Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
161. Digundul sampai licin


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Joe dan Syifa bersama. Serta berbarengan dengan langkah kakinya yang terhenti di ruang tamu.


Di sana ada Abi Hamdan dan Tirta yang tengah duduk santai di sofa dengan ditemani dua cangkir kopi hitam di atas meja.


"Baru pulang kamu, ya, Jon, padahal Abi memintamu pulang dari jam 4 pagi!" Baru saja bertatap muka dengan Joe, tapi Abi Hamdan sudah mengomel, karena jujur saja—dia lelah sekali menunggu menantu dan anaknya pulang. Juga tak enak pada Tirta yang datang sejak jam 8, dan ikut menunggu Joe pulang.


"Maaf Abi, tadi aku dan Aa ada urusan." Syifa langsung mendekati Abinya, kemudian mencium tangan. Joe pun ikut melakukannya.


"Urusan apa?"


"Biasa, Bi, urusan ranjang," jawab Joe dengan jujur sambil terkekeh. Tapi meski begitu, dia masih merasa takut kepada mertuanya.


"Dasar ... bisa-bisanya kalian memikirkan urusan itu, sedangkan sudah membuat kesalahan!" geram Abi Hamdan yang terlihat sudah mulai emosi. Kedua tangannya juga mengepal kuat.


Joe menghampiri Tira dulu sebentar, untuk menepuk pundaknya pelan. Dan setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya di depan Abi Hamdan seraya memeluk lututnya dengan erat. "Abi ... aku tau Abi pasti sudah tau semaunya. Dan aku ingin minta maaf, Bi, aku melakukan hal itu karena khilaf. Bukan sengaja."


"Aa benar, Bi." Syifa kembali meraih tangan Abi Hamdan, lalu menggenggamnya dengan erat. "Aku juga salah disini, karena ikut khilaf. Tapi sejujurnya kami nggak ada niat sama sekali ... ingin mengotori otak Robert," jelas Syifa. Mungkin saja dengan dirinya ikut menjelaskan—hukuman Joe yang entah apa itu jadi lebih ringan.


"Mommyyyy ...!!" Robert dari lantai atas menyeru, ketika melihat Mommy sambungnya sudah pulang. Gegas, dia pun turun dari anak tangga kemudian berlari menghamburkan pelukan kepada Syifa. "Mommyyyy ... Robert kangeeenn ...."


"Mommy juga kangen sama kamu, Nak," balas Syifa seraya mengelus puncak rambut anaknya, juga mengelus punggung kecilnya.


"Rob ... kamu jangan coba-coba minta nyusu sama Mommy, ya!" tegur Joe yang langsung menarik tangan anaknya. Hingga melepaskan pelukan hangat yang sedang terjadi itu.


"Siapa yang mau minta nyusu? Daddynya saja yang tukang bohong! Kata Opa juga Mommy nggak ada ASI-nya tau!" celoteh Robert yang tampak kesal. Segera dia tepis kasar tangan Joe dari lengannya, kemudian kembali memeluk tubuh Syifa.


"Maaf. Maafkan Daddy karena telah berbohong," pinta Joe.


"Sekarang jelaskan kepada Robert, kalau Mommy memang nggak ada ASI-nya ... terus kenapa Daddy nyusu? Bukankah Daddy sudah bukan bayi lagi?"


Rupanya, sudah ditinggal beberapa jam pun bocah itu masih bertanya tentang apa yang dilakukan Joe terhadap Syifa, yang tentu saja membuat pria itu kembali bingung—untuk menjawab apa.

__ADS_1


"Wah ... yang benar saja kamu, Joe, nyusu di depan anak?!" cicit Tirta sambil bergelak tawa menatap temannya. Sedangkan Syifa langsung menundukkan wajahnya yang sudah memerah, menahan malu.


"Tirta ... sebaiknya kamu keluar saja dulu." Abi Hamdan berbicara padanya. Tak pantas rasanya, aib anak dan menantunya itu diketahui orang luar. Tentu dia juga merasa malu. "Nanti setelah masalah ini selesai ... Aku akan memanggilmu lagi."


"Oke, Om." Tirta yang masih terkekeh geli itu lantas berdiri, kemudian melangkah pergi dari ruang tamu.


"Abi ... aku harus jelaskan apa? Aku bingung, Bi." Joe menatap ke arah sang mertua dengan raut mengiba. Seolah-olah dia meminta tolong, tapi entah pria itu mau atau tidak menolongnya.


"Kamu yang berbuat ... ya kamu yang musti tanggung jawab dong! Kenapa nanyanya malah sama Abi?" Abi Hamdan menyahut dengan suara ketus. Sorotan matanya pun tampak begitu sinis sekali. Jelas disini, jika dia tak ingin membantu Joe, karena mungkin terlanjur kesal pada keadaan.


"Udah, A, jujur saja." Syifa memberikan saran, sambil menyentuh pundak kanan Joe. "Tapi jelaskan yang mudah dipahami dan hindari kata jorok."


Joe mengangguk lemah. Dia pun terdiam sebentar dan mulai berpikir, kemudian berkata sambil menatap ke arah sang anak. "Alasan Daddy melakukan hal itu ... karena Daddy cinta sama Mommy, dan itu juga termasuk dalam proses buat adik bayi untukmu, Sayang." Semoga dengan alasan ini, dapat dipahami oleh anaknya.


