Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
15. Cara buat anaknya gimana?


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Lho, kayak ada yang aneh?" tanya Umi Maryam ke diri sendiri dengan kening yang mengernyit.


Dia berdiri di depan ranjang sambil memandangi anak dan menantunya, yang masih tidur.


Yang membuatnya bingung adalah karena keduanya terlihat saling memeluk. Umi Maryam tentu ingat, bagaimana sikap Syifa kepada Joe kemarin. Yang seolah tidak menyukainya tanpa sebab.


"Itu Joe dan Syifa, kan, Umi?" Abi Hamdan baru saja berdiri. Terbangun dari tidurnya dan berniat melaksanakan sholat Subuh.


Sama halnya seperti Umi Maryam, dia juga terlihat heran. "Seriusan, mereka saling berpelukan? Romantis amat," tambahnya tak percaya.


"Iya. Umi juga heran, Bi," sahut Umi Maryam. "Tapi bagus juga deh kalau begitu. Tandanya Syifa sudah menerima pernikahan ini dan sedikit demi sedikit rasa traumanya hilang."


"Iya. Mudah-mudahan saja. Abi juga maunya Syifa selalu bahagia, Mi."


Cekrek!


Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang tengah memotret.


Abi Hamdan dan Umi Maryam pun lantas menoleh ke kanan, tepat di mana suara itu berasal.


Dan ternyata ada Robert yang berdiri di sana sambil menggenggam ponsel. Yang mengarahkan kamera belakangnya menghadap Joe dan Syifa.


"Kamu sedang apa, Rob?" tanya Umi Maryam.


"Memotret Daddy dan Mommy, Oma. Mereka terlihat mesra. Robert seneng." Robert mengulum senyum dengan kedua pipinya yang tampak merona. Lantas memperlihatkan hasil fotonya itu kepada mereka.


"Ih Pak Joe?! Apa yang Bapak lakukan?!" Syifa tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, dan mendapati dirinya duduk di atas pangkuan sang suami.


Segera, dia pun turun dan duduk di atas kasur, kemudian mendorong tubuh Joe untuk turun dari ranjang.


"Ya ampun, Yang! Kenapa, sih?" Joe terbangun karena terkaget. Sedikit lagi dia hampir saja jatuh kalau tidak segera membuka mata.


"Kenapa, kenapa, Bapak yang kenapa? Kenapa ada di sini dan memelukku begitu? Dasar mesum!" teriak Syifa marah. Dia menarik selimutnya sebatas leher, kemudian mendorong kembali tubuh Joe sampai kakinya menempel lantai


"Semalam 'kan kamu sendiri yang tidur minta dipeluk sambil dipangku sama aku, Yang." Joe berasalan demi mencoba menggodanya. Dia juga melirikkan matanya kepada Robert dan kedua mertuanya. "Giliran dilihat Abi sama Umi saja ... kamu malu-malu. Jadi nggak ngaku," tambahnya sambil terkekeh. Joe juga mengusap dagu Syifa dengan gemas, meski gadis itu langsung menepisnya dengan kasar.


"Nggak usah ngarang deh, Pak! Mana mungkin aku seperti itu!" omel Syifa dengan wajah yang berpaling. Tetapi sekilas Joe melihat, ada rona kemerahan yang berada di kedua pipinya.

__ADS_1


"Mungkin kalau ada CCTV, pasti akan terbukti." Joe mendongakkan kepalanya, lalu menatap sisi-sisi plafon. "Siapa yang merengek minta dipeluk."


Syifa tak menanggapi, dia langsung berbaring membelakangi Joe sambil menarik lagi selimutnya sampai menutupi wajah.


"Mommy kayaknya malu-malu ya, Dad, mangkanya nggak ngaku." Robert ikut menyahut dan tak lama ikut terkekeh. Tampaknya, dia mempercayai apa yang Joe katakan.


"Iya, Rob. Biasa ... namanya masih baru jadi istri Daddy. Jadi masih malu-malu." Joe tersenyum, kemudian melangkah mendekat ke arah anaknya.


"Kalau sudah agak lama, pasti Mommy setiap hari minta dicium. Iya, kan, Dad?" tanya Robert.


"Benar sekali, Sayang." Joe meraih tubuh Robert, lantas mengendongnya. "Malahan ... bukan hanya setiap hari. Tapi setiap jam."


'Apaan sih mereka? Nyebelin banget,' batin Syifa kesal. Selain malu dilihat orang tuanya saat pangku-pangkuan, dia juga malu karena terus digoda oleh bapak dan anak satu itu.


"Udah, jangan digodain mulu Mommynya, nanti dia makin malu," sahut Abi Hamdan yang tiba-tiba ikutan. "Sekarang, kita ke musholla, yuk, sholat Subuh bareng," ajaknya.


