
Beberapa menit kemudian sesuai mandi dan berpakaian, Papi Paul pun buru-buru turun ke lantai dasar. Supaya dirinya yang lebih dulu menyuapi Syifa, ketimbang Mami Yeri.
Namun, saat sudah sampai ruang makan, justru dia tak melihat siapa pun di sana. Suananya pun mendadak sepi.
"Lho ... di mana Syifa dan yang lain? Kok nggak ada?" Monolognya bingung, lantas menoleh ke kanan dan kiri.
"Pi ... ke mana Syifa dan yang lain?"
Tak lama kemudian Mami Yeri datang sambil menyisir rambut. Sama halnya seperti suaminya, dia juga tampak kebingungan melihat tak ada Syifa di sana.
"Papi juga nggak tau, Mi." Papi Paul menggelengkan kepalanya, kemudian melangkah pergi dari ruang makan.
"Papi mau ke mana sekarang? Cari Syifa?" tebak Mami Yeri yang melangkah mengekori suaminya.
"Iya, Mi. Mami coba cari didapur gih!" titahnya.
"Oke." Mami Yeri mengangguk, lantas berbalik badan dan berlari kecil menuju dapur. Sedangkan Papi Paul memilih keluar dari rumah, karena barangkali dia dapat menemukan Syifa.
"Mobil Joe nggak ada, apa jangan-jangan Syifa dibawa pergi? Tapi si Botak Hamdan dan istrinya juga ikut nggak ada."
Papi Paul menerka-nerka, saat melihat tak ada mobil Joe pada halaman rumah. Tangan kanannya pun perlahan melambai, sembari menatap seorang satpam yang berdiri di depan gerbang.
Pria itu pun gegas berlari menghampiri seraya bertanya, "Iya, kenapa Pak Paul?"
"Apa tadi kamu lihat Joe keluar bersama istrinya naik mobil?"
"Iya, Pak." Satpam itu mengangguk. "Pak Joe baru saja pergi bersama Bu Syifa, Dek Robert dan kedua mertuanya."
"Ke mana?"
"Saya kurang tau, Pak." Pria berseragam itu menggelengkan kepala.
"Ish ... si Joe, kenapa malah pergi dan bawa Syifa segala?" Papi Paul berdecih kesal, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Dia berniat menghubungi Joe. "Kan Papi udah bilang ... kalau Papi ingin menyuapi Syifa, kamu ini kok ngeselin banget."
__ADS_1
"Di dapur nggak ada, Pi." Mami Yeri datang lagi menghampiri dengan napas tersengal-sengal, sebab dia sempat berlari-lari tadi. "Mami juga sudah periksa ke kamarnya, tapi Syifa tetap nggak ada. Yang lainnya juga kok ikut ngilang, ya?"
"Si Joe ini, Mi, kerjaannya." Papi Paul menggerutu dengan dada yang bergemuruh, ketika panggil yang dia lakukan tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Kerjaan Joe gimana maksudnya, Pi?" tanya Mami Yeri bingung.
"Si Joe yang bawa Syifa pergi. Dan lebih parahnya semuanya juga ikut dengannya, Mi."
"Dih ... tega banget sih Joe sama kita. Dia pergi tapi kita nggak diajak? Bagaimana ceritanya ini, Pi?" Mami Yeri merengut kesal dengan bibir yang mengerucut.
"Entahlah. Kayaknya si Joe memang nggak mengizinkan, kita suapi Syifa. Mangkanya Syifa sampai dibawa pergi. Padahal ... Papi udah minta dia untuk tunggu lima menit, selama Papi selesai mandi. Memang dasar pelit dia tuh. Nggak mau berbagi sama orang tua. Padahal kita 'kan niatnya baik sama Syifa, cuma mau ngasih kasih sayang karena dia sedang hamil cucu kedua kita! Tapi Joe malah songgong!" Papi Paul mengomel dengan penuh emosi. Tapi bingung untuk berbuat apa sekarang.
"Iya, Pi, padahal dulu Joe sering bilang ... kalau kita itu harus anggap Syifa dan sayangi dia seperti anak sendiri. Tapi giliran kita sayang ... dianya yang begitu."
"Iya, aneh memang si Joe ini."
