
"Kan Daddy udah bilang, jangan, Rob, film yang lain saja 'kan banyak. Lagian—"
"Ah Daddy mah banyak protes deh!" sembur Robert yang tampak marah. "Kata Robert juga dicoba dulu. Sesekali. Daddy ngerti nggak, sih? Mommy aja setuju-setuju saja kok!" tambahnya mendengkus, kemudian berlalu untuk duduk di kursi.
"Kalau Aa takut, dan nggak kuat nonton ... biar aku dan Robert saja berdua yang nonton. Aa tunggu diluar saja," saran Syifa menatap suaminya.
"Dih, aku nggak bilang aku takut, Yang," bantah Joe. Padahal sudah jelas tadi dia mengatakan jika dirinya penakut. Tapi rasanya gengsi untuk jujur. Apalagi Joe adalah seorang pria dewasa.
"Katanya Aa penakut tadi."
"Penakut ya bukan berarti takut," kilah Joe.
"Terus apa? Bukannya sama kegelapan Aa juga takut, ya?" Syifa tentu ingat, momen bersama Joe saat keduanya berada di kamar apartemen yang mengalami pemadaman lampu. Dan pria itu langsung memeluknya serta mengatakan jika dirinya takut kegelapan. Tapi memang, semua itu benar adanya. Joe memang orang yang penakut.
"Kalau yang gelap-gelap sih memang iya, Yang, aku takut." Joe tak menyanggah masalah itu. "Tapi kalau film sih kayaknya enggak. Kan cuma film, setannya nggak mungkin keluar juga, kan, dari layar pas kita nonton?"
"Ya enggaklah, A." Syifa bergelak tawa, merasa lucu. "Namanya film, kan cuma rekaman. Lagian ... setannya juga bohongan kok."
"Ya sudah, kamu temani saja Robert, Yang, aku mau ngantre buat beli tiket sekalian beli cemilan dan minuman, ya?" Joe mendekat, kemudian mengecup pipi kanan istrinya.
"Oke." Syifa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Nanti sekalian juga, Aa beli popok, ya?"
"Kok beli popok? Buat apa?" Joe tampak heran.
"Ya buat Aa. Nanti Aa pakai, takutnya Aa lagi yang kencing dicelana," ledek Syifa sambil tertawa. "Hahaha."
"Enak saja. Mana mungkin, Yang." Joe langsung mencubit hidung mancung istrinya. Merasa gemas. "Udah bisa ngeledek aku kamu, ya, Yang! Awas saja nanti malam ... aku nggak biarkan kamu istirahat! Kita goyang sampai pagi!" ancamnya sambil mengedipkan matanya dengan genit.
"Siapa takut!" tantang Syifa yang kembali tertawa. "Siapkan saja gaya barunya, A, aku tunggu," tambahnya kemudian melangkah cepat meninggalkan Joe. Dan duduk di samping Robert sambil merangkul bahunya.
"Nakal juga ternyata si Syifa, bisa menantangku segala. Jadi bangun 'kan tongkatku," gumam Joe seraya meraba miliknya dibalik celana. Yang terasa sudah mengeras bahkan sejak mengangkat telepon dari Mami Yeri. Lantas dia pun melangkah pergi menuju loket pembelian tiket, yang sudah banyak sekali orang yang mengantre di sana. "Nanti aku pikirkan gaya baru deh, yang belum Syifa coba. Yang sampai buat dia pipis nggak berhenti-henti, hehehe ...," kekeh Joe yang tiba-tiba membayangkan. Dimana pun dan kapanpun, sekarang otaknya isinya selalu saja tentang selangka*ngan.
Ting!
Ting!
Ting!
Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi chat masuk dari ponsel Joe. Gegas, dia pun merogoh benda pipihnya di dalam kantong celana bahan. Dan saat dilihat, ternyata ada tiga chat masuk dari nomor baru. Dua diantaranya adalah foto, dan satunya adalah chat biasa.
__ADS_1
[Siang Kak Joe ☺️ Ini aku, Yumna. Kakak sama Robert udah makan belum? Aku kebetulan masak nih, mau cobain nggak? Aku kirim ke rumah sakit sekalian jenguk Robert, ya?]
Joe kemudian juga membuka dua foto yang dikirimkan Yumna, yang ternyata adalah foto kimbab dan foto selfi dirinya.
Namun, sontak Joe membulatkan matanya. Dia terkejut lantaran foto selfi yang dikirimkan Yumna cukup berani dengan menampilkan dadanya yang berbelah dan cukup montok.
Perempuan itu memang terlihat memakai kaos berwarna hitam, tapi begitu ketat sekali.
"Astaghfirullahallazim ...." Joe langsung beristigfar dan mengusap wajahnya. Kemudian menghapus foto tersebut. "Bisa-bisanya dia ngirim foto selfi seksi begitu? Apa nggak malu?"
