
"Nggak perlu enam ekor unta juga kali, Jon!" bantah Abi Hamdan yang tampak tak setuju. Bukan apa-apa, dia hanya takut jika uang tabungan Joe tak akan cukup untuk membeli hewan kurban. Apalagi untuk enam orang. "Satu doang juga cukup. Karena satu unta ... boleh untuk maksimal tujuh orang berkurban," tambahnya menjelaskan.
"Lho, masa sih, Bi? Satu hewan bisa buat tujuh orang kurban?" Joe tampak tak percaya.
"Benar itu, Pak." Ustad Yunus menyahut. "Kerbau, sapi dan unta bisa untuk tujuh orang. Sedangkan kambing dan domba hanya seorang."
"Nggak apa-apa deh, Tad, aku mau unta saja masing-masing. Jadi enam ekor. Dagingnya biar banyak, biar bisa dibagikan kepada seluruh warga disini," ucap Joe yang terdengar sangat mulia sekali niatnya.
"Kamu nggak usah sok, Jon!" omel Abi Hamdan yang mulai menasehati. "Harga unta itu mahal tau. Nanti kalau kamu beli enam ekor unta ... bisa-bisa kamu, Syifa, Robert dan adiknya Robert kelaparan. Allah juga nggak akan memaksa umatnya, kalau hanya bisa mengurbankan seekor. Asal niatnya dari hati, pasti Allah menerimanya."
"Nggaklah, Bi. Masa aku, Syifa dan anak-anakku kelaparan, hanya karena membeli enam unta? Aku sanggup kok," balas Joe dengan sungguh-sungguh.
"Memangnya, gajimu menjadi mandor berapa? Sampai sanggup membeli enam ekor unta? Apalagi untuk Abi sampai sopirmu juga?" tanyanya, lalu menatap ke arah Sandi juga sebentar.
"Mandor apaan, Bi? Siapa yang jadi mandor?" Joe tampak bingung, dengan sebuah pekerjaan yang Abi mertuanya itu ucapkan.
"Kata Robert kamu 'kan kerja jadi pemimpin perusahaan. Itu seperti mandor, kan?" tebak Abi Hamdan.
"CEO kali, Ustad," sahut Ustad Yunus.
"Ya sama saja, Tad. Mandor juga 'kan pemimpin orang yang kerja dibangunan," balas Abi Hamdan.
__ADS_1
"Beda Ustad." Sandi ikut menyahuti. "CEO itu jabatan paling tinggi di sebuah perusahaan. Nggak bisa dibandingkan dengan mandor. Lagi pula, Pak Joe juga bos di perusahaannya sendiri. Perusahaan skincare."
"San ...," lirih Joe menatap sopirnya, lalu menggelengkan kepala.
"Kenapa, Pak? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Sandi bingung, dengan isyarat yang dimaksud oleh majikannya.
"Ah masa sih, si Jojon seorang bos? Nggak percaya aku, San," balas Abi Hamdan dengan raut wajah tak yakin, lalu menatap mata menantunya. "Benar 'kan, Jon, kamu bukan seorang bos? Nggak mungkin, kan?"
"Nggak kok, Bi," jawab Joe berbohong. Yang mana membuat Abi Hamdan menghela napasnya.
***
Malam hari di dapur.
"Ya Allah Abi! Ngagetin aja!" omel Umi Maryam seraya menoleh ke arah suaminya, kemudian menarik kasar lingkaran lengan pada pinggangnya. Tapi lagi-lagi, pria itu kembali merengkuhnya.
"Siapa yang ngagetin sih? Orang nggak."
"Abi mau apa memangnya? Tangannya lepas, Bi! Malu nanti kalau dilihat Joe sama Syifa!" tegur Umi Maryam seraya menepuk tangan suaminya.
"Jojon dan Syifa sudah masuk kamar kok. Umi nggak perlu khawatir," jawabnya santai, lalu mencium puncak kerudung pashmina Umi Maryam dan mengeratkan tubuhnya untuk saling menempel. Ada sesuatu yang mengeras di dalam sana, hanya saja Umi Maryam tak sadar. "Ayok ke kamar, ada supres buat Umi, lho," tambahnya mengajak seraya berbisik ke telinga kanan.
__ADS_1
"Kejutan, maksud Abi?" tanya Umi Maryam dengan wajah penasaran.
Abi Hamdan mengangguk. "Iya. Mangkanya ayok ke kita ke kamar. Nanti Abi tunjukkan."
"Apa dulu itunya? Bagus nggak?"
"Ya namanya kejutan, masa dikasih tau sekarang? Nggak seru dong nanti."
"Ya sudah, Abi ke kamar dulu. Nanti Umi nyusul, mau nyuci elap dulu sebentar."
"Jangan lama-lama, ya! Abi udah nggak tahan soalnya."
"Kok jadi nggak tahan, sih?" Kening Umi Maryam tampak mengernyit. Rasanya makin membingungkan. "Katanya kejutan, tapi kok nggak tahan? Apa maksudnya?"
"Nggak tahan ngasih kejutan maksudnya," jawabnya sambil terkekeh. "Ya sudah, Abi tunggu ke kamar, ya! LPG pokoknya!" Abi Hamdan perlahan merelai pelukannya, lalu mundur seraya membenarkan sarungnya yang melorot.
"LPG apaan? Tabung gas?"
"Bukan, tapi nggak pakai lama, Umi."
"GPL kali, Bi, bukan LPG."
__ADS_1
"Ah sama saja. Udah, ya! Nanti Umi ke kamar sekalian bawakan susu jahe juga," kata Abi Hamdan, kemudian melangkah keluar dari dapur menuju kamarnya.
...Abi udah mulai aktif nih kayaknya 🤣...