
"Oh ... tapi apa Tante boleh lihat dulu roti bakarnya, Yum?" tanya Mami Yeri yang tampak penasaran, menatap rantang yang dipegang Yumna.
"Tentu boleh dong, Tan." Yumna tersenyum, kemudian membuka penutup rantang paling atas.
Dia juga mengambil salah satu kepingan roti bakar miliknya dan memperlihatkannya ke Mami Yeri. Di dalamnya ada potongan buah strawberry yang dicampur oleh parutan keju dan taburan series.
Selain isinya yang terlihat enak, penampakan roti bakar itu jelas jauh berbeda dengan roti bakar biasa milik Syifa. Yang hanya roti tawar saja.
Roti bakar milik Yumna matangnya lebih merata dan juga cantik, sama sekali tak ada yang gosong, bahkan saat Mami Yeri melihat beberapa roti yang lain. Yang masih ada di dalam rantang.
'Kelihatan enak banget, jauh dari roti bakar bikinan menantuku,' batin Mami Yeri yang refleks menelan ludah.
"Tapi, Tan ... itu roti gosong milik siapa yang Tante pegang?" tanya Yumna yang menatap piring di tangan Mami Yeri.
"Enak saja kamu bilang! Roti gosong apanya? Ini roti bakar!" sembur Joe yang tampak tak terima, matanya sampai melotot. Itu semua karena lagi-lagi roti bakar itu dikatai roti gosong. Tapi memang benar gosong.
Segera, dia pun mengambil piring di tangan Mami Yeri. Kemudian melangkah cepat dan membawanya kembali menuju ruang makan.
"Ayok masuk, Yum. Tante akan mencoba roti buatanmu," ajak Mami Yeri yang terlihat begitu ramah. Dia menutup pintu dan langsung merangkul bahu Yumna, lantas mengajaknya melangkah bersama menyusul Joe di ruang makan.
"Yumna ...," gumam Syifa yang tampak terkejut, melihat kehadiran tamu tak diundang itu. Apalagi dengan penampilannya yang memakai rok mini model payung, benar-benar membuat matanya sakit. 'Ngapain dia datang ke sini pagi-pagi begini? Mau apa?' batinnya yang sudah sebal duluan.
'Waduh ... kenapa Tante Yumna pakai acara datang segala? Ini nggak baik buat perasaan Mommy,' batin Robert. Dia menatap sinis ke arah Yumna, tapi langsung merubah tatapan matanya kala melirik ke arah Syifa.
"Pagi Syifa, Robert ...," sapa Yumna dengan ramah dan seulas senyum di bibirnya. "Kebetulan kalian sudah ada di meja makan. Ayok sarapan bareng, aku bawa roti bakar banyak dan spesial buatanku sendiri." Dengan pedenya Yumna langsung mengambil piring kosong yang ada di atas meja, kemudian menata enam keping roti bakar yang dia ambil di dalam rantang dua susunnya.
"Soal rasa, nggak perlu diragukan lagi. Pasti enak," tambahnya yang langsung menaruh salah satu keping roti bakar itu ke piring Joe. Padahal pria itu terlihat tengah mengunyah roti bakar di tangannya. Roti bakar milik Syifa. "Ayok dicicipi, Kak, aku akan senang sekali kalau Kakak mau cicipi masakanku." Kedua pipi Yumna tampak memerah, dia juga terlihat malu-malu.
__ADS_1
'Apa-apaan dia?' geram Syifa dalam hati. Rasa gemuruh itu seketika menyeruak di dalam, dan refleks kedua tangannya itu mengepal kuat.
Pastinya, apa yang dilakukan serta sikap dari Yumna—sangat memancing emosi Syifa.
Joe meraih piringnya, niat hati ingin mendorong ke depan. Sebab tak ada keinginan untuk dirinya makan roti buatan Yumna. Disini pasti dia akan menjaga perasaan Syifa.
Namun, sebelum piring itu berhasil didorong, Syifa lebih dulu mendorongnya.
"Maaf, tapi nggak perlu kamu kasih sarapan ke suamiku. Karena dia saat ini sedang sarapan," ujarnya yang terdengar tegas.
"Syifa, kamu nggak boleh kayak gitu!" Mami Yeri menyeru, dan terlihat dari matanya—dia membela perempuan di sampingnya. "Yumna ini tamu dan niatnya baik. Dia ingin sarapan bareng dan membawakan kita sarapan. Harusnya, kita hargai dia," tambahnya yang mendorong kembali piring Joe untuk makin dekat.
"Hargai?" Syifa menatap Mami Yeri dengan raut bingung. Wajahnya pun tampak memerah. Antara sedih dan kesal, berkecamuk jadi satu. "Jelas dia sendiri yang nggak menghargaiku, Mi," tambah Syifa yang langsung memberikan tatapan nyalangnya kepada Yumna. Perempuan itu bahkan sekarang sudah duduk di samping Joe. "Harusnya dia lihat, kalau Aa sedang sarapan. Ngapain juga ngasih sarapan lagi?"
"Memangnya salah, ya, Fa?" Yumna menyahut. Ternyata dia berani juga melawan. "Aku 'kan hanya minta Kak Joe untuk mencicipi masakanku."
