Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
199. Ikut Mami sama Papi


__ADS_3

Yang belum baca bab 198 hasil revisi, silahkan baca ulang, ya! Biar nggak bingung pas baca bab ini.


Happy reading đź’•


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baiklah." Syifa mengangguk. Meskipun usulan dari anaknya itu terdengar tak masuk akal dan tak yakin jika bisa dituruti—tapi dia tetap mencatatnya. Karena untuk menghargai. "Buat yang lain ... apa ada yang mau ngasih usul lagi?"


"Baim, Bu! Baim!" Baim mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berbicara lantang.


"Coba beritahu Ibu, Nak." Syifa langsung menatap ke arahnya.


"Hadiahnya umroh saja, Bu," sarannya. "Tapi sama orang tua."


Syifa langsung tersenyum mendengarnya. "Bagus sekali saranmu, Im. Ibu akan mencatatnya." Dia mengangguk setuju dan kembali mencatat.


"Umroh itu apaan, Im?" tanya Robert dengan polosnya sembari menatap Baim.


"Umroh itu mirip seperti kita melaksanakan ibadah haji, Rob," jawab Baim.


"Maksudnya, menyembelih kurban, ya?"


"Bukan." Baim menggelengkan kepalanya.


"Umroh biasa disebut sebagai haji kecil, Nak," ucap Syifa yang akan menjelaskannya. "Sama dengan ibadah haji, pelaksanaan umroh dilakukan di tanah suci. Ibadah haji itu wajib buat orang yang mampu. Karena ibadah haji itu masuk ke dalam rukun Islam yang ke lima."


"Ke lima?" Kening Robert mengerenyit sembari menatap ke lima jari tangannya yang sudah terangkat. "Memang selain ibadah haji, ada lagi, Mom?"


"Tentu ada." Syifa mengangguk. "Pertama mengucapkan dua kalimat syahadat, kedua melaksanakan sholat, tiga melaksanakan puasa, keempat membayar zakat dan terakhir pergi haji."


Bocah berkepala botak itu tampak terdiam sebentar, mendengar penjelasan dari Syifa. Dan dimenit selanjutnya dia pun berkata, "Robert juga kepengen hadiah umroh, Mom!"


"Mudah-mudahan ... panitia agustusannya setuju, ya, Nak, supaya hadiah umroh bisa dimasukkan."


"Amin ...." Robert langsung mengusap wajahnya, begitu pun dengan beberapa temannya yang lain yang beragama Islam. "Robert mau ikut semua lomba ah! Biar dapat semua hadiahnya."


"Iya, Sayang." Syifa tersenyum.


"Kalau semisalnya yang menang non muslim bagaimana, Bu? Nggak bisa dipakai dong," ucap Alice.


"Benar juga ya, Nak." Syifa menganggukkan kepalanya. "Nanti dirundingkan saja dulu deh, ya, dan apakah masih ada ... yang mau memberikan usul?"


Tok ... Tok ... Tok.

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Syifa yang mendengarnya pun langsung berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membukanya.


Ceklek~


Seorang bocah berdiri di depan pintu. Dilihat dari postur tubuhnya yang cukup tinggi, dia tampaknya kelas 6 SD.


"Ada apa, Nak?" tanya Syifa dengan kening yang mengerenyit.


"Ada dua orang yang cari Ibu. Dia menunggu di ruangan guru, Bu," ucapnya memberitahu.


"Dua orang siapa, Nak?"


Bocah itu menggelengkan kepalanya. "Saya nggak tau, Bu. Coba Ibu cek saja sendiri."


"Ibu akan ke sana. Terima kasih ya, Nak."


"Sama-sama, Bu."


Melihat bocah itu melangkah pergi, Syifa pun langsung melangkah kembali menuju mejanya, lalu mengambil buku dan pulpennya tadi.


"Beberapa usulan dari kalian yang sudah Ibu catat akan Ibu serahkan kepada kepala sekolah. Kalau begitu Ibu permisi dulu, ya? Jam pelajaran kalian selanjutnya juga akan segera dimulai. Selamat siang anak-anak."


"Siang juga Bu Syifa!" Seluruh bocah itu menyeru, ketika Syifa sudah melangkah pergi dari kelas dan menutup pintu.


*


*


*


Ceklek~


Syifa membuka ruangan guru, di mana mejanya juga ada di sana.


Saat kedua kakinya itu melangkah masuk, dia langsung mengerutkan keningnya, lantaran sudah ada Mami Yeri dan Papi Paul yang duduk di depan mejanya. Dan di atas mejanya itu banyak sekali plastik putih yang isinya beberapa makanan dan minuman.


