Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
92. Kita pisahkan mereka saja


__ADS_3

Syifa pun menggedor-gedor kaca jendela, kalau bisa dibuka mungkin dia akan keluar lewat sana. Tapi masalahnya jendela itu memang tidak bisa dibuka, sebab memang desainnya jendela mati.


***


Beberapa menit kemudian, Papi Paul pun tiba di rumah mewahnya bersama seorang Dokter tampan bernama Victor.


Keduanya pun sama-sama turun dari mobilnya masing-masing, kemudian Papi Paul mengajak Dokternya itu masuk ke dalam rumah.


Di ruang keluarga, keduanya langsung menghentikan langkah. Sebab melihat ada Mami Yeri dan Robert tengah duduk bersama di sofa panjang.


"Ada apa, Mi? Siapa yang sakit?" tanya Papi Paul menatap istrinya.


"Joe yang sakit, Pi," jawab Mami Yeri seraya berdiri sambil menggendong cucunya. "Ayok kita ke kamar Joe, dia sedang digantikan baju oleh Bibi," ajaknya.


Mami Yeri lantas berjalan lebih dulu menuju lift. Sebenarnya ada tangga di rumah itu, tapi memakai lift akan lebih cepat sampai menurutnya. Dia mengajak kedua pria itu menuju kamar Joe sewaktu bujang.


Ceklek~


Pintu kamar itu dibuka secara perlahan oleh Mami Yeri, dilihat ada Bibi yang telah selesai mengganti pakaian Joe dengan lebih santai, serta mengelap darah di hidungnya. Tapi pria itu masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Lho, Joe ... kenapa denganmu?" Papi Paul langsung melangkah cepat menghampiri anaknya, lalu menangkup kedua pipinya. "Pipimu merah, Joe, hidungmu juga. Kamu habis berantem apa gimana?" tanyanya sekali lagi.

__ADS_1


Papi Paul mengira, anaknya itu hanya memejamkan mata. Padahal sebenarnya pingsan.


"Biar Dokter Victor yang memeriksanya, Pi." Mami Yeri mendekat, lalu menurunkan tubuh Robert.


Sedangkan Dokter Victor sendiri sudah duduk di kursi kecil di dekat ranjang Joe. Tas besar yang dia bawa itu langsung dibuka, kemudian mengambil beberapa peralatan untuk memeriksa Joe.


"Sayang, kamu tungguin Daddy di sini dan dengarkan apa saja yang Dokter Victor katakan tentang kondisi Daddymu, ya?" pinta Mami Yeri dengan lembut kepada cucunya. Juga mengelus puncak rambutnya.


"Iya, Oma." Robert mengangguk. Dengan nurut dia lantas naik ke atas kasur, kemudian duduk didekat Joe.


"Kita ngobrol dulu, Pi." Mami Yeri berbisik pelan di telinga kanan suaminya, juga mengenggam tangan kanannya.


Pria tua itu menoleh, dan segera Mami Yeri menariknya untuk keluar dari sana. Kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mereka yang berada tepat di samping kamar Joe.


"Ini tentang Joe dan Syifa, Pi," sahut Mami Yeri. Dia pun kembali mengajak sang suami untuk sama-sama duduk di atas kasur. Supaya mengobrolnya jauh lebih nyaman.


"Ada apa dengan mereka?" Kening Papi Paul tampak mengernyit. "Oh ya, katanya Mami mau bawa Syifa ke dokter kandungan. Apa sudah? Mana foto janinnya, Papi mau lihat." Telapak tangan kanan Papi Paul terbuka, dihadapan sang istri.


"Nggak ada foto janin, Pi." Mami Yeri menggelengkan kepalanya. Juga mendorong pelan tangan Papi Paul. "Joe dan Syifa justru berbohong dengan kehamilan itu."


"Berbohong?" Papi Paul masih bingung dan tak mengerti. "Maksudnya gimana?"

__ADS_1


"Sebenarnya, Syifa itu nggak lagi hamil. Joe berbohong mengatakan hal itu karena demi mendapatkan restu kita, Pi!" jelas Mami Yeri dengan kesal.


"APA?!" Papi Paul memekik dengan keterkejutannya, kedua matanya membulat sempurna. "Keterlaluan sekali mereka!" geram Papi Paul sambil mencengkram seprei. Dadanya sontak bergemuruh.


"Iya. Pantesan sikap si Syifa aneh pas Mami ajak ke dokter kandungan. Nggak taunya memang ada yang disembunyikan," geram Mami Yeri.


"Apa Pak Hamdan dan Bu Maryam juga tau, kalau mereka berdua berbohong, Mi? Atau mereka berdua juga sekongkol dengan Syifa dan Joe?"


"Sepertinya, enggak, Pi." Mami Yeri menggeleng. Dari ekspresi Abi Hamdan tadi yang terkejut serta emosi, dia yakin sekali jika pria tua itu mengalami kekecewaan sama seperti dirinya. "Hanya Joe dan Syifa saja yang tau perkara ini. Mereka berdua membohongi kita dan besan. Tadi saja Joe ditonjok sama Abinya Syifa, pas dia berkata jujur. Mami benar-benar sangat kecewa sama Joe, Pi, teganya dia membohongi kita semua dengan cara kotor seperti itu. Hanya karena ingin mendapatkan restu!" jelas Mami Yeri dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Papi juga kecewa, Mi." Papi Paul menatap lekat istrinya. Bola matanya tampak berkaca-kaca. "Dia sampai rela meninggalkan Tuhan Yesus demi Syifa, juga berani membohongi kita semua. Padahal dari dulu ... Joe nggak pernah berani untuk berbohong. Apalagi kepada orang tuanya."


"Iya. Semenjak mengenal Syifa semua dunianya menjadi berubah. Mami nggak nyangka ... Joe menjadi seperti ini, Pi." Mami Yeri langsung memeluk tubuh suaminya, saat baru saja air matanya menetes.


Selama ini, Mami Yeri dan Papi Paul mencoba untuk menerima pernikahan itu. Serta menerima Syifa menjadi menantunya, meskipun sejujurnya keduanya merasa sakit hati lantaran sekarang sudah tak seagama dengan anaknya.


Faktornya memang karena akan hadirnya cucu kedua mereka. Tapi mendengar pengakuan bahwa sebenarnya Syifa tak sedang mengandung—rasa untuk menerimanya menjadi sirna sudah. Yang tertinggal hanya luka akan kekecewaan.


"Lebih baik ... kita pisahkan mereka saja, Mi," saran Papi Paul seraya mengusap punggung istrinya.


...----------------...

__ADS_1


...Bener, Pi, biar Om Joe kapok dan puasa lagi 🤣...


__ADS_2