
Disebuah ruangan yang berada di kantor polisi, sudah ada Abi Hamdan dan Papi Paul yang duduk bersebelahan dan berhadapan dengan dua orang perwira polisi yang juga sama-sama duduk.
Di samping mereka juga ada Joe, Ustad Yunus dan Pak RT, sedangkan Mami Yeri menunggu diluar bersama Umi Maryam.
Saat Joe hendak membawa kedua pria itu ke dalam mobilnya, Umi Maryam langsung menyusul dan minta ikut. Tadinya saat perkelahian itu terjadi sampai orang-orang berkerumun—dia ada di kamar, sedang tidur. Dan baru tadi terbangun karena di rumahnya makin berisik.
"Jadi siapa diantara kalian yang ingin masuk penjara?" tanya salah satu orang polisi sambil menatap dua pria botak di depannya, seusai tadi mendengar beberapa keterangan dari Joe, Ustad Yunus dan Pak RT.
"Aku nggak mau, Pak!"
Papi Paul dan Abi Hamdan menjawab secara serentak dan gelengan kepala.
"Kalau tidak mau, jadi berdamailah. Akui kesalahan dan saling meminta maaf," saran Pak Polisi.
"Saat di rumah ... aku sudah menyampaikan pada Pak Paul, kalau aku mau berdamai, Pak," ucap Abi Hamdan.
"Lalu?"
"Dianya nggak mau." Abi Hamdan menatap sinis besannya.
"Ya Bapak pikir saja. Masa aku disuruh minta maaf?" Papi Paul membuka suara.
"Jadi Bapak pikir ... Bapak nggak salah, gitu?" tanya Pak Polisi dan Papi Paul menganggukkan kepalanya.
"Ustad Hamdan ...," panggil Ustad Yunus pelan, tapi mampu didengar semua orang dan membuat pria yang dia panggil itu menoleh. "Lebih baik ... Ustad saja yang duluan minta maaf. Karena dengan meminta maaf kita nggak akan kehilangan harga diri, Tad. Malah kita akan mulia dimata Allah."
Sebenarnya, tak perlu diberikan wejangan seperti itu Abi Hamdan pun sudah tahu. Hanya saja karena keegoisannya, semua hal yang dia tahu seolah tertutup.
__ADS_1
"Benar itu, Tad." Pak RT menimpali. "Saya juga berpikir kalau disini yang berhak meminta maaf duluan adalah Ustad. Karena dudu permasalahannya terletak saat Ustad yang berani menggunduli Pak Joe. Saya paham kok ... Maksud Ustad melakukan itu karena bentuk hukuman supaya jera. Tapi seharusnya, Ustad juga ingat ... kalau Pak Joe masih punya orang tua. Minimal meminta izin dulu, bermusyawarah dengan Pak Paul, enaknya Pak Joe dihukum apa biar sama-sama sepakat. Begitu, Tad."
Abi Hamdan langsung termangu, mendengar dua orang itu berbicara. Tapi memang semua yang dikatakan mereka memang ada benarnya.
"Aku tau, apa yang kalian lakukan karena bentuk rasa sayangnya kepadaku. Tapi ... menurutku, nggak perlu dengan cara kekerasan, Bi, Pi. Apalagi dengan balas dendam kayak gitu." Joe ikut menasehatinya. Masih berusaha untuk sabar. "Abi dan Papi juga bukan anak kecil lagi. Bahkan sudah bisa dibilang tua."
'Apa iya, aku yang salah disini? Dan aku harus minta maaf duluan?' gumam Abi Hamdan yang terlihat sedang berpikir.
"Ya sudah ... Pak Hamdan, aku minta maaf." Papi Paul tiba-tiba berucap demikian. Tapi bukan karena ingin mengakui kesalahannya, melainkan ingin cepat pulang dari kantor polisi.
