Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
228. Main kucing-kucingan


__ADS_3

"Biar aku coba cek menantuku di toilet ya, Pak, barangkali dia ada di sana," ucap Abi Hamdan kepada Jaccob.


"Iya, Pak." Jaccob mengangguk dan membiarkan pria tua itu untuk pergi meninggalkannya. Tapi Robert sendiri langsung berlari menyusul Abi Hamdan, sebab dia juga ingin tahu dimana keberadaan Daddy dan Mommy.


Selain hari ini, memang kedua orang tuanya itu kerap kali tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Entah apa sebabnya, Robert sendiri sampai sekarang belum tahu jawabannya.


"Pak Bambang ... bagaimana ini? Pak Joe sepertinya nggak ada ditempat?" tanya Gisel bingung.


"Bu! Kalau hompipahnya diwakilkan saja bagaimana?!" tanya Burhan sambil mengangkat tangan kanannya ke udara. "Biar saya yang wakilkan!" tambahnya kemudian.


"Mohon maaf, Pak. Nggak bisa." Yang menjawab Pak Bambang melalui mic, lalu menatap ke arah Gisel. "Untuk sementara menunggu Pak Joe yang belum kembali ... lebih baik biarkan ketua grup yang ada saja dulu, Bu, untuk hompipah," sarannya.


"Dih, Pak! Nggak adil dong namanya! Masa grupku nggak ikut hompipah?" protes Ammar. "Mending diwakilkan."


"Kalau misalkan diwakilkan terus grup Bapak yang mulai duluan manjat ... pasti nggak bisa, Pak. Kan anggotanya kurang satu, jadi kami pihak juri melarangnya."


"Pak Joe digugurkan saja kalau begitu. Ganti sama pemain cadangan," tambahnya dengan enteng.


"Bener tuh, aku setuju!" sahut Burhan.


"Aku juga setuju!" Tian ikut menimpali.


"Ih jangan! Kasihan Joe!" Mami Yeri menyeru, menolak mentah-mentah permintaan dari Ammar dan anggota yang lain. Selain itu, Robert juga akan kecewa nantinya. Sebab dia adalah orang pertama yang meminta Joe ikut lomba agustusan, meskipun Mami Yeri sendiri tak yakin anaknya itu akan mendapatkan juara. "Untuk sementara Bapak-bapak turuti saja saran dari Pak Bambang. Nanti sebentar lagi Joe juga akan kembali, karena pasti dia cuma kebelet di toilet."


"Ah menyebalkan!" Ammar berdecak sebal. Beberapa anggota yang lainnya pun terlihat kesal juga, karena grup mereka akhirnya diminta untuk tidak ikut berhompipah, lantaran Joe yang belum hadir.


"Padahal lumayan 'kan ya, Pak, kalau kita dapat giliran manjat dulu," ucap Jaccob seraya menghampiri anggotanya. "Barangkali kita bisa langsung menang."


"Iya." Tian menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat masing-masing dari anggotanya. "Tau Pak Joe bakal ngilang kayak begini mending dia nggak perlu masukkin ke dalam grup kita, ya, dan lebih baik Papinya saja."


"Iya, Pak Tian." Ammar, Burhan dan Jaccob pun menyahut secara bersama dengan anggukan kepala.


"Hompipah!"


"Hompipah!"


"Hompipah!"


"Hompipah!"


Keempat ketua grup itu lantas berhompipah, dan ternyata yang berhasil manjat duluan adalah grup dari Pak Deri yang merupakan grup guru.


"Hompipah lagi nggak, Pak, buat grup selanjutnya?" tanya Gisel.


Karena ketidak hadiran Joe, jadi dia bingung memberikan instruksi pada lomba kali ini. Sebab tak sesuai dengan apa yang ada di dalam kertas.


"Biarkan mereka langsung manjat saja, Bu. Kalau misalkan gugur dalam waktu 30 menit ... ketua grup yang lain akan berhompipah lagi. Sambil menunggu kehadiran Pak Joe," sahut Pak Bambang.


"Baik, Pak." Gisel mengangguk, kemudian kembali memberikan instruksi lomba. "Seperti apa yang disampaikan oleh Pak Bambang ... jadi masing-masing dari grup akan diberikan waktu 30 menit dalam memanjat. Dan kalau dalam waktu 30 menit anggota grup belum ada yang berhasil naik ke puncak ... maka anggota grup tersebut dinyatakan gagal. Tapi tenang, karena kalian masih bisa memanjat lagi tentu kalau masih ada kesempatan."


