Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
167. Syifa selingkuh


__ADS_3

"Kapan memangnya, acara launchingnya, A?"


"Nanti malam, jam 7."


"Aku diajak nggak?"


"Tentu diajak. Robert kalau sudah pulang pun aku ajak."


"Ya sudah ... mending Aa pakai peci saja, pas datang."


"Masa pakai peci, Yang?" Joe tampak tak setuju. Bukan apa-apa, hanya saja tidak cocok menurutnya.


"Kalau nggak, Aa pakai wig saja, gimana?" usul Syifa. "Untuk sementara saja, biar ga malu."


"Mana bisa, Yang?" Wajah Joe terlihat frustasi. "Masalahnya ... Robert nggak mungkin mengizinkan. Kan kamu tau sendiri, dia bagaimana? Pas aku digundul saja dia kelihatan senang minta ampun." Selain itu, Joe juga teringat akan permintaan Abi Hamdan yang memintanya untuk tampil dengan plontos. Jadi itu makin membuatnya bingung.


"Nanti aku yang akan merayu Robert. Biar dia mengizinkan. Aa tenang saja." Syifa mengusap kedua pipi Joe yang terlihat merona, kemudian tersenyum.


"Kamu yakin nggak, kalau Robert bakal setuju?" Joe sendiri jujur merasa tidak yakin.


"Dicoba dulu. Tapi Robert 'kan anaknya penurut, A, pasti dia setuju."


"Kalau ketahuan Abi gimana, Yang? Dia 'kan melarangku memakai penutup kepala, kecuali peci dan itu pun dipakai kalau aku mau ibadah."


"Ya jangan sampai ketahuan Abi lah, A. Aa pakainya pas udah sampai di restoran saja. Dan habis dari restoran ... langsung lepas."


"Kalau begitu sih mending nggak udah ngajak Robert berarti. Nggak usah izin juga kepadanya."


"Lho, kenapa memangnya?"


"Takutnya dia ngadu. Aku yakin soalnya ... Robert 'kan kadang ember, Yang."


"Tapi kalau nggak diajak, dia bisa-bisa ngambek, A."


"Iya juga, sih." Joe mengangguk, tapi rasanya makin pusing saja sekarang dan tak memiliki jalan keluar. "Terus gimana dong, Yang? Jujur ... aku nggak pede banget. Dan pastinya rekan-rekan bisnisku yang lain ada di restoran juga. Bisa-bisa mereka meledek kalau melihatku. Apalagi aku mirip Biksu Tong kalau nggak pakai penutup kepala begini." Joe pun menarik peci di atas kepalanya, kemudian langsung menangis. Merasa benar-benar frustasi.


"Turuti saja usulku mangkanya, A. Aa pakai wig."


***


Di perjalanan pulang dari kantor, Papi Paul menunggangi mobilnya dengan sang sopir yang mengemudi.


Namun, sebelum sampai tujuan dia menelepon istrinya terlebih dahulu—sebab ada hal yang ingin dia katakan.

__ADS_1


"Halo, Mi, apa Mami sudah ada di rumah Joe?" tanya Papi Paul.


"Belum, Pi."


"Kok belum? Memang ada di mana sekarang?"


"Mami ada di mall, lagi nungguin Robert main di playground sama temannya ... dan dia belum mau pulang, Pi," jawab Mami Yeri.


"Oh gitu. Tapi padahal Papi tadinya mau ngajak Mami pergi ke Tangerang. Nggak apa-apa ngajak Robert juga."


"Mau ngapain ke Tangerang?"


"Dateng ke acara launching restoran itu, Mi. Yang sempat Papi ceritakan." Seperti halnya Joe, ternyata Papi Paul juga diundang.


"Lho ... bukannya kata Papi besok, ya?"


"Papi lupa, Mi. Ternyata hari ini."


"Batalin aja deh, Pi. Mami kayaknya nggak bisa ikut soalnya. Ini udah jam berapa? Mana belum mandi, dandan juga. Pasti lama."


"Kalau dibatalin Papi nggak enak, Mi."


"Ya udah, Papi aja sendiri yang datang gimana? Soalnya nggak bisa Maminya."


"Ya udah nggak apa-apa. Tapi kita jadi 'kan nginepnya ... apa Joe sudah pulang ke rumahnya?"


"Ya sudah ya, Mi, Mami pulangnya nanti hati-hati."


"Papi juga. I love you."


"I love you too."


*


Sekitar satu jam berlalu, Papi Paul pun akhirnya sampai pada tujuan.


Restoran mewah yang baru launching itu terletak di pinggir jalan berseberangan dengan sebuah Mall besar.


Sopir pribadi Papi Paul turun lebih dulu, karena ingin membukakan pintu untuk majikannya. Yang saat ini mengenakan stelan jas berwarna merah maroon.


