
"Sandi? Mau ngapain dia ke sini?" gumamnya, lantas membuka kunci dan pintu rumah.
Ceklek~
"Assalamualaikum Ustad, Bu Maryam," ucap Sandi dengan sopan.
"Walaikum salam." Abi Hamdan dan Umi Maryam yang baru saja berdiri dari duduknya menjawab secara bersamaan. "Ada perlu apa, San?" tambah Abi Hamdan bertanya.
"Ada kabar baik dari Pak Joe dan Bu Syifa yang harus saya sampaikan. Tapi sebelum itu ... saya ingin memberikan ini kepada Ustad dan Bu Maryam dulu." Sandi mengulurkan tangannya ke arah Abi Hamdan, memberikan sebuah paper bag berukuran sedang ke tangannya. "Itu dari Pak Joe, Tad."
"Apa ini?" Abi Hamdan langsung merogoh paper bag tersebut, dan Umi Maryam yang tampak penasaran langsung berjalan cepat menghampiri.
"Lho, ini kok ada hape dan BPKB motor? Punya siapa?"
Abi Hamdan terheran-heran, lantaran isi di dalam paper bag tersebut adalah BPKP dan sebuah kotak ponsel baru. Sebetulnya ada sebuah STNK-nya juga di dalam sana, tapi kebetulan hanya dua benda itu saja yang pertama Abi Hamdan temukan.
"Kalau hape untuk Bu Maryam, sedangkan BPKB itu buat Ustad. Dan itu motornya." Sandi berbalik badan sambil menunjuk sebuah motor gede berwarna kuning menyala yang terparkir di depan halaman rumah. "Maaf, sebenarnya Pak Joe meminta saya untuk mencarikan motor bebek yang mirip dengan motor Ustad yang rusak. Tapi karena motor itu terlalu jadul ... jadi susah sekali saya mendapatkannya, apalagi dalam bentuk baru. Jadi saya putuskan beli itu saja, semoga Ustad suka dan bisa bermanfaat tentunya."
"Maksudnya Joe belikan aku motor, dan belikan Uminya Syifa hape, gitu, San?" Meskipun sudah jelas dengan apa yang Sandi katakan, namun nyatanya Abi Hamdan masih bertanya untuk memastikan semuanya. Sebab Joe sendiri rasanya tidak mengatakan ingin membelikannya motor, juga membelikan Umi mertuanya hape.
"Iya, Tad." Sandi mengangguk. "Itu memang dari Pak Joe. Sudah lama sebenarnya, cuma saya baru bisa belikannya sekarang. Ya karena itu ... motor bebek yang mirip dengan milik Ustadnya yang susah saya dapatkan," jelasnya kemudian.
"Masya Allah tabarakallah ... kita dapat rezeki nomplok lagi dari menantu, Bi!" Umi Maryam langsung mengucap syukur, kemudian menarik suaminya untuk ikut dengannya bersama-sama bersujud syukur. "Joe juga kok bisa tau, ya, Umi lagi butuh hape. Dan pasti hape yang dia kasih bisa buat fac*bookkan, kan, Bi?"
"Jangankan Fac*bookkan, Bu. Inst*gram, Taktok, YouT*be, Tw*tter dan apa saja pun bisa. Apalagi itu hape merek paling bagus dan paling mahal juga," sahut Sandi.
"Masa sih, San? Memang apa mereknya dan berapa harganya?" Umi Maryam langsung berdiri, kemudian mendekati Sandi sambil memegang kotak ponsel yang baru saja dia ambil dari tangan suaminya.
"Ipon pro max. Tapi kalau soal harga sih kayaknya nggak perlu disebutkan deh."
"Kenapa emang?" tanya Abi Hamdan penasaran, kemudian menatap motor gede berwarna kuning di depannya. "Dan motor gede itu pasti mahal juga ya, San?"
"Iya, Tad, mahal juga." Sandi mengangguk. "Selain nggak enak saya disebutkan karena Pak Joe niatnya ngasih dengan ikhlas ... saya juga khawatir Ustad Hamdan pingsan."
Sandi tentu tahu momen itu, sebab pernah menjadi buah bibir di kompleknya.
"Ah si Jojon ini, selalu saja ngasih barang mahal. Dia nggak pernah mikirin ke depannya apa gimana, ya?" Abi Hamdan menggerutu, segera dia mengambil kotak ponsel dari tangan istrinya, lalu memberikan kepada Sandi berikut dengan paper bag di tangannya. "Balikin aja ke tokonya, San. Aku yakin banget ... itu Jojon pakai uang tabungan."
Bukan tak mau menerima, hanya saja balik lagi—Abi Hamdan selalu memikirkan bagaimana nasib keuangan Joe ke depannya. Meskipun dia sendiri sudah tahu dengan salah satu isi tabungannya yang terbilang fantastis.
"Dih ... Bi, jangan begitu dong." Umi Maryam langsung mengambil kembali benda-benda itu dari tangan Sandi. Rasanya sayang sekali, jika tidak diterima. "Joe 'kan udah ngasih. Masa ditolak? Kan dosa namanya, Bi."
