Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
156. Tolong aku, Bi


__ADS_3

"Ih nggak mau!" tolak Robert tak setuju. "Daddy saja nennen secara langsung, masa Robert nggak? Curang dong namanya!"


Joe menjambak rambutnya dengan penuh frustasi.


Rupanya, penjelasannya itu bukan untuk menyelamatkan perkara yang terjadi. Tapi justru menjebaknya sendiri.


'Ya Allah ... bagaimana ini? Aku nggak mau Robert nennen sama Syifa. Ya walaupun dia sudah jadi anaknya, tetap saja aku nggak mau,' batin Joe yang merasa pusing tujuh keliling.


Dia juga merasa sudah kehilangan akalnya, untuk memberikan penjelasan apalagi kepada sang anak. Sebab takutnya, ucapannya kembali membuatnya makin terjebak.


*


Setelah beberapa menit kemudian, Syifa pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Dan dirinya tampak heran, tapi sekaligus menghela napasnya dengan lega karena melihat Robert sudah terlelap tidur di samping Joe.


Itu berarti, dia sudah berhasil lolos dari pertanyaan Robert.


'Alhamdulillah ... Robert sudah tidur. Tapi kira-kira, Aa ngasih penjelasan apa, ya, kepadanya, biar dia paham tadi kita ngapain?' batin Syifa bertanya-tanya.


Dia pun melangkah menuju ranjang, lalu naik ke atas kasur dan berbaring di samping Joe. Perlahan kedua tangannya itu terulur, untuk melingkar pada dada sang suami. Kemudian mengecup singkat bibirnya.


'Padahal aku kepengen sebenarnya, A, tapi gimana? Kayaknya kita musti menundanya ... karena ada Robert di sini,' batin Syifa yang dengan perlahan dia pun memejamkan mata.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Tok! Tok! Tok!


Sebuah pintu kamar Abi Hamdan terdengar diketuk secara berulang-ulang. Dan tak lama suara seseorang memanggilnya.


"Bi! Tolong, aku, Bi!"


Pria tua di dalam kamar itu tengah asik memadu kasih dengan sang istri. Tapi mendengar suara minta tolong—pergerakan bokongnya itu seketika terhenti. Padahal sejujurnya, dia belum pencapai pelepasannya.


"Bi! Abi! Tolong aku, Bi!"


"Iya." Abi Hamdan perlahan turun dari atas tubuh sang istri, kemudian cepat-cepat memakai kembali baju serta sarung. "Ngapain si Jojon minta tolong pagi-pagi buta begini? Padahal tanggung banget kita, lagi enak-enaknya."


"Siapa tau genting, Bi." Umi Maryam langsung menarik selimut sampai leher, untuk menutupi tubuh polosnya.


Meskipun masih dalam keadaan menggerutu, tapi Abi Hamdan pun akhirnya membuka pintu kamarnya. Dan terlihat menantunya itu berdiri di hadapannya dengan wajah yang sudah bermandikan keringat.


"Ada apa, Jon? Kamu—"

__ADS_1


"Bi, tolong aku!" pinta Joe cepat seraya memegang tangan Abi Hamdan.


Abi Hamdan mengangguk. "Iya. Tapi minta tolong apa?" tanyanya sambil mengusap keringat sang menantu.


"Aku akan membawa Syifa pergi dari sini. Tapi aku minta Abi untuk memberikan penjelasan kepada Robert ... setelah dia bangun dari tidurnya."


"Dibawa pergi ke mana, si Syifa?" Abi Hamdan sontak membulatkan matanya. Merasa terkejut sekaligus bingung dengan permintaan Joe, apalagi dengan melihat wajahnya yang tampak begitu gelisah. "Dan terus penjelasan apa yang kamu maksud, Jon?"


"Aku bawa Syifa pergi karena sengaja, supaya pas Robert bangun ... dia nggak minta nennen sama Syifa. Aku nggak mau, Bi, aku nggak ikhlas. Apalagi Robert 'kan udah bukan bayi lagi." Joe menjelaskan dengan napas yang tersendat-sendat, disertai jantung yang berdegup kencang.


Dia takut sekali, jika sebelum dirinya dan Syifa pergi—Robert sudah keburu bangun dan meminta hal yang dia ucapkan semalam.


Saat ini, Syifa sudah dimasukkan ke dalam mobilnya dalam keadaan masih tidur.


Rencana Joe sekarang, sesudah meminta bantuan kepada Abi Hamdan—dia akan langsung tancap gas untuk pergi. Karena menurutnya, cuma Abi Hamdan sekarang yang bisa menolong.


"Nennen?!" Kata itu membuat otak Abi Hamdan berpikir. Sebab memang masih tak mengerti dengan ucapan menantunya. "Nennen gimana, sih, Jon, maksudnya?"


"Minta nyusu, Bi, masa Abi nggak ngerti?" Joe terlihat mendengkus.


"Lho, tapi ngapain Robert tiba-tiba kepengen nyusu sama Syifa?" tanyanya heran dan merasa tak masuk akal. "Dia 'kan udah gede, dan lagian Syifa juga belum bisa nyusuin, Jon."

__ADS_1


...Ya itu sih kesalahan Bapaknya sendiri, Bi 🤣 suruh siapa nyusu depan anak. Udah tau anaknya celamitan 😆...


__ADS_2