
Di sekolah, tepatnya di ruangan guru. Seorang guru wanita menghampiri guru wanita yang lain, sembari memperlihatkan ponselnya.
"Bu ... udah lihat belum video viral yang ada di f*cebook?" tanyanya.
"Video apaan, Bu?"
"Oh ... yang video mesum ditenda itu, ya?" Salah satu guru wanita yang lain ikut nimbrung dan menghampiri.
Syifa yang kebetulan ada di sana tengah duduk dikursi pada mejanya ikut mendengar apa yang tiga guru itu katakan. Dan tentunya dia bertanya-tanya, dengan sedikit perasaan cemas. 'Video apa yang viral? Dan apa katanya? Ditenda? Mesum?' batin Syifa.
"Ibu tau juga, video yang viral?"
"Tau. Malah saya udah nonton fullnya. Ada disitus haram," jawabnya sedikit berbisik, namun masih terdengar jelas oleh Syifa.
"Coba diputar. Saya mau lihat dong ... gimana videonya? Lagi ngapain memang ditenda? Kemah?"
"Bukan kemah, tapi bercinta."
"Katanya sih gaya ubur-ubur."
Syifa sontak membulatkan mata. "Ber-cinta? Ga-ya ubur-ubur?!" Refleks dia juga menutup mulutnya sendiri sebab tak sengaja menganga lantaran syok. 'Fiks sih, itu video aku dan Aa. Aduuuhhh ... bagaimana ini? Mau taruh dimana mukaku? Aku malu!'
"Bu Syifa mau ke mana?"
Syifa tersentak, ketika salah satu guru itu menegurnya. Saat dimana dia baru saja berdiri. Niat Syifa adalah ingin ke toilet, demi menghindari apa yang mereka bahas. Juga malu rasanya, kalau sampai mereka tahu yang berada di dalam video itu adalah dirinya dan sang suami.
Selain itu, salah satu guru wanita itu adalah orang yang suka bergosip. Kalau ada gosip hangat apalagi tentang skandal guru disekolah—pasti dia yang akan menyebarkannya hingga seluruh guru SD sampai guru TK pun tahu.
Sebelas dua belas dengan Gisel—guru TK. Dan merupakan CS-nya juga dalam hal menghibah.
"Ibu mau ikut lihat nggak, video yang viral itu?" tawarnya kepada Syifa yang baru saja menoleh kepadanya.
"Enggak, Bu. Terima kasih," tolak Syifa sambil tersenyum, lalu menyentuh perutnya. "Perutku mules, Bu. Aku permisi ke toilet dulu, ya?"
Tanpa menunggu jawaban dari ketiganya, Syifa sudah lebih dulu menghilang dari ruangan guru. Kemudian berpindah tempat untuk duduk di kloset duduk pada salah satu toilet yang ada di sekolah.
"Mana yang diucapkan Aa? Katanya semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya apa? Video itu justru sudah disebar dan para guru pun ada sebagian yang sudah melihatnya!" Monolog Syifa dengan dada yang bergemuruh. Rasanya dia jadi makin sebal saja kepada Joe, dan ingin memperpanjang untuk mogok bicara dengannya.
"Kalau sampai Pak Bambang juga tau ... bagaimana dong? Bisa-bisa aku ditegur sekaligus dipecat."
"Bagaimana juga pandangan anak-anak didikku? Para orang tuanya? Pasti mereka kecewa, dan menganggapku guru mesum dan nggak punya akhlak!" Nada suara Syifa makin terdengar nyaring, diikuti dengan emosi yang sudah berada diubun-ubun.
Tapi tak terasa, air matanya justru bergulir membasahi kedua pipinya. Dia menangis lantaran hatinya terasa berkecamuk. Antara sedih, kesal, marah dan kecewa telah menjadi satu.
Satu kalimat yang selalu dia ingat adalah 'kecewa' kecewa karena dirinya menyetujui permintaan konyol suaminya yang justru membuat dirinya hilang harga diri.
"Ya Allah ... kok jadi begini? Maafin suami hamba ya, Allah. Tapi hamba sangat malu sekarang ... jadi hamba musti gimana?" keluh Syifa sambil mengusap wajahnya, dan mulai berpikir untuk mencari solusi.
__ADS_1
Drrrttt ... Drrrttt ... Drrttt.
Tiba-tiba, ponsel Syifa yang berada di dalam kantong celana katunnya bergetar. Dirinya yang sempat melamun itu langsung tersentak, kemudian bergegas mengambil ponselnya.
'Aa Suami' Nama yang tertera pada layar, yang berarti Joe lah yang menghubunginya.
"CK!" Bukannya menjawab, Syifa justru berdecak. "Ngapain Aa telepon? Males amat aku menjawabnya."
Syifa pun mengabaikan panggilan itu, hingga panggilan itu terhenti oleh sendirinya.
Namun, kedua kali Joe kembali meneleponnya. Dan kali ini Syifa langsung mematikannya.
Tak lama, ada panggilan masuk lain. Tapi itu nomor baru dan seperti sebuah nomor rumah. Karena penasaran, kali ini Syifa pun menjawabnya.
"Halo selamat siang, apa ini dengan Bu Syifa istrinya Pak Jonathan?" Suara perempuan asing terdengar dari seberang sana. Dan seketika membuat kening Syifa mengerenyit.
"Siang. Benar, Bu. Tapi maaf .... ini dengan siapa, ya?"
"Saya dari pihak Rumah Sakit Sejahtera, ingin memberitahukan kalau Pak Jonathan saat ini masuk UGD, Bu."
