
"Katanya menahan kentut itu bisa jadi penyakit. Daddy ini bagaimana, sih?" Robert terlihat mendengkus. Merasa kesal dengan saran dari Joe.
"Tapi kalau sebentar sih mungkin—"
"Eekkhemm!!" Ucapan Joe barusan langsung terhenti, saat pria di sampingnya itu berdehem.
Meskipun keduanya berbicara begitu pelan, tapi nyatanya mereka membuatnya rasa tidak nyaman serta tak khusyu dalam beribadah. Dia bahkan sampai sudah bergumam dalam hati.
'Mereka ini benar-benar orang Islam atau bukan, sih? Kok sholat malah dijadikan mainan. Kan dosa.'
"Ah, kita lanjutkan nanti, ya? Setelah selesai sholat." Joe mengakhiri ucapannya, kemudian bersujud. Robert mengangguk dan mengikuti gerakannya.
*
*
"Rob ... Jon ... dengarkan Opa, ya!" tegur Abi Hamdan yang tampak marah.
Dia, Joe dan Robert saat ini berada di teras musholla.
Mereka sudah menyelesaikan sholatnya, tapi Abi Hamdan berniat ingin mengajari menantu dan cucunya itu tentang sholat dan bacaannya. Serta mengomeli dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Meskipun Abi Hamdan sholat dengan khusyu, tapi samar-samar dia mendengar suara Robert yang berbicara dengan Joe ditengah-tengah waktu sholat.
Masing-masing duduk bersila, tapi kedua tangan Joe dan Robert menjewer telinganya sendiri.
Tidak ada yang menyuruh mereka melakukan hal itu, hanya inisiatif sendiri. Sebab keduanya sering dihukum seperti itu ketika membuat kesalahah oleh Mami Yeri.
"Kalau orang lagi sholat itu, nggak boleh bicara! Kan kalian ini lagi bertemu Allah, sang Maha Pencipta. Itu namanya nggak sopan! Dan nggak diperbolehkan!" tambah Abi Hamdan dengan tegas menasehati.
Kedua lelaki berbeda generasi itu menundukkan wajahnya dengan perasaan bersalah. Aslinya mereka juga takut melihat kemarahan Abi Hamdan. Apalagi menatap matanya yang sudah melotot.
__ADS_1
"Maaf, Abi," ucap Joe. "Awalnya aku nggak berniat mengobrol dengan Robert, hanya menyuruhnya mengambil air wudhu karena dia kentut."
"Robert juga minta maaf, Opa," ucap Robert dengan wajah bersalah. "Robert sebenarnya mau mengambil air wudhu, tapi takut ketinggalan. Takut keburu sholatnya selesai dan dimarahi Allah."
Abi Hamdan terlihat menghela napas, lalu mengusap kasar wajahnya. "Justru yang kalian lakukan akan membuat Allah marah."
Joe sontak terbelalak. "Lho, berarti ini tandanya Allah sudah melarangku jadi umatnya, Bi?"
"Nggak. Dia hanya marah, karena ibadah kalian main-main. Dan kalian harus memperbaikinya." Abi Hamdan menatap keduanya dengan Sorotan tajam. Joe dan Robert susah payah terlihat menelan saliva. "Kalian mau berjanji, ingin memperbaikinya, kan?"
"Iya!" Joe dan Robert menyeru bersama dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Kalau misalkan kalian kentut dalam keadaan baru ingin takbiratul ihram, kalian harus langsung mengambil air wudhu. Dan sama saja, ketika sudah dalam keadaan sholat. Entah rukuk, sujud atau duduk. Kalian harus membatalkannya dan mengambil air wudhu, lalu memulai sholatnya dari awal," jelas Abi Hamdan memberitahu. Sambil menatap anak dan menantunya secara bergantian.
"Robert sebenarnya mau begitu. Tapi takut ketinggalan Opa sholatnya," ucap Robert.
"Nggak apa-apa kalau ketinggalan beberapa gerakan, itu bisa menyusul. Yang penting kamu suci dan diterima sholatnya," jelas Abi Hamdan.
"Kita baca niatnya dulu, lalu takbiratul ihram. Terus langsung ikut sujud," jelas Abi Hamdan.
"Memangnya kayak gitu boleh? Gerakan yang lainnya gimana?"
