
"Iya, Yang." Joe menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah menuju lemari dan membukanya untuk mengambil baju ganti.
"Ngapain Aa ngambil baju?" tanya Syifa yang tampak kecewa. Dia pikir—untuk apa Joe memakai baju, kalau mereka akan bercinta. Pasti sama saja akan dibuka ujungnya.
"Ya buat dipakailah, Yang."
"Tapi Aa nggak perlu pakai baju, A ... apa lagi celana." Syifa langsung turun dari ranjang, kemudian berlari dan mengambil celana boxer yang Joe pegang.
"Lho, kenapa?" Joe tampak bingung menatap Syifa. "Masa aku tidur bugil, Yang?"
"Kan nanti juga bakal dibuka, A, jadi untuk apa pakai baju?"
"Dibuka?" Joe makin bingung. Tapi istrinya itu sudah menarik tangannya, lalu mengajaknya untuk duduk bersama di sofa.
"Oh ya, A, sebelumnya aku ingin ngomong dulu ... kalau Robert kepengen nambah nama katanya," ucap Syifa sembari menatap ke arah Robert.
"Nambah nama?" Alis mata Joe tampak bertaut. "Maksudnya, gimana?"
"Nama dia ditambah. Depannya ada nama Muhammad. Boleh, kan, A?"
"Oh. Nanti namanya jadi Muhammad Robert Anderson?"
"Iya." Syifa menganggukkan kepalanya. "Boleh, kan, A? Robert minta aku ngomong sama Aa, supaya Aa setuju."
"Asalkan nama Robert dan Anderson nggak diganti. Nggak apa-apa."
"Baguslah ...." Syifa tersenyum, lalu menghela napasnya dengan lega. Perlahan dia pun meraih tangan kanan Joe, lalu menggenggamnya dengan lembut. "Oh ya, A, aku perhatikan ... Aa kok kayak ada masalah gitu, sih, Aa kenapa sebenarnya?"
"Masalah gimana maksudnya?"
"Kok Aa balik nanya?" Syifa mengerutkan keningnya. "Ya aku nggak tau, mangkanya aku nanya sama Aa. Kalau Aa ada masalah ... Aa bilang saja sama aku. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik, supaya ketemu solusinya."
"Tapi aku nggak ada masalah apa-apa, Yang." Joe menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong."
__ADS_1
"Serius. Masalah gimana, sih, Yang?"
"Kalau nggak ada masalah ... terus kenapa Aa dari kemarin nggak pernah merangkul bahuku? Bahkan ngomong saja cuma sepentingnya. Kalau nggak aku nanya ... ya Aa nggak nanya dulu."
"Oh itu ...." Joe seketika teringat. Dan dia sekarang mengerti.
"Iya, itu. Jadi kenapa, A?" tanya Syifa penasaran.
"Sekarang aku tanya, kamu merasa ada hutang nggak ... sama aku?"
"Hutang?" Syifa menatap Joe dengan raut bingung. Dia juga berpikir sebentar, sampai akhirnya berkata, "Hutang apa, A? Oh ... apa kartu ATM yang Aa kasih itu sebagian dari hutang? Jadi aku musti membayarnya, ya?"
"Ini bukan tentang uang, Yang." Joe menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Hutang pernyataan cinta. Kan kamu belum bilang, kalau kamu itu cinta sama aku."
"Lho, ternyata karena itu?" Syifa baru sadar. Dan dia terlihat biasa saja. Padahal, Joe sendiri sangat ingin mendengar langsung pernyataan cinta itu.
"Iya. Sekarang katakan, kamu cinta nggak sama aku?"
"Pokoknya kalau kamu nggak nyatain cinta sekarang, aku mau ngambek!" sela Joe cepat. Dia juga langsung berpindah posisi duduknya di atas kasur dengan wajah yang sudah merengut.
"Kok ngambek? Kayak anak kecil aja, A," kekeh Syifa seraya berdiri, kemudian melangkah mendekat ke arah Joe. Juga duduk di sampingnya. "Kita 'kan bukan anak ABG lagi. Ngapain pakai nyatain cinta segala?"
"Aku nggak mau ngomong lagi sama kamu, Yang." Joe memalingkan wajahnya, lalu bersedekap. Dia juga menggeserkan bokongnya, supaya tak terlalu dekat dengan Syifa. Sebab tongkat bisbolnya sudah menegang sekarang.
