
Ceklek~
Setelah beberapa menit, kamar mandi itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang mana membuat Joe menoleh ke arahnya.
"Sayang ...," panggil Joe sambil tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merona.
"Aa!" seru Syifa dengan keterkejutannya, mendapati suaminya sudah berada di kamar dengan tak memakai sehelai benang.
Tapi karena sangking rindunya, dia tak berpikir panjang dan langsung berlari menghamburkan pelukan. Padahal saat ini, dia hanya memakai handuk putih dengan model kimono, sehabis mandi.
"Ini seriusan, Aa pulang? Aa datang untuk menjemputku?" tanya Syifa dengan senangnya. Dia berada di atas tubuh Joe dan memeluknya dengan erat.
Joe menarik tubuhnya untuk duduk, sehingga membuat Syifa terduduk di atas pangkuan dan dengan perlahan, dia membelai lembut pipi kanan sang istri hingga seketika membuatnya merona. "Apa kamu merindukanku, Yang? Seperti aku yang sangat merindukanmu?"
"Tentu saja, A, aku sangat merindukan Aa ...." Bola mata Syifa berkaca-kaca, tapi kali ini karena dirinya terharu. Akhirnya bisa bertemu lagi dengan sang suami setelah dua hari tak berjumpa, yang baginya dua hari saja terasa dua tahun. "Aa pasti nggak setuju untuk berpisah denganku, kan? Semua yang diminta oleh Papi nggak Aa ...." Ucapan Syifa seketika terhenti, kala sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
Cup~
Bukan hanya itu, Joe juga langsung melummatnya dengan kasar sembari meremmas buah dadanya.
Menurut Joe, untuk sekarang dia ingin melepaskan rasa rindunya terlebih dahulu. Supaya kepala atas dan bawahnya tak merasa sakit. Setelah itu, barulah dia berbicara dengan hati ke hati. Serta mengatakan semua hal yang terjadi.
*
*
"Bu, tolong bungkuskan dua nasi uduk dengan dua gorengan, ya?" pinta Bu Sulis, dia orang pertama yang melarisi dagangan nasi uduk Umi Maryam hari ini.
"Iya, Bu." Umi Maryam langsung mengangguk dan mengambil kertas minyak untuk membungkuskannya. "Campur semua atau gimana? Pakai sambel?"
"Iya, Bu, campur semua." Bu Sulis mengangguk, kemudian duduk pada bangku kayu yang memang tersedia untuk para pembeli yang menunggu. "Oh ya, Bu, itu si Syifa sama suaminya gimana? Kemarin-kemarin itu sempat heboh banget, apa rumah tangga mereka baik-baik saja?" tanyanya dengan kepo.
Saat adanya keributan tentang terbongkarnya kebohongan Joe, Bu Sulis adalah salah satu orang yang ikut menonton. Dan bisa jadi seluruh tetangga terdekat. Jadi permasalahan ini bukan lagi menjadi rahasia, sebab sudah umum diketahui.
"Mereka—"
"Mereka baik-baik saja," sela Abi Hamdan cepat, yang baru saja datang sehabis dari masjid. Ada sebuah sajadah yang menempel pada bahu kanannya. "Rumah tangga mereka baik-baik saja, Bu," tambahnya.
Bu Sulis langsung menoleh, menatap Abi Hamdan lalu tersenyum. "Oh begitu, syukurlah, Tad."
Abi Hamdan mengangguk, lalu menatap ke arah Sandi dengan raut bingung. Sebab pria itu sejak tadi duduk di atas motor metik. "Kamu mau ngapain ke sini, San? Mau beli nasi uduk?"
__ADS_1
"Enggak, Tad." Sandi menggeleng kepalanya.
"Terus, kok ke sini? Oh ... mau jemput Ustad Yunus?" tebak Abi Hamdan.
"Itu si Joe sudah pulang, Bi. Dia ada dikamar menemui Syifa," sahut Umi Maryam memberitahu.
"Masa? Serius, Umi?" Bola mata Abi Hamdan sontak berbinar. Langsung dia menatap istrinya dan melangkah mendekat.
"Bener, Bi. Sepertinya ... masalah mereka sudah selesai. Umi yakin kedatangan Joe ke sini karena dia akan memberitahukan kabar baik." Umi Maryam berpikir secara positif. Selain itu melihat raut wajah Joe tadi, yang terlihat begitu merindukan Syifa—membuatnya yakin jika semaunya sudah dapat dilalui.
"Syukurlah kalau begitu." Abi Hamdan menghela napasnya dengan lega. "Abi ingin tanya langsung kepada Jojon, Umi, biar afdol."
"Iya, tanyakan saja." Umi Maryam mengangguk cepat.
Abi Hamdan melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Syifa. Tangan yang sudah mengepal perlahan terangkat, hendak mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba, gerakannya langsung terhenti kala mendengar suara samar-samar dari dalam sana.
"Ah! Ah! Ah!"
Itu persis seperti suara seseorang yang tengah mendesaah, dan suara itu milik Syifa.
'Apa mereka sedang bercinta? Pagi-pagi begini?' batin Abi Hamdan dengan alis mata yang terangkat sebelah.
Abi Hamdan mundur beberapa langkah sambil geleng-geleng kepala dan mengusap dada. Jangan sampai karena mendengar suara seperti itu, ibadah puasanya menjadi makruh apalagi batal karena ikut menginginkannya juga.
Tapi dirinya tak berbohong, jika dengan mendengar suara itu miliknya yang di dalam celana sudah menegang.
Memang area itu sangatlah sensitive, selain itu Abi Hamdan juga sudah lama rasanya tak bercinta dengan Umi Maryam.
