
"Mami bilang ... Yumna akan menggantikan aku, jadi Mommy sambungnya Robert, A," jawab Syifa pelan.
"Terus?"
"Ya Robert bilang dia nggak mau. Tapi aku di sini melihat ... Mami seperti masih menginginkan Yumna yang menjadi istri Aa. Aku jadi takut, A." Buliran bening pada bola mata Syifa seketika luruh, mengalir membasahi kedua pipinya.
"Lho, kok kamu nangis, Yang?" Joe tampak terkejut. Dia pun dengan perlahan duduk, kemudian meraih tubuh Syifa dan membawanya ke dalam dekapan. Tapi perempuan itu justru sudah menangis tersedu-sedu.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
"Yang ... jangan menangis. Dan apa yang kamu takutkan? Kamu akan selamanya jadi istriku, selamanya, Yang," ujar Joe menenangkan. Dia mengusap lembut punggung Syifa, lalu mengecup puncak hijabnya.
"Tapi aku takut, nanti Aa berpaling dariku. Dan memilih Yumna. Secara dia 'kan cantik, A."
"Nggak akan, Yang," balas Joe dengan yakin. "Aku sudah punya kamu, dan aku sangat mencintaimu. Jadi nggak mungkin aku berpaling dari yang lain. Termasuk Yumna."
"Aa nggak bohong, kan? Aa beneran mencintaiku, kan?" tanya Syifa yang terlihat belum yakin.
"Lho, masa sampai sekarang kamu belum sadar juga. Kalau aku mencintaimu?" Joe merelai pelukan, kemudian menangkup kedua pipi istrinya dan sedikit didongakkan wajahnya, supaya pandangan mata mereka bisa saling bertemu. Joe juga menyeka air mata yang masih tersisa pada pipi istrinya. "Memang selama ini, pengorbananku kurang meyakinkan, ya, Yang?"
"Meyakinkan, sih, A. Hanya saja tetap saja aku takut."
__ADS_1
"Nggak usah takut. Harusnya kamu percaya pada suamimu ini, kalau aku pria yang setia." Joe mendekat, lalu meraup bibir Syifa. Tapi itu hanya sebentar, sebab Syifa langsung mendorong dadanya. "Lho, kenapa?"
"Aku belum selesai bicara, A. Jangan nyosor dulu."
"Oh... silahkan lanjutkan." Joe menganggukkan kepalanya.
"Yang tentang Yumna ingin menjadi model itu ... beneran, kan, ya, Aa nggak nerima dia? Aku nggak mau dia kerja di kantor Aa, nanti yang ada Aa dan dia sering ketemu yang berujung kalian cinlok."
"Enggak." Joe menggeleng. "Dia nggak akan aku terima kerja, kalau memang kamunya cemburu sama dia, Yang."
"Dih, bukan cemburu, A."
"Terus apa? Buktinya kamu bilang nggak mau tadi?"
"Ya sama saja. Intinya kamu cemburu, kan?"
"Ih nggak, A ... bukan cemburu," bantah Syifa yang tampak jelas jika dirinya berbohong. Joe bisa membaca dari kedua bola matanya.
Sepertinya, Syifa memiliki gengsi yang tinggi. Sehingga dia tak mengungkapkan jika memang benar dia cemburu.
"Kalau nggak cemburu, tandanya kamu nggak cinta sama aku dong?" Joe merengut dengan raut sedih.
__ADS_1
"Dih, nggak, A!" bantah Syifa sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak cemburu bukan berarti nggak cinta."
"Jadi kamu udah cinta sama aku?"
"Eng ... ya kalau itu, sih, gimana, ya?" Syifa terlihat salah tingkah. Tapi kedua pipinya itu langsung merona.
"Kok gimana? Ya perasaanmu sendiri bagaimana kepadaku?"
"Kayaknya ... nggak perlu aku kasih tau Aa juga udah tau deh. Gimana perasaanku sama Aa sekarang."
"Aku memang nggak tau tuh," sahut Joe. "Mangkanya, kamu kasih tau aku."
"Ah ... Aa pasti pura-pura." Syifa mendorong dada Joe, kemudian berbaring di sampingnya. "Udah, mending kita tidur saja deh, A. Lagian ini juga udah malam, kan?"
"Jawab dulu pertanyaanku, Yang, baru tidur." Joe meraih tangan Syifa. Dia terlihat gelisah sendiri, dan ingin rasanya istrinya itu mengungkapkan rasa cintanya terhadap dirinya.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Syifa berpura-pura.
"Yang kamu udah cinta sama aku belum?"
"Aku malu ngomongnya, A."
__ADS_1
"Masa sama suami sendiri malu? Nggak seru ah kamu mah." Joe mengerucutkan bibirnya dengan raut kecewa. Dia pun perlahan ikut berbaring, tapi dengan posisi miring dan membelakangi Syifa. "Berarti selama ini kamu belum juga mencintaiku, ya, Yang? Duh ... sakit banget, ya, rasanya ... ternyata selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan," tambahnya sambil menyentuh dada yang mendadak terasa sesak.
...Tibang ngomong cinta doang padahal 🤣...