
'Apa katanya? Mas Boy? Jijik sekali!' Yumna mendumel dalam hati.
*
*
Ceklek~
Setelah beberapa jam berlalu, pintu kamar rawat itu pun akhirnya dibuka secara perlahan dan keluarlah Ustad Yunus dari sana.
"Nona Yumna ...," gumamnya yang tampak terkejut, kala melihat kehadiran perempuan itu. Namun dia langsung mengulas senyum dan melemparkan pandangannya kepada Mami Soora yang baru saja berdiri.
"Udah selesai, Boy? Bagaimana hasilnya?" tanya Mami Soora dengan senyum sumringah. Dia juga melirik ke kaca pintu sebentar, untuk melihat suaminya. Dan tampak jelas di sana jika pria tua itu tengah tertidur pulas di atas ranjang. 'Papi tidur? Puji Tuhan ... semoga nyenyak ya, Pi,' batinnya penuh syukur.
Hampir tiga hari berturut-turut, suaminya itu tidak bisa tidur sama sekali karena dihantui rasa takut terus bertemu dengan kakek-kakek.
Sekalinya minum obat tidur dan bisa tidur, itu pun tak berlangsung lama. Tidurnya tidak pernah bisa nyenyak. Jadi itulah alasan Mami Soora sampai bersyukur, melihat suaminya bisa tidur sekarang. Karena tentu dia juga ikut pusing, dengan apa yang dialami suaminya.
"Inya Allah, Bu. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Dan kalau Ibu penasaran dengan apa yang tadi kami obrolkan ... Ibu bisa tanya langsung ke Om Yohan saja, ya? Setelah dia bangun. Karena dia sempat ketiduran."
'Apa katanya? Om?' Telinga Yumna mendadak terasa gatal mendengar pria itu memanggil sebutan 'Om' untuk Papinya. Dan tampak jelas, jika dia tak terima. "Heh! Tadi kamu panggil siapa? Om Yohan? Nggak sopan banget kamu, ya! Manggil Papiku dengan sebutan Om! Memang kamu kira, kamu itu keponakannya, hah?!" bentaknya sambil melotot.
"Yumna! Kamu ini apa-apaan, sih! Jaga bicaramu!" tegas Mami Soora menegur anaknya. Juga langsung memegang salah pergelangan tangannya dengan kuat. "Maaf ya, Boy ... kadang si Yumna ini suka geser otaknya. Jadi bicaranya asal," tambahnya dengan perasaan tidak enak menatap Ustad Yunus.
"Enak saja geser! Otak Mami tuh yang geser!" jawab Yumna nyerocoh, tapi dia langsung mendapatkan sebuah toyoran dikepalanya yang tentu dari Maminya.
"Enggak apa-apa kok, Bu," jawab Ustad Yunus sambil tersenyum.
"Terima kasih juga Boy, udah bantu suami Tante. Tante sangat senang melihatnya bisa tidur."
"Lebayyyy ...!" sahut Yumna dengan raut jijik.
"Memang kemarin-kemarin Om Yohan nggak bisa tidur, Bu?"
__ADS_1
"Iya." Mami Soora mengangguk. "Kemarin-kemarin dia kesulitan tidur. Nggak pernah dapat ketenangan. Oh ya, Boy. Apa Tante boleh minta nomormu?"
"Buat apa sih, Mi? Nggak pen—"
"Diem!" tegas Mami Soora kepada anaknya. Dan melototinya. Setelah itu sorotan matanya kembali biasa saat menatap Ustad Yunus. "Boleh nggak, Boy, Tante minta nomormu? Bukan Tante mau genit, nih, tapi barangkali Tante butuh sesuatu tentang masalah suami Tante. Jadi enak kalau bisa langsung menghubungimu."
'Alaah ... memang dasar genit aja Mami ini! Alasan saja. Lagian mau genit juga lihat-lihat dong harusnya. Pria kere kok digenitin!' batin Yumna dengan bibir monyong.
"Boleh kok, Bu." Ustad Yunus mengangguk, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian menyebutkan beberapa angka itu supaya Mami Soora mencatatnya.
"Tante miscall, ya, Boy?"
"Iya." Ustad Yunus mengangguk dan tak lama nomor baru sampai di ponselnya. "Udah masuk, Bu."
"Jangan lupa disave, ya, Boy. Namanya Maminya Yumna yang cantik jelita."
"Idiiih ...!" Yumna memutar bola matanya dengan malas. "Masih cantikan aku kemana-mana kali, daripada Mami."