"Papi ... Mami, kok kalian ada di sini?" tanya Syifa heran, lalu mendekati mertuanya untuk mencium punggung tangan.


"Benar 'kan, Pi ... kata Mami juga, Syifa ada di sini," ucap Mami Yeri dengan senyuman manis di bibirnya.


"Iya, Mi." Papi Paul mengangguk, lalu menatap menantunya yang sudah duduk di depan, pada kursinya. "Kamu tadi pagi kok ninggalin Papi dan Mami, Fa? Kan Papi udah bilang ... tungguin sampai Papi selesai mandi." Bibir Papi Paul tampak mengerucut, dia sepertinya kesal bercampur kecewa.


"Maafin aku, Pi, Mi ... Tapi Aa yang maksa. Jadi aku nggak bisa apa-apa." Syifa menatap kedua mertuanya dengan raut bersalah.

__ADS_1


"Sebenarnya Papi lagi kesel. Tapi berhubung kami sudah berhasil ketemu kamu ... mending kamu makan saja gimana? Wanita hamil biasanya 'kan suka laper." Papi Paul buru-buru membuka beberapa plastik putih di atas meja, untuk memperlihatkan apa saja yang dia bawa.


Dia dan istrinya memang senagaja membeli beberapa makanan dan minuman untuk Syifa, karena niatnya kalau sudah berhasil ketemu—mereka akan sepakat bekerjasama untuk saling menyuapi Syifa, biar adil.


"Tapi ini 'kan belum jam makan siang, Pi, dan rasanya aku masih kenyang." Syifa menyentuh perutnya, ketika Papi Paul sudah menyodorkan sesumpit spaghetti bolognese ke arahnya.


"Cobain dulu sedikit, nanti juga pas udah ngerasain kamu ketagihan dan jadi laper," pinta Papi Paul dengan wajah penuh harap. Syifa yang terlihat tak tega akhirnya membuka mulutnya, dan mengunyahnya pelan-pelan.


"Enak, kan?" tanya Papi Paul. Padahal Syifa yang mencobanya, tapi malah dialah yang berbinar.


Syifa mengangguk. "Enak, Pi. Terima kasih."


"Dulu Mami pas hamil Joe ... Mami suka banget makan spaghetti itu, Fa. Kamu juga pasti suka," kata Mami Yeri yang membuka penutup botol jus tomat, lalu menyodorkannya ke Syifa.


"Iya, Mi, enak. Terima kasih, Mi." Syifa tersenyum.


Tangannya baru saja hendak meraih botol tersebut, tapi Mami Yeri tiba-tiba berdiri dan membantunya menenggak minuman.


Kedua orang itu terlihat begitu lembut dan memanjakannya. Seketika membuat dada Syifa terasa begitu hangat.


"Kamu masih ada jam untuk mengajar nggak, Fa?" tanya Mami Yeri.


"Udah nggak ada, Mi." Syifa menggelengkan kepalanya. “Memangnya kenapa?”


"Habis makan, kamu ikut Mami sama Papi, ya?"


"Ke mana?"


"Kita ke mall. Belanja baju Ibu hamil untukmu dan beli perlengkapan bayi."


"Tapi perut aku belum besar, Mi." Syifa perlahan mengusap perutnya. "Dan jenis kelamin cucu Mami dan Papi juga belum tau."


"Nggak apa-apa," jawab Mami Yeri. "Yang penting kita pergi beli. Tapi perginya kita bertiga saja. Sekarang, Fa, gimana?"


"Tapi bentar lagi juga jam pulang sekolah, Mi." Syifa menunjuk jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 11.


"Kalau kayak gitu mending langsung saja kita berangkat sekarang." Melihat jam itu, Mami Yeri pun segera menarik tangan Syifa hingga membuatnya berdiri, kemudian membawanya melangkah menuju pintu ruangan guru. "Pi ... cepet beresin makanan dan minuman itu. Terus bawa semua, biar nanti makannya dimobil saja," pintanya pada sang suami.


"Iya, Mi." Papi Paul mengangguk cepat. Sambil berdiri dia pun membereskan makanan dan minuman di atas meja, menjinjingnya semua ke tangannya. Barulah setelah itu dia berlari menyusul istri dan menantunya yang sudah pergi dari sana.


"Tapi, Mi, aku belum izin sama Pak Bambang. Mana mungkin bisa aku pulang sebelum jam sekolah selesai?" Syifa terlihat ragu untuk ikut, tapi Mami Yeri terlihat memaksanya. Bahkan sudah membawanya masuk ke dalam mobil.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2