
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil datang dan berhenti di depan halaman rumah.
"Aa ...." Syifa hafal betul, mobil siapa itu. Dia yang merasa sangat senang segera berdiri, kemudian berlari saat seseorang turun dari mobil tersebut tapi pada kursi belakang. "Aa ... Aa ke mana saja? Kok pergi nggak bilang-bilang?" tanyanya yang sudah memeluk.
"Syifa," panggilnya. Dari suaranya yang berat itu terdengar bukan milik Joe. Aroma parfumnya juga, meskipun sama-sama wangi maskulin.
Syifa mengangkat wajahnya sambil tersenyum, tapi saat dia menatap wajah pria yang saat ini dipeluknya, sontak dia terkejut. Sebab pria tersebut bukanlah Joe, melainkan Papi Paul.
"E-eh Papi, maafkan aku, Pi." Cepat-cepat Syifa melepaskan pelukan itu dan menjaga jarak sedikit, tapi dia langsung mencium punggung tangannya. "Aku kira Aa," tambahnya sambil menundukkan wajahnya karena malu.
"Nggak apa-apa," jawab Papi Paul datar, kemudian melangkah maju ke arah rumah.
Abi Hamdan yang baru saja keluar dari pintu langsung tersenyum menyambut besannya, tak lupa dia juga mengajak bersalaman. "Pak Paul sudah datang rupanya? Apa dijalan macet?" tanyanya basa-basi.
"Enggak macet kok, Pak," jawab Papi Paul seraya menjabat tangan.
"Aa, Robert sama Mami kok nggak ikut? Ke mana mereka, Pi?" Syifa tampak bersedih saat melihat ke dalam mobil Joe yang hanya ada seorang sopir saja, tengah duduk dikursi kemudi. Padahal, sejak tadi Joe yang sangat dia tunggu-tunggu kedatangannya.
"Papi memang datang sendiri, sengaja, Fa," jawab Papi Paul.
"Sengaja?!" Kening Syifa seketika mengernyit. Dia pun menoleh ke arah mertuanya dan melangkah mendekat dengan raut bingung. "Kok gitu? Memangnya kenapa, Pi?"
"Bisa kita masuk dulu dan langsung ngobrol?" Bukannya menjawab pertanyaan Syifa, Papi Paul justru memberikan pertanyaan balik.
"Oh bisa, bisa." Abi Hamdan yang menyahut, meskipun dia terlihat sama bingungnya seperti Syifa. Segera dia pun melebarkan pintu rumahnya, kemudian mengajak Papi Paul untuk masuk. "Ayok masuk, Pak Paul. Silahkan."
Papi Paul mengangguk, dia lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa single.
"Umi! Buatkan kopi, Mi! Buat besan!" perintah Abi Hamdan yang buru-buru menghampiri istrinya di dapur.
__ADS_1
Umi Maryam yang tengah memotong beberapa bolu marmer di atas piring langsung menoleh. "Mereka sudah datang, Bi?" tanyanya dengan raut senang.
"Yang datang cuma Papinya Jojon doang, Mi."
"Kok gitu? Yang lain ke mana?" Umi Maryam menelisik ke ruang tamu, dari arah dapur. Terlihat memang hanya ada Papi Paul seorang diri duduk di sofa.
"Abi nggak tau. Buatkan kopi saja dulu," titah Abi Hamdan, kemudian berlalu dari dapur.
"Pak, kok Aa Joe, Robert sama Mami Yeri nggak ikut? Kenapa, ya?" tanya Syifa pada pria yang masih berada di mobil, yang dia yakini adalah sopirnya Papi Paul.
"Saya kurang tau, Nona." Pria itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Ke mana mereka? Kok bisa, hanya Papi yang datang?" gumam Syifa penuh tanya. Dan entah mengapa, perasaannya jadi tidak enak. Ada rasa kekhwatiran juga.
"Silahkan diminum dan dimakan, Pak," ucap Umi Maryam yang menyajikan di atas meja secangkir kopi hitam serta beberapa potong bolu marmer.
"Terima kasih, Bu." Papi Paul tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedikit.
Sedangkan Umi Maryam langsung mengajak Syifa duduk bersama, saat melihat anaknya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk dalam satu sofa bersama Abi Hamdan.
"Iya, Pak. Maaf ... memang niatnya hanya aku yang datang ke sini," jawab Papi Paul.
