
Ceklek~
Bu Sari membuka pintu rumahnya dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi hitam yang masih beruap. Kemudian menyajikan di atas meja plastik di dekat Ali dan Aldi.
"Silahkan, Pak, ini kopinya," ucap Bu Sari dengan ramah.
Kedua pria berbadan besar itu terlihat tengah bermain ludo pada salah satu ponsel miliknya, supaya mereka tak lagi tidur akibat masih mengantuk.
"Terima kasih, Bu," jawab Aldi sambil tersenyum menatap Bu Sari.
"Sama-sama."
"Tapi apa nggak ada cemilannya, Bu?" tanya Ali menatap nampan.
"Dih, Al. Nggak perlu, nggak enak." Aldi menyenggol lengan temannya, dia merasa malu. Rasanya sudah dikasih kopi saja sudah sangat bersyukur. Jarang-jarang memang, mereka melakukan tugas sambil diberikan kopi gratis. Biasanya selalu membeli sendiri.
"Ya barangkali Ibu punya sisa-sisa kripik yang nggak kemakan, atau nasi dengan semur jengkol dan sambel terasi."
"Itu sih kamu lapar, Al, bukan minta cemilan," cibir Aldi.
"Selain ngantuk, aku juga laper memang, Di." Ali mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi suara cacing.
"Saya cek nasi semalam dulu, ya, Pak, barangkali masih ada sisa. Tapi kalau semur jengkol sih nggak ada, adanya paling telur balado sisa semalam."
"Nggak apa-apa, Bu, apa saja yang penting mengenyangkan," balas Ali dengan senyuman manis, sama sekali dia tak malu meminta makan.
"Dua porsi ya, Bu, saya juga mau," ujar Aldi yang ikut memegang perutnya sendiri.
"Dih, tadi aja bilang nggak enak. Sekarang justru kepengen," sindir Ali menatap tajam temannya.
"Ya masa kamu makan aku nggak ikut makan? Itu namanya 'kan bukan solidaritas," cibir Aldi.
"Ya harusnya, kamu nggak perlu dong bilang nggak enak segala. Kesannya aku kayak nggak tau malu gitu, Di!" pekik Ali tak terima.
"Ya memang kamu nggak tau malu, kan?"
"Bukan aku, tapi kamu juga!" Ali menunjuk wajah Aldi dengan sengit. Memang setiap bersama, mereka selalu bertengkar. Tapi keduanya sendiri tidak pernah mau berpisah.
"Enak saja aku." Aldi menunjuk wajahnya sendiri dengan mata melotot. "Mana mungkin!"
"Udah nggak perlu berantem, Pak," ujar Bu Sari menengahi. Tidak enak juga pada tetangganya, yang akan mendengar perdebatan mereka hanya karena minta makan. "Kalian akan mendapatkan makanan kalau saya mencek masih ada nasi atau nggak. Jadi nggak perlu berantem. Kalau begitu saya permisi dulu untuk mengeceknya." Setelah mengatakan hal itu, Bu Sari melangkah masuk lagi ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
"Hei manusia ... hormati ibumu ... yang melahirkan ...." Terdengar suara nada dering dari ponsel Aldi, lagu Bang Haji Roma Irama.
Segera, pria berbadan besar itu meraih ponselnya yang berada di atas meja plastik, yang tertera nama Bos Panjul di sana.
"Selamat pagi Bos Panjul," sapa Aldi dengan ramah.
__ADS_1
"Hei! Siapa yang kamu panggil Panjul? Namaku Paulus Anderson, ya!" teriak Papi Paul yang langsung menggomel. Tak terima rasanya, nama bagusnya itu disebut dengan salah.
"Maaf-maaf, Pak. Sepertinya saya salah dengar tentang nama Bapak, sehingga kontak Bapak pun saya beri nama Panjul."
"Cepat ganti, aku nggak mau namaku berubah jadi Panjul!"
"Siap, Pak." Aldi langsung mematikan sambungan telepon, kemudian mengganti nama kontak Papi Paul. Dan berselang lama, pria itu kembali meneleponnya lagi dan segera dia angkat. "Halo, Pak?"
"Kenapa teleponku dimatikan? Nggak sopan sekali kamu ini!" Papi Paul terdengar kembali menggomel.
"Lho, bukannya tadi Bapak minta saya untuk mengganti nama kontak Bapak, ya? Saya baru saja menggantinya." Aldi mengerutkan keningnya, dia tampak bingung.
"Ya 'kan bisa nanti, setelah aku selesai menelepon kamu!"
"Oh gitu. Maaf kalau gitu, Pak."
"Sekarang kamu dan temanmu ada di mana? Dan apakah kalian aman, menjaga Joe?"
"Aman, Pak." Aldi menjawab dengan penuh semangat. "Bapak tenang saja, semuanya aman terkendali. Kerjaan kami memang tidak perlu diragukan. Sekarang saja saya dan Ali sedang mengantar Pak Joe untuk menemui karyawannya yang bernama Sandi."
"Sandi itu sopir sekaligus asistennya Joe. Bukan karyawannya," tegur Papi Paul meluruskan. Sebab menurutnya ucapan Aldi salah.
"Oh, tapi bukannya sama saja? Kan intinya Pak Jonathan bosnya Sandi."
"Terserah kamu deh. Tapi pokoknya tetap awasi, ya!"
"Siap, Pak."
"Siap, Pak." Aldi mengangguk lagi dan kali ini penuh semangat, setelah itu sambung teleponnya terputus.
