
"Duhhh ... gimana ya, Pak." Roni kembali menggaruk rambut kepalanya. Bukan karena gatal, tapi karena dirinya tambah bingung. Untuk memberikan solusi pun rasanya tidak punya.
"Ayok cepat carikan ide, Ron. Katanya kamu bulan depan mau tunangan sama pacarmu, nanti biar aku kasih gaji dua kali lipat deh. Bila perlu tiga kali lipat. Itung-itung bonus," rayu Papi Yohan.
"Tapi, Pak. Masalahnya ... memisahkan hubungan orang itu 'kan nggak baik. Apa kita nggak berdosa, jika melakukannya?"
"Kan mereka belum menikah, Ron. Tunangan juga belum. Ta'aruf itu kata si Boy cuma tahap perkenalan. Jadi nggak masalah dong ... kalau kita berencana membuat hubungan mereka renggang?"
'Tetap saja itu nggak boleh, Pak. Sama saja jahat namanya. Masa orang lagi adem ayem diusik.' Roni hanya bisa membatin dalam hati, tapi untuk mengungkapkannya rasanya tidak berani.
"Ron! Kok malah diem sih?!" Papi Yohan mengomel, saat melihat asistennya itu justru tak bergeming. Padahal dia sangat menunggu jawabannya.
"Maaf, Pak. Saya bingung dan nggak ada ide. Selain itu saya juga nggak enak."
"Nggak enak ke siapa?"
"Ke Ustad Yunusnya. Walau bagaimanapun dia 'kan udah membantu Bapak, masa kita melakukan hal ini?"
"Kan kita nggak menyakitinya, Ron. Tapi ya sudahlah ... mending aku telepon istriku saja! Dia pasti tau solusinya." Papi Yohan menggerutu, tak puas dengan jawaban Roni. Dia pun perlahan merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel. "Dan karena kamu nggak bisa ngasih aku solusi ... jadi bulan ini gajimu aku potong dua puluh persen!" tambahnya dengan tegas.
"Dih, Pak. Masa dipotong? Saya 'kan sedang ngumpulin uang buat beli cincin tunangan." Roni menatap sedih dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Bodo amat ah!" ketus Papi Yohan tak peduli. "Kalau si Boy jadi nikah sama calonnya aku juga yang galau. Bukan kamu, Ron!"
*
*
*
Mobil mereka mengikuti ke mana saja Ustad Yunus pergi. Awalnya pria itu berhenti disalah satu universitas ternama di Jakarta.
Dengan mata kepalaku sendiri, Papi Yohan melihat Naya masuk ke dalam mobil Ustad Yunus dengan membawa tas dan beberapa buku di tangannya.
"Ngapain si Naya ada dikampus? Apa dia jadi dosen di sini?" tebak Papi Yohan berbicara sendiri. Tapi didetik selanjutnya dia pun menggelengkan kepalanya. "Ah nggak mungkin sih kalau jadi dosen. Dia terlalu muda, sepertinya dia memang masih kuliah," tambahnya menebak sambil manggut-manggut.
Selanjutnya Ustad Yunus membawa mobilnya sampai pada salah satu Mall. Dan tak lama pria itu keluar lebih dulu, lalu berlari kecil memutar untuk membukakan pintunya untuk Naya.
Ubun-ubun Papi Yohan seketika panas, saat melihatnya. Dia juga langsung mencebik. "Lebay banget si Boy."
"Terima kasih, Bang," ucap Naya sambil tersenyum manis.
"Nggak masalah." Ustad Yunus juga tersenyum, kemudian menutup pintu. "Ayok," ajaknya.
Naya tiba-tiba menggandeng lengannya, tapi buru-buru perempuan itu melepaskannya. Sebab dilihat Ustad Yunus seperti terkejut, meskipun kedua pipinya tampak merona.
"Maaf, Bang. Aku biasa menggandeng tangan sama temanku tiap ingin jalan bareng. Jadi kelepasan, nggak ingat kalau sekarang sama Abang." Naya tersenyum canggung sambil menundukkan kepalanya. Tapi perasannya jadi tidak enak.
