Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
19. Takut naik kalkulator


__ADS_3

"Aku maunya, kita semua tinggal di rumah Abi dan Umi. Aku belum terbiasa, dan boleh, kan?" pinta Syifa.


"Ya sudah nggak apa-apa." Joe yang menyahut sambil tersenyum di depan kaca. "Kita bisa tinggal di sana, Yang."


"Tapi barang-barang kamu 'kan pasti banyak, Joe," ujar Umi Maryam. "Kalau dipindahkan semua kayaknya nggak bakal muat di rumah Abi dan Umi yang kecil."


"Itu mah gampang Umi, nggak masalah." Joe menggeleng. Dia terlihat memaklumi, dengan keadaan dan dengan apa yang ada di dalam otak Syifa. Pastinya, gadis itu butuh proses untuk menerima, jika sudah menjadi istrinya.


"Hore!! Robert tinggal di rumah Oma dan Opa!" Robert menyeru dengan lantang. Dia tampak senang sekali sampai menggerakkan tangannya ke atas naik turun.


"Kalau begitu sebelum sampai rumah mampir dulu ke toko mebel, Jon, beli kasur dan ranjangnya," ucap Abi Hamdan.


"Memangnya di kamar Syifa nggak ada kasur, Bi?" tanya Joe.


"Ada. Cuma kayaknya kalau buat berdua atau bertiga nggak muat. Soalnya ukurannya kecil."


"Oh. Ya sudah, kita ke sana."


*


*


30 menit kemudian, mobil Joe pun berhenti di sebuah mall besar yang berada di Jakarta.


Lantas, dia pun mematikan mesin mobilnya dan membuka sabuk pengaman.


"Lho, Jon, kok kita berhenti di mall? Memangnya mau ngapain?" tanya Abi Hamdan bingung, menatap sang menantu.


"Kan tadi kata Abi kita mampir dulu ke toko mebel. Ya sudah, ayok turun," ajaknya kemudian turun lebih dulu.

__ADS_1


"Tapi, Jon, ini 'kan mall, bukan toko mebel. Kamu ini ngaco, ya?" Abi Hamdan turun dan langsung menghampiri Joe.


Umi Maryam dan Robert pun ikut turun, tapi tidak dengan Syifa. Gadis itu malah sibuk menatap sekeliling, melihat orang-orang yang keluar masuk dari mall besar itu. Mendadak, ada perasaan takut di dalam dirinya.


"Di sini juga ada toko mebelnya kok, Bi," jawab Joe seraya merangkul bahu Abi Hamdan, lalu memutar kepalanya ke belakang, pada Umi Maryam dan Robert. Tapi dia sendiri merasa heran—sebab Syifa masih berada di dalam mobil. "Syifa, Sayang ... kok kamu nggak turun? Ayok," ajaknya.


Tangan Joe perlahan melepaskan bahu Abi Hamdan, kemudian membukakan pintu mobil tepat di mana Syifa duduk.


"Aku nggak ikut masuk ke mall, Pak." Syifa menggelengkan kepalanya.


"Lho, kenapa?"


"Aku takut. Aku mau tunggu di mobil saja."


"Takutnya kenapa?" Joe mendekat. Lalu dengan perlahan mengusap puncak hijab merah yang dikenakan Syifa. Gadis itu terlihat agak menghindar dan tak berani menatap wajahnya. "Apa kamu takut kalau ada Beni di sini?" tebaknya.


"Selain karena itu ... aku juga takut jika orang-orang itu jahat." Syifa menatap sekitar, tapi sorotan matanya tertuju pada beberapa pria yang berjalan di sana. "Dan mencoba melecehkan—"


"Kamu harus melupakan sedikit demi sedikit rasa trauma itu, Fa. Ingat pesan Umi kemarin sore." Umi Maryam mendekat dan langsung memeluk tubuh anaknya, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya dengan lembut. Lantas, Umi Maryam pun berbisik ke telinga kanan Syifa. "Joe suamimu. Dia bukan orang jahat. Dia sama seperti Abi, yang akan melindungimu. Yang kamu lakukan sekarang hanya terus bersamanya dan menggandeng tangannya, Fa."


"Kalau kamu sendiri di sini, malah itu membuat kami khawatir," ucap Abi Hamdan yang ikut mendekat. "Udah, ikut saja. Kamu juga dari kemarin-kemarin ada di rumah sakit terus, pasti bosen, kan?"


Abi Hamdan ingin, Syifa kembali mengawali aktivitasnya seperti biasa. Bahkan biasanya saja—perempuan berusia 25 tahun itu selalu melakukan hal-halnya sendiri. Tanpa minta bantuan atau teman untuk menemaninya.


"Kalau Syifanya takut ... biar aku saja sendiri yang cari kasur dan ranjang, Bi. Kalian tunggu di sini," saran Joe.


"Mommy ikut saja. Robert ingin ke mall bareng Mommy dan sekeluarga," pinta Robert, lalu mengenggam tangan kiri Syifa dan mencium punggungnya. "Mantan Mommy yang panuan itu sudah meninggal. Jadi Mommy nggak perlu mengkhawatirkannya," tambahnya kemudian.


"Meninggal? Benarkah?" Syifa tampak terkejut. Bola matanya membulat sempurna.

__ADS_1


"Iya. Udah ayok mangkanya kita pergi bersama. Kamu akan aman," ajak Abi Hamdan.


"Tapi kok bisa, Kak Beni meninggal?" tanya Syifa seraya merelai pelukan. Entah mengapa, mendengar kabar pria itu telah meninggal dunia malah membuat hatinya sangat lega.


"Karena aku mence—"


"Karena sudah ajalnya mungkin," potong Abi Hamdan cepat yang menyela ucapan Joe.


Baik dia atau pun Jonathan, sebenarnya mereka tak tahu bagaimana kondisi Beni sekarang.


Hanya saja yang Joe ingat, saat tengah mencekik dan memencet telur serta tongkatnya—pria itu sudah tak bernapas.


Kalau pun tidak jadi meninggal, pastinya dia berada di penjara. Dan Joe yakin—semuanya akan aman dan baik-baik saja sekarang.


Akhirnya, Syifa pun menurut. Dia langsung turun dari mobil dan ikut masuk dengan digandeng oleh Robert dan Joe. Gadis itu berada di tengah, supaya aman.


Abi Hamdan dan Umi Maryam berada di belakang. Mengekori ketiganya.


Namun mendadak, Umi Maryam yang menggandeng tangan Abi Hamdan langsung menghentikan langkahnya. Sehingga suaminya itu ikut menghentikan langkah.


"Ih. Umi nggak ikut ke mall deh, Abi! Takut!" cicitnya sambil menatap bangunan megah di salam sana.


Tadi Syifa yang bilang takut. Sekarang Uminya. Ada apa lagi kira-kira?


"Kenapa? Takut sama laki-laki lain?" tanya Abi Hamdan seraya menoleh. "Kan ada Abi, Umi."


Joe, Syifa dan Robert ikut menghentikan langkahnya, sebab mendengar suara Umi Maryam. Lantas, mereka pun berbalik badan dan menatap wanita tua itu.


"Umi baru ingat, kalau Umi baru pertama kali ke mall. Jadi Umi takut naik kalkulatornya," jawab Umi Maryam.

__ADS_1


"Di mana kita bisa naik kalkulator, Oma?" tanya Robert bingung.


...Umi ya ampun 🤣...


__ADS_2