"Silahkan, Pak, ini makanannya." Bu Sari datang lagi dengan membawa dua piring yang berisi nasi dan telor balado, kemudian menaruhnya di atas meja di dekat kopi.
"Terima kasih sekali lagi, Bu," ucap Aldi dengan mata berbinar sambil menelan saliva kala melihat piring yang berisi makanan itu.
"Sama-sama." Bu Sari mengangguk, lantas berlalu masuk lagi ke dalam rumahnya.
Aldi perlahan mengambil salah satu piring di atas meja, lalu mengalihkannya di atas pangkuan. "Ayok makan sekarang, Al, biar kita nggak ngantuk dan semangat lagi," ajaknya seraya melirik temannya.
Namun dilihat kini, Ali sudah tidur pulas dikursi dengan mulut yang menganga, kepalanya bahkan sudah tersandar pada tembok di dekat jendela.
"Malah tidur ini orang." Aldi hanya geleng-geleng kepala, tapi dia tak mengambil pusing. Langsung saja dia makan sebab lapar. Padahal alasan temannya tidur karena sehabis minum kopi yang bercampurkan obat tidur.
*
*
*
__ADS_1
"San! San! Berhenti dulu, San!" ujar Joe seraya menepuk-nepuk punggung Sandi dari belakang. Sebab merasakan perutnya bergejolak ingin muntah.
"Kenapa, Pak? Sebentar lagi kita akan sampai lho?" tanya Sandi bingung. Tapi dia langsung mengerem motor metik yang dia bawa disisi jalan.
"Perutku mual, San. Kepengen ... Huueekk! Huueekk!" Belum sempat Joe meneruskan ucapannya, tapi secara mendadak dia langsung muntah-muntah. Bahkan sampai belum sempat turun dari motor. Untung saja tak mengenai pakaian atau motor itu sendiri.
"Bapak kenapa? Masuk angin?" tanya Sandi cemas. Segera dia memberikan sapu tangan yang diambil dari dalam kantong celana jeans panjangnya.
"Nggak tau. Tapi perutku seperti dikocok-kocok pas kamu melewati polisi tidur, San," sahut Joe seraya mengambil sapu tangan itu, kemudian menyeka bibirnya.
Namanya gang kecil, wajar memang kalau banyak polisi tidur. Supaya para mengendara tak mengendarainya dengan kencang. Khawatir juga banyak anak-anak.
Tapi selain karena polisi tidur, itu juga karena Joe yang belum terbiasa naik motor.
Angin pagi yang sejuk dirasakan tubuh Sandi justru tidak dirasakan oleh tubuh Joe, malah yang ada membuatnya dingin dan mual. Apalagi dia dari kemarin malam saat sampai Jakarta belum makan apa-apa. Perutnya hanya diisi air putih, karena memang tak ingin makan.
"Gang kecil memang begitu, Pak," balas Sandi. "Saya 'kan awalnya berusaha untuk pelan-pelan. Tapi Bapaknya kepengen ngebut. Jadi gimana dong?"
"Teruskan saja, nggak apa-apa. Katanya 'kan sebentar lagi sampai rumah Abi." Ditahan sedikit lagi tak masalah menurut Joe, yang terpenting dia akan bertemu Syifa dan rasa mualnya pasti akan hilang.
"Iya. Itu di depan sebentar lagi," tunjuk Sandi ke arah depan. Dia pun lantas kembali meng-gas motor metiknya, kemudian menyetir.
*
*
*
Hanya dalam hitungan 3 menit saja, mereka akhirnya sampai pada tujuan.
Umi Maryam yang sedang menyajikan barang dagangan di atas meja di depan rumahnya langsung terkejut—melihat menantunya itu datang dan langsung turun dari motor bersama Sandi, lalu melangkah cepat menghampiri sambil membuka helm.
"Assalamu'alaikum, Umi, di mana Syifa?" tanya Joe yang langsung meraih tangan Umi Maryam untuk mencium punggung tangannya.
"Walaikum salam, Joe. Tapi kapan kamu pulang dari Korea? Kok pagi-pagi bener ke sininya?" tanya Umi Maryam yang masih terlihat kaget.
"Aku baru sampai semalam Umi, dan apa Syifa ada di kamarnya? Aku ingin bertemu Syifa, Mi." Joe yang sudah tak sabar langsung berlari masuk ke dalam rumah, sebelum Umi Maryam menjawab pertanyaannya.
"Sayang ... aku merindukanmu," ucap Joe yang langsung membuka pintu kamar Syifa, yang kebetulan tidak kunci. Segera dia masuk ke dalam dan mengunci pintunya dengan rapat.
Sayangnya, tak ada Syifa di dalam kamar yang terlihat kasurnya berantakan itu. Tapi, Joe mendengar suara air di dalam kamar mandi berikut dengan kran airnya. Sepertinya orang yang dia cari tengah mandi di dalam sana.
"Kayaknya sayangku ini sedang mandi. Mending aku langsung tunggu dia deh, hitung-hitung ngasih kejutan juga," kata Joe yang langsung mendapatkan sebuah ide cemerlang.
Tak hanya menunggu, dia juga secepatnya sudah melucuti seluruh tubuhnya hingga tak ada lagi sehelai benang yang menempel.
Setelah tubuhnya polos sempurna dan semua pakaiannya ditaruh di atas meja rias, Joe pun langsung naik ke arah kasur seraya berbaring terlentang dengan tongkat bisbol yang sudah menegang.
__ADS_1
...Dua hari ga ketemu langsung dikasih lihat tongkat 🤣 dasar omes 😆...