
"Video orang yang sedang ganti baju, Nak," jawab Syifa cepat. Dan Joe pun langsung menghela napas.
"Jadi si Udin bau ketek itu merekam Daddy sedang ganti baju?" Robert menatap ke arah Syifa dengan kening yang mengerenyit. "Eh, Daddy ganti bajunya sama Mommy juga, ya?" tambahnya.
"Iya, Nak." Syifa mengangguk.
"Kapan itu kejadiannya? Dan kalian ganti baju di mana sampai bisa direkam sama si Udin bau ketek?" Robert bertanya lagi dengan raut penasaran.
"Sekitar dua hari yang lalu," jawab Syifa, lalu terdiam sebentar untuk menjawab pertanyaan Robert selanjutnya. "Dan kalau ganti bajunya di mana ... kami ganti bajunya di dalam tenda, Nak." Jawaban yang ini Syifa bingung, jadi dia memutuskan untuk jujur saja.
"Kok bisa kalian ganti baju di dalam tenda? Tenda siapa? Dan kok Robert nggak tau?"
"Posisinya sudah malam, Rob." Kali ini Joe yang akan menjawab, sebab dilihat wajah Syifa sudah kebingungan. Dia jadi kasihan. "Sedangkan kamu udah tidur, dan saat itu memang Daddy dan Mommy sengaja buat tenda. Buat mengenang masa sekolah dulu, kan kami juga pernah kemah. Iya, kan, Mom?" Lantas menatap ke arah sang istri, meminta sahutan darinya.
"Iya." Syifa menjawab cepat. "Apa yang Daddy katakan benar. Maafin kami juga, ya, Nak ... karena nggak sempat mengajakmu. Soalnya dadakan juga, dan saat itu kamu lagi tidur sama Opa Hamdan ... jadi kami nggak mau menganggu."
"Kapan Robert tidur sama Opa Hamdan, Mom?"
"Yang pas Opa dirawat itu. Kan kamu tidur bareng Opa."
"Oohhh ...." Robert manggut-manggut. "Tapi, Mom ... Dad ... kenapa kalian musti ganti baju? Memang kalian habis mandi tadinya, pas di dalam tenda itu? Dan kalian bikin tendanya di mana, sih?"
"Aduuuhhh ... kepala Daddy sakit. Tiba-tiba nyut-nyutan." Joe menyentuh kepalanya sembari meringis. Sebenarnya dia hanya pura-pura, supaya Robert berhenti untuk terus bertanya.
Tapi memang jujur saja, pertanyaan anaknya yang begitu banyak membuatnya pusing tujuh keliling.
"Apa perlu aku panggilkan Dokter, A?" Syifa terlihat cemas. Dia bahkan sudah berdiri dan menurunkan Robert dari pangkuannya.
"Enggak usah!" Joe langsung mencekal tangan Syifa, saat istrinya itu hendak melangkah. Dia pun menggeleng. "Aku kepengen dipijitin aja kepalanya sama kamu, Yang. Dan jangan berisik dulu ... karena rasanya aku kepengen merem sebentar. Ngantuk."
"Oh gitu. Ya sudah ... aku pijitin kepala Aa." Syifa segera mendudukkan bokongnya di atas ranjang, lalu menyentuh dahi Joe dan mulai memijatnya secara perlahan. Pria itu pun memejamkan mata.
"Daripada diem ... kamu mending naik ke atas kasur, Rob." Joe berbicara kepada anaknya, tapi dengan mata yang masih tertutup.
"Mau apa, Dad?" tanya Robert bingung.
"Pijitin kaki Daddy." Joe menyentuh kedua kakinya yang tertutup selimut. "Daddy pegel-pegel habis naik turun tangga tadi, ngejar si Udin bau ketek."
__ADS_1
"Tapi Robert nggak bisa mijit, Dad. Robert juga bukan tukang urut." Robert menggeleng, dia terlihat enggan untuk menuruti permintaan Joe.
"Naik saja dulu ke kasur, Nak. Nanti biar Mommy ajari caranya memijit," ucap Syifa seraya tersenyum menatap sang anak.
Robert pun akhirnya nurut. Namun, sebelum naik ke atas kasur—dia lebih dulu membuka kedua sepatunya. Kemudian mulai memijat kedua kaki Joe dengan diajari oleh Syifa.
*
*
*
Di tempat berbeda.
Tepat di depan rumah Abi Hamdan, Ustad Yunus berdiri sembari mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum."
Tak lama, pintu itu pun dibuka secara perlahan dan keluarlah Abi Hamdan dari sana.