"Ya sudah deh, iya, aku akan menyatakan cinta."
"Ya udah bilang sekarang."
Syifa menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan. Jantungnya pun seketika berdebar kencang saat bokongnya bergeser untuk mendekat ke arah Joe.
'Apa aku harus mengatakan, kalau aku cinta sama Aa? Tapi aku malu rasanya,' batinnya yang mulai berpikir, juga memerhatikan Joe dari samping yang masih merengut.
__ADS_1
Pria itu terlihat seperti anak kecil, bahkan mirip Robert yang merengek ingin mengganti nama.
'Tapi kalau aku nggak ngomong cinta, Aa katanya nggak mau ngomong. Otomatis dia juga nggak akan mengajakku bercinta, dong?' keluhnya. Syifa terlihat mulai frustasi, sampai dia juga duduk dengan gelisah. 'Bagaimana ini? Duh ... malu banget. Tapi aku kepengen, udah lama juga kita nggak bercinta. Iya, kan?'
"Kalau kamu tetap nggak mau ngomong cinta, aku mau tidur sa—
"Aku ...." Syifa memotong cepat. Bibirnya pun mendekat ke telinga kanan sang suami, lalu melanjutkan dengan bibir yang sudah bergetar. Jujur saja, ini pertama kalinya dia mengatakan cinta. Jadi wajar kalau terlihat berlebihan dan segugup seperti ini. "Ci ... cinta, sama Aa."
Mata Joe seketika membulat disertai binaran kebahagiaan. Dia juga langsung mengulum senyum dengan jantung yang berdebar kencang. "Aku nggak salah denger, kan? Tadi kamu bilang apa?"
Syifa mengangguk dengan malu-malu. Wajahnya pun ikut memerah. "Iya. Aa nggak salah dengar, kok, aku memang ...." Ucapan Syifa seketika terhenti, ketika baru saja Joe mengecup bibirnya.
"Ini yang aku mau, Yang." Joe menatap mata Syifa dengan lekat, lalu menangkup kedua pipinya. "Terima kasih, aku juga mencintaimu, Yang. Bahkan sangat."
"Sama-sama, A, aku ... eeemmpptt ...."
Joe langsung meraup secara kasar bibir Syifa dengan penuh nafsu. Dia juga mengangkat tubuhnya untuk terduduk di atas pangkuannya.
Syifa terlihat pasrah, bahkan dia juga membalas ciuman itu meskipun terasa begitu amatir. Jujur saja, dia sangat menginginkan semua itu. Malah kalau bisa, lebih dari sekedar ciuman.
Kedua tangan Joe tak tinggal diam, dia langsung mendarat pada kedua bukit kembar milik istrinya. Meremmas kuat-kuat dengan gerakan memutar.
Kedua benda itu juga terasa begitu kenyal bersentuhan tangannya, meskipun masih dibalik baju. Tapi sepertinya—itu semua karena Syifa tak memakai bra.
Syifa juga dapat merasakan milik Joe yang begitu keras menindih bokongnya. Dan itu semua membuat miliknya ikut basah.
"Yang ... manis banget bibirmu." Joe melepaskan ciumannya dengan napas yang terasa memburu. Dia menelan salivanya dengan kelat, ketika sudah berhasil melepaskan beberapa kancing bagian atas baju tidur yang Syifa kenakan. "Pengen ini aku, Yang. Buka, ya?" pintanya sambil menyentuh sebuah tanktop yang menjadi penghalang bukit kembar.
Syifa mengangguk setuju. Dan tanpa berlama-lama, Joe sudah menarik benda itu ke atas hingga kedua benda kenyal itu menyembul di hadapannya.
Gegas, Joe menyesap salah satunya. Dan satunya lagi ikut dia remass-remass.
"Aahh ...." Sebuah desaahan langsung lolos dibibir Syifa, karena terkejut merasakan sentuhan dari mulut sang suami. 'Enak banget, Aa pintar sekali,' batinnya sambil meremmas rambut kepala sang suami.
'Semua yang ada pada dirimu selalu enak dan membuatku kecanduan, Yang.' Joe terlihat makin lahap dengan mainannya, bahkan seperti bayi yang sedang kehausan.
__ADS_1
Namun, saat sedang enak-enaknya, seseorang tiba-tiba bertanya, "Daddy kok neneen sama Mommy? Aneh ... kayak adik bayi saja, sih?"
...Mungkin kurang, pas masih bayinya, Rob 🤣...