Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
23. Turunan Korea


__ADS_3

"Lho, kok ke Raja Jalal segala? Aneh nih Umi lama-lama," protes Abi Hamdan yang lagi-lagi tidak setuju dengan pendapat istrinya.


"Ya terus apa? Abi sendiri nggak ngasih saran kok." Umi Maryam terlihat mendengkus.


"Bukan nggak ngasih saran, tapi Abi juga bingung ... cocoknya manggil apa si Syifa ke Jojon itu."


"Tuh 'kan sama saja, Abi juga bingung, apalagi Umi?" omel Umi Maryam marah. Bibirnya mengerucut.


Syifa yang mendengar ocehan keduanya hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala.


"Aku panggil Pak Joe dengan sebutan Oppa saja, deh, Umi, Abi," sahut Syifa yang memberikan usul.


"Janganlah, nanti orang tuanya si Jojon marah, Fa!" tolak Abi Hamdan. "Kamu mau, dipecat jadi menantunya?"


"Lho, kenapa musti marah, Bi?"


"Ya Jojon masih muda kali, masa kamu panggil dia Kakek. Opa 'kan sama saja kayak Kakek."


"Dih, bukan Opa. Tapi Oppa! P nya ada dua."


"Bedanya apa? Kan sama saja."


"Beda," sahut Syifa. "Oppa itu sebutan laki-laki yang lebih tua dari kita jika di Korea," jelasnya kemudian.


"Dih, kok ke Korea-Korea segala? Kita 'kan orang Indonesia."


"Tapi Pak Joe ada keturunan Koreanya, Bi. Jadi nggak masalah," sahut Syifa.


"Keturunan dari mana, sih? Orang kedua orang tua si Jojon orang China." Abi Hamdan hanya asal menebak saja.


"Maminya orang Korea. Aku pernah dengar dari Robert yang sempat cerita."


"Kok matanya sipit? Yang sipit-sipit kayak gitu 'kan orang China biasanya."


"Korea juga sama, Bi, memang ada turunan Chinesenya. Mangkanya sipit."


"Kalau Maminya si Joe asli orang Korea ... berarti rumahnya dekat sama rumahnya si Jacky Chan dong, ya?" tebak Umi Maryam yang ikut menyahut. "Kapan-kapan kita minta Joe ajak kita ke Korea, Bi, biar bisa ketemu dia."


"Wah, bener juga, Umi." Abi Hamdan menimpali. "Abi juga mau ketemu si Jacky Chan, sekalian mau belajar silat sama dia."


"Dih, Jacky Chan bukan orang Korea, Umi, Abi," sahut Syifa. Makin absurd saja omongan mereka. "Yang orang Korea itu Lee Minho, Lee Jong-gi, Lee Jung-suk, Lee—"


"Ah siapa mereka? Nama kok banyak lelenya, kayak ikan," balas Abi Hamdan cepat.

__ADS_1


"Ya memang begitu namanya, Bi," sahut Syifa.


"Jadi fiks nama panggilannya apa nih? Umi lama-lama pusing dan ngantuk." Umi Maryam seketika menguap dan segera menutupnya. Kepalanya pun ikut berputar-putar rasanya.


"Oppa, Umi," sahut Syifa.


Abi Hamdan menggeleng. "Jangan Oppa ah, Fa. Terdengar aneh ditelinga." Dia lantas terdiam beberapa saat, sampai akhirnya berkata, "Eemm ... gimana kalau Aa saja? Kan jarang tuh di Jakarta manggil Aa."


"Aa bukannya sebutan untuk orang Sunda, ya?" tanya Umi Maryam.


"Iya."


"Tapi si Joe bukan orang Sunda, kita juga bukan orang Sunda, Bi," protes Umi Maryam yang terlihat tak setuju. Rupanya, perdebatan nama panggilan itu masih akan berlanjut.


"Ya nggak apa-apalah. Memangnya masalah?"


"Ya mending Mas aja kalau begitu."


"Ih dibilang pasaran," kesal Abi Hamdan. "Umi memangnya lupa, ya? Tukang jamu yang sering lewat naik motor kalau pagi itu dipanggilnya Mas Jo. Masa Jojon yang muka Chinese disamakan dengan tukang jamu?"


"Tapi Mas Jo tukang Jamu itu namanya Tejo, Bi, kalau Joe 'kan Jonathan. Lebih keren nama menantu kita ke mana-mana lah."


"Ya intinya sama, ibu-ibu sini manggil tukang jamu itu Mas Jo. Masa iya, panggilan Syifa ke Jojon disamakan? Ga keren lah." Abi Hamdan menatap ke arah Syifa. "Udah, Fa, yang bener manggil Aa aja. Lebih manis dan romantis."


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Permisi! Selamat malam!" serunya dari luar. Suaranya terdengar asing. Tapi suara laki-laki.


"Siapa yang bertamu malam-malam, Bi? Apa orang jahat?" tanya Syifa yang langsung berdiri, karena refleks merasa takut.