"Tapi bacaan sholatku belum terlalu lancar, Bi, malah ada yang nggak bisa," ucap Joe menatap mertuanya.


"Niat sholatnya sudah bisa belum? Sudah hafal?"


"Hafal." Joe mengangguk.


"Yang penting niatnya dulu. Soal bacaannya nanti menyusul ... biar Abi ajari."


"Nanti Opa sekalian ajari kamu. Dikit-dikit diajari asal rutin ... insya Allah bisa." Abi Hamdan tersenyum, kemudian menatap istrinya. "Umi di sini dulu temani Syifa, ya? Abi sama Joe dan Robert mau ke musholla."


"Iya, Bi." Umi Maryam mengangguk. Ketiga lelaki itu lantas mengucapkan salam, kemudian melangkah keluar dari kamar inap.


*


*


"Eh, Bi, ngomong-ngomong ... aku dan Robert belum mandi. Memangnya boleh, sholat sebelum mandi? Soalnya kata Ustad Yunus ... sholat itu kita harus bersih segala-galanya." Joe menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Abi Hamdan ketika mendengar pertanyaan darinya.


"Kamunya ada hadas besar nggak?" tanya Abi Hamdan.


"Hadas besar itu apa?" Joe sendiri tidak tahu, apa yang mertuanya itu katakan.


"Seperti sesudah haid, junub, nifas dan keluarnya m*ani," jelas Abi Hamdan. "Nantinya, kamu harus mandi keramas. Niat mandinya sama seperti mandi wajib yang kemarin pagi aku kasih tau."

__ADS_1


Setelah Joe selesai ijab kabul, pagi harinya Abi Hamdan sempat memberitahukan jika dia harus mandi wajib.


Selain memberitahu bacaannya, dia juga memberitahukan tentang tata cara yang baik dan benar.


"Oh. Tapi junub itu apa?" Joe yang masih sangat awam kembali bertanya.


"Setelah selesai berhubungan badan," jawab Abi Hamdan.


"Oh. Memangnya kalau habis berhubungan badan harus mandi wajib juga? Kayak kita jadi mualaf?"


"Mandi wajib itu penting, Jon. Memang udah syariat Islamnya begitu," jawab Abi Hamdan, kemudian menjelaskan. "Mandi junub atau mandi wajib merupakan kegiatan membersihkan diri dari hadas besar agar tubuh kembali suci. Dengan begitu, umat muslim dapat melakukan berbagai ibadah dengan sah dan baik di hadapan Allah."


"Oh. Iya, iya." Joe menganggukkan kepalanya, merasa paham.


"Jadi kamu ada hadas besar nggak? Semalam nggak berhubungan badan dengan Syifa, kan?"


"Memangnya kenapa kalau aku berhubungan badan? Nggak boleh, Bi?"


"Boleh. Tapi aku 'kan cuma tanya. Lagian posisinya juga ada di rumah sakit, masa iya kamu berhubungan badan di depanku dan Uminya Syifa?"


"Ya nggaklah." Joe menggelengkan kepalanya. "Aku juga nggak berhubungan badan kok semalam."


"Memangnya ... berhubungan badan itu apa, sih, Dad? Kok nggak boleh dilakukan di rumah sakit?" tanya Robert. Sejak tadi dia ikut mendengarkan, sampai akhirnya kepo.


"Bikin anak, Sayang," jawab Joe dengan enteng.


"Heh! Harusnya jangan jawab itu, Jon!" Abi Hamdan langsung menepuk kasar pundak kanan menantunya. Menurutnya, jawaban Joe tidak pantas untuk anak seusia Robert.


"Lho, katanya Mommy lagi hamil? Apa jangan-jangan benar, ya ... Daddy berbohong?" Robert memicingkan matanya, menatap Joe penuh curiga.


"Berbohong gimana? Mommymu memang hamil. Sebentar lagi kamu segera punya adik."


"Terus kenapa Daddy dan Mommy bikin anak lagi? Sedangkan Mommy sudah hamil?"


"Nggak bikin. Kan tadi Daddy udah ngomong kalau nggak berhubungan badan," jelas Joe.


"Tapi, Dad, katanya 'kan Tuhan yang menciptakan manusia. Ini kok Daddy dan Mommy bisa buat anak? Aneh." Robert terlihat bingung dan seperti memikirkan.


"Allah yang menciptakannya, manusia hanya perantara. Kamu mengerti perantara, kan?" tanya Abi Hamdan menatap lekat cucunya. Bocah berusia 7 tahun itu pun langsung mengangguk. "Itu sebabnya seorang wanita bisa hamil, Nak."

__ADS_1


"Tapi, Opa, cara buat anaknya gimana? Pasti ada ilmunya, kan?"


...Ada lha, Rob 🤣 coba tanya Tante dan Om online yang baca 🤭...


__ADS_2