"Tapi kamu—"
Dia terlihat sudah mandi dan berpakaian rapih. Pandangan matanya pun langsung menatap ke atas meja, pada roti bakar milik Yumna.
"Ini, Pi, si Syifa ... Yumna 'kan datang bertamu dengan membawa roti bakar untuk kita semua, tapi masa si Joe suruh icip saja nggak boleh? Overprotektif banget ... iya, kan?" Mami Yeri mengadu pada sang suami. Yang jelas akan memihak kepadanya.
"Syifa, kamu nggak boleh terlalu ngekang Joe dong. Kan cuma nyicip roti bakar, masa begitu saja—"
"Papi saja yang icip. Aku nggak mau," potong Joe cepat sambil menatap Papinya. Dia tak mau diam saja, melihat istrinya itu disudutkan. Padahal hanya perkara roti bakar. "Roti buatan Syifa sudah cukup enak dan mengenyangkan perutku," tambahnya yang langsung melahap gigitan terakhir roti bakar istrinya.
Papi Paul langsung menarik kursi di samping Robert, kemudian duduk dan mengambil satu keping roti milik Yumna untuk dia lahap.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya, Om? Apa enak?" tanya Yumna dengan penuh antusias, melihat Papi Paul yang tengah mengunyah.
"Enak." Papi Paul mengangguk, kemudian tersenyum menatap Yumna.
"Jelas enaklah, Pi. Yumna 'kan pintar memasak. Beda sama menantu kita," cicit Mami Yeri yang terlihat menjadi kompor. Dia juga menunjuk ke arah roti bakar buatan Syifa dengan tatapan remeh. "Itu buatan Syifa, lho, Pi. Coba lihat aja penampakannya. Bikin nggak nafsu."
Papi Paul langsung melihat ke sana. Bibirnya sudah menganga ingin berucap, tapi kalah cepat oleh Robert.
"Oma nggak boleh bilang kayak gitu!" sergah Robert yang tampak marah. Sejak tadi dia diam dan hanya memperhatikan, tapi lama-lama ikut kesal juga. Apalagi melihat wajah Syifa yang berubah menjadi sendu. "Kalau Mommy nggak bisa masak ... berarti roti bakar ini mentah! Jelas disini rotinya nggak mentah, malah enak dan membuat Robert ketagihan!"
"Ya jelas nggak mentah, orang gosong. Gimana sih kamu, Rob," kekeh Mami Yeri yang terlihat masih senang meledek. Tapi apa yang dia lakukan itu benar-benar menyakiti perasaan Syifa. "Lagian kamu juga nggak boleh bohong. Bilang enak padahal aslinya enggak. Iya, kan?"
"Ngapain Robert bohong? Robert jujur!" tegas Robert dengan lantang. Dadanya terlihat naik turun karena sudah mulai emosi.
"Nak ... udah nggak apa-apa," balas Syifa sambil menggelengkan kepalanya. Menatap Robert. "Mommy memang nggak bisa masak. Apa yang Oma katakan benar." Yang dia lakukan semata-mata supaya Robert dan Mami Yeri tidak bertengkar. Apalagi itu karena dirinya.
"Tapi, Mom, Oma terlihat—"
"Yang ...," ucap Joe yang memotong ucapan Robert. Dia menatap wajah istrinya yang sudah terlihat berkaca-kaca. "Kamu ajak Robert ke kamar buat siap-siap. Kita pulang ke Indonesia sekarang, ya?"
"Lho, kok pulang, Kak?" tanya Yumna yang terlihat kaget. Tapi tangannya tidak bisa dia kondisikan, karena berani sekali langsung memegang tangan Joe. "Kenapa cepet banget? Kan baru kemarin Kakak sampai Korea."
"Kalau cepat memangnya kenapa, hah?!" bentak Syifa tersulut emosi lagi. Dia juga langsung menepis kasar tangan Yumna dari tangan Joe, dan berdiri ditengah-tengah mereka untuk menghalanginya. Khawatir kalau perempuan itu kembali menyentuh suaminya. "Tolong dong, Yum, kamu 'kan di sini tamu ... jadi nggak perlu gatal sama suami orang!"
"Apa maksudmu mengatakan aku gatal, Fa?" Yumna mendelikkan matanya, menatap jengah kepada Syifa. Jelas sekali dia tak terima, dikatakan begitu. "Siapa yang gatal? Enggak, ya!"
"Jelas kamu yang gatal!" teriak Syifa menggelegar. Kencang sekali dia mengatakannya sampai seisi ruangan itu berdengung mendengar suaranya. "Apa belum cukup aku melihatmu memegang tangan Aa?" Jari telunjuk Syifa sudah menunjuk-nunjuk wajah Yumna. "Dia suamiku! Apa kau buta, Yumna?!"
__ADS_1
"Enak saja!" Yumna langsung berdiri dan berkacak pinggang. Dia merasa tertantang di sini. "Kamu itu bukannya seorang guru, kan? Yang katanya panutan? Kok bisa mulutmu seperti nggak disekolahin? Berani sekali kamu mengatakan aku gatal dan buta! Kamu yang jelas buta disini!" tambahnya berteriak kencang yang sama menggemanya dengan suara Syifa. Dia juga mendorong dada perempuan berhijab di depannya, sehingga membuat Syifa mundur beberapa langkah.
...Semakin sengit, bukan? 🤣...