"Enggak apa-apa, Nay." Ustad Yunus menggeleng. "Ayok masuk, tapi nggak perlu bergandengan. Kecuali memang dalam keadaan darurat."
__ADS_1
"Iya." Naya mengangguk cepat. Mereka pun lantas berjalan bersama masuk ke dalam mall.
Tak lama, Papi Yohan dan Roni turun dari mobil. Tapi keduanya sudah berganti pakaian, serta masing-masing di antaranya memakai kacamata hitam. Itu semua dilakukan atas perintah dari Papi Yohan.
"Ayok, Ron. Jangan sampai kita kehilangan jejak!" ajak Papi Yohan yang sudah lebih dulu berlari kecil menyusul Ustad Yunus.
"Iya, Pak." Mau tidak mau Roni pun mengikuti serta menurutinya, daripada gajinya dipotong sampai habis. Kan sayang.
"Abang kalau mau beli sesuatu, ngomong saja. Jangan mentang-mentang nganter aku, Abang jadi nggak bisa beli apa-apa," ucap Naya.
"Iya, Nay. Santai saja," jawab Ustad Yunus. "Tapi ngomong-ngomong ... kamu beli kado buat siapa? Siapa tau saya bisa bantu kasih saran kado yang cocok untuknya."
"Buat teman kuliahku, Bang. Dia besok ulang tahun. Tapi non muslim, jadi aku bingung buat ngasih kadonya apa. Abang ada saran?"
"Laki-laki apa perempuan?"
"Perempuan."
"Tas, baju, sendal atau sepatu juga bisa. Kalau kamu tau ukurannya."
"Tapi aku takut nanti dia nggak suka sama pilihanku, Bang. Nanti yang ada kado dariku nggak dipakai. Kan sayang, Bang." Itulah alasannya meminta antar, karena Naya sendiri selalu bingung setiap kali memilih barang.
"Asal bagus dan nyaman ... pasti dipakai kok. Kita pilih-pilih saja dulu. Nanti mana yang cocok baru kita beli."
"Tapi ke mana dulu kita, Bang?"
"Ke toko sepatu saja dulu. Yang deket." Ustad Yunus menunjuk sebuah toko sepatu yang berada di depan mereka. Naya pun mengangguk, kemudian mereka menuju ke sana.
Ustad Yunus langsung menatap beberapa sepatu yang berjejeran pada etalase lemari, tapi pandangan matanya seketika terjatuh pada seorang perempuan yang tengah duduk di sofa single sambil mencoba beberapa sepatu oleh pelayan lain di toko itu.
'Itu bukannya Nona Yumna, ya? Dia beli sepatu juga di sini ternyata,' batin Ustad Yunus.
Namun, dia saja yang melihatnya. Tidak dengan Yumna yang fokus pada kakinya.
"Oh iya, Bang. Aku baru ingat kalau temanku kepengen beli sepatu buat olahraga. Apa beli itu saja kali, ya?" tanya Naya.
"Iya, Nay." Ustad Yunus langsung menoleh kepada Naya dan menganggukkan kepalanya. "Itu lebih bagus."
"Teman Kakak perempuan atau laki-laki?" tanya sang pelayan. "Ada banyak model dan warna sepatu sport di toko kami. Mari saya antar untuk melihatnya."
"Perempuan, Mbak," jawab Naya dengan anggukan kepala. Kemudian melangkah mengikuti pelayan itu diikuti oleh Ustad Yunus di belakang..
Setelah mendapatkan apa yang ingin dibeli, mereka pun langsung menuju kasir. Naya juga sekalian membeli sepatu untuk dirinya sendiri. Jadi dua pasang sepatu yang dia beli.
"Jadi totalnya tiga juta sembilan puluh ribu, Nona," ucap sang kasir kepada Naya.
Ustad Yunus langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet. "Biar saya saja yang bayar, Nay."
"Ih nggak usah, Bang," tolak Naya yang juga merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Tapi kalah cepat oleh Ustad Yunus yang sudah berhasil mengambil kartu ATM dan menyodorkan kepada kasir.
__ADS_1
"Ini, Mbak."
