Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
128. Jalan-jalan bertiga


__ADS_3

"Aku mau ke kamar! Mau istirahat!" seru Yumna yang tak memerdulikan apa yang sang Mami katakan. Dia pun berlalu masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengunci pintu dengan rapat.


Bu Soora hanya menghela napas, lalu kembali turun ke ruang keluarga. "Yeri juga ada-ada saja. Orang anak belum cerai kok udah ditawarin, aneh. Gimana kali."


***


Kembali ke kamar inap Robert.


Beberapa menit kemudian, Joe pun melangkah keluar dari kamar mandi bersama Syifa yang dia gendong.


Wajah keduanya terlihat berseri, dan juga segar seperti habis mandi. Meskipun ada sedikit rasa lelah pada bola mata keduanya.


"Terima kasih untuk gaya kepitingnya, Yang, kamu begitu mengg*airahkan," ucap Joe seraya mengecup bibir Syifa, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Robert.


Joe sengaja menggendong Syifa saat keluar dari kamar mandi, sebab sang istri terlihat begitu kelelahan. Dan Syifalah tadi yang meminta mereka mengakhiri permainan, karena baginya itu sudah cukup. Cukup membuat miliknya terasa perih dan berhasil mencapai pelepasan sebanyak tiga kali.


"Harusnya aku yang bilang terima kasih, kan Aa yang mengajariku gaya kepiting tadi," jawab Syifa dengan malu-malu. Kedua pipinya itu langsung merona.


"Menurutmu, tadi rasanya bagaimana? Apa enak? Hhhmmm?" Joe duduk di atas kasur, di samping Syifa yang berbaring. Tangannya mengusap pipi kanan istrinya.


"Kelihatannya tadi gimana, A?"


"Ya enak, hehehe," kekeh Joe. "Jadi kamu lebih suka gaya kepiting atau helikopter, Yang?"


"Aku bingung, A."


"Kok bingung?"


"Ya bingung, soalnya dua-duanya ...." Syifa menggantung ucapannya diujung bibir dengan wajah yang makin merah merekah. Padahal dia hanya ingin mengatakan dua-duanya enak, tapi rasanya malu sekali.


"Pasti jawabannya dua-duanya enak, kan? Gitu aja kamu malu-malu, Yang," tebak Joe yang langsung mencubit gemas hidung mancung istrinya, kemudian mendekat dan langsung meraup bibirnya.


Sandi yang masih menatap dari balik kaca sontak terkejut melihat pemandangan itu. Bola matanya pun terbelalak. "Oh jadi ini maksud dari Bu Yeri? Pantas saja." Dia hanya bisa menelan ludahnya, kemudian berjalan mundur dan kembali duduk.


Menurutnya, mengawasi Robert sudah cukup. Sebab sudah ada kedua orang tuanya di dalam sana.


'Aku ikut bahagia, Pak, melihat Bapak bahagia. Semoga saja ... rumah tangga Bapak seterusnya akan bahagia dan segera diberikan keturunan. Untuk menemani Dek Robert,' batin Sandi sambil tersenyum. 'Tapi dipikir-pikir, aku juga terkadang merasa ingin mempunyai pasangan. Tapi kayaknya ... zaman sekarang perempuan itu lebih memilih yang mapan dan banyak uang, ya? Orang kayak aku yang kerja jadi sopir mana ada yang mau?'


*


Syifa seketika terbelalak disesi ciuman, kala teringat jika dirinya ada di rumah sakit dan seingatnya juga—ada Mami Yeri, Yumna dan Papi Paul di sana.


Merasa khawatir kalau sampai mereka melihat dia dan Joe tengah asik berciuman, Syifa pun memutuskan untuk mendorong dada suaminya. Dan secara otomatis melepaskan pagutan bibirnya.

__ADS_1


"Lho, kenapa dilepas? Nggak seneng kamu, ciuman sama aku? Apa bibirku nggak enak rasanya, Yang?" tanya Joe dengan raut kecewa.


Saat bercinta tadi, dia sudah beberapa kali berciuman dengan Syifa. Tapi seperti tak ada kata bosan bagi Joe, dan lagi-lagi dia kembali menginginkannya.


"Malu, A. Kan di sini ada orang lain selain kita ber ...." Ucapan Syifa kembali terhenti saat pandangan matanya tertuju pada sofa. Heran rasanya, sebab tak ada siapa pun di sana. "Lho, A, Mami sama Yumna kok nggak ada? Ke mana mereka?"


Joe langsung menoleh ke arah sofa, kemudian tersenyum. Senang rasanya melihat Yumna sudah tidak ada di sana. "Mungkin Mami mengantar Yumna pulang, Yang."


"Oh ya, A, aku jadi lupa nanya ... tadi itu Aa dan Yumna ngobrolin apa, kalau aku boleh tau?" tanya Syifa.


Sebetulnya dia sudah tahu jawabannya dari Yumna, hanya saja sekarang—dia ingin mendengar jawaban dari suaminya. Barangkali ada yang berbeda.


Joe kembali menatap ke arah Syifa, kemudian memegang tangan kanannya. "Dia ngasih tau, kalau dia seorang model. Terus menawarkan kerjasama denganku, Yang," jawabnya dengan jujur.


"Terus, Aa terima dia?"


"Modelku udah banyak, Yang. Jadi kayaknya dia nggak bakal aku terima."


"Bagus deh ...." Syifa langsung tersenyum senang dan menghela napasnya dengan lega.


"Memang kenapa, Yang?" tanya Joe.