"Kita ngobrol dulu sebentar, Ustad." Ustad Yunus menunjuk pada kursi kosong yang berada di teras rumah, lalu duduk lebih dulu di sana. Dan Abi Hamdan pun menyusulnya. "Saya diberitahukan oleh Pak RT, kalau besok lusa di masjid akan ada sunat massal gratis. Ustad bersedia nggak ... Kalau jadi salah satu panitianya, bareng sama saya?" tanyanya kemudian.
"Di masjid mana?"
"Masjid kita." Ustad Yunus menggerakkan dagunya ke arah masjid yang berada di samping.
"Oh ... tapi nanti kalau jadi panitia, aku musti ngapain, Ustad? Kalau disuruh jadi tukang sunatnya aku nggak mau deh." Abi Hamdan menggeleng. "Selain nggak bisa, aku juga takut hasilnya jelek. Yang ada nanti orang tuanya kecewa."
"Yang nyunatin Dokternya, Tad. Bukan kita. Panitia tugasnya mengatur jalannya acara, tapi sebelum acaranya dimulai ... Ustad sama saya pergi ke beberapa rumah warga dulu yang punya anak cowok. Menawari mau daftar sunat nggak, nanti kita catat nama-namanya."
"Oohh ... oke-oke." Abi Hamdan manggut-manggut tanda paham.
"Si Robert udah disunat belum, Tad? Kalau belum boleh daftarin sekalian kalau mau. Ada hadiahnya juga," tawar Ustad Yunus.
"Oh ... memangnya boleh? Tapi 'kan Robert bukan warga sini, Tad?"
__ADS_1
"Kata Pak RT sih boleh, Tad. Nggak masalah."
"Kalau boleh tau hadiahnya apa?"
"Satu stel baju Koko sama uang jajan. Tapi berapa uangnya saya belum tau."
"Ya udah, nanti Robert sekalian daftarin saja deh. Barangkali dia mau, kalau sunatnya banyak temen. Soalnya dia katanya takut disunat."
"Anak-anak memang biasa begitu, Tad. Belum juga—"
"Boy ...," panggil seseorang yang baru saja datang, sehingga membuat ucapan Ustad Yunus terhenti.
Dari panggilannya sih, Ustad Yunus hafal betul. Apalagi dengan suaranya.
"Eh, Om Yohan." Saat menoleh, benar saja yang datang adalah Papinya Yumna. Pria itu datang tidak sendiri, tapi bersama asistennya. Hanya saja asistennya itu memilih untuk berdiri dari kejauhan.
"Om Yohan kok ke sini? Harusnya Om chat saya saja, biar saya yang samperin Om." Ustad Yunus langsung berdiri, sedangkan Papi Yohan mengulurkan tangannya kepada Abi Hamdan.
"Salam kenal, namaku Yohanes. Panggil saja Yohan."
Abi Hamdan meraih tangan Papi Yohan seraya berdiri. "Salam kenal juga, aku Hamdan."
"Om ke sini karena mau lihat masjid, tempat pertama kali Roni ketemu sama kamu, Boy." Papi Yohan menatap Ustad Yunus sembari melepaskan jabatan tangannya.
Setelah pertemuannya di rumah sakit dan tentang niatnya ingin masuk Islam, keduanya sekarang memang lebih sering ketemu.
Seperti apa yang Ustad Yunus sampaikan, yakni dia ingin membimbing Papi Yohan sampai bisa. Dan setiap pertemuannya, Papi Yohan lah yang mengatur. Ingin bertemu di mana dan jam berapa.
Namun, tidak dengan hari ini. Yang tumben sekali pria itu datang menemuinya langsung tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
"Kalau mau lihat masjid ... langsung masuk ke dalam gerbang saja nggak apa-apa kok, Om. Lagian gerbangnya nggak pernah saya gembok," jawab Ustad Yunus.
"Om mau lihatnya bareng kamu, Boy. Eemm ... apa kamunya sedang sibuk, ya?" Papi Yohan beralih menatap ke arah Abi Hamdan, lalu tersenyum.
Pria berpeci itu terlihat mengerutkan keningnya, sembari bertanya-tanya dalam hati. 'Sejak kapan Ustad Yunus mengganti nama? Dan Pak Yohan ini siapa? Kok sipit-sipitnya seperti besanku, ya?"
"Enggak sih." Ustad Yunus menggeleng, lalu menatap kepada Abi Hamdan. "Ustad ... saya pamit dulu, ya? Nanti kita bahas lagi besok tentang sunat massalnya. Assalamualaikum."
__ADS_1
Abi Hamdan mengangguk. "Oke. Walaikum salam."
^^^Bersambung.....^^^