"Abi tau. Tapi si Jojon itu seringnya ngasih barang yang mahal, Mi. Memangnya Umi nggak kasihan, ya, sama dia? Bisa saja si Jojon bangkrut karena sering ngasih-ngasih ke kita!" balas Abi Hamdan yang merebut kembali benda itu lalu memberikan kepada Sandi.
"Tapi ini udah dibeli. Memangnya boleh dikembalikan, ya? Dan Umi juga suka sama hapenya, Bi. Kaya taik kambing kameranya. Mana banyak lagi."
"Masa nggak bisa. Ya pasti bisalah," sahut Abi Hamdan dengan yakin, kemudian menatap ke arah Sandi. "Bisa, kan, San ... hape dan motornya kamu kembalikan ke tokonya?"
"Maaf, Ustad ... tapi nggak bisa." Sandi menggelengkan kepalanya.
"Kok nggak bisa? Kan barangnya masih baru, dan kami belum memakainya juga."
"Itulah sebabnya, motor dan hape nggak bisa dikembalikan, Tad. Karena masih baru dan belum dipakai. Kecuali ... kalau dua barang itu mengalami kerusakan, baru boleh. Itu pun nantinya hanya dituker dengan barang lain. Karena ada istilah juga yang mengatakan kalau barang yang sudah dibeli, tidak dapat dikembalikan."
__ADS_1
"Ya sudah, dirusakin saja berarti. Biar gantinya dengan barang yang harga lebih murah. Tapi kamu saja yang rusakin, San," usul Abi Hamdan.
"Saya nggak mau, Tad!" tolak Sandi cepat.
"Ih Abi ini ngaco, ya! Masa barang baru dan nggak kenapa-kenapa malah dirusak? Ya dosa atuh, Bi!"
Umi Maryam terlihat geregetan sekali, mendengar apa yang suaminya itu katakan. Gemas juga rasanya, sebab harusnya langsung diterima saja.
Toh, Joe juga ikhlas dan Umi Maryam yakin—jika Joe pasti selalu memperhitungkan uangnya. Ketika dia ingin memberi kepada siapa pun itu.
"Bu Maryam benar, Tad," sahut Sandi. "Ya kalau memang Ustad nggak bisa menerima motor dan hape ini ... saya akan membawanya. Tapi nggak akan dikembalikan ke toko, paling saya berikan kepada Pak Joe dan mengatakan kalau Ustad dan Umi menolaknya."
"Kalau kayak gitu kasihan sama Joenya, lho, Bi." Umi Maryam menimpali. Dia akan berusaha membujuk suaminya untuk mau menerima semua itu. "Nanti dia ngiranya kita nggak menghargai, dan lagian pemberian orang itu bukannya harus kita terima, ya? Apalagi itu pemberian dari menantu kita sendiri?"
"Tapi, Umi, Abi hanya takut—"
"Bi ... udahlah," potong Umi Maryam cepat serta langsung memegang tangan kanan suaminya. "Nanti kalau kita ketemu sama Joe ... Abi bisa beritahu dia, untuk jangan membelikan apa-apa lagi ke kita, apalagi itu barang mahal. Kalau memang Abi nggak suka."
"Bukan nggak suka, Abi cuma takut Jojon bangkrut. Kasihan sama Syifa dan Robertnya nanti, Mi."
"Iya, intinya itu." Umi Maryam mengangguk setuju. "Tapi untuk sekarang ... berhubung dua barang itu sudah dibeli, jadi diterima saja, Bi. Hitung-hitung rezeki. Joe juga akan diberikan rezeki yang jauh lebih banyak jika berbagi pada seseorang, apalagi orang itu adalah mertuanya sendiri.
"Eemmm ... gimana, ya?" Abi Hamdan membuka pecinya, lalu menggaruk kepala botaknya yang mendadak terasa gatal. Dia pun terdiam sebentar untuk memikirkan, dan selang lima menit berpikir—akhirnya dia pun mendapatkan jawaban. "Ya sudah deh. Kali ini aku terima, San," katanya yang mana membuat Sandi mengulum senyum.
"Alhamdulillah ...." Umi Maryam langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Nahhh ... begitu dong, Bi."
"Sampaikan rasa terima kasihku kepada Joe, ya, San. Dan terus ... kabar baik apa yang ingin kamu sampaikan tadi?" Abi Hamdan menuju kursi plastik yang berada di teras, lalu duduk di sana.
Sandi ikut duduk di samping Abi Hamdan, pada kursi yang kosong. "Pak Joe bilang, Bu Syifa sedang hamil sekarang, Tad. Sudah 3 bulan."
"Benar, Pak." Sandi mengangguk. "Nggak mungkin juga Pak Joe berbohong, kan? Apalagi tentang kabar baik ini."
"Alhamdulillah ya, Allah ...." Abi Hamdan langsung turun dari kursi kemudian bersujud syukur. Umi Maryam pun melakukan hal yang sama.
"Alhamdulillah ya, Bi, akhirnya Syifa hamil beneran juga. Umi seneng banget," ucap Umi Maryam yang sudah menangis. Tapi air mata yang dia tumpahkan adalah air mata tanda haru karena sangking bahagianya.