Bukan karena sudah tak bernafsu, justru setiap hari kalau tak ada halangan—dia masih bisa melakukannya. Hanya saja akhir-akhir ini, Abi Hamdan selalu diterpa banyak cobaan sehingga membuat pikirannya tak fokus kepada hal lain. Apalagi dengan menunjukkan penampakan tongkat barunya.
'Benar-benar mereka ini. Bercinta nggak tau aturan, suaranya sampai didengar orang luar. Untung hanya aku yang dengar, bukan orang lain.' Abi Hamdan sedikit memaklumi, meskipun sebenarnya ada rasa sebal di dalam hati. Tapi mungkin yang mereka lakukan adalah melepas rindu. Dia juga tentu tahu bagaimana rindunya Syifa kepada Joe.
Perlahan bokongnya terduduk di atas sofa single, lalu menghela napas.
'Aku tunggu sampai mereka selesai deh, baru nanya kepada Jojon. Semoga saja ... tebakan Umi benar. Aku juga yakin ... Jojon nggak mungkin mau bercerai dengan Syifa. Dia 'kan sangat mencintainya,' batin Abi Hamdan.
***
Seoul, Korea Selatan.
Robert mengerjapkan matanya secara perlahan di atas kasur, lalu menoleh ke arah jam weker yang berada di atas nakas.
__ADS_1
Kedua matanya itu sontak membulat sempurna, sebab disana terlihat menunjukkan pukul 7 pagi yang artinya dia lupa untuk sholat Subuh.
Tapi dipikir-pikir, semenjak Robert ada di Korea—dia benar-benar lupa untuk melaksanakan sholat. Bahkan karena terus dirayu oleh Mami Yeri untuk bermain di mall, dia juga sampai lupa yang awalnya ingin menghubungi Syifa. Sehingga sampai detik ini pun belum berhasil menghubunginya.
"Ya Allah ... maafin Robert, karena Robert selalu melupakan sholat pas ada di Korea," sesal Robert dengan bola mata yang tampak berkaca-kaca.
Bocah itu pun segera beranjak dari kasur, kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dia teringat, saat Abi Hamdan mengajaknya mengqodho sholat yang terlewat dan sekarang, dia akan melakukannya.
Meskipun ada beberapa bacaan sholat yang masih belum sepenuhnya sempurna. Tapi tidak masalah, yang terpenting niat dan kebetulan dia juga sudah hafal semua niat sholat fardu begitu pun dengan niat mengqodho sholat, karena Abi Hamdan sendiri sudah sempat mengajarinya.
Arah kiblatnya pun terbilang asal, mungkin karena pengaruh terburu-buru atau Robert memang belum mengerti dengan arah kiblat sholat.
"Sayang ... ayok kita sarapan, Oma sudah membelikanmu ...." Ucapan Mami Yeri seketika terhenti begitu pun dengan gerakan tangannya yang tengah membuka pintu kamar, sebab melihat cucu kesayangannya itu tengah sholat dengan beralaskan selimut. Karena pastinya, tak ada sajadah dikamar Joe. 'Sedang apa Robert? Apa dia sholat?' batinnya bertanya.
Mami Yeri melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu. Sama sekali dia tak menganggu apa yang Robert lakukan. Dia hanya berdiri mematung sampai gerakan sholat Robert berakhir dengan salam.
Perlahan kedua tangan kecil Robert terangkat ke udara, lalu mulai memanjatkan do'a.
"Ya Allah, tolong maafkan Robert ... karena selama ada di Korea ... secara nggak langsung Robert melupakan Allah, untuk melaksanakan sholat. Padahal itu 'kan ibadah wajib."
"Tapi percayalah, Robert akan berusaha menjadi umat yang taat dan sayang sama Allah."
"Tolong ampuni dosa Robert, dosa Mommy Sonya, dosa Mommy Syifa, Daddy, Oma Yeri, Opa Paul, Opa Hamdan dan Oma Maryam. Mereka semua orang baik dan orang yang Robert sayangi ya, Allah."
"Robert juga nggak akan pernah berhenti untuk selalu mengucapkan kata terima kasih, karena Allah dengan begitu baiknya mempertemukan Robert dengan Mommy Syifa. Robert yakin ... bukan hanya wajah mereka saja yang begitu mirip, tapi sikap dan sifatnya pun pasti sama."
"Terima kasih telah mengizinkan Robert untuk menikmati indahnya merasakan kasih sayang dari seorang Mommy. Robert kira ... sampai mati pun Robert nggak akan bisa mendapatkannya ya, Allah."
"Dan Robert selalu berdo'a untuk keutuhan rumah tangga Daddy dan Mommy. Semoga mereka selalu bahagia dan dijauhkan oleh masalah. Robert nggak bisa membayangkan betapa sakitnya kalau sampai rumah tangga mereka berantakan ... sehingga membuat Robert kehilangan sosok Mommy lagi. Itu pasti sangat menyakitkan dan lebih baik, Robert mati saja."
Degh!
Jantung Mami Yeri terasa berhenti berdetak saat itu juga, begitu pun dengan seluruh tubuhnya yang mendadak menegang dibarengi bulu kuduknya. Kalimat terakhir dari do'a cucunya itu benar-benar menyayat hatinya, yang seakan buta karena berniat memisahkan kebahagiaannya.
Padahal sampai sekarang, Mami Yeri belum sempat mengatakan tentang niatnya ingin memisahkan Daddy dan Mommy tirinya. Tapi sekarang justru dia merasa ketakutan sendiri dan dirundung rasa dilema yang makin parah.
'Tuhan Yesus, bagaimana ini? Robert bilang lebih baik mati daripada dipisahkan dengan Syifa, jadi aku harus bagaimana?' batin Mami Yeri dalam hati.
...Batalin niatnya lah, Mi, masih aja nanya 😣...
__ADS_1