"Iya, Bu!" sahut dengan ramai anggota grup Pak Deri. Sedangkan ketua grup yang lain—sudah ke pinggir lapangan tanpa disuruh.


"Baik. Bersiap-siaplah Bapak-bapak, saya akan mulai menghitung dari tiga ... dua ... satu! Mulai!" seru Gisel.


Beberapa pria tersebut yang merupakan guru langsung berkumpul mengelilingi bambu, lalu berusaha naik satu persatu dari pundak satu menuju pundak yang lain. Berusaha saling menumpu supaya berhasil mencapai puncak.


"Pak Deri!"

__ADS_1


"Pak Deri!"


"Pak Deri!"


Para suporter dari penonton langsung meneriakkan ketua grup, untuk menyemangati mereka semua.


"Masa kalah sama wali orang tua. Harus menang dan dapat dompres dong, Pak!" tambah salah satu pendukung.


Sementara itu di toilet, Abi Hamdan dan Robert berpencar mencari keberadaan dua manusia yang mendadak menghilang itu.


Toilet itu terdiri dari 6 kamar. Yakni dua untuk siswa dan dua lagi untuk siswi. Sedangkan toilet dua lainnya untuk guru, yang bertuliskan pria dan wanita.


Hampir 4 toilet siswa dan siswi sudah mereka cari, namun nyatanya tak membuahkan hasil.


"Mereka nggak ada, Opa," ucap Robert yang terlihat sudah frustasi.


"Cari lagi ke toilet guru, Nak. Kamu yang toilet pria sedangkan Opa toilet wanita," saran Abi Hamdan sambil menunjuk.


"Oke." Robert mengangguk, kemudian meraih gagang pintu toilet pria dan langsung menurunkannya. Untuk mengecek apakah dikunci atau tidak dari dalam. "Daddy! Mommy!" panggilnya setengah berteriak, dan ternyata saat berhasil dibuka, dia tak dapat menemukan kedua orang tuanya.


"Joe! Syifa! Kalian ada di ma ...." Ucapan Abi Hamdan seketika terhenti diujung bibir, lantaran mendengar suara seseorang yang mendesaah dari toilet guru wanita.


"Ah! Ah! Ah! Ini enak, Yang!"


"Lebih cepat Aa! Biar cepat selesai!"


"Nanti dulu aaahh ... lagi enak ini, Yang. Kamu terus menjepitku aahh ...."


"Daddy, Mommy!" Robert membulatkan matanya, saat mengenali suara milik siapa di dalam sana.


"Lho, Opa! Kenapa kita pergi? Itu 'kan tadi Daddy sama Mommy. Mereka ternyata ada di dalam toilet yang sama!" Robert terlihat terkejut.


"Iya, Opa tau. Tapi biarkan saja, Nak." Abi Hamdan pun memutuskan untuk mengajak cucunya kembali ke lapangan.


Dia tahu dengan jelas, aktivitas apa yang dilakukan dua insan itu. Sejujurnya ada rasa kesal di dalam hati Abi Hamdan, karena mereka benar-benar makin parah dengan nekat bercinta di toilet. Ditambah dalam situasi yang seperti ini.


Namun, disisi lain—Abi Hamdan akhirnya tidak bisa memarahi mereka sekarang. Bukan berarti tak enak karena takut menganggu aktivitas itu, hanya saja dia memikirkan psikologis cucunya. Dia takut Robert terkontaminasi dengan apa yang dia ucapkan nanti.


'Kukira setelah Syifa hamil ... otak Joe sedikit waras, tapi ternyata sama saja. Dia tetap mesum seperti dulu, malah kayaknya tambah parah. Sampai-sampai nekat bercinta di toilet sekolah. Benar-benar nggak tau aturan!' Abi Hamdan hanya bisa menggerutu kesal dalam hati. Dadanya pun terasa bergemuruh.


"Kok dibiarkan, Opa?" Robert tampak heran dengan jawaban Abi Hamdan atas pertanyaannya tadi. "kan semua orang lagi cari mereka. Apalagi Daddy, dia musti ikut lomba."


"Opa tau. Tapi sebentar lagi mereka pasti akan ke lapangan, Nak," jawab Abi Hamdan dengan yakin.


Dan ternyata benar apa yang dia katakan. Dalam waktu 10 menit, setelah keduanya sampai ke lapangan untuk menyaksikan lomba—Joe dan Syifa pun akhirnya berjalan bersama menuju ke sana.


