
Seperti apa yang dokter kemarin sampaikan, jika Syifa harus melakukan tes kehamilan melalui tespek dipagi hari.
Dan sekarang, Syifa melakukannya pada jam 4 pagi.
Namun, saat baru saja dirinya membuka celana berniat akan buang air kecil, tiba-tiba Syifa dikejutkan oleh sebuah darah yang menempel pada celaana dalamnya.
Seketika saja, rasa sedih di dalam hatinya menyeruak mengisi rongga dada, berikut dengan bola matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Apa jangan-jangan ini darah haid? Yang berarti aku memang benar-benar nggak hamil?"
*
*
"Yang ... kamu kenapa? Pagi-pagi kok udah sedih aja mukanya?"
Joe baru saja terbangun dari tidur, tapi dia tampak heran melihat wajah Syifa yang lagi-lagi muram dan sedih. Bahkan sejak kemarin, sepulang dari periksa kandungan.
"Aku tadinya 'kan mau pakai tespek, A ... tapi sayangnya nggak jadi." Syifa merengut lesu, lalu duduk di atas kasur di samping Joe.
"Kenapa nggak jadi?" tanya Joe bingung. Tangannya perlahan merangkul Syifa "Apa alatnya rusak? Tapi aku bukannya beli banyak, ya?"
Joe memang sudah membeli beberapa tipe tespek dengan jumlah banyak. Tak tanggung-tanggung, karena supaya mendapatkan hasil yang akurat.
"Bukan alatnya yang rusak. Tapi akunya yang datang bulan, A... hiks ...." Syifa tiba-tiba menangis dan memeluk tubuh suaminya.
"Ya udah nggak apa-apa, Yang." Joe berucap dengan lembut dan mencoba menenangkan. "Lagian kita juga menikah baru 3 bulan, Yang. Masih baru. Nanti kalau udah waktunya, pasti Allah akan ngasih kok."
"Kalau udah selesai datang bulan ... aku ingin tes kesuburan ya, A. Terus kita program hamil. Aa mau, kan?"
__ADS_1
"Tentu mau dong, Sayang. Masa nggak mau?" Joe mengusap perut Syifa, lalu mengecup bibirnya. "Kemarin kita kayaknya nggak bercinta ya, Yang? Bener nggak, sih?"
Syifa mengangguk pelan. "Iya. Kenapa memangnya, A?"
"Kita pindah ke kamar sebelah, yuk, terus bercinta," ajak Joe pelan sambil melirik ke arah Robert yang masih terlelap.
"Aa ini gimana, sih?" Syifa mendengkus kesal mendengar ajakan dari suaminya. "Bukannya Aa tadi dengar sendiri, ya ... kalau aku itu lagi datang bulan? Ya berarti kita nggak bisa bercinta lah, A."
"Oh iya juga, ya? Maaf ... aku lupa, Yang." Joe terkekeh, kemudian mengecup bibir Syifa lagi. "Habis kamunya wangi banget, jadi tongkatku bangun, Yang." Joe menarik tangan Syifa untuk menyentuh celananya yang tampak mengembung.
Dan saat tersentuh tangan, terasa begitu keras seperti kayu.
"Eemm ... bagaimana kalau ini saja, Yang?" Tangan nakal Joe kini berpindah pada buah dada Syifa, kemudian meremmasnya lembut dan memilin puncaknya. "Tapi kita pindah dulu ke kamar tamu."
"Mau ngapain memangnya?"
"Kalau nennen yang ada Aa jadi kepengen. Kan bahaya, sedangkan aku lagi datang bulan, A."
"Itu gampang, Yang." Joe pun turun dari kasur, kemudian menarik tangan Syifa hingga membuat tubuh perempuan itu ikut berdiri bersamanya. "Kan ada tanganmu. Kamu bisa kocok dia, atau diemut juga boleh. Jangan sungkan-sungkan."
"Ih Aa messum ... masih juga pagi!" Syifa menggerutu, tapi dia terlihat menurut saat Joe membawanya keluar dari kamar untuk pindah ke kamar sebelah.
"Mesuum-mesuum juga kamu suka, kan? Dan lagian mumpung belum subuh, Yang. Hitung-hitung nunggu dan lumayan juga dapat energi dulu, biar makin semangat hari ini."
***
Di sekolah SD.
Juna, Atta, Baim dan Leon tengah melangkah bersama menuju kelas.
__ADS_1
Namun, langkah kaki mereka seketika terhenti lantaran merasakan silau dari cahaya matahari yang memantul pada sebuah kepala anak kecil sebaya mereka. Yang berada di halaman sekolah.
Keempat bocah itu sampai memicingkan matanya sambil mengerjap beberapa kali.
"Anak dari kelas mana tuh? Licin amat kepalanya?" tanya Atta terheran-heran. Apalagi bocah yang dia maksud itu kini melambaikan tangan ke arahnya.
"Iya, sampai silau begini mata kita." Baim mengucek kedua matanya.
"Eh ... tapi dia sama Bu Syifa, ya? Itu Bu Syifa 'kan?"
Pertanyaan Leon bertepatan dengan Syifa yang baru saja turun dari mobil, kemudian mengenggam tangan bocah berkepala botak itu dan berjalan ke arah mereka.
"Iya, Bu Syifa itu." Baim menyahuti.
"Kayaknya dia anak baru deh," tebak Juna sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi dilihat dari postur tubuhnya ... sepertinya kelas satu."
"Sok tau kamu. Bisa aja dia kelas dua, Jun," sahut Atta tak percaya.
"Ih nggak, Ta." Juna menggeleng dengan yakin. "Orang masih bau kencur gitu kelihatannya. Pasti kelas satu."
"Kalau begitu kita ledekin aja, pas dia lewat. Gimana?" saran Atta yang mendapatkan sebuah ide jahil.
"Ledekin gimana, Ta?" tanya Leon. Dia tampaknya tertarik.
"Eh ... lampu neon lewat. Atau ... Botak! Botak! Gituuu ... jangan lupa sambil tepok tangan juga, biar seru!"
"Oke! Oke!" Baim mengangguk dan terlihat setuju.
...Jangan diledekin, Cil, yang botak itu teman kalian, lho 🤦🏻♀️...
__ADS_1