"Tapi Aa sama Robert ke mana, Pi?" Syifa kembali mengulang pertanyaannya, sebab mertuanya memang belum menjawab ke mana dua laki-laki berbeda generasi itu.
"Joe, Robert dan Mami ... sudah pergi ke Korea, Fa," jawab Papi Paul dengan jujur.
Namun, apa yang dia katakan sontak mengundang Syifa dan orang tuanya terkejut. Selain itu mereka juga heran, mengapa ketiga orang tersebut pergi ke Korea dan tanpa bilang terlebih dahulu.
"Kok mereka pergi ke Korea? Memangnya mau apa? Dan kenapa Aa nggak ngomong dulu sama aku, Pi?" Bola mata Syifa sudah berkaca-kaca. Dia tampak sedih bercampur kecewa.
__ADS_1
"Papi mau ... mereka terbiasa hidup tanpamu, Fa," jawab Papi Paul dengan entengnya. Dan sontak, kembali membuat tiga orang di sana terkejut. Syifa juga merasakan dadanya tiba-tiba sesak.
Sudah bisa disimpulkan, kalau mereka pergi ke Korea atas permintaan Papi Paul. Tapi yang membuat Syifa heran, mengapa Joe dan Robert langsung setuju? Setidaknya memberitahu lebih dulu, sebelum berangkat.
"Kok Papi ngomongnya kayak gitu, sih?" Air mata Syifa sudah meleleh, membasahi kedua pipinya.
"Pak, Bapak nggak baik bicara seperti itu," tegur Abi Hamdan, lalu merangkul bahu anaknya. Syifa duduk ditengah-tengah antara dirinya dan Umi Maryam. "Syifa sudah menjadi keluarga Bapak, dia istrinya Joe, Mommynya Robert. Terus kenapa Bapak malah bilang seperti itu?"
Papi Paul menghela napasnya dengan gusar, lalu menatap Abi Hamdan. "Maaf, tapi seperti apa yang aku sampaikan ditelepon. Aku memang datang karena ingin menyelesaikan masalah ini, Pak."
"Menyelesaikan masalah kok Joe sama Robert pergi ke Korea? Harusnya 'kan ada di sini." Sepertinya, Abi Hamdan masih belum mengerti maksud dari perkataan Papi Paul.
"Biarkan saja mereka pergi ke Korea. Karena di sana 'kan tanah kelahiran Joe," jawab Papi Paul dengan santai, kemudian menambahkan. "Aku minta maaf sebelumnya, tapi harap ... Pak Hamdan, Bu Maryam dan Syifa bisa menerima. Jika aku berniat ingin memutuskan hubungan di antara Joe dan Syifa."
"Memutuskan hubungan?" Abi Hamdan kembali terkejut, bola matanya membulat sempurna.
"Jadi maksudnya, Papi ingin aku dan Aa bercerai, begitu?" tanya Syifa yang sudah menangis.
"Iya." Papi Paul mengangguk.
"Tapi kenapa, Pak? Dan apa salah Syifa sehingga Bapak ingin dia bercerai dengan Jojon?" tanya Abi Hamdan yang sedikit meninggikan nada suaranya. Rahang di wajahnya itu seketika mengeras, dadanya bergemuruh. Tak terima rasanya, jika anaknya itu harus berpisah dengan Joe, seorang pria yang dia anggap sempurna itu.
"Apa ini ada sangkut pautnya tentang pura-pura hamil itu, Pak?" Umi Maryam baru membuka suara. Dia merasa penasaran.
"Iya, Bu." Papi Paul mengangguk. "Jujur, aku sangat kecewa. Joe dari dulu nggak pernah berani berbohong padaku. Tapi baru kali ini saja dan itu hanya karena ingin menikahi Syifa," tambahnya sambil menatap sinis ke arah Syifa.
"Tapi aku nggak mau cerai, Pi!" tolak Syifa dengan tegas dan gelengan kepala. "Tolong jangan begini. Maafkan aku dan Aa, tentang apa yang telah terjadi, hiks," tambah Syifa tersedu-sedu. Dia juga memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan kanan Papi Paul, guna memohon supaya pria tua itu mencabut keinginannya untuk memisahkannya dengan Joe.
"Kita bisa marahi Joe dan Syifa, Pak. Kita bisa menegur atas kesalahannya. Tapi tidak dengan cara memisahkannya," ucap Abi Hamdan yang ikut bersedih, melihat tangisan anaknya.
__ADS_1
...----------------...
...Setuju sama pendapat Abi 🥺...