Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
44. Seperti ada yang hilang


__ADS_3

Awal datang, Fahmi sama sekali tak berselera untuk makan atau pun minum. Sebab tujuannya datang ke pesta bukanlah itu.


Namun, sekarang semuanya seolah berubah. Mungkin, Fahmi adalah satu-satunya orang yang paling rakus di pesta itu. Hampir semua makanan dia masukkan ke dalam perut.


Dari yang berat, sampai yang ringan. Dari asin, manis, pedas sampai yang asam. Dan begitu pun dengan minumannya.


Namun, hanya makanan Indonesia saja. Tidak dengan Korea. Sebab dia khawatir kalau makanan itu mengandung babi yang tentunya haram bagi umat Islam.


"Kak ... udah yuk, pulang. Ini sudah sore," ajak Naya sambil meringis geli, melihat Fahmi yang masih makan. Mulutnya begitu penuh sampai susah untuk mengunyah. Saat ini, dia tengah makan somay.


"Nanti. Aku masih ingin mencoba nasi gorengnya," jawab Fahmi menolak untuk pulang.


"Nasi goreng?!" Naya sontak terkejut. Bukan karena nasi gorengnya, tapi karena Fahmi masih menginginkan makan, sedangkan sudah banyak yang sudah masuk ke dalam perutnya. "Bukannya Kakak sudah makan menu utama di sini, ya? Terus bakso, sate, seblak, rujak, dan ...." Naya menggantung ucapannya, tengah berpikir menu apa lagi yang sudah masuk ke dalam mulut pria itu. Tapi karena sangking banyaknya, dia sampai lupa. "Intinya sudah banyak. Memangnya nggak kenyang, apa?"


"Kenyang sebenarnya." Fahmi menelan cepat somaynya, lalu menenggak es jeruk di atas meja. "Tapi 'kan kamu bilang sendiri kalau malu untuk dibawa pulang. Jadi aku makan di sini saja."


"Ya tapi nggak semua menu dimakan juga kali, Kak. Kan makan berlebihan itu nggak boleh dalam Islam. Lagian begah juga aku lihatnya," tegur Naya menasehati.


"Ah kamu tau apa tentang agama?!" hardik Fahmi yang tampak marah. Memang dia tipe orang yang sangat tidak suka jika dinasehati, siapa pun orangnya. Bahkan kedua orang tuanya sekali pun. "Ilmu agamaku dan ilmu agamamu jauh lebih tinggi ilmuku, Nay! Aku lulusan Kairo! Dan kamu paling lulusan SMA, atau mungkin SMP? Pasti kamu juga belum pernah belajar ilmu agama di pondok pesantren, kan?"

__ADS_1


"Kakak ini nggak jelas banget, sih." Naya tampak tersinggung. Niat awal ingin menasehati justru dialah yang dihina. "Kok jadi menghinaku begini? Nyesel aku kalau begini caranya diajak kondangan. Tadi-tadinya mending aku tolak saja."


Merasa kesal, Naya pun langsung berdiri. Namun saat kakinya melangkah, Fahmi langsung mencekal tangannya.


"Mau ke mana?!" tanyanya dengan mata melotot.


"Aku mau pulang!" Naya menepis kasar tangan Fahmi, tapi lagi-lagi pria itu mencekalnya dan kali ini cukup keras.


"Dateng kita bareng, dan pulangnya pun harus bareng!" geram Fahmi sambil menggertakkan gigi.


"Ya sudah, pulang sekarang saja mangkanya, Kak," lirih Naya sambil meringis kesakitan. Dia juga berusaha untuk melepaskan tangan Fahmi.


"Kataku juga nanti. Kamu itu tuli atau budeg, sih?" bentak Fahmi dan perlahan melepaskan tangan Naya, lalu menatap ke arah tempat nasi goreng. "Kau tunggu di sini, jangan dulu pulang. Aku ingin makan nasi goreng dan minum es kelapa." Setelah mengatakan hal itu, Fahmi lantas berlalu pergi meninggalkan Naya, menuju tempat nasi goreng.


Naya memundurkan tubuhnya beberapa langkah, tapi sorotan matanya masih menuju pada Fahmi. Berjaga-jaga supaya pria itu tak menahannya lagi kalau sampai tahu dia akan kabur.


"Kukira ... dia itu lelaki sempurna seperti apa yang ditunjukkan pada akun media sosialnya. Tapi nyatanya ... akhlaknya sangat buruk. Bahkan sangat kasar dan suka menghina orang."


Naya dan Fahmi memang baru kenal satu bulan dari Insta*gram, dan baru hari ini juga mereka bertemu.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup aman menurutnya, Naya pun langsung berlari cepat keluar dari sana.


Namun saat sampainya keluar dari gerbang, tiba-tiba Naya menabrak seseorang. Hingga membuat tas selempangnya yang kebetulan terbuka itu langsung jatuh dan mengeluarkan semua isi di dalamnya.


Bruk!!


"Maaf, maaf. Saya nggak sengaja, Nona." Seorang pria yang telah dia tabrak dan orang tersebut adalah Ustad Yunus. Pria itu datang berniat ingin kondangan.


Ustad Yunus langsung berjongkok, dan membantu Naya yang sudah lebih dulu berjongkok mengambil beberapa benda yang berserakan di tanah. Gadis itu juga terlihat sangat buru-buru. Sebab merasa takut Fahmi mengetahuinya yang berniat pulang lebih dulu.


"Maafin saya sekali lagi, saya nggak sengaja, Nona," ucap Ustad Yunus dengan perasaan tidak enak. Tapi sebenarnya dia tak salah apa-apa, lantaran memang Naya yang menabraknya dari awal.


"Bapak nggak salah. Nggak apa-apa," jawab Naya, matanya masih fokus menatap ke bawah. Mencari-cari benda yang tidak ada di dalam tas.


"Ada apa, Nona? Apa Nona kehilangan sesuatu?" tanya Ustad Yunus yang memerhatikan Naya dengan bingung. Tapi gadis itu sendiri sejak tadi tak menatap ke arahnya, dia masih sibuk menatap pada tasnya sendiri.


"Iya, Pak. Sepertinya ada yang hilang."


Bedak, lipstik, tissu basah, tissu kering, kaca, dompet dan hape semuanya ada. Tapi sepertinya masih ada satu benda yang tidak ada.

__ADS_1


"Apa yang hilang? Tapi di sini nggak ada apa-apa kok." Ustad Yunus akhirnya ikut mencari-cari ke bawah, tapi memang sudah tak ada apa-apa di sana.


"Suvenirku yang hilang, Pak," sahut Naya yang baru saja ingat, jika benda itu memang tak ada. Dan dia juga baru sadar kalau tasnya sejak tadi terbuka, padahal setelah menaruh suvenir—dia langsung menutup sletingnya. "Duh ... padahal lumayan banget itu suvenirnya, Pak. Dan aku baru pertama kali mendapatkan suvenir sebagus itu. Tapi malah hilang," tambahnya yang tampak sendu. Mengingat dengan jumlahnya juga yang kalau dijual berapa. 1 juta untuk sebuah sovenir sangatlah fantastis menurutnya.


__ADS_2