
Sebelumnya....
"Aa habis dari mana dan di mana Robert?" tanya Syifa yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat Joe masuk ke dalam kamar dengan buru-buru dan langsung menutup pintu serta menguncinya.
"Aku baru saja mengantarkan Robert, Yang, ke kamar Opa dan Omanya." Joe langsung menghampiri Syifa dan tiba-tiba saja mengendong tubuhnya.
Dilihat gadis itu sontak terkejut, apalagi Joe dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Juga sekarang sudah naik di atas tubuhnya.
"Opa dan Omanya?" gumam Syifa berpikir sebentar, lalu berkata, "Maksud Aa ke kamar Umi dan Abi?"
"Iya, Yang. Ayok kita lakukan lagi, Yang. Udah nggak ada waktu lagi soalnya." Buru-buru, Joe membuka kaosnya, lalu menurunkan sarung yang tanpa dalemman itu hingga terlepas dan melemparkannya ke sembarang arah.
Tentunya, apa yang dilakukan pria itu mengundang rasa keterkejutannya Syifa, apalagi dengan tongkat bisbol milik Joe yang benar-benar sudah menegang bagaikan tiang listrik.
"Aa mau apa? Kenapa sudah bugil begini?!" tanya Syifa panik dan langsung menarik selimut untuk menutupi perut bagian bawah Joe, tepat pada area sela*ngkangannya.
"Kita lanjutkan yang tadi siang nggak jadi, Yang. Mumpung Robert sudah aku titipin. Aku benar-benar sudah nggak tahan." Joe langsung menubruk tubuh Syifa yang setengah berbaring itu, lantas menyerbu bibirnya.
Mencium serta melummatnya dengan kasar, tidak lupa dibarengi dengan remmasan pada bukit kembar istrinya.
Joe terlihat seperti orang yang sudah tidak tahan ingin buang air besar, yang sudah berada diujung tanduk. Sebab memang tampak sangat terburu-buru dan tidak sabaran sekali.
Napas Syifa rasanya tercekat dalam tenggorokan, ciuman Joe begitu dalam dan hampir saja mengambil semua oksigen di mulutnya.
Dia pun langsung mendorong tubuh Joe hingga melepaskan ciumannya, dan segera mengatur napasnya yang sudah tersengal-sengal.
"Kok dilepas, Yang? Apa nggak enak, ya? Ciumanku?" tanya Joe dengan wajah kecewa, tangannya sekarang menyentuh kerudung Syifa dan mencoba untuk membukanya.
"Bukan nggak enak, A. Tapi Aa terlalu menekanku. Napasku sesak." Syifa menyentuh dadanya yang naik turun.
__ADS_1
"Benarkah? Maafin aku, Yang." Setelah berhasil membuka kerudung instan yang Syifa kenakan hingga rambut gadis itu terulai dengan indah, Joe segera menuangkan air minum di atas nakas. Kemudian menyodorkan ke bibir Syifa. "Ini minum dulu, Yang. Aku janji nggak akan menekanmu."
Syifa mengangguk, dan Joe dengan perlahan menenggakkan segelas air putih itu ke mulutnya. Hingga tenggorokan Syifa basah dan berhasil bernapas seperti sedia kala. "Santai saja, A. Jangan buru-buru. Nantinya aku takut."
"Iya, maaf." Joe menaruh gelas kosong ke atas nakas, lalu mengelus lembut pipi istrinya. "Aku akan bermain dengan perlahan, Yang. Tapi boleh 'kan ... aku lepas seluruh pakaianmu?"
"Boleh, tapi bertahap saja, A. Aku malu rasanya," jawab Syifa dengan wajah yang merona.
"Oke." Joe kembali naik ke atas tubuh Syifa dengan kaki dan tangan yang saling menopang, lalu menautkan kembali bibir keduanya dan menyesakkan lidahnya untuk masuk ke dalam rongga mulut.
Kali ini, yang Joe lakukan begitu lembut dan penuh penghayatan. Kemudian, kedua tangannya meraih beberapa kancing baju tidur yang Syifa kenakan. Dia lepaskan satu persatu hingga terlepas semua.
Syifa mencoba untuk melawan rasa takutnya, meski tubuhnya saat ini bergetar hebat. Dia terus menerus meyakini jika seseorang yang bermain di atas tubuhnya adalah Joe, sampai-sampai kedua matanya tak pernah lepas untuk terus memandangi Joe. Khawatir kalau pria itu berubah menjadi orang lain. 'Dia Joe, Fa, suamimu. Dari sentuhannya juga berbeda, dia sangat lembut karena aku akan bercinta dengannya. Bukan diperko*sa olehnya.'
