
...Yang belum baca revisian sebelum bab ini, tolong dibaca ulang, ya, Guys. Soalnya udah lolos babnya~...
...Happy Reading ❤️...
...****************...
Setelah menghabiskan 3 buah pisang dengan ukuran yang cukup jumbo, nyatanya tak menyulut rasa lapar diperut pria tua itu mereda.
Menu utama yang Joe pesan pun akhirnya habis tak tersisa, bahkan Abi Hamdan sudah dua kali nambah.
"Apa mau pesan lagi, Bi?" tanya Joe saat mengunyah 3 suapan nasi dengan ayam kecap madu.
Dia memesan dua porsi untuknya dan Abi Hamdan, tapi mertuanya itu sempat bilang ingin tambah. Sebab menurutnya, porsi restoran itu seperempat dari porsi makannya di rumah.
Jadi sekarang Abi Hamdan tiga porsi dan Joe seporsi, hanya saja bedanya—tiga porsi yang Abi Hamdan makan benar-benar tak tersisa. Berbanding terbalik dengan Joe yang hanya baru menghabiskan 3 sendok.
Bukan masalah makanannya yang tidak enak, tapi Joe memang tidak pernah suka makan nasi dipagi hari, sebab mungkin juga karena tidak terbiasa. Apalagi sekarang memang belum jamnya sarapan.
Namun yang dilakukan sekarang Joe semata-mata untuk menghargai mertuamu saja. Sebab tak mungkin juga, dia hanya melihat pria itu makan. Tapi dia sendiri tidak makan.
"Udah kenyang Abi, Jon, alhamdulilah." Abi Hamdan mengusap perutnya, saat baru saja menenggak teh tawar hangat sampai tandas.
"Mau pulang sekarang atau gimana, Bi?" tanya Joe. Barang kali Abi Hamdan ingin memesan menu lain, jadi dia tak masalah jika pulangnya nanti-nanti.
"Kamunya saja belum menghabiskan makanmu, Jon." Abi Hamdan menatap piring Joe.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, Bi," jawab Joe.
"Mubazir dong. Sayang kalau makanan dibuang. Allah nggak suka sama orang yang mubazir tau, Jon."
"Masa, sih, Bi?" tanya Joe heran.
"Iya. Sudah ada dalilnya, (QS. Al Isra: 27) yang artinya; "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."
"Dih ngeri amat." Joe seketika merinding, mendengar kata 'setan' yang disebutkan Abi Hamdan.
"Iya. Mangkanya habiskan dulu. Pelan-pelan saja, kan biar puasamu juga kuat kalau makannya kenyang," tegur Abi Hamdan menasehati.
"Puasa?" Kening Joe tampak mengernyit.
"Iya. Kata Syifa kamu dan Robert mau puasa Zulhijjah. Jadi kita mulai dari hari ini, Jon."
*
*
*
Sekarang, keduanya menaiki sebuah mobil, Joe yang mengemudi sedangkan Abi Hamdan duduk di sampingnya sambil mengusap perut.
Rasanya lega dan nyawanya terasa dititik aman, sebab tadi dia benar-benar merasa tidak karuan sekali saat lapar melanda.
__ADS_1
"Kita buka puasanya jam berapa kira-kira, Bi? Apa sama seperti puasa Ramadhan? Pas Magrib?"
"Iya." Abi Hamdan mengangguk. "Oh ya, Jon, nanti sekalian ngambil motor Abi, ya. Kasihan dari kemarin ditinggal. Takut hilang juga."
"Motor Abi di mana memangnya?"
Abi Hamdan menatap sekitar dari jendela mobil, memerhatikan jalan raya yang masih terlihat gelap itu. Juga mengingat saat kemarin malam dia, Syifa dan Robert pergi, sama atau tidaknya jalan yang dilaluinya sekarang dengan kemarin. "Kayaknya arahnya di sini sih, Jon. Cuma pelan-pelan saja, takutnya kelewat. Motor Abi ada dipinggir jalan juga."
"Tapi kenapa motor Abi ditinggal? Kata Umi, Abi kemarin malam sama Syifa dan Robert 'kan naik motor."
"Dari rumah memang naik motor. Tapi ini semua gara-gara istrimu tuh yang cemburu buta." Mengingat bagaimana Syifa kemarin, seketika membuat amarah Abi Hamdan memuncak. Padahal tadi sempat reda karena perutnya kenyang.
"Cemburu buta?" Joe yang tengah mengemudi menoleh sebentar dengan raut bingung. "Kok bisa cemburu buta? Dan cemburu sama siapa, Bi?"
"Ya sama kamu lah, Jon!"
"Kok aku?" Joe menunjuk wajah dengan raut tak paham. "Memangnya apa yang aku lakukan sampai membuat Syifa cemburu?"
"Tanya saja nanti sama istrimu! Nanti kalau Abi salah bicara bisa-bisa Syifa marah lagi! Terus kalian berantem!" Abi Hamdan menggerutu.
"Oh. Ya sudah deh, nanti aku tanya langsung sama Syifa." Joe menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu nggak ada niatan untuk selingkuh atau berpoligami 'kan, Jon?" tanya Abi Hamdan yang terdengar serius. Saat kembali Joe melirik, kedua matanya itu tampak tajam menatapnya.
"Abi ini bicara apa, sih? Ya nggaklah," kekeh Joe. Dia menganggap apa yang mertuanya katakan itu adalah sebuah gurauan semata.
__ADS_1
"Bener, ya! Awas saja kamu berani-berani menyakiti Syifa! Kupenggal kepalamu, Jon!" ancam Abi Hamdan sambil melotot.
...Sabar dong, Bi, orang lagi puasa juga 🤣...