
"Mengurungkan niat?" Papi Paul mengulang kata itu dan beberapa saat dia terdiam. Seperti tengah berpikir. Mami Yeri sendiri ikut terdiam juga, sebab menunggu jawaban dari suaminya.
"Gimana, Pi?" tanyanya setelah beberapa menit berlalu.
"Kita sudah sejauh ini, Mi, masa iya semaunya batal?" Papi Paul terdengar seperti dilema. Mami Yeri yakin, pria itu memang pastinya tidak setuju dengan usulannya. "Papi sudah keluar dana banyak. Dari mulai menyewa dua algojo dan pengacara. Mami juga sudah susah payah membujuk Joe sampai dia mau untuk menuruti permintaan kita. Tapi masa sudah dititik ini ... kita nyerah, sih?"
"Maksudnya, Papi ingin melanjutkan? Tapi bagaimana dengan Robert? Mami nggak mau ambil resiko kalau sampai dia jadi korban. Mami nggak tega, Pi, Mami nggak bisa!" Mami Yeri menggeleng cepat.
Mengingat wajah polos dan ceria dari sang cucu saat tengah memanjatkan do'a, rasanya membuat hati Mami Yeri lemah untuk bertindak. Dia takut. Benar-benar takut.
"Dicoba dulu saja, Mi. Seperti apa yang Mami lakukan kepada Joe. Rayu Robert seperti Mami merayu Joe," saran Papi Paul yang tampaknya belum ingin mundur.
"Kalau tetap dirayu dia nggak mau gimana, Pi? Mami nggak yakin soalnya."
"Ya mangkanya, dicoba saja dulu. Mami 'kan dari kemarin belum bilang apa-apa sama Robert," usul Papi Paul. "Dan kata Mami ... bukannya hari ini anaknya Bu Soora akan datang ke rumah, ya? Mau Mami sekalian dikenalkan sama Robert, kan?"
"Iya. Memang hari ini rencananya dia akan datang. Sekalian Mami ajak sarapan bareng, Pi."
"Ya udah, coba aja dulu dikenalkan. Siapa namanya? Papi lupa?"
"Yumna," jawab Mami Yeri.
Yumna ini adalah anak dari salah satu teman Mami Yeri, yang sama-sama orang Korea dan mempunyai suami orang Indonesia.
Jauh sebelum Joe mengenal Syifa, Mami Yeri sudah sempat ingin mengenalkan Yumna kepada Joe. Hanya saja karena anaknya selalu sibuk dengan pekerjaan dan selalu menghindar jika membahas perihal jodoh, jadilah Mami Yeri tidak pernah jadi untuk mengenalkan.
Tapi mungkin saja, sekarang adalah momen yang tepat. Meskipun hati Mami Yeri sendiri sekarang merasa ragu, lantaran mendengar do'a dari sang cucu.
"Ya sudah, dicoba dulu. Apa-apa juga dicoba, Mi. Yumna juga anaknya kelihatan baik dan sayang sama anak kecil, semoga saja cocok sama Robert," ujar Papi Paul dengan optimis. Dia pernah dua kali bertemu Yumna, dan kesan pertama saat bertemu cukup baik.
Ting, tong!
Ting, tong!
__ADS_1
Terdengar suara bel berbunyi.
"Amin. Mudah-mudahan deh, Pi. Ya sudah, ya, Mami tutup teleponnya. Itu ada bel, sepertinya dia sudah datang."
"Iya. Mami dan Robert hati-hati di sana, awasi Robert takut dia kenapa-kenapa. Nanti kabari Papi lagi, ya?"
"Iya, Pi," sahut Mami Yeri kemudian menutup panggilan.
*
*
Seusai mandi dan memakai baju ganti, Robert terlihat berjalan sambil berjingkrak-jingkrak dengan digandeng tangannya oleh Mami Yeri menuju lift. Mereka akan turun ke lantai bawah, hendak sarapan.
"Kamu kok kelihatan seneng banget sih, Rob? Apa kamu menyukai baju Koko yang Oma belikan?" tanya Mami Yeri yang ikut senang, melihat ekspresi ceria dari sang cucu. Bahkan sejak tadi, bocah itu terus menerus mengelus baju yang dia pakai saat ini.
Satu stel baju Koko dengan tangan pendek berwarna hijau toska.
Robert mengangguk semangat sambil nyengir kuda. "Seneng Oma, ini sangat bagus. Hanya saja kok nggak ada pecinya, ya?" Dia lalu menyentuh rambut kepalanya.
"Ada. Waktu itu Daddy beli sama peci-pecinya. Bahkan ada juga yang hadiahnya sajadah."