Semakin lama berpasrah di bawah sana, Syifa pun akhirnya ikut terhanyut juga. Sampai-sampai tak sengaja dia mengeluarkan ******* saat dinama Joe memberikan jejak kepemilikan di lehernya.
Dan tanpa disadari, ternyata tubuhnya sudah polos sempurna. Sama-sama tanpa sehelai benang bersama Joe.
'Kenapa sangat enak, ya? Lidah Aa dan mulutnya nikmat,' batin Syifa yang sudah merem melek.
Beberapa detik kemudian, pemanasan yang cukup singkat itu kini Joe akhiri. Sekarang tiba saatnya dimana dia ingin saling terhubung dengan Syifa. Melepaskan masa duda yang sudah 7 tahun lamanya.
"Aku masuk ya, Yang. Bersiaplah menyambutku," ucap Joe sambil mengecup bibir Syifa secara singkat, kemudian mulai mendekatkan miliknya ke tempat yang dia idam-idamkan sejak kemarin-kemarin.
Namun anehnya, saat dia mulai bergerak untuk memasukkan tongkatnya. Joe justru merasa kesusahan, dan Syifa pun berulang kali merintih kesakitan.
"Sakit, A. Pelan-pelan ...," lirih Syifa sambil mengigit bibir bawahnya. Merasakan ketegangan pada urat-urat pada tubuh bagian bawahnya.
'Sepertinya memang benar, Syifa masih pera*wan.' Joe terdiam sebentar sambil memandangi taman indah berwarna pink di depannya, juga membiarkan Syifa untuk mengatur napas dan menyiapkan mentalnya.
__ADS_1
Joe tentunya dulu sudah pernah melakukan unboxing dengan mendiang istrinya, dan rasanya sama seperti apa yang dialaminya sekarang. Yakni kesulitan untuk masuk.
Namun, bukan Joe namanya kalau dia menyerah begitu saja. Tentu, dia mempunyai segala cara untuk berhasil dalam segala hal.
Joe menurunkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan taman indah itu. Dan secepatnya, dia menenggelamkan wajahnya ke sana hingga membuat Syifa memekik kecil sebab merasa terkejut dengan apa yang telah dilakukannya.
"Aahh ... apa yang Aa laku-aahh!" Syifa berucap tak jelas dan bersusah payah menenggelamkan suaranya, supaya tak mampu didengar dari luar. Tapi beberapa detik kemudian, dia tak mampu meredam suaranya. Dia berteriak kencang disaat merasakan begitu sakitnya di bawah sana. "Sa-sakit, Aa!"
Semua terjadi lantaran Joe sudah berhasil menancapkan tongkat bisbolnya, tapi sayangnya baru setengah dan masih terasa sulit untuk masuk semua.
"Maaf, Yang, tahan sedikit lagi, ya?" pinta Joe dengan memohon. Seluruh wajah dan tubuhnya sudah berkeringat banyak. Terlihat sangat perjuangan dan menguras sekali tenaga, padahal belum berhasil sepenuhnya.
Joe dengan perlahan membungkukkan badannya, lalu mendekatkan bibirnya ke arah Syifa dan kedua bibir itu kembali saling bertaut.
Dia sengaja kembali mengajak Syifa berciuman, supaya meredakan rasa sakit dan ketegangan ditubuhnya.
Namun, baru saja Joe hendak menghentakkan bokongnya, tiba-tiba saja terdengar suara gedoran pintu kamar dari luar dan itu sangat kencang sekali.
Tok! Tok! Tok!
Kemudian, disusul oleh suara bariton yang terdengar dari sana. "Syifa! Kamu kenapa?!"
Dari suaranya, Joe hafal betul itu milik Abi mertuanya.
'Dih, kenapa Abi malah mengetuk pintu, sih?' Kepala atas bawah Joe seketika terasa panas dan berdenyut sakit, saat dimana dia mendengar suara Abi Hamdan yang berteriak-teriak. Dadanya pun ikut bergemuruh karena rasa jengkel yang berkecamuk di dalam sana.
"Jojon! Apa yang kau lakukan kepada Syifa, hah?!" bentaknya dan kembali menggedor pintu. "Cepat buka pintunya, kalau nggak ... Abi dobrak!" ancamnya dengan kencang.
'Ya Allah ... dosa apa aku, kenapa gagal lagi? Padahal tinggal goyang doang ini,' batin Joe dan langsung menangis, karena kesal bercampur sedih dengan nasib dimalam pertamanya.
__ADS_1
...Kok jadi nggak tega, ya, sama Om Joe 🤣 kasihan banget kamu, Om 😆...