Selain karena kebelet kencing, jujur saja kalau tangan dan kakinya itu sudah kesemutan lantaran terlalu lama diikat. Jangan lupakan dengan bokong dan pinggangnya juga, yang terasa sakit sampai sekarang.
"Nah ... Pak Paul sudah mengakui kesalahannya lebih dulu." Pak Polisi terlihat senang mendengarnya. Lantas dia menatap kepada Abi Hamdan. "Bagaimana dengan Bapak sendiri?"
"Aku juga meminta maaf Pak Paul," ucap Abi Hamdan seraya menatap besannya. Bedanya di sini dia terlihat tulus, karena sudah tersentuh pada nasihat-nasihat dari tiga pria tadi. "Gara-gara aku, Jojon—eh, maksudku Joe. Joe gundul. Bapak juga. Itu semua gara-gara aku."
"Baguslah. Aku jadi ada temannya berarti." Joe terkekeh.
Pak Polisi terlihat menghela napasnya dengan lega. "Sudah berdamai, ya, berarti? Jadi nggak ada yang perlu masuk penjara disini."
"Minta mereka sekalian untuk berjanji juga, Pak," saran Joe. "Takutnya sewaktu-waktu terulang. Jadi pihak polisi bisa langsung tangkap saja langsung dan jebloskan ke penjara."
"Baik, Pak."
Pak Polisi mengangguk patuh, kemudian menatap ke arah temannya yang baru saja membuka laptop. Dan pria itu terlihat mulai mengetik untuk membuat surat pernyataan tertulis.
"Dih ... Joe, nggak perlu pakai janji-janji segala. Lebay tau, nggak!" Papi Paul tampak tak setuju.
__ADS_1
"Udah nurut saja sih, Pi," jawab Joe yang tak ingin mendengar penolakan. "Karena dengan begitu, kalian nggak akan berantem lagi. Kan kita nggak tau, kedepannya bagaimana."
***
Keesokan harinya.
Seusai mandi dan memakai batik sekolah, Robert menuruni anak tangga untuk mencari seseorang yang ada di rumah. Sebab saat bangun tidur karena kebelet kencing sampai akhirnya mandi—dia sama sekali tak melihat ada orang yang masuk ke dalam kamar.
Robert juga baru ingat, jika semalam harusnya dia tidur bersama Opa dan Omanya. Tapi saat terbangun dia justru berada kamar Daddynya.
"Wah ... ada apa ini? Kok ada trio gundul?"
Robert tampak keheranan dengan langkah kaki yang terhenti di ruang makan. Sebab dia melihat ada banyak orang di sana. Sedang duduk di kursinya masing-masing.
Namun, seperti ada kejanggalan. Lantaran ada tiga pria berkepala plontos di sana. Padahal Robert tentu ingat, jika hanya Joe seorang yang botak, tapi tidak dengan kedua Opanya.
"Apa kalian berdua Opa Paul dan Opa Hamdan?" tanya Robert memastikan, dengan kedua alis mata yang bertaut.
"Itu benar, Sayang," balas Joe yang berada ditengah-tengah antara Abi Hamdan dan Papi Paul.
Karena sudah ada teman yang senasib, Joe jadi lebih percaya diri sekarang untuk tampil botak apa adanya. Tanpa dengan ditutupi apa pun.
Bahkan hari ini dia sudah mau makan keluar kamar, dan sudah ada niat ke kantor dengan penampilan seperti itu.
"Kalian bertiga keren!!" Robert langsung bertepuk tangan dan berlari dengan cerianya menuju meja makan. Tapi dia memilih untuk memeluk tubuh Joe, karena baginya—dari ketiga pria botak di sana yang lebih menawan adalah Daddynya sendiri. "Kok bisa, sih, Dad ... Opa Paul dan Opa Hamdan ikut digundul? Robert 'kan jadi iri ... jadi kepengen digundul juga."
...Kamu nggak perlu ikutan kali, Rob🤣...
__ADS_1