Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
79. Abi ketinggalan di kantor


__ADS_3

"Astaghfirullahallazim, kok udah setengah 3? Ini serius? Apa jamnya yang rusak?" Abi Hamdan terlihat kebingungan. Apalagi ditambah belum menemukan Syifa dan Robert, padahal dia juga sudah menuju kamar mandi untuk mengeceknya. "Terus, mereka berdua sekarang ke mana? Kok tiba-tiba menghilang? Atau jangan-jangan aku hanya bermimpi saja, ya?"


Untuk memastikan dia mimpi atau tidak, Abi Hamdan pun langsung menampar pipinya secara bolak-balik.


Dan beberapa detik berikutnya dia pun langsung meringis kesakitan.


"Aaww!"


Jadi bisa disimpulkan, ini bukanlah sebuah mimpi, namun nyata.


"Ya Allah, serius ini aku ditinggal? Sendirian di sini? Atau gimana sih?" gumam Abi Hamdan. Dia pun langsung melangkah cepat menuju pintu, namun saat hendak menurunkan handlenya—pintu justru terasa susah. Seperti terkunci. "Lho, kok dikunci? Bagaimana urusannya ini?"


Merasa pusing ditambah nyawa seperti belum sepenuhnya kumpul akibat bangun tidur, Abi Hamdan akhirnya memutuskan untuk duduk di atas sofa lagi. Kemudian merogoh kedua kantong celana kolornya, untuk mengambil ponsel.


Saat berhasil mengambilnya, tombol ponselnya itu segera dia pencet. Namun sayangnya, benda tersebut tidak menyala.


"Astaghfirullahallazim." Abi Hamdan mengusap kasar wajahnya sambil geleng-geleng kepala. "Bisa-bisanya si Syifa dan Robert pergi meninggalkanku begitu saja di sini? Mana pintunya dikunci lagi," keluhnya.


Krukuk-krukuk.


Tiba-tiba, perutnya itu berbunyi suara cacing. Menandakan jika dirinya lapar. Abi Hamdan bahkan belum makan sejak semalam, karena Syifa yang begitu memaksanya untuk mencari Joe. Tapi sekarang dia justru ditinggal seorang diri.


***


Di rumah Abi Hamdan.


Umi Maryam mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, lalu menatap sekeliling ruangan yang saat ini dia berada.


"Lho, kok aku bisa ada di kamar? Oh ... Apa Abi yang memindahkannya, ya?" gumam Umi Maryam menebak.


Dia ingat, hampir semalaman dia menunggu Syifa, Robert dan suaminya serta Joe di sofa. Tapi melihat dirinya sudah berada di dalam kamar dan di atas kasur—dia jasi sangat yakin jika orang-orang yang dia tunggu itu sudah pulang sekarang. Sebab, Umi Maryam sendiri punya kebiasaan ketiduran. Dan Abi Hamdan yang selalu memindahnya ke kamar.

__ADS_1


Padahal sebenarnya, Umi Maryam pindah karena dipindahkan oleh Joe atas perintah Syifa. Namun anehnya, baik Joe atau pun Syifa—keduanya benar-benar tak mengingat serta sadar, jika Abi Hamdan tak ada.


"Lho, tapi Abi ke mana?"


Ketika baru saja Umi Maryam menoleh ke samping kanan, tempat biasa posisi suaminya tidur—pria tua itu justru tidak ada.


Aneh, dan membuat Umi Maryam bingung. Hanya saja dia masih berpikir positif, apalagi mengingat jika hari ini adalah hari di mana umat Islam menjalankan puasa sunnah tgl 1 Zulhijjah.


"Pasti Abi udah bangun duluan. Atau berak di kamar mandi dapur. Biasanya 'kan dia sering berak kalau bangun tidur."


Umi Maryam pun beranjak dari tempat tidurnya sambil menatap jam weker di atas nakas. Disana menunjukkan pukul 3 pagi.


"Pada basi nggak, ya, makanan semalam? Atau sudah habis dimakan mereka yang baru pulang. Aku cek dulu deh. Barangkali masih ada dan masih bisa dihangatkan untuk makan sahur." Umi Maryam berjalan keluar kamar, lalu menuju dapur.


*


Tok! Tok! Tok!


Dua lelaki berbeda generasi itu sama-sama masih tertidur lelap. Tapi keduanya saling memeluk tubuh Syifa sampai Syifa sendiri merasa terjepit di antara keduanya.