"Nah lho, itu Pak Joe!" tunjuk Tian yang terlihat berbinar, menatap anggota grupnya telah kembali dan sekarang datang menghampirinya.


Wajah Joe terlihat begitu berseri dan bersemangat sekali, tapi sedikit basah. Sepertinya dia sempat cuci muka.


"Pak Joe ke mana saja? Aku cari dari tadi lho," tanya Jaccob.


"Iya. Hampir saja kami keluarkan Bapak dari grup," tambah Ammar menimpali.


"Maaf, Pak. Tadi aku kebelet."


"Kebelet apa? Kok perginya bareng Bu Syifa?" tanya Burhan penasaran. "Aku sempat lihat lho tadi, Bapak ke sini bareng Bu Syifa. Dan kebetulan Bu Syifa juga memang sejak tadi nggak ikut ngehost."

__ADS_1


"Ya biasalah, Pak. Namanya suami istri. Pasti Bapak juga ngerti." Joe terlihat salah tingkah sambil menggaruk kepala botaknya.


"Dih ... dasar mesum Pak Joe! Nggak tau tempat!" cemooh Tian, tapi dia pun langsung tertawa terbahak-bahak. "Tapi enak juga kali ya, Pak, main kucing-kucingan. Apalagi di sekolah?"


"Bapak goyang ngebornya di kelas kosong apa di toilet?" tanya Ammar yang mendadak penasaran.


 Sepertinya tanpa menjelaskan dengan gamblang, mereka semua sudah tau isi hati Joe.


"Kayaknya sih toilet ya, Pak," balas Jaccob sembari menarik turunkan alis matanya. Menggoda Joe.


Dan entah mengapa, suasana hati para anggota itu kini sudah mencair lantaran mengetahui alasan Joe menghilang. Sebagai sesama laki-laki yang beristri, tentu mereka juga pernah mengalami keinginan yang menggebu-gebu sampai tidak bisa ditahan.


Maka dari itu, keempatnya terlihat begitu pengertian.


"Iya, Pak. Di toilet," jawab Joe dengan malu-malu. Wajahnya pun seketika merah padam.


"Berapa ronde tadi, Pak?" tanya Tian.


"Enggak pakai beronde-ronde sih, Pak."


"Pakai gaya apa itu, Pak? Biar goyangnya enak di dalam toilet?" tanya Ammar.


"Gaya kupu-kupu, Pak."


"Seperti apa gaya kupu-kupu? Aku baru dengar?" tanya Burhan penasaran.


Sementara itu, Syifa juga langsung menghampiri rekan hostnya, sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Ibu habis dari mana? Kok lama?" tanya Gisel penasaran dan memerhatikan wajah Syifa yang terlihat beda, lantaran make up-nya sekarang sudah luntur.


"Maaf, Bu. Tadi suamiku minta dikerokin, jadi aku kerokin dia dulu."


Berbeda dengan Joe yang terlihat terang-terangan memberikan alasan dirinya menghilang. Syifa justru di sini lebih memilih untuk menutupinya, karena malu.


"Oh gitu. Tapi kerokannya di mana kira-kira? Kok sampai ...." Ucapan Gisel seketika terhenti, lantaran terdengar bunyi bel yang menandakan jika waktu panjat pinang itu sudah berakhir dibabak pertama. Hanya saja grup pertama belum berhasil naik ke puncak.


Teeett ... Teeett ... Teeett.


"Baik. Grup pertama dinyatakan gagal," ucap Gisel. "Sekarang saya minta Bapak-bapak dari grup Pak Deri ke pinggir lapangan. Dan selanjutnya saya minta ketua grup dua sampai lima untuk segera ke lapangan, karena kalian harus berhompipah lagi."


Beberapa ketua grup lantas berlari menuju lapangan. Begitu pun dengan Joe yang kali ini sudah hadir.


Mereka berempat kemudian berhompipah.


"Hompipah!"


"Hompipah!"


Dua kali berhompipah dan Joe yang dinyatakan menang.


"Asik!! Akhirnya grupku yang dapat giliran manjat!" seru Joe dengan girangnya sampai loncat-loncat.


Para anggota grup Joe pun segera berlari menghampirinya dengan penuh semangat. Sedangkan anggota yang kalah hompipah tadi terpaksa menyingkir dari lapangan.


"Siap ya, Bapak-bapak," ucap Syifa sembari menatap para Bapak dari anak muridnya. "Saya hitung dari tiga ... dua ... satu ... mulai!!"


...Semangat Om Joe 💪...

__ADS_1


__ADS_2