
"Eh, Boy! Apa kamu datang ingin menjenguk Om?!"
Seorang pria di atas ranjang menyeru, saat melihat kedatangan Ustad Yunus.
Dia tidak lain adalah Papi Yohan, dan alasan pria berpeci itu tampak terkejut adalah karena melihat Papi Yohan sedang disuntik oleh seorang dokter.
Dokter itu menyuntikknya di atas area bokong, tapi celana yang sudah turun hampir sebokong, hingga belahannya terekspos jelas.
'Lho, dia bukannya Pak Yohanes? Jadi yang diganggu makhluk halus itu dia?' batin Ustad Yunus.
"Dia siapa, Pi? Papi mengenalnya?" tanya Mami Soora yang juga ada di sana. Dia pun memerhatikan wajah Ustad Yunus sekarang yang terlihat asing.
"Dia calon menantu kita, Mi. Kenalkan ... namanya Boy," jawabnya saat Roni dan Ustad Yunus sudah melangkah mendekat.
"Calon menantu?!" Kening Mami Soora mengerenyit.
"Dih, Pak. Ini bukan calon menantu Bapak. Tapi dia Ustad Yunus, orang yang akan membantu Bapak mengusir mahkluk halus," ucap Roni sembari mengenalkan pria di sampingnya.
"Jadi kamu seorang Ustad, Boy?" Mendengar kata 'Ustad' Papi Yohan sontak terkejut, kedua matanya sedikit membola.
"Iya, Pak." Ustad Yunus mengangguk, lalu tersenyum manis.
"Udah selesai ya, Pak Yohan. Bapak tinggal istirahat saja untuk pemulihan," ucap Dokter yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, lalu menaruh suntikan di tangannya pada meja troli.
"Terima kasih ya, Dok," kata Mami Soora.
"Sama-sama, Bu." Dokter itu mengangguk, kemudian melangkah pergi bersama seorang suster yang mendorong meja troli. Keluar dari kamar rawat itu dan menutup pintu.
"Ayok duduk di sana, Boy!" titah Papi Yohan kepada Ustad Yunus, sembari menunjuk kursi kecil di samping ranjang.
Pria itu pun dengan patuhnya langsung duduk di sana.
"Pak Yohan, saya 'kan sudah bilang tadi. Kalau beliau ini seorang Ustad. Namanya Ustad Yunus. Dia yang akan membantu Bapak," ucap Roni. Dia mengira, bosnya itu masih menganggap Ustad Yunus adalah orang lain. Karena pria itu masih memanggilnya dengan sebutan 'Boy' yang seperti sebutan sebuah nama.
"Iya, aku tau kok, Ron." Papi Yohan mengangguk.
"Tapi maksud Papi apa? Kok nyebut Ustad ini calon menantu kita?" tanya Mami Soora yang terlihat masih bingung dengan ucapan suaminya tadi.
__ADS_1
"Dia orang yang mendonorkan darahnya untuk Papi, Mi." Papi Yohan menoleh ke arah istrinya. "Papi bukannya udah cerita, ya, sama Mami ... kalau Papi udah ketemu dia pas makan siang bareng Yumna."
"Oh gitu. Terima kasih banyak, Boy." Mami Soora langsung mengulurkan tangannya kepada Ustad Yunus, dan jadi ikut memanggil sebutan lain dari namanya.
"Sama-sama, Bu." Ustad Yunus hanya menangkup kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum manis. Dan sepertinya tak berniat untuk meraih tangan wanita itu.
"Oohh ... iya." Melihat tak ada tanggapan, Mami Soora pun akhirnya menarik kembali tangannya. Tapi dia sedikit kecewa. 'Kok dia sampai nggak mau jabatan tangan sama aku? Bukannya kata Papi dia pria yang baik, ya? Yang katanya cocok banget buat Yumna? Eh tapi dia 'kan orang Islam. Bagaimana ceritanya?' batinnya heran.