"Syifa! Bangun, Fa! Ayok sahur!" seru Umi Maryam diluar pintu. Kemudian mengetuk pintunya lagi.


Tok! Tok! Tok!


"Sahur?" gumam Syifa sambil mengerutkan dahi. Dia pun lantas menatap ke arah nakas, untuk mengecek jam sambil terdiam sebentar mengingat-ingat, sahur apa yang Umi Maryam maksud.


"Fa! Ayok bangun!" seru Umi Maryam lagi.


"Iya, Umi!" sahut Syifa sedikit keras, sebab takut jika Umi Maryam tak mendengarnya.


Perlahan dia pun menarik tubuhnya untuk bangun. Kemudian menyingkirkan tangan Robert di perutnya, serta tangan Joe di dadanya. Setelah itu dia beranjak dari tempat tidur, lantas melangkah menuju pintu dan membukanya.

__ADS_1


Ceklek~


"Ayok bantuin Umi bawain lauk yang udah diangetin di dapur, Fa," perintah Umi Maryam yang berdiri di depan pintu.


"Iya, Umi." Syifa mengangguk, kemudian berjalan keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. "Tapi ngomong-ngomong ... kita nanti akan melaksanakan puasa apa, Umi?" tanyanya bingung.


"Lho, kamu lupa memangnya? Kan sebentar lagi hari raya haji, Fa. Puasa sunnah Zulhijjah," jelas Umi Maryam. Kedua pun melangkah bersama menuju dapur.


"Ya Allah, aku sampai lupa." Syifa menyentuh dahinya, lalu mengusap wajah. "Untungnya Umi membangunkan, kalau nggak aku, Aa sama Robert pasti nggak puasa. Padahal mereka 'kan kepengen banget menjalankan puasa pas sudah menjadi umat Islam."


"Nggak masalah." Umi Maryam tersenyum, kemudian meraih panci sayur asem yang berada di atas kompor untuk dipindahkannya ke dalam mangkuk besar. "Oh ya, tapi ngomong-ngomong ... kok lauk semalam masih banyak? Kamu semalam pulang jam berapa, Fa? Apa nggak makan?"


"Hampir mau jam 11, Umi," jawab Syifa. Dia menuangkan panci berisi ayam kecap ke dalam mangkuk besar. "Yang makan semalam hanya aku dan Aa, itu juga Aa makan sedikit karena katanya kenyang. Udah makan di restoran pas lembur."


"Oh. Kalau Robert sama Abi sendiri apa nggak makan? Dan terus, kenapa kamu tiba-tiba pergi bertiga tanpa pamit ke Umi dulu? Umi khawatir tau, Fa, sampai ketiduran juga di sofa nunggu kalian." Umi Maryam mendengkus kesal dengan wajah merengut.


"Maafin aku, Umi. Aku pergi mendadak karena ingin menyusul Aa yang katanya lembur. Sangking paniknya sampai buru-buru," jelas Syifa, kemudian melanjutkan. "Tapi semalam itu Robert nggak makan, karena udah tidur. Mau membangunkan pun aku nggak tega."


Mereka berdua sekarang menyajikan menu sahur di atas meja makan berukuran kecil yang berada di dapur. Umi Maryam juga menambah dua kursi plastik untuk Joe dan Robert. Sebab di sana hanya ada.


"Kenapa bisa panik? Dan terus, kalau Abi gimana? Nggak makan juga dia semalam?" tanya Umi Maryam lagi.


"Abi semalam ...." Syifa seketika menjeda ucapannya, dan didetik selanjutnya dia pun membulatkan matanya dengan lebar, lantaran baru teringat jika dirinya semalam pulang tanpa adanya Abi Hamdan. "Astaghfirullahallazim Umi ... Abi sepertinya ketinggalan di kantornya, Aa!" seru Syifa sambil tepok jidat.


"Kok bisa ketinggalan? Memangnya Abi barang?" tanya Umi Maryam yang bingung sendiri dengan perkataan anaknya. Tapi bukannya menjawab, Syifa justru sudah berlari dengan panik untuk masuk ke dalam kamarnya. Berinisiatif membangunkan Joe, meminta tolong padanya.


"Aa! Bangun, A! Gawat, A!" seru Syifa seraya mengguncang tubuh Joe.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Fa, Fa, durhaka kamu 😆...

__ADS_1


__ADS_2