"Dih, Bang, nggak usah." Naya menarik tangan Ustad Yunus. Menghentikannya yang hendak membayar. "Kan aku yang mau beli. Masa Abang yang bayar?" Dia terlihat tak enak.
"Enggak apa-apa." Ustad Yunus menarik tangan Naya yang menghalanginya. "Malah kalau bukan saya yang bayar ... saya yang ngerasa nggak enak, Nay."
"Ngapain Abang nggak enak? Kan aku yang minta anter. Lagian itu sepatu juga buat temanku, Bang."
"Udah nggak apa-apa. Namanya laki-laki bayarin belanjaan itu nggak masalah, Nay. Apalagi ada sepatu buatmu juga."
"Tapi akunya nggak enak. Ngerepotin dong namanya."
"Enggak. Apanya yang ngerepotin, sih?" Ustad Yunus terkekeh, lalu menerus pembayaran.
Setelah itu mereka pun keluar dari sana, tapi Naya langsung menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah dompet kecil yang tergelak diluar toko.
"Dompet siapa ini?" Naya membungkukkan badannya, lalu memungut dompet wanita berwarna pink tersebut yang kebetulan terbuka. Tak sengaja dia dan Ustad Yunus melihat KTP yang ada di dalam sana. "Kim Yumna Ricardo?"
"Dompet ini sepertinya milik anaknya Om Yohan, Nay." Ustad Yunus mengambil dompet itu dari tangan Naya. Meskipun dia tak tahu nama panjang Yumna, tapi saat melihat foto pada KTP-nya dia langsung dapat mengenali.
"Om Yohan itu siapa, Bang?" tanyanya bingung.
"Orang yang pernah saya tolong, kamu juga pernah ketemu dengannya sekali pas kita makan di restoran. Kamu masih inget nggak?"
Naya mengerutkan keningnya dan terdiam sebentar untuk mengingat. Didetik selanjutnya dia pun menganggukkan kepalanya. "Oh iya, aku ingat, Bang."
"Biar saya simpan saja dompetnya, ya? Soalnya saya sering bertemu dengan Om Yohan. Jadi nanti saya titipin saja ke dia."
"Tapi Abang yakin ... itu dompet punya anaknya? Kalau bukan gimana?" Naya terlihat ragu. "Apa nggak lebih baik kita berikan ke security di sini saja, ya? Biar nanti dia yang umumin bagi yang kehilangan dompet?"
"Tadi pas di dalam toko, saya nggak sengaja ngelihat Nona Yumna soalnya, Nay. Jadi pasti itu punya dia," jawab Ustad Yunus dengan yakin.
"Abang kok panggil dia Nona segala?" Naya terlihat tak senang mendengarnya, hatinya juga ikut ngilu.
"Kenapa? Memang ada yang salah?" Ustad Yunus tampak bingung. Dahinya berkerut.
"Enggak sih ... cuma nggak enak didengar aja menurutku. Panggil nama juga nggak masalah kayaknya, enggak perlu pakai Nona segala." Naya mengalihkan pandangan, tapi wajahnya sudah cemberut.
"Maaf, Nay. Kalau kamu nggak suka ... saya enggak akan memanggilnya dengan sebutan Nona lagi." Ustad Yunus mengalah, supaya calonnya itu tak marah.
"Kalau bisa sih nggak perlu menyebut-nyebut namanya juga, Bang. Risih aja aku dengernya." Naya masih cemberut.
"Oke." Ustad Yunus mengangguk setuju.
Di belakang mereka, tanpa disadari ada dua pria yang berdiri memunggungi. Keduanya tidak lain adalah Papi Yohan dan Roni.
Mereka di sana tentu sedang menguping, tapi ada yang sudah kepanasan ubun-ubunnya.
'Naya nyebelin juga, ya, ternyata! Masa cuma manggil Nona doang nggak boleh? Bahas si Yumna juga nggak boleh! Baru calon istri aja udah banyak ngatur, gimana kalau udah jadi istri beneran? Kasihan dong si Boyku ... pasti nanti tertekan batin!' seru Papi Yohan dalam hati, sembari mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
...Nggak boleh su'uzon ah, Om ðŸ¤...