Joe pun mengetik-ngetik ponselnya, berniat untuk membalas pesan dari Yumna.
[Terima kasih, Yum, tapi nggak usah. Kebetulan Robert juga sudah dibolehkan pulang.]
[Dan satu lagi, tolong jangan kirim foto selfimu lagi kepadaku. Aku ini sudah punya istri, Yum.]
Ting!
Chat dari Joe rupanya cepat sekali dibalas oleh Yumna. Isinya adalah...
[Kenapa memangnya, Kak?😄 Kan aku hanya memperlihatkan kecantikanku hari ini. Aku juga 'kan mau jadi modelnya Kakak. Eh ... spill dong sekalian, bagaimana caranya gaya kepiting? Aku 'kan masih polos, Kak. Hehehe 🤭.]
*
*
*
"Ayok, Yang, kita langsung masuk saja. Soalnya sebentar lagi filmnya akan diputar," ajak Joe.
Dia sudah berdiri dihadapan Syifa. Tangannya memegang tiga tiket, tiga gelas minuman Ice Java Tea serta satu popcorn karamel berukuran jumbo.
"Hore!! Akhirnya jadi juga nonton film horor!" Robert langsung berdiri dari duduknya, kemudian melompat-lompat karena merasa senang.
"Ayok, A," sahut Syifa seraya berdiri, kemudian mengambil wadah popcorn di tangan Joe. Sebab terlihat suaminya seperti kesusahan.
"Padahal aku juga bisa bawa semuanya, Yang," ucap Joe yang terlihat tak enak. Mereka bertiga pun lantas melangkah bersama, masuk ke dalam gedung dengan berbaris.
"Nggak apa-apa, A."
__ADS_1
"Oh ya, Rob ... nanti Daddy duduknya ditengah, ya?" pinta Joe kepada Robert yang berjalan di depan Syifa. Sedangkan Joe di belakang Syifa.
"Duduk ditengah gimana maksudnya?"
"Ditengah antara kamu dan Mommy."
"Tapi Robert pengen duduknya di dekat Mommy, Dad."
"Mommy saja yang ditengah, kalau begitu," saran Syifa.
"Ih. Orang Daddy yang kepengen ditengah, Mom. Kok jadi Mommy?"
Syifa hanya tersenyum, dan entah mengapa wajahnya itu langsung merona hanya karena Joe menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Daddy dan Mommy.
Sebab biasanya, panggilan itu hanya diucapkan saat mereka berbicara dengan Robert saja. Jadi terkesan ada yang beda dan membuat hatinya bergetar.
Mereka pun duduk di tengah-tengah deretan kursi. Tidak paling depan atau pun paling belakang. Dan semua isi kursi di sana terbilang hampir penuh, karena memang banyak sekali yang akan menonton film horor perdana di bioskop itu.
"Oh ya, A, ngomong-ngomong ... film ini film dari mana? Tadi aku belum sempat baca judulnya," tanya Syifa yang sudah terduduk disalah satu kursi, kemudian mengajak Robert untuk duduk di sampingnya.
"Kurang tau, Yang. Tapi judulnya Kutukan Kuyang," jawab Joe yang sudah merasakan bulu romanya berdiri. Padahal filmnya saja belum diputar, tapi suasana di dalam bioskop itu entah mengapa sudah sangat mencekam.
"Dari judul sih kayak film Indonesia, A."
"Iya, ya, Yang?" Joe menelan salivanya, kemudian duduk di samping Syifa dan menatap sekitar.
Di samping sebelah kanannya duduk, ada seorang pria berkepala plontos dan berkulit hitam legam. Wajahnya terlihat begitu sangar dan dia juga kebetulan menatap ke arah Joe.
Tatapannya sebetulnya biasa saja, tapi karena minimnya pencahayaan serta wajahnya yang hitam—jadi yang Joe lihat pria itu seperti tengah melototinya.
'Apa-apaan dia? Kok menatapku begitu? Mana serem banget lagi wajahnya. Ini sih belum apa-apa aku udah takut duluan,' batin Joe sambil membuang napasnya dengan kasar
Tak lama, seluruh lampu di dalam gedung itu dipadamkan sebab opening film itu pun langsung diputar.
Namun, semua itu sontak membuat Joe terperanjat dari duduknya, dan secara refleks memeluk tubuh Syifa dengan erat lantaran kaget sekaligus takut.
"Astaghfirullahallazim, Yang!" seru Joe dengan tubuh gemetaran.
"Kenapa, A?" tanya Syifa heran.
__ADS_1
...Payah banget Om Joe 🤣 bercinta aja kuat, masa nonton film horor nggak🤭...