"Iya, Umi. Abi juga seneng." Abi Hamdan pun berdiri. "Kita ke rumah Joe sekarang yuk, Umi. Sekalian cobain motor baru Abi?" ajaknya.
"Besok saja deh, Bi, ini sudah malam. Besok kita pagi-pagi datang, sekalian bawain nasi uduk. Pasti Syifa kangen sama nasi uduk buatan Umi."
"Oh ya sudah deh. Iya." Abi Hamdan mengangguk setuju.
Sandi sudah berdiri. "Ya sudah ya, Ustad, Bu ... kalau begitu saya permisi, selamat ma—"
"Tunggu dulu, San," potong Umi Maryam cepat dan langsung mendekat.
"Kenapa, Bu?" tanyanya heran yang akhirnya kembali duduk di kursinya.
"Pindahin kartu dihape jadul Ibu ke hape baru ini." Umi Maryam menaruh ponsel jadulnya dan ponsel barunya di atas meja dekat Sandi. "Terus sekalian juga daftarin fac*book. Kamu pasti ngerti, kan?"
"Oh, iya, Bu." Sandi mengangguk dan menuruti permintaan Umi Maryam.
Berhubung kartu SIM itu tak memiliki pulsa atau pun paket data, jadi Sandi menghubungkan dengan ponselnya sendiri lewat hotspot. Supaya bisa mengakses internet.
__ADS_1
"Apa Bu Maryam punya email?" tanya Sandi.
"Memang email itu apa, San?" Umi Maryam justru berbalik tanya karena dia tak tahu.
"Untuk menerima atau mengirim pesan lewat internet. Hape zaman sekarang musti pakai email, Bu. Soalnya kalau nggak pakai email Ibu akan susah buat buka beberapa aplikasi," jelas Sandi.
"Ya sudah buatin saja sekalian, San. Ibu belum punya email soalnya."
"Nama emailnya apa, Bu?"
"Pakai nama memangnya?"
"Iya."
"Siti Maryam saja, San."
Sandi mengetik-ngetik smartphone tersebut, mendaftarkannya. "Berhubungan nama Siti Maryam banyak. Jadi pakai kode saja, Bu. Jadinya sitimaryam321@gmail.com. Kalau bisa sih dicatat saja. Soalnya ada kata sandinya juga, Bu."
"Oh gitu, yaaa, sebentar ... Ibu ambil buku dan pulpen dulu."
Umi Maryam berlari masuk ke dalam rumahnya, dan selang beberapa menit dia pun kembali. Sedangkan Abi Hamdan sendiri sejak tadi terlihat sibuk memerhatikan motor barunya juga menyalakan mesin.
"Kata sandinya apa, Bu? Yang kira-kira Ibu gampang ingat saja. Tapi minimal angka dan huruf."
"Tanggal lahir si Syifa saja, San, boleh nggak?"
"Boleh. Berapa memangnya?"
"19 April 1999."
"Oke." Sandi mengangguk, setelah email jadi dia pun langsung mendaftarkan Umi Maryam pada aplikasi fac*book. "Nama facebooknya, apa, Bu? Cari yang keren, biar gampang diingat orang. Kalau hanya Siti Maryam, biasanya banyak yang punya," tambahnya memberikan saran.
"Sebentar ...." Umi Maryam langsung duduk di samping Sandi, kemudian mulai berpikir sebentar mencari nama yang cocok. "Bagaimana kalau—"
"Maryam Kesayangan Abi Hamdan saja, Umi," sela Abi Hamdan mengusulkan.
"Kepanjangan kayaknya, Bi." Umi Maryam tampak tak setuju. Dia juga menggelengkan kepalanya. "Maryam Yang Imut saja deh, San. Kayaknya lucu."
"Nama Abinya nggak ada dong, Umi, kalau namanya hanya Maryam Yang Imut doang?" protes Abi Hamdan.
Padahal tadi dia sempat tak setuju, istrinya memiliki akun f*cebook. Tapi sekarang justru dia menginginkan jika nama akunnya tertera namanya juga.
"Ya 'kan itu fac*book punya, Umi, Bi. Wajar kalau hanya ada nama Umi."
"Tapi 'kan Umi yang bilang sendiri, katanya mau sekalian promosiin Abi. Ya bagaimana orang bisa tau nama Abi, sedangkan nama akunnya hanya Maryam Yang Imut?" keluhnya.
"Itu gampang, kan bisa kita tambahin tulisan pas videonya mau diupload. Bisa 'kan, San?" Umi Maryam menatap Sandi untuk memastikannya.
"Benar Ustad, bisa." Sandi mengangguk.
"Pokoknya nama fac*booknya itu saja, Umi. Kalau Umi nggak mau ya mending nggak usah punya fac*book sekalian," ucap Abi Hamdan yang terlihat kekeh.
"Ah Abi mah suka rese. Ngeselin!!" kesal Umi Maryam ngambek, bibirnya bahkan sudah mengerucut.
__ADS_1
......Kalau nggak rese nggak enak emang si Abi, Mi🤣🤣🤣......