Papi Paul terlihat begitu tampan dan wangi, karena sebetulnya dia sudah mandi di kantor, dan memang sengaja ingin datang kesini. Hanya saja rencananya sedikit berbeda lantaran istrinya tidak ikut menemani.


"Selamat malam Pak Paulus." Seorang pria berjas hitam menyapanya di depan pintu masuk. Tak lupa dengan uluran tangannya serta senyuman manis yang terukur jelas di wajahnya.

__ADS_1


Dilihat dari wajahnya, dia seperti umur 40 tahun.


"Malam juga, Pak Abi," jawab Papi Paul seraya menjabat tangan.


"Bapak sendirian datangnya?"


"Iya, Pak." Papi Paul mengangguk. "Tadinya mau bareng istri, cuma dia bilang ... lagi tanggung, main sama cucu."


"Oh begitu... ya sudah, nggak masalah. Ayok silahkan masuk dan aku harap ... Bapak bisa mencicipi semua menu di sini," ajaknya sambil menunjuk ke arah dalam restoran, dan memberikan sebuah kartu bernomor 25.


"Iya, Pak. Terima kasih." Papi Paul mengambil nomor tersebut, kemudian melangkah masuk.


Nomor yang Abi berikan itu akan digunakan untuk memberitahukan dimana letak meja yang akan menjadi tempat duduknya. Setiap tamu yang diundang diberikan mejanya masing-masing dengan kursi yang muat untuk tiga orang.


Acara launching itu memang sengaja digelar untuk mengundang beberapa rekan-rekan terdekat, supaya mereka mencoba berbagai macam menu dan bisa memberikan ulasan dengan jujur.


Tapi tentunya, acara tersebut tidak dipungut biaya apa pun. Malah—sang pemilik resto justru sangat bersyukur sekali, karena dengan datangnya beberapa tamunya, tandanya banyak yang menghargai.


"Silahkan, Pak, Bapak mau pilih menu yang mana?"


Seorang pelayan wanita bertanya dengan sopan sambil menyodorkan buku menu. Saat dimana baru saja Papi Paul duduk dikursi pada meja nomor 25.


Papi Paul mengambil menu tersebut, kemudian memerhatikan pada bagian minumannya. "Aku ingin mencoba flat whitenya, Mbak."


"Makanannya apa, Pak?" tanya pelayan itu sambil mencatat pesanan Papi Paul pada buku kecil yang dia bawa.


"Itu saja dulu, Mbak." Papi Paul memberikan lagi menu tersebut ke tangan sang pelayan.


"Baik, tunggu sebentar ya, Pak ... pesanan akan segera datang." Dia membungkuk sopan, kemudian berlalu pergi dari hadapan Papi Paul.


Sambil menunggu pesanan datang, Papi Paul memilih untuk menatap sekitar. Memerhatikan bangunan serta suasananya. Karena dia yakin—setelah pulang Mami Yeri pasti akan bertanya-tanya tentang restoran ini.


"Cukup enak, sih, tempatnya. Mami kayaknya suka kalau semisalnya ...." Papi Paul mendadak menghentikan ucapannya, ketika sorot matanya itu terjatuh pada seorang perempuan cantik berhijab pashmina berwarna lemon, yang sedang duduk pada meja paling ujung sebelah kanan.


"Lho ... itu bukannya Syifa, ya? Kok dia ada di sini? Mau apa?" Tentu sebagai seorang mertua, Papi Paul dapat mengenali wajah sang menantu. Meskipun jaraknya cukup jauh. Apalagi mata Papi Paul sendiri masih sangat normal meskipun umurnya sudah tak lagi muda. "Oh ... apa si Joe juga diundang? Tapi di mana si Joenya?"


Dimeja yang ada Syifa, dia duduk seorang diri. Papi Paul pun akhirnya menatap sekitar, untuk mencari keberadaan anaknya.


Namun, bukannya ketemu—dia justru melihat ada seorang pria yang entah siapa datang menghampiri Syifa. Dia memakai jas berwarna coklat, sama warnanya seperti pakaian yang kebetulan Syifa kenakan.


"Siapa pria berambut kribo yang nyamperin Syifa?" Papi Paul hanya bisa bermonolog, karena yang dia lihat hanya tubuh bagian belakang dan memang pria tersebut memiliki rambut kribo berwarna hitam. "Eh ... eh! Mau ngapain coba?"


Mata Papi Paul sontak melotot, ketika baru saja melihat tangan pria itu mengelus pipi kanan menantunya bertepatan dengan tubuhnya yang duduk di depan Syifa. Perempuan itu juga tampak senang, dia tersenyum bahkan kedua pipinya sudah merona.

__ADS_1


"Jangan bilang Syifa selingkuh?"


...Samperin, Pi! Terus hajar selingkuhannya 🤣...


__ADS_2