"Maksudnya, proses ingin bercinta?" Robert memperjelas.


"Iya." Joe mengangguk pelan. "Kalau kamu sudah gede dan menikah ... kelak kamu pasti akan melakukan hal yang sama kepada istrimu, Sayang, seperti apa yang Daddy lakukan kepada Mommy."


"Iya."


"Oohh ... jadi awal mula pembuatan adik bayi itu dari Daddy yang menyusu sama Mommy? Tapi 'kan nggak ada airnya. Gimana itu? Memangnya enak, nyusu nggak ada airnya?" Robert masih terlihat tidak paham. Padahal jujur, Joe kembali merasakan pusing pada kepalanya.


"Bukan masalah enak nggak enak. Tapi memang udah begitu jalannya, Sayang." Joe takut salah ngomong. Apalagi kalau mengatakan kata 'enak', sebab takutnya Robert justru menginginkannya.


"Oh ... terus, kalau semisalnya adik bayi itu sudah lahir ke dunia dan nyusu sama Mommy ... nanti Mommy bisa hamil lagi dong?"


"Ya nggak akan, Sayang. Kecuali Daddy yang nyusu, baru Mommymu bisa hamil lagi," jelas Joe dengan lembut.


Abi Hamdan pun menoyor kepala Joe, karena merasa geli sekali dengan pembahasannya dengan Robert.


"Terus kalau Robert yang nyusu sama Mommy, nih, misalkan, ya, sekarang ... dan apakah nanti Mommy—"

__ADS_1


"Nak!" Syifa langsung menyela ucapan anak sambungnya. Dan membuat bocah itu menoleh. "Kamu nggak boleh nyusu sama Mommy. Kamu udah gede. Dalam Islam itu nggak boleh ... seorang wanita menyusui anak tiri dan anak angkat. Kecuali kalau anak itu masih dibawah 2 tahun, dan hanya makan dan minum dari ASI. Sedangkan kamu sendiri 'kan sudah makan segalanya, jadi kamu nggak boleh melakukan hal itu kepada Mommy, Sayang," tambahnya menerangkan dengan suara lembut.


"Robert tau, Mom." Robert mengangguk. "Opa sudah memberitahu Robert. Tapi Robert tanya misalkan. Hanya misal kalau Robert menyusu, itu kira-kira—"


"Hal seperti itu nggak perlu kamu tanyakan, Nak." Kedua kali, Syifa memotong ucapan anaknya. Sebab baginya, itu tidak pantas untuk dibahas. "Mommy sudah katakan sebelumnya, kalau seorang anak tiri dan anak angkat di atas 2 tahun itu nggak boleh disusui, dan otomatis ... kamu jangan sampai melakukannya. Jadi kata misalkan itu nggak perlu kamu katakan."


"Oh gitu. Maaf deh ... kalau Robert salah ngomong."


"Suatu saat, kalau Mommy memberikanmu seorang adik bayi ... terus Mommy mengeluarkan ASI dan kamu ingin merasakannya ... kamu boleh merasakannya, Nak. Tapi paling lewat botol, atau gelas. Nggak boleh secara langsung."


"Mommymu benar, Nak." Abi Hamdan menyetujui ucapan Syifa. Dia juga dapat memaklumi alasan Robert ingin menyusu, karena bisa jadi bocah itu memang belum pernah merasakannya sewaktu bayi. "Kamu bisa merasakannya, kalau memang kamu penasaran. Tapi ingat ... jangan melakukannya secara langsung. Pakai gelas atau botol, lagian kamu juga udah gede, kan? Namamu juga makin panjang sekarang dan bagus ... karena ditambah dengan nama Nabi."


"Ah iya, Opa." Robert mengangguk dengan senyuman manis dibibirnya. Perlahan dia pun mendongakkan wajahnya, untuk menatap ke arah Syifa. "Tapi bener, kan, Robert boleh mencobanya? Terima kasih, ya, Mommy."


"Sama-sama, Sayang." Syifa membungkukkan badan untuk mencium kening anaknya. "Kamu doakan saja, biar kamu cepat punya adik. Terus ASI Mommy banyak ... biar nanti kamu ada waktu untuk bisa merasakannya."


"Amin ...." Robert mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kalau selesai sholat ... Robert akan mendo'akan Mommy untuk segera hamil. Robert juga pengen dipanggil Kakak."


"Iya." Syifa mengangguk.


"Jadi sudah selesai, kan, perkaranya?" Abi Hamdan perlahan berdiri sambil menghela napas lega.


"Sepertinya sudah, Bi." Joe menyahut dan ikut berdiri. "Dan tentang hukuman itu, berarti nggak jadi, kan?" tanyanya dengan perasaan berharap.


"Tentu jadi dong," jawabnya cepat. "Buat apa Robert memanggil si Tirta untuk datang dan dia sampai rela menunggumu ... kalau kamu nggak jadi dihukum, Jon." Abi Hamdan pun melangkahkan kakinya pergi dari ruang tamu, dan membuat Joe bertanya-tanya tentang hubungannya dengan kehadiran Tirta di sini.


"Lho, memangnya ... hukuman apa yang mau Abi berikan? Kok nyambungnya ke Tirta segala?" gumamnya Joe dengan bingung.


"Daddy akan digundul sampai licin!" sahut Robert memberitahu, yang mana membuat Joe dan Syifa membelalakkan mata. Karena sangking kagetnya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2