"Boleh nggak... saya dan Pak Yohan bicara berdua? Saya ingin bertanya tentang apa yang dia alami," ucap Ustad Yunus meminta izin.
"Boleh." Mami Soora mengangguk. "Silahkan," tambahnya kemudian, lantas keluar dari sana bersama Roni.
"Kamu ketemu dia di mana, Ron?" tanyanya kepada Roni, sambil menatap ke arah kaca pintu. Untuk memerhatikan Ustad Yunus dan suaminya yang baru mulai mengobrol.
"Di masjid, Bu."
"Boy ... kalau kamu seorang Ustad, berarti kamu orang Islam, ya?" tanya Papi Yohan. Sebetulnya dia tahu, tapi anehnya masih bertanya.
"Iya, Pak." Ustad Yunus mengangguk. "Dan maaf ... nama saya Yunus, Pak. Bukan Boy."
"Ya sudah, terserah Bapak saja." Ustad Yunus terlihat tak mempermasalahkannya. "Maaf, ini kok Bapak bisa kecelakaan lagi? Apa Bapak terkena tabrak lari lagi?"
"Panggil Om saja, jangan Bapak," pinta Papi Yohan yang terdengar banyak maunya. "Kalau kamu nggak mau, panggil Papi juga boleh."
"Saya akan panggil Om. Jadi maksud saya ... kenapa Om bisa kecelakaan lagi? Apa karena tabrak lari?"
"Bukan, Boy." Papi Yohan menggeleng, lalu menyentuh dahinya yang terlilit kain kasa. "Kalau ini Om kecelakaan mobil, Om nabrak pembatas jalan."
"Kok bisa? Dan apakah benar apa yang dikatakan Pak Roni... kalau Om sering digangguin mahkluk halus?"
"Iya." Papi Yohan mengangguk. "Kalau boleh jujur ... alasan Om kecelakaan dua kali juga karena dia, Boy. Kamu coba usir dia dong. Tolongin Om ...," pintanya sambil mengenggam tangan kanan Ustad Yunus dan terasa begitu erat. Wajah pria tua itu juga mendadak murung, dan seperti orang yang tengah tertimpa banyak sekali masalah.
Terus bertemu dengan kakek-kakek itu sungguh membuat Papi Yohan lelah sekali. Apalagi akibatnya terus begini.
"Saya akan bantu sebisa saya, Om. Tapi bolehkah saya tau ... bagaimana awal mulanya Om diganggu makhluk halus? Sejak kapan itu?"
"Mungkin ada kali dua bulanan, Boy," tebaknya mencoba mengingat-ingat. "Tapi awalnya Om ketemu dia didalam mimpi. Dia seorang Kakek-kakek dan bawa-bawa karung. Tapi Om sendiri nggak tau alasannya, kenapa dia menganggu Om."
__ADS_1
"Coba ceritakan tentang mimpi Om. Dan sebutkan ciri-ciri makhluk itu selain seorang Kakek-kakek."
"Dia udah keriput, Boy, rambutnya putih. Orangnya putih dan pakai jubah putih. Bawa karung dan berwarna putih juga."
"Terus?"
"Tapi wajahnya bercahaya, Boy. Kayak ada lampu diwajahnya. Dan awal dimimpi itu dia tiba-tiba ngasih Al-Qur'an, terus minta Om buat membacanya. Tapi Om nolak, karena Om sendiri 'kan bukan orang Islam. Sayangnya dia maksa, sampai akhirnya di dunia nyata pun Om sering ketemu dia. Dan selalu saja dia maksa supaya Om menerima Al-Qur'an itu," jelas Papi Yohan menceritakan.
"Terus, kenapa Om anggap kecelakaan yang menimpa Om itu bersumber darinya? Apakah sebelum Om kecelakaan Om sempat ketemu dia?"
