
"Itu ...."
"Allahu Akbar Allahu Akbar!" Tiba-tiba, terdengar suara kumandang adzan.
Abi Hamdan yang sempat ingin menjawab pertanyaan itu akhirnya tidak jadi. Tapi ada untungnya juga, dia jadi terbebas dari pertanyaan yang membingungkan untuk dijawab itu. Karena tak mungkin juga, dia berkata jujur.
Robert terlalu kecil untuk tahu semua itu.
"Alhamdulillah ... sudah adzan," ucap Abi Hamdan sambil menghela napasnya dengan lega. "Ayok, kita masuk sekarang, sholat tepat waktu itu penting supaya kita mendapatkan kemuliaan dari Allah." Setelah itu, Abi Hamdan membuka alas kakinya, lalu melangkah masuk ke dalam sana lebih dulu.
Joe dan Robert yang berada dalam gendongan ikut menyusul.
*
"Baca niat sholat saat takbiratul ihram. Bunyinya; "Ushallii fardhash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati makmuuman lillaahi ta’aalaa," ucap Abi Hamdan saat mereka bertiga sudah selesai mengambil air wudhu. Rencananya dia yang akan menjadi imam di musholla itu. Dan ada beberapa orang juga yang baru saja datang.
"Iya, Bi." Joe mengangguk. Sebelumnya dia memang sudah hafal semua niat sholat wajib. Hanya bacaan yang lainnya ada beberapa yang tidak hafal. Seperti do'a qunut dan tahiyat awal atau pun akhir. "Kamu hafalin, Rob, sebelum kita mulai. Ushallii fardhash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati makmuuman lillaahi ta’aalaa," ujar Joe memberitahu kepada Robert yang saat ini bocah itu berdiri di sampingnya.
"Tapi Takbiratul ihram itu apa, Dad?" tanya Robert bingung.
"Takbir pertama kita, saat mulai sholat, begini ...." Abi Hamdan memberikan contoh. Bertakbir dan menaruh kedua tangannya di atas dada. "Kalau bacaan yang lain nggak bisa, nggak apa-apa. Kalian hanya perlu mengikuti gerakan yang baik dan benar, nanti Opa ajari sampai bisa dan menjadi imam."
__ADS_1
"Iya, Bi." Joe mengangguk lagi. Lantas dia, Robert dan beberapa pria di sana langsung berjejer menjadi satu saf.
"Allahu Akbar!" Abi Hamdan sudah memulai takbiratul ihram. Kemudian makmum yang lain mengikutinya.
"Ushallii ...." Baru saja Robert membaca niat untuk memulai sholat subuhnya, namun tiba-tiba saja bibir keriput di bawah sana mengeluarkan suara.
Duttt.....
Nyaring dan amat panjang didengar.
"Duh kelepasan." Robert menyentuh bokongnya. Kemudian memulainya lagi. "Bismillahirrahmanirrahim. Ushalli—"
"Lho, kenapa memangnya, Dad?" tanya Robert yang tak tahu apa-apa.
"Kan kamu kentut."
"Terus masalahnya apa?" Robert langsung mengendus ke arah sekitar. Mencoba mengecek aroma kentutnya. Tapi tidak tercium apa-apa. "Orang nggak bau. Kalau kentut bunyinya keras mah nggak bau, Dad."
"Bukan masalah bau nggaknya. Tapi kentut itu hal yang membatalkan wudhu. Daddy pernah baca dibuku tuntunan sholat."
"Oh berarti ...."
__ADS_1
"Allahuakbar!" Abi Hamdan sudah melakukan rukuknya yang pertama. Dan beberapa orang yang lain langsung mengikuti.
Sedangkan Joe, dia sendiri merasa terkejut sebab merasa sudah ketinggalan sholat Subuh. Yang berarti sudah gagal, tidak bisa memulai sholat lagi mau pun mengulangnya seorang diri.
Maklum, namanya juga awam. Ilmu yang dia ajari belum sampai sana.
"Lho, kok cepet banget? Jadi ketinggalan begini," keluh Joe. Akan tetapi dia langsung ikut rukuk, serta i'tidal sampai sujud. Yang dia lakukan hanya ikut gerakannya saja, tanpa membaca niatnya.
Robert juga, dia bukannya pergi mengambil air wudhu lagi, tapi justru mengikuti apa yang Daddynya itu lakukan.
"Rob, kamu 'kan kata Daddy suruh wudhu? Kok malah ikut sholat?" tanya Joe saat duduk di antara dua sujud. Dia berbicara sambil menoleh ke arah anaknya.
"Nanti Robert malah ketinggalan sholatnya, Dad. Dan keburu selesai. Nanti Allah marah," jawab Robert, lantas sujud ketika Abi Hamdan sujud.
"Mangkanya besok-besok kalau mau sholat ... sebelum wudhu itu kamu kentut dulu yang banyak, Rob, biar nggak batal," tegur Joe menasehati.
"Mana bisa begitu, Dad. Kan kentut nggak bisa diatur. Kapan pengen dan kapan keluarnya."
"Ya sudah, ditahan dulu kalau begitu."
...Tega amat, suruh tahan kentut 🤣...
__ADS_1