Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
119. Robert nggak ada


__ADS_3

"Memang kenapa? Di Indonesia panas, Yum, Jakarta juga macet," tanya Mami Yeri.


"Iya sih panas, dan macet juga. Tapi kalau di Korea 'kan nggak ada seblak, Tan," jawab Yumna.


"Seblak?" Mami Yeri menatap dengan wajah bingung. "Memang seblak itu apaan?"


"Makanan, Tan. Memangnya Tante belum pernah nyoba, ya? Bukannya Tante udah lama tinggal di Indonesia, kan?"


"Tante malah baru denger. Maklumlah, Yum, meskipun lama di Indonesia ... Tante 'kan nggak netap, sering bolak-balik ke Korea."


"Ya sudah, nanti kalau kita sama-sama ada di Indonesia ... aku ajak Tante untuk beli seblak langgananku, ya? Dijamin enak deh pokoknya."


"Boleh deh." Mami Yeri mengangguk setuju. "Oh ya, Yum. Ini kamu nggak apa-apa, di rumah sakit terus? Ya bukan maksud Tante ngusir ... Tante malah seneng kamu temani Tante di sini. Tapi takutnya kamu ada kegiatan lain, jadi secara nggak langsung Tante kayak ngerepotin kamu."


"Kebetulan aku sengaja nggak syuting, Tan. Ngambil libur karena memang awalnya kemarin kita 'kan sudah ada janji untuk ketemu. Ya tadinya ... aku mau sekalian ajak Robert jalan-jalan sama Tante. Eh nggak tau juga akan jadinya seperti ini."


"Duh ... Tante jadi makin merasa nggak salah deh sama kamu, Yum. Maafin Tante sekali lagi, ya?" Mami Yeri perlahan menyentuh puncak rambut Yumna, kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Tante nggak perlu minta maaf mulu. Ini 'kan bukan salah Tante. Nggak apa-apa kok."


'Ih sok baik banget Tante Yumna. Ngeselin!' batin Robert kesal. Refleks kedua tangannya itu mengepal kuat. "Mommy ... Robert kangen sama Mommy," gumamnya yang kembali berakting dengan mata yang kembali dia pejamkan.


"Iya, Sayang." Mami Yeri menyahut, dan segera berdiri untuk menghampiri cucunya. "Mommy Syifa akan segera datang, tunggu sebentar lagi, ya, Sayang."


*


*


*


*


Tepat jam 2 dini hari, akhirnya Papi Paul, Joe, Syifa dan Sandi tiba di rumah sakit Korea sesuai dengan informasi yang Mami Yeri kirim.


Mereka melangkah masuk bersama, tapi mendadak Joe menghentikan langkahnya sebab merasakan perutnya bergejolak. Dan tak lama berselang dia pun langsung muntah-muntah.


"Huueekk! Huueekk!"

__ADS_1


Melihat itu, Syifa, Sandi dan Papi Paul sontak terkejut dengan kedua mata yang terbelalak. Ketiga pun lantas ikut menghentikan langkahnya dan menatap kepada Joe.


"Astaghfirullah, Aa kenapa?" tanya Syifa dengan penuh khawatir, lalu menyentuh kedua pipi suaminya kanan kiri. Dan terasa panas.


Tanpa disuruh, Sandi langsung berlari menghampiri seorang cleaning servise, untuk memintanya membersihkan sisa muntahan yang tercecer di lantai. Sedangkan Papi Paul langsung merangkul bahu Joe.


"Kita ke dokter, ya, Joe, sekalian periksa," ucap Papi Paul yang cepat-cepat merogoh kantong celananya untuk mengambil sapu tangan, kemudian mengusap bibir anaknya.


"Enggak perlu, Pi," tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya. "Kita langsung ke kamar Robert saja, aku nggak apa-apa."


"Tapi Aa tadi muntah-muntah, A," ucap Syifa.


"Ini kayaknya efek mabuk perjalanan aja, Yang. Tapi aku nggak apa-apa kok." Joe perlahan menyentuh perutnya yang terasa panas dan juga sedikit nyeri sampai ulu hati.


Namun meski begitu, dia yakin kalau itu tidak masalah. Yang terpenting sekarang adalah keadaan Robert yang belum dia ketahui.


"Sandi, kamu antarkan Syifa ke kamarnya Robert," perintah Papi Paul kepada Sandi yang baru saja kembali dengan seorang pria berseragam yang membawa alat pellan. "Biar aku antar Joe periksa dulu, kayaknya dia nggak enak badan," tambahnya lalu menyentuh kening Joe.


