Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
138. Roti bakar


__ADS_3

'Aku tau kok, sebenarnya ... kalau memang kamu juga udah mencintaiku. Tapi ... rasanya aku juga ingin mendengarnya secara langsung, Yang. Apakah aku salah?' batin Joe dengan sendu.


Beberapa menit kemudian, Joe pun akhirnya mulai memejamkan matanya. Sebab Syifa sama sekali belum ada reaksi. Padahal, Joe sangat berharap sekali perempuan itu dapat mengutarakan isi hatinya tanpa malu.


Namun sontak, sebuah pelukan tiba-tiba mendarat dari belakang. Yang mana membuat mata Joe kembali terbuka dan mengerjap beberapa kali.


'Apa Syifa memelukku?' Jantung Joe langsung berdegup kencang. Seulas senyum dia ukir pada sudut bibirnya. 'Apa sebentar lagi Syifa akan mengatakan; "Iya, aku juga mencintai Aa?" batinnya penuh harap.


Joe membeku diposisinya, dengan masih mengerjap-ngerjapkan matanya. Masih menunggu respon dari Syifa.


Tetapi nyatanya, dimenit selanjutnya sama sekali dia tak mendapatkan respon. Malah—Joe mendengar suara dengkuran halus. Juga suara napas yang menerpa telinga kanannya.


Dia pun lantas berbalik badan, menghadap ke arah Syifa. Rasa kekecewaan pun seketika tergambar jelas di wajahnya, sebab mendapati istrinya sudah memejamkan mata.


Dan bisa dipastikan, jika dia sudah terlelap di alam mimpi.


"Ih kamu mah, Yang, padahal aku udah bilang ... jangan dulu tidur sebelum bilang kalau kamu itu cinta sama aku. Tapi kamu malah udah tidur. Tega ...," keluhnya dengan sedih. Tapi Joe langsung memeluk tubuh istrinya, lalu menciumi keningnya. "Padahal, ngapain, sih, pakai acara malu segala? Kan bilang cinta juga sama suami sendiri. Kecuali suami orang," tambahnya sambil mendengkus.


*


*


*


Keesokan harinya.


"Daddy ... hari ini kita otewe pulang ke Indonesia, kan? Robert udah kangen banget sama Opa Hamdan dan Oma Maryam ...," ucap Robert yang duduk di atas kasur sambil menyisir rambutnya, sehabis mandi dan sudah berpakaian rapih.


Dengan kemeja lengan pendek berwarna hitam putih dan celana jeans panjang berwarna denim.


Sedangkan Joe, dia juga sudah mandi dan memakai pakaian. Dan saat ini dia sibuk mencari dasi pada laci lemarinya, untuk mencocokkan warna dengan stelan jas yang dia pakai.


"Kenapa buru-buru pulang? Padahal Daddy ada rencana hari ini mau mengajakmu dan Mommy ke pantai."


"Nggak mau ah, Dad," tolak Robert. Sebenarnya mau saja, main ke pantai dan menghabiskan waktu bertiga lagi. Hanya saja—Robert khawatir jika nantinya Yumna datang berkunjung. Dia tak mau, kalau Joe dan Yumna sering bertemu. Takut nantinya membuat Syifa sakit hati. "Main ke pantainya pas kita sampai Indonesia saja, Dad. Lagian ... pantainya juga sama, kan?"


"Tapi 'kan suasananya yang beda."


"Nggak mau. Robert maunya pulang," pinta Robert yang terlihat kekeh. "Kapan-kapan kita juga ke Korea lagi, kan, sama Mommy... jadi selanjutnya saja kita main ke pantai di Koreanya, Dad. Lagian Robert juga udah lama nggak masuk sekolah, takutnya ketinggalan pelajaran."

__ADS_1


"Oh iya, ya sudah kalau begitu," jawab Joe nurut.