"APA? UGD?!" Syifa refleks berteriak dengan kedua mata membulat. Sungguh dia begitu terkejut sekali mendengar apa yang dikatakan perempuan di sana. "Yang benar, Bu? Tapi kenapa? Setauku suamiku sehat walafiat. Dia nggak mungkin masuk UGD."
Meskipun kaget, tapi Syifa belum percaya sepenuhnya. Tadi pagi Joe terlihat sehat dan sarapan dengan lahap, meskipun memang wajahnya terlihat kurang tidur.
"Kata laki-laki yang mengantarkannya ... beliau keracunan ketek, Bu."
"Saya bicara jujur apa adanya, Bu. Dan sebaiknya, Ibu langsung ke sini saja. Untuk bisa menemui suami Ibu."
"Iya, aku akan segera ke sana bersama anakku. Terima kasih atas informasinya, Bu."
"Sama-sama."
Seusai mematikan panggilan, Syifa gegas keluar dari toilet kemudian masuk kembali ke dalam ruang guru untuk mengambil tasnya. Setelah itu barulah mengajak Robert untuk pergi ke rumah sakit, dan kebetulan jam pelajaran sekolah pun sudah usai.
***
"Mom ... kok bisa Daddy keracunan ketek? Dan ketek siapa kira-kira yang beracun?" tanya Robert dengan polosnya. Saat ini keduanya sudah menaiki mobil taksi.
"Mommy juga kurang tau, Nak. Ketek siapa yang membuat Daddymu masuk UGD. Tapi kita lebih baik berdoa ... semoga semuanya baik-baik saja, ya?"
"Iya, Mom." Robert mengangguk, kemudian membuka kedua telapak tangannya dan mulai berdoa dalam hati. Setelah itu, dia mengusap wajahnya. "Duo Opa dan duo Oma perlu dikasih tau nggak, Mom? Apa sudah?"
"Nanti saja beritahukannya, setelah kita tau keadaan Daddy, Nak."
"Oke, Mom." Robert perlahan memeluk tubuh Syifa, lalu mengelus perut buncitnya.
*
__ADS_1
*
*
Tibanya di rumah sakit, tepat di depan ruang UGD—dia melihat ada seorang laki-laki berambut kribo yang duduk menunggu, dia adalah Haikal. Dan tak lama ada seorang Suster keluar dari ruangan tersebut.
"Sus ... apa suamiku yang bernama Jonathan masih diperiksa di dalam? Bagaimana kondisinya?"
"Oh ... yang keracunan itu, ya, Bu?"
"Iya." Syifa mengangguk, lalu menyentuh dadanya. "Aku istrinya, Sus. Namaku Syifa."
"Robert anaknya." Robert ikut menimpali
"Ibu dan Adek duduk saja dulu." Suster itu menunjuk beberapa deretan kursi kosong di depan, yang juga ada Haikal di sana. "Sebentar lagi Dokter akan keluar dan memberitahukannya."
"Iya, Sus." Syifa mengangguk, kemudian mengajak Robert untuk sama-sama duduk disalah satu kursi. Sedangkan suster itu sendiri sudah berlalu pergi dari sana.
"Namaku Haikal, Mbak, salam kenal," ucap Haikal seraya mengulurkan tangannya. Alasannya berada di sana adalah karena menemani Joe, dan atas perintah Sandi.
"Haikal?!" Syifa mengerutkan keningnya, menatap laki-laki di sampingnya yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan. Dia terlihat asing, wajar Syifa bingung dan tak tahu dengan alasannya mengajak kenalan.
"Iya, aku Haikal, Mbak." Melihat Syifa tak meraih tangannya yang sejak tadi terulur, jadilah Haikal menarik tangannya kembali sembari tersenyum canggung. "Aku diminta Pak Sandi untuk menemani Pak Joe di sini. Dan yang sempat telepon Mbak tadi itu aku, aku telepon dengan hape Pak Joe yang kebetulan terjatuh pas dia mau dimasukkan ke UGD."
Haikal pun lantas memberikan ponsel yang dia pegang kepada Syifa. Dan memang benar, ponsel itu adalah milik Joe.
"Apa hubunganmu dengan suamiku? Dan kenapa suamiku keracunan ketek? Ketek siapa? Apa ketekmu?" Syifa langsung mencecarnya dengan pertanyaan, tatapannya terlihat tak bersahabat.
"Aku bukan siapa-siapanya Pak Joe, Mbak." Haikal menggeleng. "Dia hanya minta tolong awalnya kepadaku, untuk memberitahukan alamat rumah Udin. Dan alasan Pak Joe keracunan ketek ... itu karena keteknya si Udin, bukan ketekku," tambahnya menjelaskan.
"Siapa Udin?"
"Teman sekelasku di kampus."
"Alasan suamiku meminta kamu memberitahu alamat Udin untuk apa? Dan apa hubungan antara Udin dan suamiku?"
Masih banyak rupanya, yang Syifa tidak tahu. Sampai-sampai Haikal sendiri bingung untuk menjawab pertanyaannya. Sebab dia sendiri tidak tahu menahu dengan masalah yang Joe alami.
"Kalau soal itu aku kurang tau, Mbak. Coba nanti Mbak tanya langsung saja ke Pak Sandi atau ke Pak Joenya." Ini jawaban yang paling aman menurutnya.
"Memang ...." Syifa pun lantas menatap kiri-kanan, mencari-cari keberadaan Sandi. Kemudian sorotan matanya terhenti kembali pada Haikal. "Pak Sandinya ke mana?"
"Pak Sandi ada di kantor polisi, Mbak,“ jawab Sandi.
Syifa sedikit membulatkan mata. "Kantor polisi?! Mau ngapain?"
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1