"Aku seriusan nggak apa-apa, Pi. Aku ingin langsung ketemu Robert saja," tolak Joe saat tubuhnya hendak ditarik oleh Papi Paul.


Bukannya berhenti, pria itu justru menariknya makin kencang hingga lengan Joe yang semula merangkul bahu Syifa kini terlepas. Langkah kakinya pun terasa terseret-seret meninggalkan Syifa yang berdiri mematung menatapnya berlalu.


"Kan aku udah bilang, aku hanya mabuk perjalanan, Pi."


"Mana ada kamu mabuk perjalanan? Nggak usah ngaco deh!" Alasan dari Joe tentu tak dapat Papi Paul terima, sebab memang pria itu tidak pernah ada pengalaman mabuk perjalanan.


"Bisa saja ini efek aku dari kemarin pulang pergi dari Indonesia ke Korea, Pi. Nggak ada istirahatnya sama sekali."


Papi Paul sama sekali tak memerdulikan apa yang anaknya katakan, langsung saja dia bawa Joe secara paksa menuju ruangan Dokter umum untuk diperiksa.


Sudah cukup Robert yang pingsan dan belum sadarkan diri selama 2 jam, jangan sampai Joe juga mengalami hal yang sama.


*


Ceklek~


Sandi dengan perlahan membuka pintu kamar inap Robert, bersama Syifa yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Syifa dan dengan perlahan dia melangkah masuk.


Namun, keningnya seketika mengernyit kala dirinya tak melihat Robert yang berada di atas tempat tidur. Hanya ada Mami Yeri saja dan dia juga tengah tertidur pulas.


Dan di bawah tempat tidur pasien, ada sebuah kasur busa yang cukup tinggi dan besar. Tapi ada seorang perempuan asing yang tengah tertidur dengan berbalut selimut.


"Siapa dia? Dan di mana Robert?" gumam Syifa seraya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


Merasa tak enak jika membangunkan Mami Yeri, Syifa pun memutuskan menuju kamar mandi yang berada dipojok ruangan. Mungkin saja, anaknya itu berada di kamar mandi.


Ceklek~


Pintu itu perlahan Syifa buka, lalu melongok ke dalam. "Robert ...," panggilnya dengan suara lembut.


"Dek Robertnya nggak ada, Bu?" tanya Sandi yang ikut masuk ke dalam kamar sebab merasa penasaran, sedangkan Syifa sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksanya secara menyeluruh.


"Iya, Pak, Robert nggak ada," jawab Syifa yang sudah keluar kamar mandi beberapa detik kemudian dengan wajah kecewa, dia pun perlahan mendekati Mami Yeri dan memberanikan dirinya untuk membangunkannya. "Mi ... Robert ke mana, Mi?" tanyanya seraya menggoyangkan lengan Mami Yeri.


Sedangkan Sandi memilih untuk keluar, hendak bertanya pada satpam rumah Mami Yeri yang sebelum dia dan Syifa masuk ada diluar. Tengah duduk.


"Mi ... Robert ke mana?" tanya Syifa sekali lagi dengan sedikit mengguncang tubuh sang mertua.


Perlahan, Mami Yeri pun mengerjapkan matanya, kemudian menatap Syifa dengan kening yang mengernyit seraya menarik tubuhnya untuk duduk.


"Kamu sudah sampai? Di mana Papi dan Joenya?" tanyanya seraya menatap sekeliling ruang kamar tersebut, lalu mengucek kedua matanya sebab pandangannya terasa buram.


"Sekarang aku tanya dulu ke mana Robert, Mi? Katanya Robert pingsan. Kok nggak ada di tempat tidurnya?" Syifa membalikkan dengan sebuah pertanyaan.


"Robert?!" Mami Yeri langsung menatap ke arah kasur, dan sontak matanya membulat sempurna, lantaran terkejut melihat cucunya tak ada di sana. "Kok bisa, Robert nggak ada? Tadi bukannya sama Mami? Mami peluk dia kok."


Merasa panik, Mami Yeri pun segera turun dari ranjang kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi dan berteriak memanggil cucunya. "Robert!"


"Aku udah cek ke kamar mandi tadi, Mi, tapi Robert memang nggak ada," sahut Syifa.


"Enggak ada? Tapi ke mana perginya Robert, Fa?" Mami Yeri keluar lagi dari kamar mandi dan menghampiri menantunya dengan jantung yang berdegup kencang.


"Aku nggak tau, kan aku baru sampai, Mi," jawab Syifa.

__ADS_1


...Bocil segala ngilang 🤦🏻‍♀️...


__ADS_2