"Nggak masalah, Allah bisa memaklumi. Yang penting masih dalam rakaat yang pertama. Dan poin yang harus kamu pegang adalah baca niat, Jon! Itu jangan sampai terlupakan!" tegas Abi Hamdan. Entah mengapa, dia menebak jika menantunya itu lupa baca niat sholatnya tadi. "Dan jangan juga sekali-kali kalian menahan kentut dalam keadaan sholat. Karena itu hukumnya makruh."
"Makruh itu apa?" tanya Robert.
"Tidak membatalkan, tapi kita tidak mendapatkan pahala," jelas Abi Hamdan. "Kita beribadah tentu ingin mendapatkan pahala dan kemuliaan dari Allah, kan? Supaya ibadah kita diterima dan do'a-do'a kita terkabul. Maka dari itu, jauhkan kita dalam hukum makruh," tambahnya menerangkan.
"Nahan kentut juga nggak boleh, Dad, aslinya." Robert menoleh ke arah Joe dengan wajah cemberut. Tentu dia ingat, sang Daddy tadi sempat menyarankannya untuk menahan kentut. "Tapi Daddy malah menyuruh Robert nahan kentut. Gimana kali," tambahnya sambil mendengkus.
"Maaf, Daddy 'kan nggak tau, Rob." Joe tersenyum dan mengusap puncak rambut anaknya. Lantas, menatap ke arah sang mertua. Hendak bertanya. "Terus, Bi, kalau misalkan kita sedang sholat berjamaah ... terus ditengah-tengah sholat kita mules pengen berak sampai akhirnya kentut. Kita sudah batal tuh, terus lari ke WC buat berak. Dan setelah selesai berak ... kita wudhu lagi, terus ke saf tempat sholat. Berniat ingin sholat lagi. Eh ternyata sholat berjamaahnya udah selesai, jadi gimana itu? Apa artinya sholat subuhnya udah ketinggalan? Dan nggak bisa diulang?" Pertanyaannya cukup panjang.
__ADS_1
"Minimal setelah berak kamu cebok dulu. Dan usahakan seluruh tubuhmu dalam keadaan suci. Terus setelah mengambil air wudhu lagi, ya kamu tinggal sholat lagi. Tapi sudah bukan sholat berjamaah lagi, namanya sholat sendiri. Dan niatnya berbeda," jelas Abi Hamdan panjang lebar.
"Oh. Jadi masih boleh sholat, meskipun udah gagal ikut sholat berjamaah?" tanya Joe memastikan.
"Boleh." Abi Hamdan mengangguk. "Selama masih masuk waktu sholat Subuh ... kamu tetap bisa mengulangnya."
Joe dan Robert langsung menganggukkan kepalanya secara bersama tanda mengerti.
"Oke, sekarang kita belajar tentang beberapa bacaan pada gerakan sholat." Abi Hamdan langsung berdiri. Hendak melakukan praktek. "Kau membawa hape nggak, Jon?" tanyanya kepada sang menantu.
"Bawa." Joe langsung merogoh kantong celananya, kemudian mengambil benda tersebut.
"Sekarang buka google dan tulis pada kolom pencarian, tentang bacaan sholat bahasa Arab, latin serta terjemahannya," titah Abi Hamdan. "Setelah itu kalian berdua baca."
"Iya." Joe mengangguk, lantas menuruti permintaan dari sang mertua.
Mereka pun akhirnya sama-sama belajar. Demi bisa lebih mendalami Islam dan mengamalkan ajaran yang sudah diwajibkan itu.
*
*
Siang harinya.
"Kondisi Nona Syifa sudah membaik. Sudah boleh pulang ke rumah," ucap Dokter wanita berambut pendek, setelah selesai memeriksa keadaan Syifa ditemani seorang suster yang berada di sampingnya.
Selain mereka, ada Umi Maryam, Abi Hamdan dan Robert juga di dalam sana. Yang tidak ada hanya Joe, sebab pria itu memilih berada diluar bersama Sandi. Tapi dia, sejak tadi menatap ke arah kaca pintu, melihat ke dalam.
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," ucap Umi Maryam penuh syukur. Lantas mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Hindari Nona Syifa pada hal-hal yang membuat traumanya kambuh, Bu, Pak." Dokter itu menatap ke arah Umi Maryam dan Abi Hamdan, sembari menulis pada buku kecil. "Jangan lupa minum vitamin dan ada obat penenang jika dibutuhkan," tambahnya. Dia menyobek kertas yang telah ditulis, lalu memberikannya ke tangan Abi Hamdan.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^