"Oh gitu. Ya sudah, nanti Oma belikan lagi dengan bonus peci atau sajadah, ya?"
"Iya." Robert mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk tubuh Mami Yeri. "Terima kasih, Oma!! Robert sayang Oma!"
"Sama-sama, Sayang. Oma juga sayang kamu." Mami Yeri tersenyum, lalu mengelus puncak rambut sang cucu.
"Kalau pakai Koko begini, Robert jadi inget sama Opa Hamdan deh. Kangen ngaji. Kapan dong, Oma ... Opa Paul datang ke Korea bersama Mommy Syifa, Opa Hamdan dan Oma Maryam?" rengek Robert dengan bibir yang mengerucut. "Dari kemarin kok Opa Paul belum ke sini juga? Dan kemarin katanya Oma mau telepon Opa?"
"Habis sarapan kita telepon, sekalian telepon Mommymu juga, ya?" bujuk Mami Yeri.
Ting~
__ADS_1
Mendengar pintu lift terbuka, segera Mami Yeri pun mengajak Robert untuk sama-sama keluar. Lantas melangkah bersama menuju ruang makan yang sudah ada perempuan yang menunggu, dan baru saja berdiri dari duduknya.
"Hai Robert! Salam kenal, kamu tampan sekali, Sayang," sapa Yumna dengan ramah dan seulas senyum di bibirnya.
Perempuan berusia 26 tahun itu mengulurkan tangannya, ketika posisi Robert sudah dekat dengannya.
Segera, Robert meraih tangan Yumna, lalu menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Memerhatikan, sebab menurutnya dia begitu asing dalam penglihatannya.
Wajah Yumna cantik dan agak Chinese. Mempunyai mata sipit, berkulit putih dan cukup tinggi jika dibandingkan dengan Syifa. Rambut pirang panjang sepunggung dengan poni depan. Tubuhnya pun bagus. Meski kurus—dada dan bokongnya terlihat padat berisi.
Dia juga memakai dress selutut kotak-kotak berwarna cream dan jaket bulu berwarna hitam.
"Salam kenal juga, tapi Tante siapa, ya?" tanya Robert lalu menarik tangannya dengan kening yang mengerenyit.
"Namanya Tante Yumna, Sayang." Yang menyahut Mami Yeri. Dia pun mengajak sang cucu untuk duduk di tengah-tengah, di antara dirinya dan Yumna yang baru saja duduk. "Dia anaknya teman Oma yang bernama Soora. Kamu pasti ingat Oma Soora, kan?"
"Yang orangnya suka pakai lipstik warna biru tua itu bukan, Oma?" tebak Robert mencoba mengingat-ingat.
"Iya." Mami Yeri mengangguk sambil tersenyum. Kemudian menuangkan susu putih pada mangkuk sereal milik Robert, dan Yumna langsung mengambil mangkuk itu.
"Kata Omamu, kamu suka makan disuapi, ya? Mau Tante suapi?" tawar Yumna yang sudah menyendokkan sereal, lalu mengarahkan ke bibir Robert.
"Nggak mau, Tante. Terima kasih," tolak Robert sambil menggelengkan kepalanya. Dia langsung mengambil mangkuk di tangan Yumna, lalu memberikan ke tangan Mami Yeri. "Robert maunya, Oma saja yang suapi."
"Oh begitu. Ya sudah, nggak apa-apa." Yumna tersenyum kecil, tapi raut wajahnya tampak kecewa. Segera dia pun memberikan sendok yang dia pegang ke tangan Mami Yeri, dan wanita itu segera menyuapi Robert.
"Apa enak rasanya, Sayang?" tanya Mami Yeri saat dimana Robert mengunyah dengan mata berbinar.
"Enak." Robert mengangguk cepat.
"Oh ya, Rob, ngomong-ngomong ...." Mami Yeri mengelus lembut pipi Robert, lalu menatap ke arah Yumna sambil tersenyum. "Tante Yumna ini sedang mencari suami lho, dan dia juga suka sama anak kecil. Bagaimana kalau misalkan dia jadi Mommy barumu?"
"Lho, Oma ini aneh." Robert menatap heran Mami Yeri, kemudian terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Ngapain jadi Mommy barunya Robert? Kan Robert sudah punya Mommy Syifa, Oma."
__ADS_1
"Kalau misalkan diganti, gimana? Menurut Oma ... Tante Yumna jauh lebih cocok jadi Mommymu, dibandingkan dengan Mommy Syifa. Dia juga sama seperti Daddymu, ada darah campuran Koreanya, Sayang," tawar Mami Yeri yang masih berusaha.
^^^Bersambung....^^^