"Itu kurir, Yang." Joe yang baru saja keluar dari kamar langsung menyahut, kemudian melangkah dan membuka pintu.


Ceklek~


"Kurir? Memangnya Pak Joe pesan apa?" gumam Syifa.


Merasa penasaran, dia pun melangkah pelan mendekat. Tapi Joe ternyata sudah selesai menemui kurir dan masuk lagi ke dalam rumah serta menutup pintunya dengan rapat.


"Ini buatmu, Yang, semoga kamu suka," ucap Joe sambil menyerahkan buket bunga mawar merah besar ke tangan Syifa.


"Wah ... bagus banget bunganya, Joe." Umi Maryam langsung berdiri, sambil menatap kagum bunga tersebut. "Seumur-umur ... Umi belum pernah lho dikasih buket bunga."

__ADS_1


"Masa sih Umi?" tanya Joe seraya menoleh kepada sang mertua.


"Dih, Abi 'kan dulu pernah ngasih. Jangan diilangin dong, pemberian orang," protes Abi Hamdan kesal. Dia paling tidak suka jika ada seseorang yang membanding-bandingkan sesuatu hal. Tapi sebaliknya, dia sendiri suka membanding-bandingkannya.


"Kapan?" Umi Maryam menatap suaminya dengan raut aneh dan bingung. "Perasaan belum pernah deh."


"Yang bunga mawar itu, Umi. Saat Umi ulang tahun ke 30 tahun."


"Oh yang itu." Umi Maryam baru ingat. Memang dia pernah diberikan bunga, hanya saja itu bunga plastik. "Tapi itu bukan satu buket, tapi sekuntum. Satu biji. Ditambah bunga plastik. Kalau yang Joe beli seperti bunga asli." Sorotan matanya tertuju pada bunga mawar, yang masih berada di tangan Joe.


"Ini memang bunga asli, Umi," sahut Joe. "Apa Umi menginginkannya? Nanti aku pesankan untuk Umi. Tapi kalau yang ini untuk Syifa, karena ini spesial." Joe tersenyum. Dia memandangi wajah istrinya dengan penuh harap.


"Nggak perlu kamu belikan Umi, Jon. Nanti aku yang membelikannya," gerutu Abi Hamdan yang terlihat marah. Lantas menarik tangan istrinya, dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Jangan lupa kunci pintu rumah, Jon! Takut ada maling!" Dari dalam kamar, Abi Hamdan berteriak.


"Iya," sahut Joe. "Ini, ambil bunganya." Melihat Syifa lama merespon. Jadilah Joe memberikannya secara paksa, dengan menarik kedua tangannya. Setelah itu dia mengunci pintu utama rumah itu dengan rapat.


"Dalam rangka apa, Bapak memberikanku bunga? Bunga yang waktu itu saja masih ada, Pak," tanya Syifa heran.


"Masih ada apanya? Orang layu. Ayok masuk ke kamar, kita istirahat." Dengan perlahan, Joe memberanikan diri untuk merangkul bahu Syifa, kemudian mengajaknya masuk bersama ke dalam kamar. Syifa juga terlihat diam saja, tak menolak atau menghindari. Ini cukup bagus menurutnya.


"Tapi kasih tau aku dulu, ini dalam rangka apa?" tanya Syifa, yang melihat Joe mengunci pintu kamar.


"Memangnya orang kasih bunga harus ada sesuatu hal, ya, Yang? Menurutku sih nggak," jawab Joe santai. Dia melangkah menuju kasur, kemudian naik dan duduk selonjoran. "Aku hanya ingin membelikanmu, karena bunga itu pas aku lihat sangat cantik. Seperti kamu, Yang."


Bluss~


Kedua pipi Syifa seketika memerah. Dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, sebab merasa malu.


"Udah, ayok tidur di sini. Kamu pasti capek," titah Joe.


Syifa menatap ke arahnya. Pria tampan bermata sipit itu kini sudah setengah berbaring. Tangannya pun menepuk kasur di sebelahnya.


Di sana juga ada Robert yang terlihat tertidur pulas. Tapi bocah itu berada diujung, sedangkan bagian yang kosong ada di tengah-tengah.


"Sayang! Kok bengong?" tegur Joe. Sejak tadi memang, Syifa masih bergeming.


"Aku tidurnya di mana, Pak? Eh, Aa ... Apa di sofa?" tanya Syifa. Dia merasa ragu dan tak nyaman, jika harus tidur di tengah-tengah mereka. Ditambah di samping Joe. Ini juga bisa dikatakan hal untuk pertama kalinya.


"Kok di sofa? Ya di sini lah." Joe kembali menepuk kasur dengan wajah senang. "Buat apa kita beli kasur ukuran besar tadi. Kalau nggak muat untuk tidur bertiga? Iya, kan?"


"Tapi aku kayaknya ...." Syifa seketika menggantung ucapannya. Merasa ragu untuk berucap. Sejujurnya dia ingin bilang kalau tidak mau tidur seranjang dengan Joe, tapi tidak enak. Ditambah takut dimarahi Abi dan Uminya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2