Ceklek~


Pintu kamar itu dibuka, dan masuklah Syifa dengan gamis berwarna merah bata dan kerudung hitam. Dia juga sudah mandi, bahkan lebih dulu dari kedua laki-laki berbeda generasi itu.


"Kamu udah mandi, Nak?" tanya Syifa yang mendekat ke arah anaknya, kemudian tersenyum dan mengusap kedua pipinya.


"Udah." Robert mengangguk. "Mommy dari mana? Kok pas Robert selesai mandi udah nggak ada?"


"Mommy ke dapur dulu tadi. Buatin susu dan kopi untukmu dan Daddy. Mommy juga sempat buat roti bakar juga, untuk kita sarapan. Kamu doyan, nggak?"


"Doyan!" seru Robert yang terlihat sumringah. Dia pun langsung turun dari kasur dan memeluk tubuh Syifa. "Pasti enak, roti bakar buatan Mommy. Robert jadi nggak sabar ingin mencicipinya."


"Biasa aja, Nak, rasanya. Orang roti bakar biasa. Mommy nggak bisa masak."


Sejujurnya Syifa ada niat membuat bubur abon, hanya saja tak tahu resep kesukaan Joe dan Robert. Ingin bertanya kepada Mami Yeri, tapi tidak enak sebab belum keluar kamar.


Sedangkan ingin bertanya kepada Bibi pembantu, wanita itu juga tak ada di dapur tadi. Jadi Syifa berkutat sendirian saja.


"Mau biasa pun akan terlihat spesial, kalau Mommy yang buat," balas Robert memuji, dia pun menarik tangan Syifa. Kemudian mengajaknya melangkah bersama.


"Eh ... Aa cari apa?" Syifa menghentikan langkahnya, berikut dengan langkah kaki Robert. Sebab dia melihat Joe masih sibuk dengan laci lemarinya. "A ...," panggil Syifa sekali lagi, karena belum ada sahutan. Dia juga melangkah maju mendekati Joe bersama anak sambungnya.


"Sini, biar aku bantu pakaikan, A," tawar Syifa yang langsung meraih dasi. Tapi Joe segera menepisnya dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak usah, Yang, bisa sendiri aku," tolak Joe yang terdengar datar. Dia pun menghadap ke samping kanannya, lantas cepat-cepat memakai dasi.


'Tumben Aa nolak?' batin Syifa yang terlihat heran dengan sikap Joe.


"Udah, ayo kita sarapan," ajak Joe yang sudah terlihat rapih. Dia menatap ke arah cermin dahulu untuk melihat wajah tampannya, kemudian melangkah lebih dulu keluar dari kamar.


'Lho, kok tumben?' Syifa kembali dibuat heran. Sebab biasanya—ke mana pun jika dirinya berjalan bersama-sama, pria itu pasti selalu merangkul bahunya dengan mesra. Tapi berbeda dengan sekarang.


Ada apakah dengan Joe?


'Aneh ... Kenapa dengan Aa? Apa dia lupa, merangkul bahuku? Atau memang sengaja?' batinnya penuh tanya.


Tibanya di ruang makan, Syifa pun langsung menaruh satu persatu roti bakar ke atas piringnya, piring Robert dan yang terakhir adalah Joe. Dia juga membukakan penutup selai nanas, kacang, strawberry, blueberry dan coklat.

__ADS_1


Joe langsung mengambil selai nanas, kemudian mengolesi rotinya sendiri. Sedangkan Syifa mengambil roti milik Robert, berniat ingin mengolesinya.


"Kamu pengen selai apa, Nak?" tanya Syifa.


"Strawberry, Mom," jawab Robert sambil unjuk gigi. Terlihat sekali, jika suasana hati bocah itu sangatlah bagus pagi ini.


"Oke, Sayang," jawab Syifa dan langsung mengolesi roti.


