
"Tapi ya tergantung kamunya, siap apa nggaknya untuk cepat hamil. Karena saya nggak mau jadi suami yang egois, Nay. Apalagi yang mengandung dan melahirkan adalah istri, bukan suami. Jadi kalau masalah itu bisa kita rundingan bareng-bareng. Enaknya gimana." Bukan hanya orangnya saja yang sudah dewasa, tapi pemikirannya.
Papi Yohan yang ikut mendengarkan jadi tambah meleleh saja.
'Boy ... kenapa kamu sangat manis sekali. Om jadi tambah nggak rela kamu bersamanya,' batinnya.
"Terima kasih atas jawabannya, Bang. Abang pria yang sangat baik." Naya tersenyum manis sambil menghela napas.
"Sama-sama, Nay." Ustad Yunus mengangguk. "Ya sudah, ayok sekarang kita makan dulu. Nanti makanannya keburu dingin dan nggak enak."
"Iya, Bang." Naya mengangguk, lalu meraih segelas air untuk menenggaknya sedikit. 'Semoga nanti pas Bang Yunus ketemu Ayah sama Bunda ... mereka langsung setuju,' batinnya penuh harap.
***
Hari pun berganti.
Pagi-pagi Papi Paul dan Mami Yeri tiba di rumah Joe.
Sudah lama sekali rasanya, mereka tak bertemu anak, cucu dan menantunya. Dan alasan mereka datang ke sana adalah karena begitu rindu kepada Syifa. Sekalian juga ingin mengajaknya pergi jalan-jalan.
"Pak Paul, Bu Yeri!" seru satpam rumah yang berlari menghampiri mereka.
Keduanya yang hendak masuk ke dalam rumah langsung menghentikan langkahnya di depan pintu, lalu menoleh.
"Pak Joe, Bu Syifa dan Dek Robert lagi nggak ada di rumah, Pak ... Bu. Dari kemarin."
"Ke mana mereka?" tanya Mami Yeri.
"Kurang tau saya, Bu. Soalnya Pak Joe nggak ngasih tau."
__ADS_1
"Coba Papi telepon Joe," titah Mami Yeri, yang kebetulan melihat sang suami sudah merogoh kantong celananya sendiri.
"Iya, Mi." Papi Paul mengangguk, lalu mengetik nomor kontak Joe. Tapi sebelum dirinya melakukan panggilan, dia lebih dulu mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Papi Yohan. Alhasil mau tidak mau Papi Paul mengangkat sambungan telepon dari temannya dulu. "Yohan telepon, Mi. Papi angkat dulu telepon darinya, ya?"
"Iya." Mami Yeri mengangguk. "Tapi Mami masuk duluan, ya, haus soalnya, Pi. Kepengen minum es jeruk."
"Iya, Mi." Papi Paul mengangguk sembari menempelkan benda pipih itu di pipinya.
"Halo Botak!" seru Papi Yohan dari seberang sana.
"Berhenti memanggilku botak, Han!" bentak Papi Paul tidak senang. Memang temannya itu setiap kali ketemu selalu saja meledeknya, mentang-mentang rambut di kepalanya belum tumbuh banyak.
"Memang aslinya kamu botak, kan? Memang salah, ya ... aku ngomong?"
"Jadi kamu telepon aku cuma mau ngomong botak? Kalau begitu mending—"
"Jangan marah dulu dong!" sela Papi Yohan cepat. Padahal dia tahu temannya itu pemarah, tapi dia menang senang sekali untuk terus menggodanya. "Aku ada hal penting kok, mangkanya telepon kamu."
"Santai dong ... hehehe." Papi Yohan terkekeh. "Besok aku mau ngajak kamu servise senjata."
"Senjata?" Kening Papi Paul mengerenyit. "Kamu punya senjata apa memangnya? Pistol?"
"Senjata yang dibawah, Ul. Tapi kamu juga harus ikut servise. Temenin aku. Kita servise bareng-bareng biar sekalian mabar ML."
"Maksudmu senjata didalam celana?" Papi Paul refleks menyentuh miliknya sendiri.
"Iya."
"Maksudmu diservise itu apa? Apa dicukur bulunya? Jadi kamu mau ngajakin aku ke salon, gitu?" tebaknya dengan satu alis yang terangkat.
__ADS_1
"Bukan bulunya yang dicukur. Tapi ujungnya dipotong, biar nggak monyong."
"Maksudnya?!" Papi Paul masih tak mengerti, dia juga terlihat makin bingung.
"Maksudku disunat, Ul. Aku yakin kamu juga belum sunat. Sama seperti aku. Jadi ayok kita sunat bareng!" ajaknya yang terdengar antusias.
"Enggak!" tolak Papi Paul. "Ngapain sunat."
"Kok ngapain? Ya untuk memperindah bentuknya lah, Ul."
"Tapi disunat itu buat orang Islam, Han. Kita yang Kristen ngapain disunat segala? Buang-buang energi saja."
"Ih jangan salah. Disunat itu bukan cuma untuk orang Islam, tapi semua agama juga boleh, Ul. Soalnya untuk kesehatan juga, mencegah resiko infeksi saluran kencing dan manfaatnya bisa menekan risiko penyakit menular seksual seperti HIV," jelas Papi Yohan. Sengaja dia menguraikan apa yang dia tahu, supaya temannya itu mau ikut disunat dengannya.
"Kamu kira aku suka jajan sembarangan? Sampai terkena HIV segala? Senjataku juga sehat-sehat aja kok. Aku nggak mau ah, kalau kamu mau ... ya kamu aja sendiri yang sunat."
"Iiihhhh ... HIV itu bukan melulu tentang se*ks bebas tau, Ul! Kamu ini kurang ilmu!" cibir Papi Yohan. "Ayok dong sunat bareng. Kapan lagi coba kita dikasih uang jajan gratis."
"Maksudnya?!"
"Kalau kita sunat, kita dapat uang jajan gratis, Ul. Kan lumayan." Papi Yohan masih merayu.
"Tapi kita 'kan udah tua, ngapain dapat uang jajan segala? Lagian kita juga 'kan kerja. Jangan ngaco deh, Han!" Papi Paul terlihat tak percaya.
"Ih nggak percaya. Orang bener kok ... katanya nanti yang mau sunat dapat uang jajan gratis, Ul. Lagian sunatnya juga gratis. Ya itung-itung nyenengin istri jugalah, Ul. Kan kalau aset kita bagus ... dia juga yang seneng. Benar, kan?"
"Enggak perlu disunat asetku udah bagus dari lahir, Han."
"Orang monyong kok bagus. Ujungnya musti dipotong, dirapihin biar bagus lagi. Nanti pas kita wikwikk lagi ... pasti rasanya seperti diperjakain istri. Dan istri kita pasti tambah klepek-klepek entar, Ul." Papi Yohan masih belum menyerah.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^