"Terus bagaimana dong sekarang?" Raut wajah Mami Yeri seketika menjadi sendu. "Coba Papi telepon Joe dan tanya dia bawa Syifa ke mana, biar kita susul mereka saja, Pi."
"Telepon Syifa coba, Pi. Papi ada 'kan nomornya?"
"Bukannya Mami yang punya, ya? Papi mah nggak punya nomornya, Mi."
"Sebentar ... Mami mau ngambil hape dulu ke kamar, Pi!" Mami Yeri pun berlari masuk lagi ke dalam rumah. Sedangkan Papi Paul masih berusaha menghubungi Joe meskipun sudah beberapa kali tak mendapatkan jawaban.
***
Sementara itu di sebuah restoran bintang lima, Joe membawa istri, anak dan kedua mertuanya untuk sarapan di sana.
Nasi uduk yang berada di rumah mereka bawa setengahnya, dan setengahnya lagi sengaja untuk Mami Yeri dan Papi Paul sarapan.
Sebenarnya bukan maksud Joe tega, membawa Syifa dan yang lainnya pergi tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Hanya saja dia tak mau, jika nantinya akan timbul keributan lagi.
Joe tentu ingat, selain kedua orangnya yang masing-masing bersikeras ingin menyuapi Syifa, ternyata ada Abi Hamdan juga yang sama-sama keras kepala.
__ADS_1
Jadi, daripada makin panjang urusannya—lebih baik dia membawa perempuan itu pergi dan mengizinkan Abi Hamdan saja yang menyuapi. Karena menurutnya, pria itu jauh lebih berhak ketimbang Papi Paul yang membuatnya cemburu.
Joe juga tak mungkin mengusir Papi Paul dan Mami Yeri dari rumah. Meski sekesal apa pun, sepertinya dia tak akan tega melakukan hal itu karena sejatinya dia tipe anak yang begitu sayang orang tua.
Hanya saja untuk sekarang, Joe sedang berada dititik kecurigaan dan berpikiran negatif tentang perubahan sikap kedua orangnya yang menurutnya sangat berlebihan.
"Aa ... apa kita nggak apa-apa, pergi tanpa pamit sama Mami dan Papi? Pasti mereka nyariin kita, kan?" tanya Syifa sambil mengunyah dengan perasaan tidak enak. Dia tentunya memikirkan mertuanya, yang pasti kecewa setelah tahu dia pergi.
"Udahlah, Yang, biarkan saja. Aku lagi males bahas mereka," jawab Joe dengan helaaan napas berat. "Mending kamu sekarang makan yang kenyang, habis ini kita 'kan mau ke sekolahan."
"Kamu udah mengajar lagi, Fa?" tanya Abi Hamdan.
"Udah, Bi. Baru seminggu." Syifa mengangguk.
"Kalau ngerasa capek ... berhenti mengajar saja, Fa. Apalagi kamu sekarang lagi hamil."
"Bener kata Abi, Yang ... mending hari ini kamu berhenti ngajar aja," sahut Joe.
"Dih ... jangan berhenti ngajar dong, Mommy! Robert masih ingin melihat Mommy mengajar," rengek Robert, lalu memeluk tubuh Syifa. Posisi duduknya tepat di samping kanan.
"Kalau Mommynya capek mending resign saja, Rob," tegur Joe menatap anaknya. "Memangnya kamu nggak kasihan, kalau Mommymu kenapa-kenapa. Kan dia lagi hamil."
Robert hanya merengut lesu dan menurunkan pandangan. Tentu sejujurnya dia ingin Syifa selalu sehat, tapi tidak dengan berhenti menjadi guru.
"Aku nggak capek kok, A," balas Syifa sambil tersenyum, lalu mengusap perutnya. "Untuk sementara, selagi perutku belum besar ... aku masih ingin mengajar kayaknya."
"Tapi kamu sendiri yang awalnya bilang, kalau kamu akan berhenti mengajar saat sudah hamil, Yang. Dan sekarang kamu sudah hamil, tapi kenapa malah menundanya?" Joe tampak bingung.
"Iya, A. Tapi aku masih kepengen mengajar, masih kangen sama anak-anak. Jadi nanti saja aku resignnya ... kalau perutku agak besar."
"Tapi kemarin saja kamu pingsan, Yang, nanti kalau semisalnya kamu pingsan lagi bagaimana?" tanya Joe yang tampak khawatir.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1