"Udah sarapan aja kalian, ya? Kok pagi bener? Ini 'kan baru jam 5?" Mami Yeri tiba di ruang makan dengan masih memakai baju tidur. Dia tampak heran, melihat menantu, cucu serta anaknya yang hendak memulai sarapan.


Baginya, jam 5 adalah waktu yang terlalu pagi untuk sarapan. Sebab biasanya, Mami Yeri selalu sarapan dijam 6. Paling telat jam 8.


"Iya, Mi," sahut Syifa sambil menatap Mami Yeri. "Pagi, Mi. Mami kalau mau ikut sarapan ayok ... aku bikin roti bakarnya kebetulan agak banyak," tambahnya menawarkan dengan ramah.


"Oh ... jadi roti bakarnya kamu yang buat?" Mami Yeri menatap tak berselera pada 7 potong roti di atas piring besar di atas meja. Mengapa bisa dikatakan tidak berselera, karena dari segi warnanya yang agak hitam, seperti gosong dan itulah penyebabnya.


"Kelihatan banget kamu nggak bisa masak, ya, Fa. Dan masa kamu ngasih sarapan roti gosong untuk anak dan cucu Mami? Mana bergizi!" cibir Mami Yeri yang langsung mengambil piring beberapa roti bakar, juga mengambil yang sudah ada di tangan Joe. Padahal terlihat anaknya itu hendak mengigitnya, tapi akhirnya tidak jadi karena keburu direbut. "Kalian nggak boleh makan roti bakar ini, biar Bibi saja yang buatkan sarapannya. Ini dibuang saja," tambahnya kemudian berlalu menuju dapur.


"Jangan!" Robert dan Joe menyeru secara bersamaan. Gegas, Joe berdiri dan mengejar Mami Yeri. Sebelum benar-benar roti bakar itu dibuang. Sebab dirinya sempat melirik ke arah Syifa, dan tampak rona kesedihan tergambar jelas di wajahnya. "Mi ... jangan lakukan!" cegah Joe dengan sigap mengambil piring di tangan Mami Yeri.


"Ngapain kamu makan roti gosong? Apa nggak pahit rasanya? Itu juga nggak baik untuk kesehatan, Joe!" omel Mami Yeri yang tampak marah. Dia memang tipe orang yang kritis kalau tentang makanan.


"Namanya roti bakar ya memang begini, Mi. Ini itu nggak gosong," jawab Joe membela. Dia pun lantas berbalik badan, kemudian melangkah. Tapi kembali, piring itu direbut oleh Mami Yeri.


"Kamu buta kayaknya, ya? Roti hitam begini masih dibilang nggak gosong? Apakah selama ini apa yang kamu dan Robert makan selalu gosong? Syifa memasak makanan yang ...." Omelan Mami Yeri seketika terhenti, kala mendengar suara bel berbunyi.


Ting, tong!


Ting, tong!


Segera, Mami Yeri pun berlari menuju pintu utama rumahnya dengan masih membawa piring berisikan roti bakar.


Joe juga berlari menyusul, sebab ingin mengambil roti di tangannya.


Ceklek~


Pintu utama rumah itu pun perlahan dibuka oleh Mami Yeri, dan sontak dia berbinar ketika melihat ternyata Yumna lah yang datang.


"Eh Yumna, kok kamu pagi-pagi ke sini? Mau apa?" tanya Mami Yeri seraya tersenyum. Dia juga langsung mendekat ke arah perempuan itu dan bercipika-cipiki.

__ADS_1


"Pagi Kak Joe, Tante Yumna," sapa Yumna yang menatap Joe sambil mengedipkan matanya dengan genit. "Aku kebetulan buat roti bakar banyak. Sengaja memang karena untuk diantar ke sini dan sekaligus ikut sarapan bareng. Kalian pasti belum sarapan, kan?" tambahnya kemudian sambil menarik turunkan rantang plastik yang memang sejak tadi dia pegang.


...Saingan datang, mana sama-sama buat roti bakar lagi 🤣🤣...


__ADS_2