"Iya, Boy." Papi Yohan mengangguk. "Om ketemu dia, dan dia memaksa Om untuk menerima Al-Qur'an. Karena Om terus menolak dan mencoba mengusir dia dari hadapan Om ... semua konsentrasi Om pun pecah, akibatnya Om kecelakaan. Itu yang dialami tadi Subuh ... pas Om nyetir. Dia tiba-tiba saja duduk disebelah Om, Boy. Dan kadang suka hilang sendiri."
"Kata Pak Roni, Om juga sudah berkunsultasi kepada Pak Pendeta, ya? Lalu ... apa yang dia katakan?"
"Dia bilang ... itu mahluk halus. Mahluk jahat yang ingin menguji iman Om. Supaya Om meninggalkan Tuhan Yesus. Maka dari itu, dia mencoba mengusirnya ... tapi anehnya, beberapa kali diusir pun Om lagi-lagi ketemu dia, Boy," jawab Papi Yohan dengan lesu.
"Ooohh begitu ...." Ustad Yunus menghela napas sambil mencerna semua yang diceritakan. Lantas dia pun meraih gelas kosong di atas nakas untuk menuangkan air ke dalamnya. Setelah itu memberikan kepada Papi Yohan dan menantunya untuk duduk selonjoran. "Minum dulu, Om. Biar agak tenang."
"Terima kasih, Boy." Papi Yohan dengan menurut langsung menenggak air itu hingga tandas, kemudian memberikan gelas kosongnya kepada Ustad.
"Sama-sama," jawab Ustad Yunus. "Terus sekarang ... Om kira-kira lihat dia nggak? Dan apakah Kakek-kakek itu ada di ruangan ini?" Dia pun lantas menatap sekeliling ruangan itu.
Papi Yohan menggeleng. "Enggak ada, Boy. Setelah kecelakaan tadi Subuh... Om belum bertemu lagi dan semoga saja nggak akan ketemu lagi."
"Jadi bagaimana menurutmu, Boy? Dan oh ya ... pas kecelakaan yang Om kekurangan darah itu dia juga mengatakan begini sebelum Om pingsan, 'Setelah kamu terbangun... akan ada darah orang muslim yang sudah mengalir di tubuhmu. Darah yang setiap saat menyebut nama Allah. Orang itu juga yang akan merubah hidupmu dan keluargamu' itu maksudnya apa, Boy? Dan ternyata orang yang mendonorkan darah Om adalah kamu. Om juga baru tau kalau kamu orang Islam," tambah Papi Yohan kemudian.
"Menurut saya pribadi ... apa yang dialami Om ini bukan sebuah gangguan, tapi bisa jadi sebuah petunjuk dari Allah. Yang dikirim melalui kakek-kakek itu."
"Petunjuk bagaimana maksudnya?" Alis mata Papi Yohan tampak bertaut. Tak mengerti dengan maksud Ustad Yunus.
"Maaf kalau terdengar sensitif. Tapi ini hanya pendapat saya saja, Om. Kalau semua itu berarti Om harus memeluk Islam."
"Maksudnya, Om harus pindah agama, gitu?" tebak Papi Yohan dan sontak dia menganga, ketika melihat Ustad Yunus menganggukkan kepalanya.
"Kalau Om bersedia, saya dengan senang hati akan membimbing Om." Ustad Yunus langsung mengusap lembut pundak kanan Papi Yohan. "Tapi nggak perlu terburu-buru, kita bisa mulai dari mempelajari hal tentang Islam dulu, Om. Yang Om nggak ketahui. Kalau Om sudah mantap ... baru Om bisa berikrar, tapi kalau enggak ... Om bisa mundur. Jadi otomatis ... semua yang Om lakukan nggak ada paksaan sama sekali disini. Tergantung dari hati Om sendiri," tambahnya sambil menyentuh dada, dan seketika membuat Papi Yohan terasa hangat.
...Waahh ... Apakah sebentar lagi Papi Yohan akan login, Guys ๐...
__ADS_1