
"Belum, Yang," jawab Joe.
"Belum?!" Syifa mengulang kata itu dengan kedua mata yang tampak membulat sempurna. "Berarti masih gadis, ya, A? Tapi apa dia orangnya—"
"Yang, udah dulu, ya? Rekan bisnisku udah datang. Kebetulan aku lagi nungguin dia, assalamualaikum."
"Tapi, A, aku belum selesai ...." Ucapan Syifa seketika terhenti saat panggilan itu tiba-tiba saja dimatikan sepihak oleh Joe. "Dih, kok dimatiin sih, aku 'kan belum selesai bicara, A." Syifa tampak kesal, dia pun mencoba menelepon kembali. Namun sayangnya, ponselnya tiba-tiba mati akibat baterainya yang sudah habis. "Ah dasar! Kenapa pakai acara mati?!" geramnya.
Sudah kesal lantaran teleponnya mati, sekarang ditambah oleh ponselnya. Jadi makin emosi saja Syifa.
"Assalamu'alaikum, Mommy," ucap Robert yang baru saja datang sambil membuka pintu kamar. Dia baru saja pulang sehabis mengaji di masjid, dan Abi Hamdan sendiri yang mengajarnya.
"Walaikum salam, Nak," jawab Syifa yang sibuk mencari charger. Membuka seluruh laci pada meja rias sampai nakas, dan terlihat buru-buru sebab ingin menghubungi Joe lagi.
"Mommy lagi cari apa, sih? Kok kelihatan buru-buru gitu?" tanya Robert dengan bokong yang naik ke atas kasur, kemudian membuka pecinya dan mengulas keringat pada dahi. Rasanya capek, sehabis mengaji. Tenggorokan pun ikut kering.
"Mommy cari cassan, Nak. Tapi kok nggak ketemu-ketemu, ya?"
__ADS_1
"Pakai cassan Daddy atau Robert saja, Mom. Kan ada," saran Robert.
"Nggak masuk, Nak. Mungkin pengaruh beda hape kali." Tadi memang Syifa sempat menemukan charger milik anak dan suaminya, tapi pas dicoba benar-benar tak bisa masuk. Dari colokannya pun terlihat tak sama.
"Robert bantu cari deh ya, Mom." Robert segera turun dari tempat tidur, kemudian membantu Syifa mencarinya.
Namun sayangnya, beberapa menit sudah mencari—benda itu seperti hilang entah kemana, mereka tak berhasil menemukannya.
"Mommy lupa naro kayaknya, ya?" Robert sampai sudah masuk ke dalam kolong tempat tidur, sebab barangkali saja benda itu terjatuh di sana.
"Iya, kayaknya," jawab Syifa yang jadi pusing sendiri, ditambah pikirannya makin negatif apalagi mendengar Joe sedang menunggu rekan bisnisnya. Takut jika rekannya itu juga perempuan dan ada main dengannya. "Ya sudah, Nak, nggak apa-apa. Udahan nyarinya. Biar nanti Mommy saja."
"Tapi nanti hape Mommy gimana? Nggak ada cassan ya nggak bisa dipakai dong, Mom?"
"Nanti Mommy cari lagi, tapi sekarang Mommy mau nanya sesuatu dulu sama kamu, Nak."
"Tanya apa?" Robert menatap Syifa, lalu menyentuh lehernya yang terasa kering pada tenggorokannya. "Tapi Robert kepengen susu coklat dingin, Mom. Robert haus."
__ADS_1
"Kamu tunggu dulu sebentar di sini." Syifa mendudukkan Robert di atas kasur, lantas berdiri. "Nanti Mommy kembali dengan membawa es susu coklat untukmu, ya?"
"Iya." Robert mengangguk, lalu tersenyum manis. "Jangan lama-lama, Mom," tambahnya sambil menggerakkan kedua tangan dan tubuhnya. Dia terlihat senang sekali.
"Iya, Sayang." Syifa tersenyum, kemudian melangkah keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
"Si Jojon kok belum pulang, Fa? Apa masih dijalan?" tanya Abi Hamdan yang menghampiri anaknya di dapur. Perempuan itu tengah berdiri di depan meja, membuatkan minuman untuk Robert.
"Aa lembur malam ini, Bi," jawab Syifa sambil menoleh. Lalu merengut lesu dengan wajah tak ada gairah. "Katanya pulang jam 7. Tapi aku kok takut, ya, Bi."
Abi Hamdan mengerutkan keningnya bingung. "Takut? Takutnya kenapa emang?"
"Takut Aa selingkuh."
"Apa?! Selingkuh?!" Abi Hamdan memekik dengan penuh keterkejutan. Matanya sampai melebar sempurna. "Memangnya, dia ada main perempuan, Fa? Kamu tau? Waduh ... bahaya ini! Kita nggak bisa membiarkannya begitu saja, Fa!" tambahnya menyeru dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Hari Senin nih, Guys, jangan lupa vote dan hadiahnya, ya, biar Author semangat....
...Nanti agak maleman insyaallah Author up lagi~...