidurkannya dulu, sebelum keluar dari ruangan ini," jawab Joe dengan napas terengah. Secepatnya dia membuka jas beserta kemejanya.


"Tapi, A, masa di sini dan eeemmpptt ...." Ucapan Syifa seketika terhenti kala Joe sudah menautkan bibirnya dengan sedikit tekanan. Dan terasa sedikit kasar.


Syifa sontak terbelalak, dia pun langsung mencoba mendorong-dorong dada bidang Joe untuk menghentikan aksinya. Akan tetapi, pergerakan tangannya itu seketika terhenti, kala tangan nakal Joe sudah menyelinap masuk ke dalam celananya dan membelai lembut miliknya.


...Apakah akan ada yang beradu keringat di bab selanjutnya? 🤣...

__ADS_1


__ADS_2