"Enggak kenapa-kenapa, A." Syifa menggelengkan kepalanya. "Terus menurut Aa, Yumna itu cantik nggak, sih?"


"Aku nanya kok Aa nanya balik?"


"Cantik itu 'kan relatif, Yang. Tapi menurutku ... hanya kamu, Sonya dan Mami yang paling cantik di dunia ini." Joe memilih jawaban yang sangat aman. Tentu supaya menjaga perasaan Syifa. Tapi memang tak salah juga, sebab memang Joe mengatakan apa adanya menurut dirinya sendiri.


"Kalau sekertaris Aa gimana? Dia cantik nggak? Kata Robert dia juga seksi, apa benar?"


"Lebih seksi kamu lagi ke mana-mana, Yang."


"Kok aku?" Syifa mengerutkan keningnya sambil menunjuk wajahnya sendiri. "Mana mungkin aku seksi, kan aku sehari-harinya pakai gamis, A."


"Kamu itu seksinya kalau lagi nggak pakai apa-apa, Yang. Tadi itu dikamar mandi udah seksi banget. Jadi nggak ada yang bisa ngalahin keseksian kamu," balas Joe sambil mengedipkan salah satu matanya dengan genit, dan apa yang dia katakan sukses membuat Syifa kembali merona.


"Ih Aa apaan, sih, ditanyain bener-bener ujung-ujungnya ke situ-situ. Dasar mesum!" omel Syifa, terlihat jelas jika dia merasa malu. Tapi ada senangnya juga, karena dibilang seksi.


"Mesum juga kamu suka, kan?" goda Joe sambil mengusap dagu istrinya. Tapi Syifa langsung menepis dan menutup wajahnya dengan hijabnya. "Lucu banget sih, kamu, Yang," kekeh Joe yang merasa gemas dengan tingkah istrinya.


*


*

__ADS_1


*


Tepat jam 9 pagi, seorang dokter perempuan berkacamata datang ke kamar inap Robert bersama seorang suster. Dia hendak memeriksa keadaan bocah berumur 7 tahun itu.


"Dad ... Robert kepengen pulang. Robert nggak kenapa-kenapa kok," rengek Robert yang terlihat bosan.


Sejak bangun dari tidurnya dia memang terus merengek ingin pulang. Tapi dilarang oleh Joe, karena Dokter belum datang memeriksanya.


"Sabar, Nak, kan ini kamu lagi diperiksa sama Dokternya." Syifa mengusap rambut anaknya dengan lembut, mencoba menenangkan.


"Nae aineun eottaeyo, bagsanim?" tanya Joe yang berbicara bahasa Korea, yang artinya dia bertanya tentang keadaan Robert kepada Dokter.


Joe memang cukup mahir berbahasa Korea dan Inggris. Bahkan Robert sendiri bisa berbahasa Korea dan Inggris juga.


"Geuneun sangtaega johseubnida. Sasil... adeul-eun ije jib-e gado doebnida," jawab Dokter yang mengatakan jika Robert dengan keadaan baik dan sudah diperbolehkan pulang. Dokter itu pun kemudian menuliskan sebuah resep pada selembar kertas kecil, kemudian memberikan kepada Joe. "Jonghabbitamin-ibnida. yaggug-eseo deuseyo." ("Ini multivitamin, Pak. Silahkan ambil ditempat obat.")


"Joh-ayo, bagsanim. Gamsahabnida," sahut Joe yang mengatakan kata terima kasih sambil membungkukkan badannya sedikit.


Dokter perempuan itu tersenyum, kemudian mengusap lembut pipi Robert. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar tersebut dan disusul oleh suster.


"Apa kata Dokter, A?" tanya Syifa yang tak mengerti bahasa Korea, meskipun dia sering nonton drama Korea.


"Sudah diperbolehkan pulang Robert, Yang," jawab Joe yang mana membuat Robert tiba-tiba berdiri dan langsung melompat-lompat, karena sangking senangnya dia bisa pulang.


"Nak! Jangan lompat-lompat! Nanti jatuh, kamu 'kan baru sehat," tegur Syifa. Cepat-cepat dia meraih tubuh anaknya, kemudian dia gendong.


"Robert senang, karena Robert bisa pulang, Mom. Mana pulangnya sama Mommy lagi," jawab Robert dengan tangan yang melingkar pada leher Syifa. Kemudian menatap ke arah Joe. "Kita langsung pulang ke Indonesia saja, ya, Dad?"


"Pulangnya besok saja, Sayang, sehari kita di Korea dulu," sahut Joe.


"Mau ngapain? Robert nggak betah di Korea, Dad!" keluh Robert dengan raut kesal.


"Mommymu 'kan baru pertama kali ke Korea, masa kita nggak ajak dia jalan-jalan? Kasihan dong, Rob," Joe melirik ke arah Syifa, kemudian mencium pipi kirinya.


"Kalau Robert kepengen langsung pulang ... nggak apa-apa kok, A, kita langsung pulang saja," ucap Syifa tak masalah.


"Daddy bener, Mom," sahut Robert sambil menatap wajah Syifa, kemudian mencium pipi kanannya. "Kita jalan-jalan dulu di sini, bertiga! Oke? Pasti seru banget, kan?"


"Iyalah, pasti seru!" sahut Joe penuh antusias.


"Ya sudah ayok kita pergi sekarang, Dad! Pertama kita ke bioskop dulu, nonton film, ya?" pinta Robert dengan girangnya.


"Oke!" seru Joe.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2