Mami Soora pun lantas merogoh tas branded yang sejak tadi dipegangnya, lalu mengambil sebuah amplop kecil berwarna coklat lalu mengulurkannya kepada Ustad Yunus. "Ini, Boy."
Yumna yang melihatnya sontak membulatkan mata. Dia juga yakin—jika apa yang hendak diberikan Maminya itu adalah uang. Namun saat dirinya hendak merebut benda tersebut, Maminya langsung mencegah juga sambil melototinya lagi.
"Itu apa, Bu?" tanya Ustad Yunus bingung, tapi dia belum mengambil amplop itu.
"Ini uang, Boy, nggak seberapa. Anggap saja tanda terima kasih. Ayok cepat ambil, Boy!" pinta Mami Soora sedikit memaksa.
"Enggak usah, Bu," tolak Ustad Yunus dengan gelengan kepala, diikuti sebuah senyuman tipis yang nampak menawan diwajahnya. "Saya senang membantu Om Yohan. Dan ikhlas juga. Kalau begitu saya permisi ya, Bu. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban atas salamnya, Ustad Yunus pun sudah membungkuk sopan dan berlalu dari sana.
Melihatnya seperti itu, Mami Soora lantas memberikan amplop coklat ditangannya kepada Roni, sembari berkata, "Antar si Boy pulang, Ron. Dan pastikan amplop ini diterima olehnya. Kalau nggak ... kamu aku pecat!"
"Tapi, Mi, kan dia—"
__ADS_1
"Baik, Bu!" Roni mengangguk patuh, kemudian langsung berlari menyusul Ustad Yunus sebelum dia kehilangan jejak.
Yumna yang melihatnya lagi-lagi hanya bisa menahan kesal. Dan jujur dia sebal sekali melihat tingkah dari Maminya yang menurutnya begitu berlebihan. "Menurutku Mami ini berlebihan sekali! Padahal nggak perlu ngasih duit segala!" gerutunya sambil menghentakkan kaki ditempat.
"Udah sih diem, nggak usah protes! Duit juga duit Papi, bukan duit kamu! Kenapa kamu yang repot sih, Yum?" Mami Soora terlihat tak peduli dengan apa yang dikatakan Yumna. Segera dia pun menarik tangan anaknya untuk ikut masuk ke dalam kamar rawat.
'Pasti tadi si Ustad Miskin hanya berpura-pura, menolak duit dari Mami. Aku yakin banget, sih ... habis dari sini dia pasti menerimanya dan bersorak dengan riang gembira,' batinnya menebak sambil mendengkus.
*
*
*
Sayangnya, tebakan Yumna meleset. Amplop yang berisikan uang itu sama sekali tak diterima oleh Ustad Yunus meskipun sudah berulang kali Roni merayunya.
"Ustad ... tolong ambil ini. Rezeki itu 'kan nggak boleh ditolak, Ustad. Saya mohon ...," pinta Roni yang masih berusaha. Kini keduanya sudah berada di depan gerbang masjid.
"Bukan saya menolak rezeki, Pak Roni, tapi saya sudah katakan tadi sama istrinya Om Yohan ... kalau saya itu ikhlas dalam membantunya. Jadi bos Bapak nggak perlu memberikan apa-apa lagi kepada saya. Kata terima kasih juga sudah lebih dari cukup."
"Tapi 'kan saya jauh-jauh ke sini dan meminta tolong sama Ustad. Dan Ustad juga sudah berjam-jam mengobrol dengan Pak Yohan, tapi masa nggak dapat apa-apa? Apa Ustad nggak rugi?"
"Dalam hal membantu seseorang yang mengalami kesulitan ... nggak akan ada kata merugi selagi kita mampu, Pak. Lagian kita juga dapat pahala." Penjelasan Ustad Yunus memang benar adanya. Tapi zaman sekarang tentu orang yang mempunyai pemikiran seperti itu sudah jarang sekali ada. "Ya sudah ya, Pak. Sebentar lagi mau Zuhur. Saya mau mandi dan adzan dulu."
"Tapi, Ustad! Ini bagaimana dengan ...." Ucapan Roni menggantung begitu saja, ketika pria di hadapannya itu sudah berlalu masuk ke dalam masjid.
Ingin rasanya dia menyusul, dan memaksanya. Tapi rasanya tidak enak, apalagi pria itu adalah seorang Ustad yang pastinya begitu dihormati.
"Duh ... bagaimana ini? Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaan, kalau sampai kubawa pulang lagi ini amplop. Mana isinya banyak lagi." Roni menggaruk rambut kepalanya, sambil berjalan mondar-mandir memperhatikan amplop di tangannya.
Bingung sekali rasanya.
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1