Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
275. Berjemur


__ADS_3

Keesokan harinya.


Joe dan Syifa keluar dari rumah Abi Hamdan, berniat pergi bekerja. Seperti biasa, sebelum sampai kantor Joe akan mengantar Syifa dul ke sekolah.


Namun, keduanya tampak heran melihat Robert yang sedang duduk dikursi plastik seorang diri pada halaman rumah. Sebab selain itu, dia juga tak memakai celana.


"Sayang ... kamu ngapain duduk sendirian di sini?" tanya Syifa seraya mengusap puncak kepala anaknya.


Robert mendongak, lalu meraih tangan Syifa. "Robert lagi berjemur. Kata Mommy 'kan berjemur diwaktu pagi itu sehat. Apalagi Robert habis disunat, jadi sekalian biar tongkatnya cepat kering."


"Ooohh gitu. Oke." Syifa mengangguk. "Tapi nanti kalau sudah agak siang, dan kamu ngerasa kepanasan ... kamu langsung masuk ke dalam lagi, ya?"


"Iya, Mommy cantik." Robert mengangguk patuh, lalu sorotan matanya memerhatikan penampilan kedua orang tuanya. "Ini Mommy dan Daddy mau ke mana? Kan Robert udah ngomong pas sarapan ... kalau Robert masih ingin kita menginap di sini."


Dia berpikir, jika keduanya berpakaian rapih karena ingin pulang ke rumah.


"Iya, kita akan menginap lagi malam ini di sini, Rob." Joe mengangguk setuju. "Tapi Daddy mau pergi ke kantor, Mommy juga 'kan harus ke sekolah."


"Diiihhh ... kok kalian malah pergi kerja? Tongkat Robert 'kan masih sakit, kata Daddy Robert juga nggak usah sekolah dulu. Tapi masa kalian nggak mau nemenin Robert di sini?"


"Daddy ada meeting, Sayang," jawab Joe dengan jujur. Tapi Robert langsung mencebik, lalu menatap ke arah Syifa dengan raut memohon, seolah memintanya untuk tidak pergi dan menemaninya di sini.


"Kalau Mommy ada rapat. Mommy juga sekalian mau nulis absen buat kamu yang izin nggak masuk, Nak."


"Ah nggak seru!! Masa Robert ditinggal!" Robert memalingkan wajahnya yang sudah cemberut. Kedua tangannya pun ikut terlipat di atas dada.


"Rapat guru nggak akan lama kok, Nak. Paling sejam atau dua jam." Syifa perlahan berjongkok di depan Robert, lalu mengecup keningnya. Dia berusaha akan membujuk, supaya bocah itu tak marah dan membiarkannya pergi sebentar. "Mommy janji, kalau rapatnya udah selesai ... Mommy akan pulang dan nemenin kamu seharian di sini."

__ADS_1


Robert mengangkat jari kelingking kanannya ke arah Syifa, dan segera perempuan itu menautkannya. "Janji, ya, Mom?"


"Iya, janji."


"Daddy sama Mommy pergi dulu ya, Sayang." Joe mengulurkan tangannya ke arah Robert. Dan bocah itu segera meraih lalu menciumnya. Kepada Syifa juga melakukan hal yang sama. "Daddy juga udah ngomong sama Oma dan Opa, untuk menjagamu sebentar. Nanti kalau urusan kantor Daddy cepat selesai ... Daddy juga akan pulang secepatnya."


"Pulangnya bawa oleh-oleh, ya, Dad!"


"Iya. Mau oleh-oleh apa?"


"Sate maranggi, kinderj*y, susu kotak sama ... eemmm ... roti bakar dengan selai strawberry!" seru Robert.


Selain banyak makan, setelah disunat Robert pun jadi sangat manja. Mungkin memang rasa perih pada tongkatnya memengaruhi itu semua.


"Oke, Sayang." Joe mengangguk, lalu mengusap puncak kepala Robert.


"Iya, Bi, aku dan Syifa berangkat ...." Joe mendekat ke arah mertuanya, dan sudah hendak meraih tangannya. Tapi pria itu justru mundur beberapa. "Lho, kenapa, Bi?"


"Tangan Abi bau kambing, tadi habis bersihin kandangnya juga. Kalian langsung berangkat saja, nggak perlu salaman. Nggak apa-apa."


"Oh ya sudah. Assalamualaikum." Joe dan Syifa mengucap salam bersama, lalu melambaikan tangannya kepada Robert saat hendak masuk ke dalam mobil.


Bocah itu pun langsung tersenyum dan ikut melambaikan tangannya juga. "Dadaahhh! Hati-hati Mommy! Daddy!"


"Dadaaahh sayang!!"


***

__ADS_1


Di sebuah restoran, Naya tengah duduk di salah satu kursi. Dia datang lebih awal ketimbang Ustad Yunus. Mereka membuat janji ketemu sekalian makan siang.


Sembari menunggu, entah mengapa jantung Naya justru sudah berdebar tak karuan. Lantaran dia benar-benar penasaran dengan jawaban Ustad Yunus nanti, tentang pembahasannya.


'Kira-kira Bang Yunus mau menungguku nggak, ya?' batin Naya.


"Assalamualaikum. Maaf kalau menunggu lama, Nay," ucap Ustad Yunus yang baru saja datang lalu menarik kursi untuk dirinya duduk.


Perempuan itu langsung tersentak, karena memang sejak tadi dia duduk menunggu sambil melamun.


"Walaikum salam, Bang," jawabnya lalu tersenyum dan menyodorkan buku menu. "Abang mau pesan apa?"


"Sebentar ... Saya lihat-lihat dulu." Ustad Yunus pun memerhatikan buku tersebut, tapi dia sambil melirik Naya yang terlihat masih melamun. "Kamu ada apa sih, Nay? Kok dari kemarin pas ketemu suka banget ngelamun? Ada masalah apa?"


"Enggak ada apa-apa kok, Bang. Cuma ada hal yang mau aku obrolkan sama Abang."


Ustad Yunus pun meletakkan buku menu di atas meja. "Apa itu? Bicara saja, Nay."


"Nanti saja deh, setelah kita selesai makan siang. Soalnya aku juga laper, Bang." Naya tersenyum aneh, lalu mengusap perutnya.


"Ya udah ... kita makan dulu." Ustad Yunus mengangguk.


***


...Guys ... kalau misalkan cerita Ustad Yunus dibikin novel sendiri pada setuju nggak? Atau pada mau baca nggak, nanti?...


...Soalnya ... novel Om Joe diperkirakan akan segera tamat beberapa bab lagi 🥺...

__ADS_1


__ADS_2