Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
165. Biksu Tong


__ADS_3

Mami Yeri turun dari mobilnya, di depan sekolah Robert. Niatnya datang ingin menjemput bocah itu, sekalian juga akan mengajaknya jalan-jalan karena rindu.


"Siang, Tante ...." Seorang perempuan hamil yang baru saja turun dari mobilnya langsung menyapa, dia juga melangkah mendekat dan membuat Mami Yeri menoleh. "Tante Omanya Robert, kan?"


"Iya." Mami Yeri mengangguk, kemudian memerhatikan wajah perempuan itu serta dengan perutnya yang membuncit. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Lho, Tan, aku Maminya Juna. Juna temannya Robert."


"Oh iya ...." Mami Yeri seketika terkekeh, ketika mengingatnya. "Maaf, Tante sepertinya lupa. Mungkin faktor U. Namamu Nissa, kan?"


"Iya." Perempuan bernama Nissa itu mengangguk.


"Berapa usia kandunganmu? Udah gede, ya?" Mami Yeri pun perlahan mengelus perut Nissa. Dan seketika dia jadi teringat, momen dimana dia mengusap perut Syifa.


Meskipun saat itu tidak buncit dan hanya berpura-pura hamil—tapi dia akui, saat itu Mami Yeri teramat senang karena akan mempunyai cucu lagi.


Mami Yeri menikah hanya dikaruniai satu orang anak, tapi dia sangat berharap jika Joe dapat memiliki keturunan yang lebih dari satu. Karena dia ingin banyak keluarga, dan pastinya hari-harinya akan jauh lebih indah dengan hadirnya cucu baru.


"9 bulan, Tan," jawab Nissa.


"Wah ... sebentar lagi mau lahiran dong."


"Iya."


"Cewek apa cowok? Apa sudah diUSG?"


"Pas diUSG sih cewek, Tan. Ya mudah-mudahan saja. Soalnya si Juna juga kepengen adik cewek." Nissa menatap perut buncitnya, kemudian mengelus.


"Tante juga kepengen punya cucu lagi, Nis, cewek juga."

__ADS_1


"Aku dengar dari Juna ... bukannya Mommy barunya Robert lagi hamil, ya, Tan?"


"Enggak, belum kok." Mami Yeri menggelengkan kepalanya. "Harusnya sih udah, ya?"


"Berapa bulan sih, mereka nikahnya, Tan? DiKB nggak, Bu Syifanya?"


"Kayaknya sih enggak diKB. Mereka juga menikah sekitar—"


"Omaaaaa ...!" seru Robert yang datang dengan menghamburkan pelukan. Disusul oleh Juna dan teman-teman yang lain, yang melangkah menghampiri.


"Eh ... udah pulang, cucu kesayangan Oma nih?" Mami Yeri langsung meraih tubuh cucunya untuk dia gendong, lalu mengecupi kedua pipi dan kening.


"Oma kapan sampai Indonesia? Sama Opa nggak?"


"Semalam. Iya, bareng Opa," jawab Mami Yeri, kemudian menoleh ke arah Nissa. "Nissa ... Tante duluan, ya?"


Nissa menganggukkan kepalanya. "Iya, Tan. Hati-hati."


"Sebelum pulang, Oma ingin mengajakmu ke mall dulu. Sekalian jalan-jalan dan makan siang bareng." Mami Yeri memangku Robert, lalu mengelus puncak rambutnya.


"Oke." Robert mengangguk semangat.


Mobil yang mereka tunggani pun melaju pergi meninggalkan sekolah. Ada seorang sopir di depan yang tengah menyetir.


"Oh ya, Mommy Syifa masih mengajar nggak, di sekolah, Sayang?"


"Enggak, Oma." Robert menggelengkan kepalanya.


"Dia bilang ingin resign?"

__ADS_1


"Enggak bilang. Cuma dia udah lama aja nggak ngajar, tapi nggak bilang apa-apa."


"Daddymu sendiri ... kenapa jarang masuk kantor? Dia di rumah ngapain saja biasanya?"


"Robert nggak tau, Robert 'kan sekolah."


"Iya juga, sih." Tidak salah memang dengan jawaban Robert. Tapi Mami Yeri masih merasa penasaran.


"Kenapa memangnya? Dan kenapa Oma nggak tanya langsung saja sama Daddy?"


"Daddymu nggak angkat telepon Oma, mangkanya Oma tanya padamu."


"Oh ... ya sudah, nanti tanya saja langsung Oma ... pas mengantar Robert pulang," sarannya.


"Iya. Oma juga ada rencana menginap malam ini di rumahmu."


"Wih ... bagus itu. Sama Opa juga?"


"Iya." Mami Yeri mengangguk. "Kamu nanti malam tidurnya bareng Oma dan Opa, ya? Oma kangen deh ... udah lama kita nggak tidur bareng."


"Robert juga kangen... tidur bareng sama Oma yang cantik," balas Robert yang begitu manis. Dia juga memeluk tubuh Mami Yeri.


***


Di rumah Joe.


Dari pagi hingga sore, pria itu tak keluar kamar. Bahkan sarapan pun dia minta diantar ke dalam kamar dan meminta hanya Syifa yang mengantarkan.


Alasan semua itu karena dia merasa tidak pede pada kepala botaknya yang seperti bolham lampu. Dia juga makin frustasi ketika melihat dirinya sendiri lewat pantulan cermin besar di kamarnya.

__ADS_1


"Jelek banget aku. Jadi mirip kartun kesukaan si Robert, yang kepalanya botak-botak itu. Atau malah kayak Biksu Tong, gurunya Sun Go Kong?" Joe mengusap puncak kepala plontosnya dengan raut menyedihkan. Bahkan saat ada seekor nyamuk yang tiba-tiba hinggap di kepalanya—ia sampai langsung jatuh terpleset. Terbukti, karena sangking licinnya.


...Kasihan Om Joe 🤣...


__ADS_2